Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Indah dan Kenyataan Pahit
Di dalam tidurnya, Zayn bermimpi sangat indah. Sejak dia tahu akhir dari mimpi buruknya, dia selalu bermimpi indah akhir-akhir ini. Seperti kali ini, Zayn bermimpi tentang kehidupannya saat sudah menikah dengan Zoya.
*Saat Zayn tertidur, pada pagi harinya dia dibangunkan oleh sebuah ciuman dari Zoya.
"Bangun," ucap Zoya seraya tersenyum manis sekali.
Zayn hanya tersenyum lalu kembali menutup matanya. Tetapi Zoya menggelitikinya agar cepat bangun.
Di dapur, Zoya tengah memasak makanan untuk dirinya dan Zayn. Laki-laki itu memperhatikan kegiatan istrinya dengan saksama.
"Kenapa kamu berdiri di situ? Kamu harus duduk kalo aku lagi nyiapin makanan buat kamu. Sayang, kamu cuma perlu makan makanan yang aku masak, apapun rasanya," ucap Zoya.
Lalu ketika mereka tengah berjalan di pasar malam, Zoya selalu ingin membeli apapun yang dilihatnya. Seperti kali ini, dia merengek untuk minta dibelikan es krim.
"Waktu kita pulang dari sini, kita beli es krim, ya?" pinta gadis itu.
"Kamu bisa gemuk kalo makan es krim mulu," ucap Zayn.
Kata gemuk adalah kata yang paling horror bagi Zoya, gadis itu akan melakukan diet ketat ketika mengetahui berat badannya bertambah walau pun hanya satu kilo.
"Berat aku nambah, ya? Jujur sama aku, itu bener kan?" tanya Zoya.
"Kamu hamil, ya pastilah berat badan kamu naik."
Mendengar itu, Zoya kemudian menengok ke arah perutnya yang sudah sangat besar. "Hidup aku hancur kalo begini," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Zayn.
"Nggak juga. Kamu lebih cantik kalo berat badan kamu naik," ucap Zayn lalu mereka kembali berjalan di pasar malam itu*.
Sayangnya, semua itu hanyalah mimpi belaka. Yang membuat Zayn menyadari bahwa mimpi indah itu membuatnya merasa lebih sengsara, saat dia bangun ... sejak awal, seharusnya dia tidak bermimpi indah. Sehingga kenyataan tidak akan semenyakitkan ini baginya.
Setelah bangun dari tidurnya, Zayn menyadari kesalahannya atas Zoya tadi malam. Laki-laki itu kemudian mengambil handphonenya lalu menelepon Zoya dan mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.
Zoya sangat senang mendengar itu dan langsung bersiap-siap, mencari pakaian yang cocok dan sedikit memoles wajahnya dengan makeup. Setelah itu, dia segera turun ke lobi dan mendapati Zayn sudah berdiri di samping mobilnya.
Zoya melambaikan tangan sambil pada Zayn dan segera masuk ke dalam mobil. Tetapi Zayn tidak langsung melajukan mobilnya melainkan menanyakan pertanyaan yang sama pada Zoya.
"Aku tanya sekali lagi sama kamu, seandainya sesuatu terjadi sama aku, apa yang bakal kamu lakuin?" tanya Zayn.
"Ya ampun Zayn, kamu kenapa masih bahas itu, sih?" tanya Zoya.
"Ya jawab aja pertanyaan aku."
"Jawaban aku nggak akan pernah berubah seandainya kamu nanyain aku tentang itu beribu-ribu kali pun."
"Iya, tapi kenapa?"
"Karena aku nggak bisa hidup kalo nggak ada kamu! Aku ngerasa kalo aku dan kamu itu udah terikat, Zayn. Aku ngerasa kalo jantung kita itu berdetak sama-sama. Dan kalo jantung kamu berhenti berdetak, jantung aku juga bakal berhenti berdetak," ucap Zoya dengan suara parau menahan tangis.
"Jadi, sekuat itu hubungan kita buat kamu?" tanya Zayn.
"Iya. Kalo sesuatu terjadi sama kamu dan kamu meninggal, kamu bilang aku harus hidup sendiri. Jangan minta aku buat ngelakuin itu karena aku nggak bisa janji kayak gitu. Setelah kamu mati, cepat atau lambat aku juga akan mati."
"Zoya, selama ini masalahnya bukan sama om Galih atau siapa pun itu yang berusaha buat mencelakai kamu. Tapi sama aku, aku yang bakal bikin kamu celaka."
"Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Seandainya sesuatu memang terjadi sama kita, itu berarti udah kehendak semesta. Sekarang gini aja, kamu kan mau ngajak aku ke suatu tempat, yaudah jalan sekarang aja."
Mendengar itu, Zayn tersadar dan segera melajukan mobilnya menuju Museum tempat penyimpanan barang-barang peninggalan Kerajaan Majapahit.
"Kenapa kita dateng kesini?" tanya Zoya saat mereka sudah sampai di Museum itu.
"Kamu nanya sama aku apa yang bakal terulang, kan? Aku bakal nunjukin itu sama kamu," ucap Zayn.
Saat masuk ke dalam ruangan itu, mata Zoya tertuju pada sebuah pedang yang sangat indah. Tetapi dia merasakan keanehan saat melihat pedang itu. Tiba-tiba dia merasa sangat sedih, seperti perasaan nelangsa.
"Aduh, aku kok ngerasa sedih ya waktu liat pedang ini?" gumam Zoya yang masih bisa terdengar oleh telinga Zayn.
Yaiyalah kamu sedih. Seandainya aja kamu bisa ingat semuanya, bahwa pedang itu adalah saksi cinta kita di kehidupan sebelumnya. Bahwa pedang itu adalah pedang yang kamu bawa saat berperang sama aku dulu, batin Zayn.
Tetapi bukan pedang itu yang ingin Zayn perlihatkan padanya, Zayn kemudian membawa Zoya ke tempat sebuah lukisan yang waktu itu pernah dilihat Zayn. Lukisan dirinya pada kehidupannya sebelum kehidupan saat ini.
Mereka berdua berdiri terpaku menghadap sebuah gambar yang tergantung di dalam sebuah kaca itu sembari memandanginya dengan saksama.
Zoya sangat terkejut melihat gambar itu, sangat mirip dengan laki-laki yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Aku tau apa yang kamu pikirin, tapi aku jauh lebih ganteng dari dia," ucap Zayn dengan kepercayaan dirinya yang tidak bisa diragukan lagi.
"Siapa itu?" tanya Zoya.
"Kamu nggak pernah belajar Sejarah, ya? Masa kamu nggak tau siapa dia?"
"Mungkin dia kurang terkenal kali, makanya aku nggak tau."
Zayn kemudian menceritakan tentang orang yang ada di dalam lukisan itu.
"Dia adalah orang yang mencintai seorang wanita yang sangat jauh berbeda sama dia," ucap Zayn seraya memandang mata Zoya dalam-dalam.
"Orang ini ngebantu sebuah Kerajaan atas permohonan Putri dari Kerajaan itu. Sang Putri kemudian jatuh cinta sama dia. Dia meninggalkan keluarganya dan memilih untuk mengejar orang yang dia cintai. Dan ternyata orang ini sudah menikah dengan seorang perempuan. Tetapi dengan kekuatan cintanya, Sang Putri berhasil membuat Mahapatih jatuh cinta sama dia" ucap Zayn.
"Jadi? Habis itu apa?" tanya Zoya yang mulai penasaran dengan kisah yang diceritakan Agra.
Zayn kemudian mengingat tentang takdir yang tidak berpihak pada mereka, dia mengingat takdir menyakitkan itu, semuanya. Bahkan sampai mereka berdua meregang nyawa bersama-sama.
Zayn terdiam seraya menatap mata Zoya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kamu bilang kamu bakal ngasih au aku apa yang bakal terulang," ucap Zoya.
"Mereka berdua ...." Zayn menggantung ucapannya sehingga membuat Zoya sangat penasaran.
"Mereka berdua hidup bahagia. Nggak menderita atau pun terluka. Mereka punya banyak anak dan membesarkan anak mereka dengan sangat baik. Hidup bahagia selamanya. Mereka hidup sampe tua sama-sama."
Zoya tersenyum. "Oh, jadi gitu."
"Iya, gitu. Itu kisah mereka yang aku tahu."
Zoya mengusap air matanya yang terjatuh. "Tapi kenapa aku ngerasa sedih, ya?" tanya Zoya.
"Mungkin mood kamu aja yang lagi kurang bagus," jawab Zayn sekenanya.
"Terus gimana sama mimpi buruk itu?" tanya Zoya tiba-tiba.
"Hah?"
"Bukannya ini mimpi indah, ya?"
"Iya;" ucap Zayn seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Zoya.
"Kamu takut mimpi indah itu terulang?" tanya Zoya dengan wajah polosnya.
"Jangan ngomong kenceng-kenceng disini, itu ngeganggu orang lain."
Zoya mengedarkan pandangnnya ke seluruh ruangan ini. "Orang lain apanya?" tanya Zoya saat melihat ruangan itu kosong.
"Kenapa? Apa yang kamu takutin?" tanya Zoya lagi.
"Kita waktu itu ada dalam situasi yang berbeda," ucap Zayn.
Setelah itu, Zayn mengantar Zoya untuk pulang ke apartmennya sementara dia pulang ke rumahnya.
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...