NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengukir memori

Pagi di Bali terasa begitu hangat, sinar matahari menerobos masuk lewat kaca jendela. Di meja yang penuh hidangan, mereka berkumpul, tapi suasana tak seperti yang Vivian bayangkan.

Dia pikir liburan berarti waktu santai, bersenang-senang, jalan-jalan tanpa beban. Tapi, ternyata tidak. Mereka tetap sibuk bekerja, hanya pindah suasana saja.

"Ayah ada pertemuan penting pagi ini, dan Ibu harus menemani," ucap ayah Budi, terlihat begitu terburu waktu.

Vivian menatap Raynor yang juga tak kalah sibuk, duduk di kursi samping kolam, dengan laptop terbuka di meja, sesekali mengetik cepat sambil menelpon.

Sama sekali tak terasa seperti sedang liburan. Hanya Vivian dan Satria yang duduk santai, tak ada tugas, tak ada jadwal, sepenuhnya bebas.

Raynor menutup telepon, lalu menoleh ke arah mereka, berjalan mendekat. Senyum lembut terukir di bibirnya saat menatap Vivian di depannya.

"Jalan-jalan sama Satria dulu, nanti Kakak nyusul," ucapnya pelan, tangannya terulur mengelus rambut Vivian sebentar.

Namun seketika tatapannya berubah tajam saat berpaling menatap Satria. Nada suaranya berubah tegas, berat dan penuh penekanan.

"Jaga baik-baik!"

Satria mengangguk pelan, dadanya mengembang senang. "Jangan khawatir, aku akan menjaganya dengan baik."

Raynor masih menatap mereka yang duduk bersisian, sebelum kembali ke kursi samping kolam, menunduk pada layar di depan. Seakan memaksakan diri untuk fokus, padahal perhatiannya tertinggal di seberang sana.

Di ruang makan kini hanya tersisa mereka berdua. Vivian menunduk, rasanya begitu canggung sedekat ini bersamanya, setelah begitu lama. Tapi, tak ada pilihan lain, ia tak berani berkeliling sendirian, apalagi di tempat yang masih begitu asing baginya.

"Mau jalan-jalan ke mana?" tanya Satria lembut, suaranya persis seperti dulu. Sikapnya masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah sedikitpun.

Seakan mereka masih sepasang kekasih, karena memang tak pernah ada kata putus yang terucap di antara mereka.

"Terserah saja," jawab Vivian singkat, sedikit jutek, matanya enggan menatap.

Satria justru tersenyum gemas. "Lucu banget sih kalau jutek begini... Kamu pasti kangen aku manjain kaya dulu lagi, kan?" ucapnya pelan, lalu mencolek lembut dagu gadis itu.

Vivian menarik diri seketika, wajahnya memerah, antara kesal dan debaran yang mulai menyerang.

Tanpa menjawab, ia berbalik menuju kamar, dengan langkah yang sengaja di hentak-hentakkan. Di susul suara benturan pintu yang terdengar keras.

"Lucu banget sih kamu Vi, kalo ngambek malah bikin gemes..." ia menggeleng-gelengkan kepalanya, senyumnya samar yang sulit diartikan.

Ia pikir Vivian hanya ngambek biasa seperti dulu yang selalu bisa di bujuk dengan mudah. Tak menyadari betapa dalam luka yang masih ternganga di hatinya.

Lima menit lamanya Vivian berdiri menatap pantulan dirinya di cermin, memastikan semuanya sempurna.

Ia mengenakan mini dress berwarna putih pilihan Stela. potongannya pendek, bahu terbuka, jauh berbeda dari yang biasa ia kenakan.

Terasa asing di kulitnya, namun warna dan bentuknya pas sekali, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan lembut, sangat cocok untuk suasana pantai.

"Jangan malu, Vivian," bisiknya menenangkan diri sambil menatap matanya sendiri di cermin. "Memang begini gayanya orang kota. Aku harus terbiasa." ucapnya diakhiri senyum.

Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar. Langkahnya pelan, namun tegas dan begitu percaya diri.

Saat pintu terbuka, Satria yang menunggu di depan pintu langsung terpaku dengan mulut ternganga. Matanya tak berkedip, menelusuri setiap inci sosok yang mendekat. Selama ini ia mengenal Vivian yang selalu tertutup, sopan, menunduk lembut.

Dan kini di hadapannya berdiri gadis yang sama, namun sinarnya berbeda. Kecantikan yang dulu tersembunyi kini tampak jelas, memukau.

Dulu ia yang meminta Vivian untuk berpakaian sopan, melarangnya tampil menarik, tapi ketika ia melihatnya sekarang, ia tak bisa berpikir apapun selain kagum dan terpesona.

Tanpa menunggu lama, Satria melangkah cepat mendekat. Tangannya langsung menggenggam tangan Vivian, lalu merangkul pinggangnya erat, menariknya dekat ke sisi tubuhnya, tak memberi ruang untuk menjauh.

Vivian hanya bisa mengikuti dengan pasrah. Sepanjang jalan menuju pantai, dadanya berdebar tak tenang. Dulu mereka hanya sekedar berjalan berdampingan, jarak tetap terjaga, tanpa banyak bersentuhan. Dan kini pelukan di pinggangnya terasa hangat, nyata, intim. Setiap langkah bersama terasa berbeda.

Di tengah perjalanan, ia mulai membenci dirinya sendiri. Berulang kali ia berusaha mematikan rasa ini, setiap kali teringat hal yang menjijikkan bersama wanita lain, luka di hatinya kembali berdarah.

Namun, setiap kali Satria kembali mendekatinya, bersikap lembut dan manis, jantungnya terasa berkhianat, berdebar kencang tanpa diminta.

"Sialan..." geramnya pelan dalam hati sambil menunduk, menendang pasir di bawah kaki. "Hati ini murahan sekali."

Mereka berjalan menyusuri pantai. Setiap kali kaki telanjangnya menyentuh pasir, kenyamanan terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tangan yang saling bertaut, menyalurkan kehangatan. Angin yang membawa kedamaian, bersih, tenang dan segar. Serta debaran yang saling berirama. Perlahan menyatu, seakan sedikit demi sedikit menyembuhkan luka yang selama ini tercipta.

Mereka terus berjalan dalam diam, semakin lama semakin menjauh dari keramaian. Di sudut yang sepi, jauh dari orang-orang, berdiri sebuah warung kayu kecil sederhana. Mereka memutuskan singgah, memesan kelapa muda dan beberapa camilan ringan.

Saat mereka duduk berhadapan, Satria membuka pembicaraan yang cukup serius.

"Vi... bagaimana dengan hubungan kita ke depannya?"

Vivian terkejut, kelapa muda di tangannya hampir terlepas begitu saja.

"Kita sekarang sepupuan, Mas..." cicitnya lirih, segera memalingkan wajah, menyeruput air kelapa itu pelan.

"Aku tidak peduli soal itu, Vivian," genggaman tangan Satria mengerat, tatapannya terlihat begitu tulus.

"Rencana masa depan sudah kita susun bersama sejak dulu. Kamu lupa kenapa aku pergi ke kota? Semua itu demi kamu, demi masa depan kita."

Vivian menelan ludah susah payah. "Demi aku atau demi wanita itu, mas?" jeritan hatinya meledak dalam sunyi.

"Masa depan apa yang kamu maksud? Masa depan kita sudah lama hancur, sejak kamu menyentuh wanita itu." Napasnya memburu, sekali lagi bayangan itu melintas, meruntuhkan kedamaian yang baru saja tercipta.

Apa yang harus dilanjutkan, jika ia sendiri yang menghancurkan fondasinya?

"Kita... hanya sepupuan, Mas," ucapnya pada akhirnya. Matanya memanas, dadanya terasa terhantam benda berat.

Ia menarik tangannya dari genggaman Satria. Bekasnya masih terasa, terlalu hangat, terlalu nyaman, dan ia tak mau lagi terbuai.

"Tapi, Vi..." Satria tak menyerah. "Aku sudah menyiapkan semuanya, rumah impian mu, untuk masa depan kita." Ia mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan foto rumah minimalis, persis seperti yang dulu pernah Vivian gambarkan. Lalu membuka lembar dokumen, atas nama Vivian.

Ia memandang layar itu tak percaya. Air mata mulai menetes perlahan di pipinya. Ia tak sanggup lagi menahannya, wajahnya berpaling.

Satria bergerak mendekat, menariknya masuk dalam dekapan erat, mengusap punggungnya lembut, dan bahunya yang mulai bergetar, samar.

"Kenapa... kenapa harus ada wanita lain di antara kita?" batin Vivian menjerit perih. Jujur saja, ia tak peduli soal status sepupu itu. Tapi pengkhianatan itu... benar-benar tidak bisa diampuni.

Tangannya bergerak liar memukul-mukul dada Satria. Ia gemetar, ia terisak, dan hatinya teriris ngilu.

Namun Satria salah paham. Ia mengira Vivian hanya terbebani soal hubungan sepupu, tak tahu kalau perselingkuhannya sudah terbongkar. Ia masih berharap bisa memperbaiki semuanya, tanpa sadar betapa dalam lukanya.

"Sudah... kita pikirkan lagi nanti," bisiknya lembut, mendekapnya semakin erat. "Untuk sekarang, jalani saja seperti biasa."

Perlahan Satria melonggarkan pelukannya, menatap wajah Vivian intens. Jari-jari besarnya mengusap pelan pipi basah itu.

Vivian hanya diam, tak menolak, tak membalas. Pikirannya kosong, terisi kebingungan.

Lalu wajah Satria semakin mendekat. Napas hangatnya menerpa wajah Vivian, semakin dekat, hampir tanpa jarak.

Vivian tahu apa yang akan terjadi. Belum sempat ia menghindar, kedua bilah bibir saling bertemu, manis, hangat, dan penuh kelembutan.

Untuk pertama kalinya, mereka melakukan bersama. Cukup lama, hampir semenit berlalu. Vivian terhanyut, hampir sepenuhnya terbuai. Tangan Satria mulai bergerak turun...

Namun tiba-tiba... dering ponsel memecah keheningan. Terus berbunyi. Terus memanggil.

Vivian melepaskan pelukan Satria dengan tangan gemetar dan gugup. Ia segera mengangkat ponselnya, panggilan dari kakaknya, Raynor.

Napasnya belum begitu teratur, ia menyentuh tombol terima.

"H-halo, Kak..." jawabnya terbata.

Satria menatap Vivian, begitu dalam. Jarak mereka sangat dekat, bahu hampir bersentuhan. Ia memanfaatkan kesempatan itu, mengangkat ponselnya, mengabadikan momen manis bersama.

Klik.

Satu gambar tertangkap. Sempurna... Posenya begitu intim. Wajah Vivian menatap layar dengan bibir sedikit terbuka, penuh kegugupan, tertangkap utuh dalam bingkai. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang berbagi momen rahasia.

Tanpa membuang waktu, jari Satria bergerak cepat, membuka halaman akun pribadinya, lalu menekan tombol unggah.

Foto itu terkirim, tersebar di laman media sosial miliknya. Tanpa ia bayangkan dampak buruk yang akan segera menyusul, masalah besar yang tak terlihat namun sedang menanti di ujung sana.

"Iya Kak, tenang saja. Aman kok," ucap Vivian menutup pembicaraan, lalu menurunkan ponsel dengan perasaan yang masih berantakan.

Ia sama sekali tak tahu, di balik punggungnya, satu momen diam-diam baru saja melahirkan badai yang akan datang.

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!