Vano dan Nindy menentang hubungan putranya dengan Kila, dengan alasan tak mau sejarah lama terulang kembali yang terjadi pada mereka di masa lalu. Namun keduanya luluh juga setelah melalui beberapa konflik yang menegangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Ahza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 31
Setelah beberapa menit akhirnya mereka menemukan warung makan atas rekomendasi Kila. Tempatnya kecil namun bersih. Dari luar dapat di lihat dari etalase yang terbuat dari kaca, yang menjajar beberapa menu dari sayur hingga lauknya. Sangat menggoda selera sekali. Dan dari luar saja sudah dapat di lihat, betapa ramainya suasana warung saat itu. Axel tertegun. Jujur, baru pertama kali ini ia makan di warteg.
"Mbak, ini tempatnya...?" tanya Axel menunjuk warung di depanya.
"Iya, ayo masuk... " ajak Kila bersemangat.
Axel berjalan mengikuti Kila. Suasana di di dalam ternyata sangat ramai sekali. Ada yang sedang makan, ada yang menunggu pesanan datang, ada juga yang sudah selesai makan dan ngobrol santai bersama temanya. Kila mengambil tempat duduk berhadapan dengan pasanga muda yang tengah lagi menikmati hidanganya. Karena hanya tempat tersebut yang kosong. Seorang pelayan segera menghampiri mereka.
"Mau pesan apa...?" tanya pelayan tersebut.
"Emmm, nasi putih cah kangkung dan ayam goreng rempah, kamu mau makan apa, Xel...?" tanya Kila.
"Sama kayak mbak aja..." jawab Axel karena bingung mau pilih menu apa.
"Ya udah sama aja deh, Mas..."
Sang pelayan mengangguk lalu berlalu dari hadapan keduanya. Axel mengedarkan pandangan ke sekeliling warung.
Lumayan juga tempatnya.
Gumamnya dalam hati.
"Xel, maaf ya mbak kamu ajak ke sini..."
"Aku seneng kok mbak di ajak ke sini..." jawab Axel menyunggingkan sebuah senyuman. Tak lama, makanan yang di pesan pun datang. Makanan sudah tersaji di hadapan masing-masing. Cah kangkung yang berwarna hijau segar sangat menggoda sekali. Juga ayam goreng rempah yang aromanya menggugah selera. Sungguh membuat perut yang lapar ingin segera melahapnya.
"Kenapa di pandangi saja, ayo dong di makan..." tukas Kila yang melihat Axel menatap makanan tersebut.
"Iya mbak..." jawab Axel lalu terdiam lagi.
"Kenapa lagi...?" tanya Kila.
"Sendoknya mana mbak...?" pertanyaan Axel membuat Kila menahan senyum.
"Makanya pakai tangan Axel, nih kobokannya..." jelas Kila dan menunjuk mangkok yang berisi air kobokan.
"Maaf mbak, hehe...."
Lalu dengan segera mencelupkan tanganya untuk di bersihkan sebelum memuluk nasi tersebut. Kila menggeleng dengan senyum karena lucu.
"Ayang suapin...." kata cewek di depan Axel yang merengek kepada pacarnya. Namun pacarnya menolak permintaan si cewek.
"Makan sendiri, maludi lihatin orang..." tukas si cowok yang membuat si cewek tersebut cemberut. Axel dan juga Kila mendengar hal itu, namun mereka pura-pura tak mendengar apa-apa. Alasan si cewek minta di suapin, karena sejak kedatangan Kila, dan Kila duduk di hadapan cowoknya itu, si cewek itu ngelihat kalau cowoknya sering curi pandang kepada Kila. Iatak menghargai dirinya sebagai pacarnya. Jelas saja dia cemburu. Dengan raut wajah seperti awan yang mendung, si cewek itu mengunyah makananya.
"Enak....?" tanya Kila.
"Banget mbak pacar..." jawab Axel yang menikmati makananya sambil senyum-senyum. Kila kaget dengan pernyataan Axel. Kedua matanya membelalak. Tak mengerti dengan maksut dan ucapan Axel.
Busyet, kirain kakaknya, ga taunya pacarnya...
Gumam si cowok yang berada di hadapan Kila.
"Cobain deh, aaaaaaakk...." Axel menyuwir daging ayam miliknya dan menyuapkannya kepada Kila. Karena tak paham dengan semua yang barusan terjadi dan ia alami, otomatis ia mengikuti apa kata Axel. Axel sendiri juga langsung spontan saja melakukan hal itu. Kila mengunyah ayam yang di suapkan Axel tadi. Namun kebingungannya belum juga hilang. Sesaat kemudian kedua pasangan yang berada di hadapan mereka pun pergi karena usah selesai makan.
"Mbak maaf karena ucapan Axel tadi, bukanya bermaksut apa-apa, karena tadi aku lihat cewek yang ada di depanku melirik dengan tatapan penuh kekesalan sama mb..." jelas Axel setelah kedua pasangan tadi keluar dari warung.
"Loh kenapa, Xel? Kok mbak nggak tau...?" jawab Kila heran.
"Kan cowoknya tadi nglirik mbak terus, mbak Kila nggak sadar, karena asik makan." Axel menjelaskan dan menatap Kila.
"Ohhh begitu ya...?" Kila manggut-manggut.
"Mbak nggak marah kan...?" tanya Axel.
"Enggak lah, mbak malah berterima kasih..."
Keduanya sudah selesai makan. Kini waktunya bayar. Kila dan Axel berjalan untuk membayar.
"Berapa semuanya mas...?" tanya Kila sembari membuka dompetnya yang berisi beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Setelah sang pelayan mengatakan total jumlahnya, Kila segera mengambil uangnya.
"Ini Mas...." kata Axel memberikan uang lima puluh ribuan sebelum Kila membayarnya.
"Eh jangan jangan... " cegah Kila menahan tangan Axel. Namun si pelayan keburu mengambil uang yang di sodorkan Axel.
"Gak papa mbak, pantang bagi saya di bayarin cewek mbak, hehe..." kelakar Axel.
"Yaaahhh, mbak jadi gak enak, udah berulang kali ngerepotin kamu, Xel..." raut wajah Kila menampakan kalau dia di situasi bener-bener nggak enak kepada Axel. Keduanya segera keluar setelah pelayan memberikan uang kembalian.
"Axel makasih ya atas semuanya, mbak nggak bisa berkata apa-apa selain berterima kasih kepadamu, kamu mau kan mbak anggap adik mbak sendiri..." kata Kila saat motor Axel akan melaju.
"Sama-sama mbak Kila..." ucap Axel lalu pergi meninggalkan warung tersebut. Seperti tadi, Kila memegang pundak Axel untuk pengaman diri. Motor meliuk-liuk menyusuri jalan raya.
"Ehh, itukan kak Axel....?" tunjuk Zia yang sedang berada di mobil Angga.
"Mana-mana...?" tanya Angga yang ternyata menjemput Zia kembali dari kampusnya. Angga melongok melihat Axel boncengan dengan Kila yang tak ia kenali. Karena Angga melihat dari belakang, dan di halangi satu mobil.
"Wah bener, tapi sama siapa dia Zi, kamu kenal dengan cewek yang di bonceng kakak kamu nggak..." tanya Angga lagi karena.
"Zia nggak tahu siapa cewek itu kak, rasanya baru kali ini deh kak Axel bonceng cewek di motornya." jelas Zia.
Motor Axel semakin kencang. Tepat di belokan, Axel ambil ke kanan dan Angga ambil ke kiri.
"Waahhh, udah berani main sembunyi-sembunyi tuh anak..." gumam Angga.
"Zia juga gak di kasih tau tuh, Zia ganya aja nanti kalau udah di rumah..."
"Jamgan Zia. Pura-pura gak tau aja, oke....?" Zia diam sejenak, lalu mengiyakan ucapan Angga.
Hari itu sebelum pulang, Angga mentraktir Zia makan steak, karena tadi pagi saat mengantar Zia, Angga sudah berjanji padanya. Zia dan Angga sudah saling kenal akrab karena Angga sering bertemu di rumahnya saat Angga maen ke tempat Axel. Sikap manja Zia yang seperti anak kecil dengan semua tingkah lucunya, membuat Angga seperti memiliki adik perempuan. Ia menyayangi Zia seperti adik kandungnya. Mobil Angga terparkir rapi di restoran steak yang ia kunjungi siang itu. Setelah memesan dan menunggu beberapa saat, datanglah pesanan mereka.
"Enak...?" tanya Angga setelah Zia mencicipi steaknya.
Acungan jempol menjawab pertanyaan Angga. Karena sedang mengunyah, Zia tak mau menjawab dengan kata-kata. Ia selalu ingat kata-kata Papanya, adab ketika makan itu nggak boleh berbicara, tidak sopan.
Angga tersenyum, lalu ia sendiri juga makan. Saat sedang asik makan, seseorang menghampirinya.
"Siang Angga, Zia...?" sapa seseorang tersebut yang tak lain adalah Tasya mantan pacar Axel yang juga sedang makan di tempat itu. Keduanya menoleh.
"Tasya...?" jawab Angga menghentikan makanya. Begitu juga dengan Zia.
"Kak Tasya...?"
Bersambung....