Juara 2 Lomba Novel Horor 2023.
Season 1 Desa rawa belatung.
Season 2 Penelusuran gaib rania.
Season 3 Tumbal panti jompo.
Berawal dari ditemukannya buku catatan di sebuah kamar kost. Kamar yang dulunya di tempati oleh seorang gadis lugu. Ia merantau dari desa untuk bekerja di pabrik garment. Sejak ia ditemukan tewas di bangunan kosong yang tak jauh dari kostnya, banyak kejadian misterius yang terjadi di kost itu. Satu persatu teman-teman satu kost nya mendapatkan pesan misterius, yang berisi peringatan atau semacam ancaman. Pesan yang berupa selembar surat ataupun pesan singkat melalui ponsel, tiba-tiba dikirimkan untuk mereka.
Jika mereka tak melakukan apa yang dituliskan di pesan tersebut, maka mereka akan celaka dalam waktu yang sudah ditentukan di pesan tersebut. Sebuah pesan kematian yang akan mengantar mereka yang mendapatkannya bertemu dengan malaikat maut.
Tak ada yang tau siapa pengirim pesan kematian tersebut. Mungkinkah roh gadis itu gentayangan untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 SAMBUTAN HANGAT.
Putri berjalan mundur dengan nafas yang berderu kencang. Ia sangat terkejut melihat penampakan di dalam kamar Kara.
"Apa itu tadi? Benar-benar sangat mengerikan!" Gumamnya dengan bulu-bulu halus yang meremang.
Seorang pemuda dengan badan tinggi tegap menghampiri nya. "Lu gak apa-apa?" Tanya nya seraya mengulurkan tangan untuk membantu Putri berdiri.
Putri mendongakkan kepala, melihat pemuda yang ada di depannya. Orang itu adalah sahabat Kara yang tinggal di Kost itu juga. "Terima kasih. Aku gak apa-apa kok." Jawab Putri tak berani bertatapan mata. Kemudian ia melangkahkan kaki pergi.
"Eh tunggu dulu! Di depan ada orang yang nyariin lu. Bawa banyak bungkusan gitu. Apa dia pacar lu yang datang dari kampung?"
"Hah... Pacar? Gak kok, aku gak punya pacar. Maaf ya permisi dulu." Putri langsung bergegas keluar, ia melihat seorang lelaki sudah duduk di ruang tamu kost nya.
Terlihat lelaki itu menyunggingkan senyuman, menatap Putri dengan raut wajah bahagia. Ia menenteng bungkusan plastik berwarna putih.
"Taraa... Mas Mawar mu sudah tiba. Apa kabarmu Put? Apa kau betah tinggal disini?"
"Loh, kok Mas Mawar udah sampai aja sih? Aku kan belum mengirimkan alamat kost ini. Bagaimana caranya kau tau aku tinggal disini?" Putri menggaruk kepala yang tak gatal.
"Memangnya penting ya Put? Ceritanya panjanglah pokoknya. Yang terpenting kan aku bisa sampai disini dengan selamat. Udah nih disimpan dulu titipan dari ibumu. Lelah sekali aku membawa semua barang ini." Keluh Mawar seraya meregangkan otot di tubuhnya.
"Hmm baiklah, istirahat dulu disini, aku akan ambilkan air minum untukmu."
"Gak usah repot-repot Mbak Putri... Ini saya sudah siapkan suguhan nya. Monggo Mas disambi dulu cemilan dan es sirup nya. Cuaca di Jakarta sangat panas, berbeda dengan di Desa. Ya to?" Celetuk Mbak Ijah yang tau-tau sudah membawa hidangan di nampan besi jadul dengan hiasan bunga mawar di alas nya.
Tak berselang lama Melati datang. Begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah, Mawardi langsung bangkit dari duduknya, lalu memberi salam dengan mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu.
Melihat adegan tersebut, memang sedikit mengherankan bagi Putri. Tapi ia menepis perasaan penuh tanda tanya itu. Karena baginya, hal semacam itu memang sudah menjadi kebiasaan orang desa dimanapun berada. Karena setelah itu Mawar juga melakukan hal yang sama pada Mbak Ijah.
"Duduklah, pasti kau lelah setelah perjalanan jauh. Tadi saya sudah bertemu dengan pemuda ini di depan rumah. Dia kayak orang kebingungan gitu nyari alamat. Pas saya tanya bilang nyari adiknya yang ngekost gak jauh dari Pabrik garment ujung jalan. Gak tau nya, Mawardi ini nyari kamu to Put. Ya sudah saya persilahkan masuk saja. Apa ada kabar buruk sampai kau tiba-tiba mendatangi Putri?" Ucap Melati selalu dengan senyum ramahnya.
"Gak ada apa-apa kok bu. Mas Mawar hanya mampir saja, sekalian bawain masakan dari rumah. Iya to Mas?" Kata Putri seraya menyikut lengan Mawar.
"Iya kok bu, gak ada kabar buruk. Justru saya kesini bawa kabar baik, saya sudah menjual semua hasil kebun keluarga Putri dengan harga yang lumayan. Bukankah itu termasuk kabar baik kan Put?" Jelas Mawar mengembangkan senyumnya.
"Maaf semuanya, saya permisi dulu. Sudah waktunya Restu dimandikan sebelum petang." Ucap Mbak Ijah membungkukkan setengah badan, terasa sangat sopan tak seperti biasanya.
Suasana menjadi hening, sepertinya Putri agak sungkan berbicara dengan Mawar di hadapan Melati. Ia was-was jika Mawardi sampai keceplosan menyebutkan nama Ayu sebagai saudaranya. Menyadari sikap Putri yang canggung, Melati berpamitan untuk melakukan sembahyang di ruangan khusus yang ada persis di depan kamar Putri.
"Kalian lanjutkan saja ya bicaranya, anggap seperti rumah sendiri. Karena biasanya jam segini semua anak kost belum pada pulang. Saya tinggal ke belakang dulu." Melati pergi ke dapur belakang, nampak ia membawa beberapa cawan dan nampan yang di atasnya ada buah-buahan dan dupa yang masih terbungkus plastik.
Mawardi bertanya, kenapa sikap Putri agak berbeda seakan ia tak nyaman dengan keberadaan ibu kost nya. Putri tak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangan, menoleh ke segala arah. Setelah memastikan tak ada siapapun disana, ia menjawab pertanyaan Mawardi dengan jelas. Yang intinya, ia hanya ingin jati dirinya sebagai adik Ayu tak diketahui semua orang yang tinggal disana.
"Aku sudah mencurigai sesuatu Mas, sepertinya kematian Mbak Ayu gak sepenuhnya karena faktor bunuh diri. Katanya ada yang sengaja menjadikan Mbak Ayu sebagai tumbal. Dan orang-orang itu yang sengaja mengarang semua ceritanya. Bahkan disini, beredar rumor jika ada pesan kematian yang ditulis Mbak Ayu untuk beberapa orang yang dulu memang pernah membully nya. Sudah ada satu orang korban yang tewas setelah mendapat surat yang berisi pesan kematian itu. Tapi Mas Mawar jangan cerita ke ayah dan ibu ya. Janji?" Pungkas Putri setengah berbisik. Lalu mengangkat jari kelingking nya, disambut dengan jari kelingking dari Mawardi. Sebagai pertanda jika mereka mengikat janji.
"Oh... Jadi begitu toh Put. Pantas saja kau jadi membisu disaat ibu kost mu mengobrol denganku. Tapi kan beliau baik orang nya Put. Padahal aku baru sekali datang sudah langsung disambut dengan hangat. Padahal yang ku dengar orang kota gak begitu ramah. Nyatanya beliau itu baik sekali kelihatannya. Dan mengenai cerita tentang rumor Ayu, aku gak akan cerita ke ayah dan ibumu. Kau kan udah kayak adikku sendiri." Kata Mawar seraya mengusap rambut Putri.
"Ya udah kita jalan-jalan sebentar yuk Mas keliling daerah sekitar. Sejak datang kesini aku belum pernah kemana-mana. Kita nongkrong sebentar di cafe, biar kayak orang kota gitu." Ajak Putri bergelayut manja di lengan Mawardi.
Baru saja Putri akan kembali ke kamar untuk mengambil tas dan meletakkan makanan kiriman ibunya. Terdengar suara ketukan pintu, Mawar yang kebetulan sudah berdiri langsung membuka pintu ruang utama. Terlihat dua orang petugas polisi datang, memastikan apakah benar jika seorang wanita bernama Kara Manohara yang tinggal disana. Seketika Putri membalikkan badan karena penasaran.
"Ada apa ya Pak? Disini memang ada yang bernama Kara, tapi dia sedang tidak ada di kost." Jelas Putri dengan mengaitkan kedua alis mata.
Tak berselang lama, Mbak Ijah datang dengan kain jarik dan kebaya yang agak basah. Ia meminta penjelasan dari kedua petugas itu, tujuan keduanya datang kesana. Nampak raut wajah keduanya gelisah.
"Bisa panggilkan pemilik kost ini? Saya membutuhkan sedikit informasi dari yang bersangkutan." Tegas salah satu petugas itu, lalu ia berbicara melalui handy talky dengan seseorang yang tak tau siapa.
Melihat ekspresi para petugas itu membuat Putri berpikiran buruk. Apalagi sebelumnya ia melihat penampakan di kamar Kara. Tentu saja kali ini Putri jadi makin gelisah. Ia memegangi pergelangan tangan Mawar dengan erat, seakan ia membutuhkan perlindungan dari orang terdekatnya.
tapi tetep keren dan bagus kok ceritanya /Smile/ /Good/
ku tunggu novel baru.ny tentang wati..