Yessi Rossalia, seorang guru muda yang menelan pil pahit kehidupan. Pernikahan sempurna yang diimpikannya harus kandas.
Di hari pernikahannya, dia terpaksa menikahi murid SMA yang berusia belia. Demi buah hati yang telah tumbuh dirahimnya.
Kisah berliku dengan konflik batin dan tatapan cemoohan dari orang-orang di sekitarnya harus siap Yessi hadapi kedepannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara_Sorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai
Musim hujan telah datang. Awan mendung kembali menggantung. Setiap hari hujan mengguyur tiada henti. Seolah mengerti perasaan hati seorang Yessi. Meskipun pikirannya berusaha tetap pada jalannya namun tidak dengan hatinya. Berapa kalipun Yessi berusaha keras melupakan ungkapan perasaan Nico. Setiap kali jualah kenangan yang pernah dia lalui bersama pemuda itu menari-nari dalam benaknya.
“Tidak! Tidak! Tidak! Apa yang aku pikirkan!” ucap Yessi sembari memukul-mukul kepalanya. Tatkala sedang berada di kamarnya sendiri.
Bayang-bayang Nico terus saja berkelebat di pelupuk matanya. Manakala Yessi teringat saat Nico menciumnya kali terakhir. Ada getaran-getaran aneh yang merasuk dalam hatinya. Ciuman Nico terasa menghangatkan hati seorang Yessi.
“Arghht!!! Kenapa aku malah teringat hal konyol semacam ini. Ayolah Yessi, sadarlah…. Mas Al kini telah kembali. Fokus saja pada sosok calon suami sempurna yang ada dihadapanmu.” ucap Yessi berulang kali pada dirinya sendiri.
Hingga sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Yessi.
*Tok*
*Tok*
“Nak, ini ibu. Boleh ibu masuk?” tanya sumber suara yang tak lain Bu Susana.
Yessi seketika merapikan rambutnya yang berantakan. Lantas membuka pintu kamar. Bu Susana masuk ke dalam. Melihat wajah Yessi yang kusut. Seolah beban dunia berada di pundak anak sulungnya tersebut.
“Ibu membawakanmu minuman hangat. Minumlah selagi belum dingin.” ucap Bu Susana sembari menyodorkan minumannya.
“Terimakasih bu.” balas Yessi sambil menyeruput minumannya.
Bu Susana menatap Yessi sembari mengelus rambut panjang anak perempuannya itu sesekali.
“Ibu melihat, akhir-akhir ini kamu sering mengurung diri di kamar. Apa ada masalah?” tanya Bu Susana penuh perhatian.
Yessi hanya menggelengkan kepala. Tak tau harus mengatakan apa pada ibunya. Bu Susana mengulas senyum tipis.
“Mungkin ibu bukanlah seseorang yang dapat membaca isi hatimu. Tetapi, ibu bisa merasakan kegundahan yang kamu rasakan. Ceritakan pada ibu, apa yang kamu rasakan Nak? Mungkin saja dengan bercerita pada ibu, akan membuat gundahmu berkurang.”
Yessi tidak mengatakan apapun. Hanya menyandarkan kepalanya di bahu Sang ibu. Bu Susana mengelus bahu putrinya penuh kasih sayang.
“Bukankah seharusnya aku bahagia. Saat mengetahui Mas Al sebenarnya masih hidup? Tetapi kenapa rasanya sehampa ini?”
Terdengar nafas berat dari Yessi hingga berulang kali. Bu Susana mengulas senyum tipis.
“Ibu tidak memiliki jawaban atas pertanyaanmu. Tetapi jika ingin jawaban sungguh-sungguh, tanyakan pada hati kecilmu.”
Mendengar jawaban ibunya, membuat Yessi kembali terdiam. Disaat keduanya sedang berbincang. Tiba-tiba Vio masuk ke dalam kamar.
“Mbak, di depan ada Mas Nico.”
Mendengar Nico datang. Membuat Yessi seketika beranjak dari duduknya. Merasa kaget dengan kehadiran Nico yang tiba-tiba seperti ini.
*Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apa Nico masih berusaha mempertahankan pernikahan mereka*? Yessi hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Tetapi Yessi berpikir lebih baik tidak perlu menemui Nico. Hanya akan membuat perasaannya tidak nyaman.
“Katakan pada Nico, mbak tidak ingin menemuinya.” ucap Yessi pada Vio dengan nada ketus.
“Ta.. tapi….”
“Biar ibu saja yang bicara pada Mbakmu. Kamu temani saja dulu Nak Nico.” ucap Bu Susana.
Vio mengikuti apa yang dikatakan ibunya. Lantas bergegas keluar dari kamar menuju teras depan, karena Nico memilih duduk di luar.
“Sebaiknya kamu temui Nico dan selesaikan semuanya baik-baik. Bagaimanapun Nak Nico pernah membantumu saat sedang mengalami kesusahan.”
Selepas mengatakan itu. Bu Susana memberi waktu Yessi untuk berpikir. Meninggalkan Yessi sendirian di kamarnya.
*Untuk apa dia datang kemari? Apa Nico masih tidak ingin bercerai? Apa dia masih keras kepala dengan perasaannya itu. Kenapa dari dulu kamu selalu menempatkanku dalam posisi sulit*? Yessi hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Helaan nafas berat terdengar berulang kali. Dia terlihat mondar-mandir ke sana kemari sembari menggigit ujung kukunya. Yessi melakukan hal itu hingga beberapa jam lamanya.
“Argtthhh! Ini membuatku tidak tenang. Jika Nico datang dan masih bersikukuh dengan perasaannya. Aku akan bersikap tegas.” ucap Yessi pada dirinya sendiri.
Lantas berjalan menuju teras depan rumah. Vio yang melihat kakak perempuannya sudah berada di sana. Memilih membiarkan Yessi dan Nico berbincang berdua saja. Selepas kepergian Vio. Yessi memilih berdiri dan menghindari beradu pandang dengan Nico.
“Untuk apa datang kemari? Sudah aku katakan lebih baik kita tidak perlu bertemu.” ucap Yessi membuka suara.
Nico tidak mengatakan apapun. Dia meletakkan sebuah kotak berwarna merah di meja dekat Yessi berdiri. Mata Yessi sesekali melirik kotak berwarna merah yang ada di dekatnya.
“Jika kamu datang hanya untuk mengatakan hal-hal yang tidak berguna. Sebaiknya segeralah pergi. Jika kamu terlalu lama di sini, hanya akan membuatku merasa tidak nyaman.” ucap Yessi ketus.
Nico hanya menundukkan kepala. Tidak ada satupun kata keluar dari mulutnya. Membuat Yessi semakin kesal dibuatnya. Terpaksa dia menoleh dan menatap ke arah Nico.
“Apa kamu tidak punya mulut untuk berbicara? Jika tidak ada yang dibica….”
“Aku akan menceraikanmu….” ucap Nico memotong pembicaraan Yessi.
Membuat Yessi sedikit terhenyak.
“Ber..bercerai?” tanya Yessi balik. Setengah tidak percaya.
“Ya, seperti yang kamu inginkan. Kita bercerai saja.” jawab Nico dengan nada dingin.
Entah kenapa perasaan Yessi tiba-tiba seperti ditusuk sembilu. Mendengar Nico setuju bercerai dengannya.
*Kenapa ini? Kenapa saat Nico mengatakan bersedia menceraikanku. Hatiku terasa tidak nyaman. Bisakah…bisakah … kamu menarik kata-kata itu*. ucap Yessi dalam hatinya membuat perasaannya menjadi semakin tidak enak.
“Ba…baguslah… jika kamu setuju.”
Tetapi justru kata-kata seperti itu yang meluncur dari mulut Yessi. Nico tersenyum getir.
“Baiklah, kita sudah sama-sama setuju.” balas Nico.
Yessi seketika memalingkan wajahnya. Entah kenapa rasanya tak sanggup menatap Nico. Mata Yessi mulai berkaca-kaca. Perasaannya semakin tak menentu.
“Kedatanganku kemari hanya untuk menegaskan. Bahwa aku setuju bercerai denganmu dan…. dan… untuk terakhir kalinya. Aku ingin memberikanmu sesuatu yang selama ini sudah ku siapkan. Jika tidak suka, kamu boleh membuangnya, karena aku tidak ingin menyimpan sesuatu yang membuat hatiku terluka.”
Yessi hanya diam, tidak memberikan reaksi apapun.
“Kamu tau, aku sempat membayangkan. Jika bayi yang ada dalam kandunganmu lahir. Aku ingin menjadi yang pertama menggendongnya. Menjadi orang pertama yang dipanggilnya papa. Menimangnya dalam pangkuanku. Mendengar suara tangis maupun tawanya. Apa kamu tau apa impianku? Impianku hanyalah ingin menjadi orang tua yang baik untuk anakku kelak. Aku sungguh ingin menjadi keluarga yang sebenarnya bersamamu. Tetapi, itu hanya keinginan sepihak. Keinginan yang tak bisa menjadi kenyataan.” ucap Nico, suaranya sedikit bergetar karena menahan perasaan yang mengiris hatinya.
Mendengar perkataan Nico, membuat hati Yessi semakin tak menentu. Tangannya mengepal erat. Yessi berusaha menahan dirinya. Rasanya ingin sekali dia berlari dan memeluk Nico. Batinnya terus meminta Yessi untuk merobohkan pagar penghalang yang selama ini mengekang hatinya.
Yessi sudah maju selangkah. Ingin sekali rasanya memeluk pemuda yang tanpa sadar telah mengambil hatinya secara perlahan.
“Ni…Nico…” panggil Yessi lirih.
Tiba-tiba tanpa terduga seseorang memeluknya dengan erat. Membuat Yessi terkejut setengah mati.
“Aku merindukanmu Ros.” ucap seseorang yang tak lain Alfatih.
Pelukan Al membuat Yessi menghentikan langkahnya. Membuatnya dirinya tersadar. Bahwa pria yang seharusnya bersama dengan dirinya hanyalah Al bukan seorang Nico.
*Benar…untuk sesaat aku telah melupakan siapa yang seharusnya bersamaku. Pria yang sekarang memelukku, adalah pria sempurna dan ayah dari bayi yang aku kandung*. ucap Yessi dalam hatinya.
Perlahan tangannya membalas pelukan Al. Meski sesekali ujung matanya melirik ke arah Nico.
**A.. air mata? Apa barusan Nico menitikkan air mata**? mata Yessi terpengarah dibuatnya. Dia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Dalam pelukan Al, mata Yessi masih mencuri pandang ke arah punggung Nico yang berjalan menjauh darinya dan kemudian menghilang dibalik derasnya hujan.