Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Omes
"Sudah biarkan dia. Sini duduk." ucap Tuan Abraham.
Zander duduk lebih dulu kemudian disusul Ravin.
"Apa kalian sudah selesai berbincangnya?" tanya Tuan Abraham.
"Sudah Kek." jawab Zander.
"Jadi, apa kamu serius dengan cucuku? Kalau tidak serius, jangan terlalu lama membuang waktu cucu ku tentukan dari sekarang kapan kamu mau mengakhiri hubungan kalian." tanya Tuan Abraham pada Ravin.
"Saya serius Tuan, sangat serius jadi saya tidak akan mengakhiri hubungan saya dan Zemi." jawab Ravin.
"Sekalipun dia bosan padamu?" tanya Tuan Abraham lagi.
"Iya Tuan, saya akan memastikan hari-harinya bahagia hingga dia tidak pernah merasa bosan dengan saya dan malah makin hari cintanya untuk saya makin bertambah." jawab Ravin.
"Cih! Gejolak kawula muda!" celetuk Zayden.
"Kau bisa bicara begitu karena baru-baru pacaran, coba saja kalau sudah enam bulan, bulshit kalau kau ingat mengirim pesan untuk Zemi." kata Zayden lagi.
"Beda kepala beda isinya Tuan. Mungkin itu Anda tapi tidak dengan saya, saya sudah mencintai Zemi dari SMA dan sampai sekarang perasaan saya untuk Zemi tidak pernah berubah bahkan tidak sekalipun saya menghadirkan wanita lain untuk mengisi kekosongan saya, jadi saya sangat yakin kalau saya tidak akan pernah bosan dengan Zemi dan saya bisa pastikan juga kalau Zemi tidak akan pernah bosan dengan saya." jawab Ravin.
Zayden menaikkan sudut bibirnya mendengar jawaban Ravin.
"Kalau memang kamu seserius itu, cepat tentukan tanggal." ucap Tuan Abraham.
"Tentukan tanggal untuk apa?" tanya Ravin.
"Untuk apa lagi, yah untuk pernikahan kalian lah." jawab Tuan Abraham.
"Oh..." Ravin membulatkan mulutnya. Tiba-tiba saja dia langsung salah tingkah karena Tuan Abraham membahas pernikahan.
"Nanti saya akan bicarakan ini dengan Zemi, Tuan." jawab Ravin.
"Saya harap secepatnya. Kamu lihatkan saya ini sudah tua, jadi sebelum saya meninggal saya ingin melihat cucu perempuan saya menikah." ucap Tuan Abraham.
"Oh Kakek bisa meninggal juga? Zay pikir nyawa Kakek sudah di suntik formalin biar bisa hidup selamanya." canda Zayden.
"Kau ini! Kau pikir Kakek mau hidup selamanya? Tidak yah! Buat apa hidup selamanya tapi stress karena tingkah kau dan Zemi lebih baik Kakek menyusul nenek dan orangtua kalian daripada harus hidup selamanya dengan dua manusia absurd seperti kau dan Zemi." balas Tuan Abraham.
Mendengar perdebatan Zayden dan Tuan Abraham, Ravin hanya tersenyum tipis.
Tak lama Ravin teringat Zemi, sudah hampir lima belas menit Zemi tidak kembali-kembali ke ruang baca.
Yakin pasti Zemi malu kembali keruang baca, Ravin pun memutuskan untuk menyusul Zemi sekalian mereka pulang.
Mewakili Zemi, Ravin pun berpamitan pada Tuan Abraham dan kedua Kakak Zemi lalu keluar dari ruang baca.
Begitu keluar dari ruang baca, Ravin langsung menghampiri salah seorang pelayan dan menanyakan keberadaan Zemi.
Ternyata Zemi sedang ada di kolam ikan di halaman samping. Ravin pun menyusul Zemi kesana lalu mengajak Zemi pulang.
💋💋💋
Kini Ravin dan Zemi sudah berada di dalam mobil, mereka sedang dalam perjalanan menuju kos-kosan Zemi.
Selama dalam perjalanan mulai dari kediaman Pieters sampai sudah di pertengahan jalan, Zemi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Dia masih malu karena kentutnya yang bau.
"Kamu sakit gigi?" tanya Ravin memulai percakapan. Tadinya Ravin ingin menunggu Zemi yang bicara lebih dulu, tapi nampaknya Zemi masih malu padanya.
"Enggak." jawab Zemi.
"Um... mau langsung pulang ke kosan atau mau kemana dulu?" tanya Ravin.
"Terserah, aku ikut saja." jawab Zemi.
"Oh oke." balas Ravin.
Saat ada di perempatan jalan, Ravin langsung memilih jalur menuju apartemennya bukan memilih jalur menuju kosan Zemi.
"Loh kita mau kemana?" tanya Zemi.
"Ke apartemen aku." jawab Ravin.
"Ngapain?" Kaget Zemi.
Bukannya menjawab Ravin malah mengerlingkan sebelah matanya.
Mata Zemi membulat, apa jangan-jangan Ravin mau...
Argh...!!! Bagaimana ini? Aku harus mempersiapkan apa?
Gumam Zemi dalam hati, pikirannya sudah mulai aneh-aneh.
"Vin, stop di mini market itu dulu, ada yang mau aku beli." pinta Zemi sambil menunjuk mini market.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka