Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Repot
Kehadiran anak kedua Arin dan Ikbal di keluarga mereka membuat suasana semakin ramai. Namun, ketika Lily mulai menangis, anggota lain merasa terganggu.
"Arin, anak kamu kenapa lagi sih? Dikasih ASI biar diam," saran Bu Nia.
"Anaknya sudah kenyang, Bu," jawab Arin.
"Lalu kenapa nangis terus?" tanya Bu Nia. Arin menghela nafas panjang. Dia tidak ingin berdebat dengan ibunya. Maka dia memilih diam.
"Arin, ditanya malah diam saja. Kamu nggak menghargai ibu?" sentak Bu Nia.
"Aku juga tidak tahu kenapa Lily menangis, Bu. Tolong jangan membuatku semakin panik. Mungkin Lily hanya mengantuk saja. Ibu tidak usah khawatir."
"Tidak khawatir bagaimana? Kamu ini bisa nggak sih ngurus anak?"
'Ya Allah, coba saja Mas Ikbal bisa membeli rumah sendiri pasti aku tidak semenderita ini,' gumam Arin dalam hatinya.
Arin membawa Lily masuk ke dalam kamar. Kemudian dia menyusui bayi berusia dua bulan itu. Ketika Arin baru menyusui Lily, Bu Nia masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Tentu saja Arin terkejut.
"Ada apa lagi, Bu?" tanya Arin.
"Itu Flora siapa yang jagain, ibu mau pergi ke warung," kata Bu Nia.
Arin meninggalkan Lily di atas kasur kemudian mengajak Flora main di dalam kamar. "Ibu kok belum jalan?" tanya Arin yang melihat ibunya berdiri di tempat yang sama. Bu Nia pergi begitu saja ketika Arin menegurnya.
Ketika Flora mulai lelah bermain, dia mengantuk. Namun, Flora menangis dengan kencang sehingga membangunkan Lily yang tengah tertidur. Tangisan Flora dan Lily bersahut-sahutan. Arin menjadi pusing.
"Sebentar ya, Flo. Ibu bikinin susu dulu." Arin mengambil botol kemudian mengisinya dengan susu formula. Setelah mengisinya Arin memindahkan Flora ke atas kasur.
"Adik, blisik!" sentak Flora.
Flora memang tidak menyukai adiknya. Mungkin dia cemburu pada Lily karena perhatian sang ibu diberikan lebih pada bayi kecil itu.
"Jangan gitu, Nak. Ayo Flora tidur sekarang!" perintah Arin pada anak sulungnya.
Arin berbaring di tengah agar menjadi penghalang bagi Flora dan Lily. Jika tidak dihalangi maka kaki Flora akan sangat berbahaya jika mengenai adik kecilnya itu.
Arin ikut tertidur menemani kedua anaknya. Tak terasa Arin tertidur hingga jam tiga sore."Arin." Suara teriakan itu kembali terdengar.
Lily terkejut mendengar suara Bu Nia yang menggelegar. Dia pun menangis. Arin menggendong bayinya agar tidak membangunkan Flora. Jika Flora bangun nanti maka Arin akan kewalahan menghadapi dua balita yang menangis secara bersama-sama.
"Adik diam ya!" Arin menepuk-nepuk pantat bayi kecil itu hingga merasa tenang.
"Dipanggil kok nggak menyahut?" protes Bu Nia.
"Bu, pelankan sedikit suaranya," ucap Arin sambil berbisik.
"Ibu mau pergi ke pengajian, jangan lupa sapu lantai sama ngepel."
"Hish, bisa nggak sih gantian Tika yang nggak ngurus anak aja yang ngepel lantai?" Arin kesal karena sang ibu tidak bisa lihat kondisinya yang sedang repot.
Setelah itu Bu Nia pergi. "Mbok ya bersih-bersih dulu gitu bu sebelum pergi. Meninggalkan rumah dalam keadaan kotor, sengaja ya, Bu?" gerutu Arin berbicara seorang diri.
Gemas sekali rasanya karena Tika saja yang berada di kamar tidak disuruh. Kenapa dia yang mengurus dua balita malah disuruh ini itu? Pikir Arin.
Mau tak mau Arin memegang sapu usai menidurkan Lily kembali. Namun, belum selesai dia menyapu, Flora bangun dan meminta dibuatkan susu. "Haduh, Flo jangan menangis ya!" bujuk Arin agar anak sulungnya itu tak mengganggu tidur Lily.
Flora malah menangis semakin kencang. Arin pun bingung. Akhirnya dia mengambil Lily dan menggendong dengan selendang.
"Bu, mimik!" pinta Flora sambil merengek. Arin pun membuatkan susu sambil menggendong anaknya yang masih bayi.
Repot? Sudah pasti, akan tetapi begitulah kodrat wanita. Mengurus anak dari pagi hingga pagi lagi. Jadi kalau ada yang tanya 'Ngapain aja di rumah?' Tuh orang minta dipentungin.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...