NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

happy reading guys

------------------------------

Bab 16: Pengakuan di Balik Topeng

Ruangan ICU itu mendadak diselimuti oleh keheningan yang teramat pekat.

Samuel Amalia berdiri mematung dengan tubuh yang gemetar hebat, lembaran dokumen di tangannya bergetar laksana daun kering yang diterpa angin malam.

Wajah pengacara internasional yang semula dipenuhi keangkuhan kelas atas itu kini pias tanpa darah.

Fakta bahwa ia baru saja membeli sebuah bom waktu finansial berupa utang busuk senilai tiga triliun rupiah menghantam telak logika berpikirnya.

"Ini... ini tidak mungkin... Kamu sudah merancangnya sejak awal, Devan Mahendra?!" suara Samuel tercekat di tenggorokan, menatap Devan dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat.

Devan tidak menjawab.

Ia hanya menyunggingkan senyum dingin dari balik masker oksigennya, sebuah tatapan meremehkan yang mengusir Samuel secara tidak langsung.

Sadar bahwa dunianya di Swiss akan hancur dalam hitungan jam jika ia tidak segera melakukan intervensi hukum, Samuel menyambar tas kulitnya dengan panik.

Pria itu berlari tunggang-langgang keluar dari ruang ICU, melewati Anastasia yang masih berdiri mematung di dekat pintu elektronik tanpa berani menatapnya.

Setelah kepergian Samuel, pintu kaca bergeser menutup otomatis, menyisakan Devan dan Anastasia dalam atmosfer keheningan yang menyesakkan dada.

Anastasia melangkah perlahan mendekati tepi ranjang, sepasang netra indahnya menatap lurus ke arah pria yang selama lima tahun ini ia anggap sebagai monster kejam dalam hidupnya.

Namun, informasi tentang dana perwalian atas nama Alta dan Arka yang baru saja ia dengar membuat seluruh dinding batu di hatinya retak seutuhnya.

"Kenapa...?" suara Anastasia terdengar begitu lirih namun sarat akan penekanan yang mendalam.

"Kenapa kamu melakukan semua ini, Devan? Menghancurkan Mahendra Group, memindahkan seluruh aset bersih untuk anak-anakku... Apa ini salah satu taktik barumu untuk memohon belas kasihan dariku?"

Devan menarik napas panjang secara perlahan, menahan rasa perih yang luar biasa dari luka tusukan di perut kirinya.

Pria itu melepaskan masker oksigen yang menutupi wajah tirusnya, membiarkan sepasang netra elangnya yang meredup menatap langsung ke dalam manik mata wanita yang teramat ia rindukan selama lima tahun ini.

"Ini bukan taktik, Anya..."

suara bariton Devan terdengar begitu serak dan parau, nyaris menyerupai bisikan ringkih dari balik kubur.

Pria itu memanggilnya dengan nama lama, nama yang dulu selalu ia sebut dengan nada penuh cacian.

"Harta itu... memang sudah seharus menjadi hak milik putra-putra kita. Itu adalah mahar pernikahan yang terlambat, yang seharusnya kuberikan padamu lima tahun lalu sebelum kebodohanku menghancurkan dunia kita."

Anastasia tersenyum getir, seulas senyuman yang sarat akan kepedihan trauma masa lalu.

"Mahar? Kamu mengingatnya sekarang? Setelah kamu mengusirku di tengah hujan badai? Setelah kamu mengutuk darah dagingmu sendiri sebagai anak haram yang menjijikkan?!"

"Aku tahu aku bersalah, Anya! Aku bajingan yang tidak pantas mendapatkan maaf darimu!"

Devan memotong kalimat Anastasia dengan emosi yang tiba-tiba meledak, membuat indikator mesin monitor detak jantungnya kembali berbunyi cepat.

Pria itu terbatuk kecil, mengeluarkan setitik darah dari sudut bibirnya akibat memaksakan otot perutnya yang robek.

Devan mencengkeram tepi seprai ranjangnya dengan tangan yang gemetar hebat, menatap Anastasia dengan pandangan mata yang dipenuhi air mata penyesalan terdalam.

"Lima tahun lalu... tepat setelah malam jahanam itu, Rian datang membawa kabar bahwa bus kota yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan tragis dan terbakar habis. Dunia saya runtuh seketika malam itu, Anya."

Devan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setitik air mata bening meluncur melewati pipinya yang pucat.

"Sejak malam itu, saya hidup bagaikan mayat hidup. Rasa bersalah karena telah membunuhmu terus mencekik leher saya setiap detik. Di tengah kegilaan itu, logika saya mulai bekerja kembali. Saya merasa ada yang tidak beres dengan foto-foto perselingkuhanmu yang ditunjukkan Siska dulu. Kamu adalah wanita paling tulus yang pernah kutemui, tidak mungkin kamu melakukan hal sekeji itu."

Anastasia tercekat sejenak, namun ia tetap mempertahankan ekspresi dinginnya.

"Lalu? Apa yang kamu lakukan?"

"Saya mulai mengerahkan seluruh jaringan intelijen swasta secara rahasia di bursa saham dan internal kepolisian untuk menyelidiki kembali pergerakan Siska malam itu," jelas Devan, suaranya melemah namun sarat akan ketetapan hati yang jujur.

"Dua tahun setelah kecelakaanmu, tim saya berhasil menemukan rekaman kamera pengawas hotel yang terhapus dan bukti transaksi keuangan rahasia dari rekening Siska menuju pria asing yang ada di foto bersamamu dulu. Di sana... saya akhirnya tahu kebenaran yang sesungguhnya. Kamu tidak pernah berselingkuh. Itu semua adalah konspirasi busuk yang dirancang Siska untuk menyingkirkanmu dari sisiku."

Dada Anastasia berdegup kencang mendengar pengakuan tersebut.

‘Jadi... dia sudah tahu sejak tiga tahun lalu?’ batinnya bergolak hebat.

"Jika kamu sudah tahu Siska adalah dalangnya, kenapa kamu tidak langsung menghancurkannya saat itu juga?! Kenapa kamu malah membiarkannya tetap menjabat sebagai direktur di perusahaanmu seolah tidak terjadi apa-apa?!"

Devan tersenyum getir, sebuah senyuman yang penuh dengan intrik kelam.

"Karena kematian yang instan terlalu mewah untuk wanita ular seperti Siska, Anya. Jika saya langsung memenjarakannya atas kasus fitnah, keluarga Amalia akan menggunakan koneksi hukum mereka untuk mengeluarkannya dalam waktu singkat. Saya ingin dia merasakan penderitaan yang perlahan namun mematikan."

Devan membuka kembali netranya, memancarkan kilat ketajaman seorang CEO genius.

"Selama tiga tahun terakhir, saya sengaja membiarkan Siska merasa menang. Saya menjadikannya Direktur Pemasaran agar dia bertindak ceroboh dan memasukkan seluruh modal keluarganya ke dalam proyek-proyek Mahendra Group. Saya perlahan-lahan mengunci seluruh aset finansial keluarganya ke dalam lini bisnis yang sudah saya kendalikan. Saya merancang skenario di mana Siska sendiri yang akan menuntun seluruh keluarganya menuju jurang kehancuran tanpa ia sadari. Pembatalan investasi dua triliun dari Wijaya Corps kemarin... hanyalah pelatuk terakhir yang sengaja saya tunggu untuk meledakkan seluruh jebakan itu."

Devan mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Anastasia, mencoba menggapai jemari wanita itu meski jarak di antara mereka terlalu jauh.

"Aku menghukumnya perlahan demi membalaskan setiap tetes air mata yang kamu keluarkan di malam pengusiran itu, Anya. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segala hal yang paling ia banggakan dalam hidupnya... sama seperti saat ia merebutmu dari hidupku."

Anastasia mematung seutuhnya, seluruh kalimat bantahan yang sudah ia siapkan di dalam kepalanya mendadak menguap tanpa bekas.

Kenyataan bahwa Devan telah menghabiskan tiga tahun hidupnya dalam kegelapan demi merancang pembalasan dendam yang sistematis untuk dirinya, menghantam telak seluruh dinding kebencian yang ia pelihara selama lima tahun di Singapura.

Pria ini tidak pernah berhenti mencarinya. Pria ini... telah menghancurkan dirinya sendiri demi membalaskan lukanya.

Tepat di saat ketegangan emosional di antara mereka berada di titik tertinggi, pintu elektronik ruang ICU kembali bergeser terbuka secara perlahan dari arah luar.

Alta dan Arka melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki kecil yang ragu-ragu.

Arka yang melihat wajah Devan tidak lagi tertutup masker oksigen langsung melepaskan pegangan tangan kakaknya, berjalan mendekati tepi ranjang dengan sepasang mata bulat yang berbinar haru.

"Paman... Paman sudah bangun?" bisik Arka lembut, menyentuh pergelangan tangan Devan dengan jemari kecilnya yang hangat.

Devan menoleh, menatap kedua putra kembarnya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa syukur yang teramat luar biasa.

Setitik air mata kembali mengalir dari sudut netra elangnya saat melihat Alta berdiri di samping adiknya, menatapnya dengan pandangan dingin namun tidak lagi memancarkan penolakan seperti di koridor kantor dulu.

"Iya... Ayah sudah bangun, Sayang..."

bisik Devan dengan suara yang tercekat menahan tangis, untuk pertama kalinya mengakui status aslinya di hadapan darah dagingnya sendiri.

Mendengar kata "Ayah" keluar dari bibir Devan, Anastasia refleks melangkah maju hendak menarik kembali kedua putranya keluar karena belum siap menghadapi perubahan status emosional ini.

Namun, gerakan tangan Alta yang tiba-tiba menahan ujung blazer maminya, ditambah dengan remasan tangan Devan yang kian erat pada jemari kecil Arka, membuat atmosfer di dalam ruang ICU itu mendadak menegang sempurna.

Lembaran takdir baru di antara mereka kini benar-benar tergantung di ujung tanduk yang paling intim,

meninggalkan akhir cerita yang teramat menggantung tentang bagaimana keputusan Anastasia selanjutnya setelah seluruh topeng rahasia Devan telah terbongkar seutuhnya malam ini.

------------------------------

Bersambung

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!