Berkisah tentang Jenar Ayu Santika yang harus rela menjadi pengasuh Aiden (5 tahun). Bocah yang memiliki karakter usil dan nakal serta kecerdasan yang berbeda dengan anak yang seusianya.
Keusilan Aiden berhasil membuat Ayu kesulitan dan juga mendekatkan dia dengan Edwin (Papah Aiden).
Apakah Ayu bisa menjadi pengasuh yang baik bahkan menjadi Ibu bagi Aiden dan Istri Edwin?
Ikuti terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - P
Beberapa hari ini Ayu lewati sama seperti sebelumnya. Mengurus kebutuhan Aiden ditambah dengan Papanya. Sudah mulai terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa termasuk keinginan Aiden untuk menyaksikan proses pembuatan bayi. Bahkan hampir setiap malam Aiden berada di kamar Edwin dan Ayu, untuk tidur bersama.
“Aiden kembali ke kamarmu!” titah Edwin saat dia keluar dari walk in closet berganti piyama dan menemukan Aiden sudah berbaring di tengah ranjang.
Ayu hanya berdiri dengan tangan dilipat di dada menatap Aiden dan Edwin bergantian lalu mengedikkan bahunya saat Edwin menatap dirinya.
“Tidak mau, aku ingin tidur dengan kalian. Beri aku adik bayi, please,” rengek Aiden.
“Kamu pikir memberikan adik bayi seperti membeli mainan. Tinggal datang ke toko, pilih dan bayar,” seru Edwin lalu merebahkan diri di ranjang tepat di sebelah kiri Aiden. “Aiden, pindah ke kamarmu atau ….”
“Tidak, aku tetap di sini.” Aiden menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.
Edwin menepuk jidatnya karena kesal dengan kelakuan Aiden. Sudah lebih dari seminggu pernikahannya dengan Ayu, artinya periode bulanan Ayu pasti sudah selesai.
Berencana untuk menyempurnakan tugas Ayu malam ini tapi sepertinya gagal karena ulah bocah genius yang sudah berada di tengah ranjang.
Ayu hanya bisa terkekeh pelan, kemudian ikut berbaring di samping kanan Aiden. Memastikan Aiden tidur dengan nyaman lalu melirik sekilas ke arah suaminya yang sedang bergumam tidak jelas.
“Pak Edwin sabar ya,” ejek Ayu.
“Awas kamu, aku buat tidak bisa tertawa lagi,” gumam Edwin.
“Selamat malam, Pak Edwin.”
“Yu, good night kiss dulu dong.”
“Nggak boleh, nanti Aiden lihat.”
“Dia udah tidur.”
“Bapak juga sebaiknya tidur."
Terdengar decakan Edwin, Ayu hanya tersenyum dengan mata terpejam.
Bagaimana bisa beri kamu adik bayi, kalau prosesnya nggak bisa berjalan karena kamu, batin Edwin sambil menatap wajah Aiden yang sudah terlelap.
...***...
“Sampai jam berapa jadwal Aiden hari ini?”
“Agak sore, kenapa?” tanya Ayu sambil menyerahkan jas pada Edwin yang telah selesai mengenakan dasinya.
“Aku akan makan siang di rumah,” ujar Edwin.
“Hm.”
“Sekalian eksekusi malam pertama yang tertunda,” cetus Edwin sambil mengerlingkan matanya.
Blush.
Wajah Ayu merona mendengar usul Edwin, jantungnya berdebar-debar membayangkan apa yang akan mereka lakukan siang nanti.
“Tapi ….”
“Tidak ada tapi, yang ada hanya nikmati. Aiden masih di sekolah, kita bisa lakukan disini tanpa gangguannya. Aku berangkat duluan ya, ada meeting pagi ini.” Edwin mencium kening Ayu lalu beranjak meninggalkan kamarnya meninggalkan Ayu yang masih terpaku.
“Nanti siang, aku akan jadi mantan pera_wan dong.”
“Bunda,” panggil Aiden dari luar.
“Iya, aku datang,” jawab Ayu.
Setelah sarapan, Ayu dan Aiden sudah berada di dalam mobil diantar oleh supir. Sepanjang perjalanan Ayu hanya diam memikirkan rencana Edwin. Dia bingung dengan persiapan yang harus dilakukan, sempat menghembuskan nafasnya dengan kasar membuat Aiden yang duduk di samping Ayu terheran melihat sikap Bundanya.
“Bunda kenapa sih?”
“Ehm, kenapa? Nggak apa-apa kok.”
“Bohong. Kelihatan kalau Bunda seperti orang bingung. Biasanya Bunda nggak pernah setenang ini,” tutur Aiden.
“Halah kamu komentar seperti orang dewasa,” ejek Ayu sambil mengacak rambut Aiden.
“Kenapa sih kalian senang mengacak rambutku, orang dewasa yang menyebalkan,” pekik Aiden.
“Kamu bocah aneh bin usil.”
Lalu keduanya terkekeh setelah saling mengejek. Mobil pun akhirnya berhenti di depan gerbang sekolah. Ayu mengantarkan Aiden sampai gerbang, melambaikan tangannya sebelum beranjak pulang.
Saat di rumah Ayu berbaring di ranjangnya dengan gugup memikirkan ritual yang akan dilakukan beberapa jam ke depan. Menatap layar ponselnya dan membuka salah satu web browser melakukan pencairan terkait artikel yang membahas kegiatan malam pertama. Mulai dari persiapan dan tahapan melakukannya.
Terkadang Ayu terkikik saat membaca, sesekali dia bergumam tidak jelas dan menganggukkan kepala saat menemukan informasi yang sesuai dan dia butuhkan. Tanpa terasa waktu berlalu saat Ayu asyik dengan media sosial dan mesin pencariannya, tidak menyadari Edwin sudah datang.
“Sedang apa, serius banget?” tanya Edwin yang sudah duduk di samping Ayu yang tengkurap sambil menatap layar ponsel. Tidak menyadari kapan Edwin masuk membuat Ayu terkejut dan teriak.
“Kamu kebiasaan ya, suka teriak-teriak nggak jelas.”
“Pak Edwinnya ngagetin, lagi pula masih pagi kok sudah datang?”
“Masih pagi? Kamu lihat jam dinding ini jam berapa?” Ayu menatap jam yang ditunjuk oleh Edwin.
“Ya ampun, ini seriusan sudah jam dua belas lewat. Pantas saja sudah mulai ramai.”
“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Edwin sambil melepaskan jas dan dasi yang melingkar di lehernya.
pak Edwin gercep
calon ibu & calon anak suka nge game😄