Bukan pernikahan seperti yang diinginkan Mayang pada saat ia menerima lamaran Erwin, mantan teman sekolahnya. Mayang tidak mengira setelah sekian tahun tidak bertemu tiba-tiba Erwin melamarnya.
Erwin bukan pria yang suka bermain mata dengan perempuan tetapi dengan jelas ia menegaskan bahwa ia menginginkan Mayang sebagai istrinya.
Mayang tidak pernah mengira bahwa Erwin akan melamarnya dan menjanjikan pernikahan yang sesunguhnya setelah Mayang mengalami kejadian yang membuatnya tidak percaya bahwa dirinya layak untuk dicintai.
Siapa dia dan mengapa Erwin melamarnya adalah pertanyaan besar yang ada di kepalanya hingga dia tahu alasan sebenarnya.
Erwin memerlukan seorang istri agar posisinya aman sebagai penerus keluarga Hadinata karena kakeknya mengancam akan mengambil kedudukannya bila dia tidak segera menikah sementara kekasihnya sendiri lebih memilih tinggal di luar negeri.
Atas desakan dan juga keadaan yang membuat Mayang tidak bisa menolah, akhirnya mereka menikah. Tetapi ada yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak bergantung
Sikap diam Mayang ternyata di salah artikan oleh Erwin sehingga dia memberikan komentarnya dan saat bicara, nada suara Erwin terdengar berbeda.
“Apakah kau berpikir untuk memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama dengan orang tuaku menjadi beban untukmu?”
“Aku…aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Kau pasti tahu bagaimana hubunganku dengan keluargaku. Walupun aku tidak tahu ke depannya, yang kau tawarkan adalah surge bagiku,” jawab Mayang lirih.
Entah apa yang membuat Erwin memutuskan untuk merangkul Mayang dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
Aman seperti tidak akan ada seorangpun yang akan berani mengusik kebahagiaannya adalah yang dirasakan Mayang saat dia pasrah dalam pelukan Erwin.
"Mayang, kau adalah satu-satunya wanita yang pernah aku ajak bertemu dengan keluargaku. Tidak peduli dengan berita di luar yang mengatakan aku seorang lelaki yang sering berganti-ganti pasangan, kenyataannya kau adalah wanita paling special bagiku,” bisik Erwin saat dia mencium keharuman rambut Mayang.
"Sebaiknya kita segera menemui keluargamu. Aku tidak mau mereka akan menilaiku sebagai wanita yang menguasai anaknya sementara kita sama sekali belum memiliki hubungan yang special,” kata Mayang berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Erwin.
"Walaupun aku yakin mereka tidak akan berpikir seperti yang kau katakana, kita memang harus segera masuk ke dalam sebelum aku berpikir untuk melakukan yang lainnya,” kata Erwin dengan mata yang membuat Mayang menahan nafas.
Dengan langkah yang tidak terlalu panjang dan cepat, Erwin menggandeng Mayang, tetapi belum lagi sampai ke pintu utama, Mayang menghentikan langkahnya membuat Erwin memandangnya heran.
“Ada apa?” tanya Erwin.
“Cubit aku! Aku ingin memastikan kalau yang aku alami sekarang adalah nyata dan bukan mimpi yang bisa membuatku jatuh,” jawab Mayang.
Suara tawa terdengar menggoda hingga Mayang harus memilih untuk menatap Erwin, tapi tindakannya membuat dia salah langkah karena Erwin bukan mencubitnya tetapi justru mendekatkan wajahnya lalu menyatukan mulutnya dengan mulut Mayang.
Terkejut dan mati langkah begitu merasakan mulut Erwin mendesaknya untuk membuka mulutny adan merasakan lidahnya membelit lidah Mayang.
Dunia yang dirasakan Mayang seperti dia berada di bagian dunia lain. Mayang kehabisan nafas karena Erwin mengambil nafasnya hingga kesadaran mulai menghampirinya kembali.
"Apa yang kau pikirkan tentang diriku saat kau menciumku? Apakah aku wanita yang sesuai dengan keinginanmu dan bisa memberikan kehangatan di ranjangmu?”
“Aku akan melakukan janjiku padamu untuk bertemu dengan keluargamu, sementara keputusan apakah aku akan menerima lamaranmu atau tidak? Aku yakin kau harus mengalihkan perhatianmu pada wanita lain,” kata Mayang setelah berhasil melepaskan diri dari rangkulan Erwin sekali lagi.
Dasar bebek dungu. Kenapa dia tidak bisa menahan diri dan hanya mengutamakan nafse saja. Dia belum lama mengenal Mayang tetapi yang dia rasakan sangat berbeda saat dia bersama dengan Rachela.
“Maafkan aku. Bukan maksudku bertindak kurang ajar padamu, tetapi aku memang begitu tergoda padamu, bahkan sejak kita bertemu di busway,” kata Erwin berusaha menjelaskan.
“Lalu?”
“Hanya untuk memastikan apakah kau masih wanita yang sama seperti yang kemarin aku lamar atau sudah berubah menjadi wanita yang berbeda,” jawab Erwin.
“Karena kekayaan yang dimiliki oleh keluargamu?”
Menggeleng untuk mengelak dari jawaban yang sebenarnya, Erwin yakin Mayang tidak akan percaya sehingga dia lebih memilih untuk mengangguk. Berharap tindkannya tersebut adalah benar dan sesuai yang diinginkan oleh Mayang.
“Aku mengerti. Jadi, kau mau mengundangku masuk atau mengantarku pulang?"
Keputusan ada di tangan Erwin dan dia akan melakukan keputusan yang tepat dan tidak akan menyesalinya karena dia juga yakin Mayang sudah mempunyai keputusan yang dia pilih.
“Aku pasti akan membawa-mu masuk dan bertemu dengan keluargaku,” jawab Erwin pasti.
Walaupun Erwin tidak yakin dengan hasil keputusan yang akan diberikan oleh Mayang nanti, dia tidak akan menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Mayang dan memastikan bahwa wanita yang kini sedang dia gandeng tidak akan bisa melepaskan diri darinya lagi.
Tangan Mayang dingin dalam genggaman Erwin dan rasanya keringat mulai mengalir di punggungnya seperti sungai yang meluap hingga membasahi baju bagian belakangnya membuat Mayang tidak nyaman.
Hanya genggaman tangan Erwin yang membuatnya masih tetap mengikuti langkah kaki Erwin yang membawanya terus melangkah hingga dia melihat sebuah pintu geser yang terbuat dari kayu jadi dengan motif ukiran yang sangat indah. Aah kalau saja tangannya tidak dipegangi mau lah rasanya dia segera berbalik atau bersembunyi hingga dirinya tidak terlihat oleh siapa pun.
“Hey, ada apa? Coba sekarang tarik napas…tahan, lalu keluarkan perlahan-lahan. Aku akan menunggumu tenang. Oke?”
“Kita bisa tidak ketemu orang tua kamu besok aja, aku benar-benar gugup.”
“Bagiku lebih baik gugup sekarang daripada besok-besok. Setidaknya kau sudah menghadapinya. Percayalah mereka tidak akan memakanmu,” bujuk Erwin geli.
“Kau bisa bicara seperti itu karena mereka adalah orang tuamu,” grutu Mayang jengkel.
Erwin tersenyum dan langsung menghentikan langkahnya lalu berdiri di depan Mayang, berhadap-hadapan.
“Lihat wajahku Mayang!” perintah Erwin dengan jari tangannya yang memegang dagu Mayang seakan memaksanya untuk menatap wajahnya.
“Lihat mataku dan dengarkan aku. Apa kau selalu mengenal klien yang kau datangi bila mereka meneleponmu untuk memintanya datang ke rumah mereka? Atau saat kau mendapat klien baru? Aku yakin tidak, tetapi kau akan berusaha memberikan yang terbaik.”
“Tapi orang tuamu bukan klienku, Win. Mana bisa aku seperti itu.”
“Apa kau mengenal mereka? Aku menawarkan kerja sama padamu jadi, anggap saja mereka adalah bagian dari klienmu.”
Gerakan bibir Mayang ketika dia berbicara menyatakan keraguannya membuat kepala Erwin sakit. Kalau saja Mayang sudah setuju menjadi istrinya, tentu saja dia tidak akan membiarkan bibir mungil yang menggemaskan tetap aman dalam jangkauannya dan tidak tersentuh. Sejak bertemu di bis, bayangan bibir Mayang selalu menggoda hatinya. Dan dia sudah merasakannya tadi.
Kembali mencoba saran yang diberikan Erwin, Mayang mulai menarik napas lalu mengeluarkan secara perlahan adalah salah satu cara Mayang agar dirinya kembali tenang. Tidak perlu mikir macam-macam karena dia adalah wanita bebas.
Bukan dia yang menunggu persetujuan dari keluarga Erwin melainkan dirinya yang akan memberikan kata setuju atau tidak dengan tawaran Erwin.
“Ayo kita lanjut lagi!” ajak Erwin mencoba menghilangkan pikiran yang menggodanya.
Sekali lagi Mayang menarik napas lalu mengeluarkannya dengan cepat sebelum mengangguk setuju sebelum dia mengikuti langkah Erwin kembali.
Mayang melihat sebuah ruangan di depan mereka setelah Erwin membuka pintu ganda yang Mayang tidak bisa membayangkan betapa beratnya pintu tersebut karena Erwin mendorongnya dengan tenaga.
Ruangan yang ada di depan mereka seperti hall sebuah gedung pertemuan yang bisa menampung sekian ratus orang. Sangat besar dan luas hingga Mayang berpikir kalau Keluarga Hadinata memang memikirkan konsep seperti itu ketika mereka merancang bangunan yang katanya rumah tinggal tersebut.
Segala macam bentuk pajangan tertata dengan rapi sesuai dengan tema yang disampaikan pada ruangan tersebut.
Tidak ada kekacauan maupun salah penempatan hiasan yang berbentuk lukisan maupun pajangan yang berupa guci serta beberapa jenis tanaman yang memberi kesan teduh. Kursi tamu hanya berada di bagian salah satu sudut dengan pencahayaan dan pemandangan yang sangat sempurna.
“Keluargaku sepertinya menunggu di ruang keluarga,” beritahu Erwin masih dengan menggandeng tangan Mayang.“Rumah ini sangat besar, aku khawatir akan tersesat bila berada di dalamnya,” gumam Mayang yang hanya mendapat remasan lembut di tangannya.
“Semua akan baik-baik saja. Percayalah.”
“Hemm. Terima kasih berusaha membuatku tenang,” bisik Mayang.
Dan…Mata Mayang terbelalak begitu melihat isi ruangan yang baru mereka masuki. Tidak ada kerapian di dalam ruangan tersebut. Sangat berbeda dengan ruangan sebelumnya. Mayang sempat berpikir apakah Erwin membawanya ke play ground atau ke ruang keluarga?
Dalam bayangan Mayang, tempat bermain yang dia lihat sekarang berada di luar ruangan bukan berada di ruang keluarga hingga memberi kesan kurang rapi sementara di bagian lain terlihat anggota keluarga Erwin asyik sendiri sibuk dengan obrolan mereka.
Suara teriakan anak kecil mengalihkan perhatian Mayang yang sempat melihat ke arah keluarga lain.
Mayang melihat dua orang anak kecil siap berkelahi sehingga kedua orang pelayan yang berada di pinggir segera masuk untuk memisahkan keduanya sebelum terjadi perkelahian.
Sejalan dengan keributan yang terjadi di tempat bermain juga membuat mereka melihat Erwin dan Mayang yang masih berdiri di depan pintu. Kejadian antara 2 orang anak kecil yang siap berkelahi membuat Mayang seperti dejavu.