Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Rian menggoda Lyra tentang Arka
kriiiiiiingg........
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, memicu sorak sorai lega dari seluruh penjuru kelas XI-3. Namun bagi Lyra, bel tersebut tidak sepenuhnya menjadi tanda kebebasan.
Saat ia mulai memasukkan buku sketsa dan tempat pensilnya ke dalam tas, sebuah bayangan besar tiba-tiba runtuh di atas mejanya.
Rian, sahabat sekaligus teman sebangkunya yang menyebalkan itu, sudah berdiri tegak dengan tas yang hanya dicangklongkan di satu bahu.
Di tangan kanannya, ia memegang sebuah penggaris besi panjang yang digunakannya layaknya tongkat pemukul bisbol, sementara wajahnya memancarkan binar jahil yang sangat familier.
"Jadi... bagaimanakah kelanjutan dari Saga Matcha Boba kita hari ini, wahai Sahabatku tercinta?" Rian membuka percakapan dengan nada suara yang sengaja dilebay-lebaykan, meniru gaya narator film dokumenter drama.
Lyra mengembuskan napas panjang. Ia sengaja mengabaikan Rian dan fokus menarik ritsleting tas ranselnya kuat-kuat.
"Rian, tolong ya. Ini sudah jam pulang sekolah. Otakku sudah lelah menghadapi sisa-sisa rumus matriks tadi, jangan ditambah dengan godaan tidak bermutumu itu."
"Heh, tidak bermutu katamu?!" Rian meletakkan kedua tangannya di pinggang, berlagak tersinggung.
"Ini namanya kepedulian tingkat tinggi dari seorang teman sebangku, Ly! Gue cuma memastikan apakah efek magis dari 'Air Kehidupan' pemberian Ksatria Arka tadi masih bekerja di dalam tubuhmu yang renta ini."
Beberapa anak kelas yang belum pulang—termasuk Doni dan Kevin yang sedang memakai sepatu di pojok kelas—langsung menoleh mendengarkan ucapan Rian.
"Iya tuh, Lyra! Barangkali bobanya bikin lo langsung dapet nilai seratus!" teriak Doni dari kejauhan, memanaskan suasana.
"Mana ada! Yang ada nilainya seratus, tapi tingkat kebucinannya seribu!" timpal Kevin, yang langsung disambut tawa terbahak-bahak oleh Doni.
Wajah Lyra kembali menghangat. Ia buru-buru menyampirkan tasnya dan berdiri dari kursi.
"Kalian bertiga itu benar-benar harus dikarantina ya! Gak ada bosannya dari siang bahas itu terus."
Rian tidak membiarkan Lyra lolos begitu saja. Saat Lyra melangkah keluar kelas, Rian dengan sigap menyamakan langkahnya di samping gadis itu.
__________________
Koridor sekolah sudah mulai sepi, namun gema suara Rian tetap terdengar jelas di sepanjang lorong yang sunyi.
"Gue tuh masih kepikiran tahu, Ly," ujar Rian sambil mengetuk-ngetuk dagunya secara dramatis saat mereka berjalan menuju tangga.
"Spesifik banget lho perilakunya si Arka tadi. Dia sengaja datang saat kita lagi stres-stresnya. Terus, dari sekian banyak menu di kedai depan sekolah, dia tahu persis kalau lo cuma mau Matcha Boba, gulanya wajib setengah, dan es batunya dikit. Itu bukan sekadar tahu, Ly. Itu namanya stalking berkedok perhatian!"
"Dia gak stalking, Rian," sanggah Lyra defensif, mencoba mengecilkan volume suaranya agar tidak memancing perhatian siswa dari kelas lain.
"Gua kan pernah beli bareng dia waktu kerja kelompok bulan lalu. Dia cuma punya ingatan yang bagus saja."
"Oh, ingatan yang bagus?" Rian menaikkan sebelah alisnya, tersenyum penuh kemenangan.
"Oke, sekarang gue tes ingatan lo. Tadi pagi pas sarapan, gue cerita kalau gue habis taruhan bola dan kalah. Gue beli minum apa di kantin pas istirahat pertama?" Lyra terdiam sejenak.
Ia memutar otaknya, mencoba mengingat-ingat. "Eks... es teh manis? Atau kopi instan?"
Rian langsung membunyikan jarinya di depan wajah Lyra.
"Salah! Gue beli susu kotak rasa stroberi karena lambung gue lagi perih! Tuh, lihat kan? Lo yang tiap hari duduk di sebelah gue aja gak inget gue minum apa. Sementara si Arka, yang tidak duduk sebangku dengan lo, bisa hafal sampai ke persentase gula di minuman lo! Masih mau bilang itu kebetulan?" Lyra menggigit bibir bawahnya.
Argumen Rian sialnya sangat masuk akal dan sulit untuk dibantah.
Tap! tap! tap! tap!
Untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang semakin memuncak, Lyra mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga, membuat Rian harus setengah berlari untuk mengejarnya.
"Aduh, jangan cepat-cepat jalannya, Tuan Putri! Nanti kalau kaki lo terkilir, gue yang diamuk sama Arka tim basket sekolah," canda Rian lagi, merujuk pada posisi Arka di sekolah.
______________
Mereka berdua akhirnya tiba di area lobi depan dekat gerbang sekolah. Dari kejauhan, di dekat tiang bendera dan tempat parkir motor, tampak beberapa anak laki-laki sedang berkumpul.
Salah satu dari mereka bertubuh tinggi, mengenakan jaket denim hitam di atas seragamnya, dan sedang memegang helm.
Itu Arka. Rian yang melihat keberadaan Arka langsung menyikut lengan Lyra dengan heboh.
"Nah, panjang umur! Pucuk dicinta boba pun tiba! Tuh, pawang lo sudah siaga satu di depan tempat parkir. Mau gue panggilin gak?"
"Rian, demi apa pun jangan!" Lyra panik.
Ia langsung menarik ujung tas Rian agar cowok itu tidak berteriak jahil.
"Kenapa sih? Padahal gue mau nagih pajak jadian tahu. Minimal besok Arka beliin gue boba juga sebagai uang tutup mulut karena sudah menjaga lo di kelas," kata Rian sambil tertawa puas melihat ekspresi horor di wajah Lyra.
Lyra hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang tidak ada habisnya ini.
Meskipun Rian sangat cerewet dan gemar menggodanya sepanjang hari, Lyra tahu bahwa semua candaan itu adalah bentuk kedekatan mereka.
Rian hanya senang melihat Lyra yang biasanya terlalu serius belajar, kini bisa tersenyum dan tersipu malu karena seseorang seperti Arka.
___________________
Dari kejauhan di dekat area parkir motor, Arka yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya mendadak menoleh.
Postur tubuh Lyra yang khas dan tingkah heboh Rian yang sedang menarik-narik tas ransel langsung tertangkap oleh radar penglihatannya.
Sambil menyunggingkan senyum tipis, Arka pamit kepada teman-temannya, mencangklongkan helm di lengan kiri, lalu melangkah lebar menghampiri Lyra dan Rian tersebut.
Rian yang menyadari pergerakan itu langsung membelalakkan mata dengan dramatis.
"Aduh, target operasi bergerak mendekat, Ly! Siapkan jantung lo, pertahanan udara harus segera diaktifkan!" bisik Rian dengan nada panik yang dibuat-buat, sengaja menyenggol bahu Lyra.
"Rian, diam atau gue tendang tulang kering lo!" ancam Lyra setengah berbisik, panik setengah mati sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin sore.
"Halo," sapa Arka begitu jarak mereka tinggal dua langkah.
Suaranya yang berat dan pembawaannya yang tenang langsung memutus urat jahil Rian untuk sesaat.
Arka menatap Lyra, lalu beralih ke Rian.
"Belum pulang kalian?"
"Eh, ada Bos Besar!" Rian langsung memasang wajah paling ramah sekaligus paling menjengkelkan yang ia miliki.
"Belum nih, Ka. Ini gue lagi tugas negara, menjaga aset berharga lo supaya gak diculik sama anak kelas sebelah yang mau minta contekan matematika."
Lyra rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Ia mencubit lengan belakang Rian dengan sangat kencang hingga cowok itu mengaduh pelan.
"Jangan dengerin Rian, Ka. Dia dari tadi otaknya emang agak geser karena nilai ujiannya jeblok," ujar Lyra cepat, mencoba menetralisir suasana dengan wajah yang sudah mulai memerah lagi.
Arka terkekeh pelan melihat interaksi kedua sahabat itu. Ia sama sekali tidak keberatan dengan godaan Rian, justru menganggapnya sebagai lampu hijau.
"Gak apa-apa. Berarti Rian temen sebangku yang bertanggung jawab," kata Arka, yang langsung membuat Rian besar kepala.
"Denger tuh, Ly! Dapat pujian langsung dari Ketua!" Rian menepuk dadanya bangga, lalu melirik jam tangan hitamnya.
"Aduh, tiba-tiba gue inget kalau emak gue nyuruh beli token listrik sekarang juga. Daripada gue digantung di jemuran, mending gue cabut duluan ya."
Sebelum Lyra sempat menahan ujung jaketnya, Rian sudah melangkah mundur dengan kecepatan penuh.
Sambil berjalan mundur, Rian menangkupkan kedua tangan di depan dada lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Lyra.
"Gue duluan ya, Ly! Ka, titip temen sebangku gue, jangan lupa asupan gulanya dijaga!" teriak Rian dari kejauhan sebelum akhirnya berlari kencang menuju gerbang luar.
Kini, di bawah bayang-bayang pohon peneduh dekat gerbang sekolah, hanya tersisa Arka dan Lyra.
Suasana mendadak menjadi agak canggung namun terasa sangat manis.
"Rian emang gitu orangnya, berisik banget," ucap Lyra memecah keheningan, matanya menatap ujung sepatunya sendiri karena tidak berani menatap mata Arka langsung.
"Gak apa-apa, seru kok," jawab Arka lembut.
Tap..
Ia maju satu langkah lebih dekat, membuat aroma parfum maskulinnya yang segar samar-samar tercium oleh Lyra.
"Btw, boba yang tadi... habis, kan? Gak bikin lo makin pusing, kan?" Lyra mendongak, mendapati Arka yang sedang menatapnya dengan binar mata yang hangat.
"Habis kok. Malah menyelamatkan hidup gue banget, makasih ya, Ka."
Arka tersenyum lebar, kepuasan terpancar jelas dari wajahnya.
"Bagus deh. Oh iya, lo pulang naik apa? Kalau belum ada jemputan, bareng gue aja yuk? Kebetulan helm cadangan gue bawa."
Bersambung~~~
Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~