Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azel : Because She Is Worthy
Nayla keluar dari ruangan gue secepat mungkin.
Begitu dia menghilang barulah gue mengutuki diri. Sebenarnya gue kenapa sih? Kenapa sekarang gue jadi suka mengucapkan kata-kata tidak penting kepada Nayla?
Ini hanya akan membuat Nayla kebingungan dengan gue, bukan tertarik.
Mohon maklum ya. Biasanya kan gue menggoda wanita, bukan PDKT menggunakan hati begini.
Terakhir kali gue serius mendekati wanita itu ya lima belas tahun yang lalu.
Dengan siapa lagi kalau bukan Diana.
Gue masih ingat membanjiri kamarnya dengan ribuan kelopak mawar merah hanya karena dia mengatakan di sebuah interview dengan majalah bahwa dia sangat menyukai jika seorang pria memberikannya mawar merah.
Tapi bukannya gue mendapati Diana yang merasa senang, dia malah marah-marah karena saat kelopak mawar itu mengering susah sekali membersihkannya dari lantai dan seprai kamarnya.
Kalau dipikir-pikir, gue memang jarang berhasil membahagiakan Diana.
Segala sesuatu yang gue buat untuk menyenangkan hatinya malah berakhir membuatnya marah.
Hahaha.
Tapi kenapa pula gue teringat dengan Diana? Gue jadi kesal sendiri.
Sebuah whatsapp masuk tidak lama kemudian.
Nayla
✔ Aku lupa nanya alamat email kamu.
Me
✔ azel@ataya.id
Nayla
✔ Thank you, jgn lupa direply ya.
Me
✔Oke.
Sebenarnya gue ingin sekali mengetik bermacam pesan kepada Nayla, tapi gue takut dia kabur. Bisa-bisa nanti dia merasa gue ingin merebut dia dari mantan pacarnya itu. Siapa namanya? Ernest? Endang? Emansipasi? Whatever!
Padahal kan gue tidak ingin merebut, gue hanya menawarkan pilihan yang lebih baik.
Hehehe.
Lalu gue tersadar.
Bagaimana bisa duda beranak satu bisa menjadi pilihan yang lebih baik dari pria single yang belum pernah menikah?
Gue memijat kepala gue yang tiba-tiba sakit.
Ya sudahlah. Tidak ada salahnya berjuang terlebih dahulu. Toh keputusan ada di tangan Nayla nantinya. Sekarang gue hanya akan menjadi yang selalu ada jika dia membutuhkan seseorang.
Jika nanti pilihan hatinya tetap jatuh pada mantan kekasihnya itu, gue akan mundur.
“Zel, makan gak?”
Tiba-tiba Haris muncul dari pintu.
“Makan. Yuk turun?”
“Yuk.”
Kami pun turun. Haris adalah teman setia gue makan siang. Untung sih ada Haris di kantor gue dengan sifat ekstrovert nya yang luarbiasa itu. Kalau tidak, bisa-bisa gue tidak punya teman makan siang. Terkadang di perusahaan swasta ini, semakin tinggi jabatan kita, semakin sedikit orang yang ingin menemani kita makan siang. Hahaha.
Saat kami tiba di lobby, gue bisa melihat Nayla dan timnya sedang berjalan ke arah kantin Ataya. Kantin ini memang diperuntukkan khusus untuk karyawan Ataya. Salah satu benefit yang diberikan untuk karyawan kantor, yaitu makan siang gratis.
Jadi Nayla kalau makan siang disana?
“Ris, lo pernah makan di kantin karyawan gak?”
“Gak pernah.”
“Mau coba gak?”
Haris mengernyit.
“Kesambet apa lo tiba-tiba pengen makan di kantin?”
“Pengen tau aja kualitasnya.” Gue berusaha menutupi niatan asli gue. Tengsin juga kalau bilang gue cuma pengen ngelihat seorang wanita lebih lama.
“Hmm, yakin lo?”
Gue mengangguk saja.
“Ya udah.”
Kami pun masuk ke dalam kantin. Gue lihat beberapa orang langsung berbisik-bisik saat melihat gue.
Ternyata model kantin perusahaan gue ini prasmanan. Kami harus mengantri untuk mengambil lauknya. Lumayan bersih juga ternyata.
Setelah gue mengambil makanan, gue memilih tempat duduk yang jauh dari Nayla. Biar dia tidak menyadari kehadiran gue.
“Lo ambil bangku pojokan banget.” Haris yang baru selesai mengantri menyamperi gue.
Putar otak! Mikir!
Alasan apa yang bisa gue berikan pada Haris kenapa gue harus ngambil bangku di pojokan ya?
“Males gue dilihatin.”
“Iya sih. Abisnya BOD gak pernah ada yang makan di kantin sih, jadinya langsung heboh gitu pas ngelihat lo.”
Gue hanya menggedikkan bahu. Lalu mulai menyuapkan makanan gue, sambil diam-diam memperhatikan Nayla.
Nayla yang tertawa terbahak-bahak. Nayla yang jahil. Nayla yang membuat wajah jelek. Nayla yang menjulurkan lidah. Inilah berbahagia macam ekspresi wanita yang kusayang saat dia bersama temannya.
Gila ya.
Kenapa hanya dengan menatapnya dari jauh seperti sekarang ini, hati gue dibuat hangat.
Apa gue dikebiri saja ya? Kayaknya gue gak cocok lagi jadi laki-laki.
***
Selesai makan dari kantin, gue dan Haris berjalan kembali ke lobby.
“Starbucks dulu yuk, Zel? Ngantuk nih.”
“Boleh.”
Kami pun mengantri Starbucks. Gue membeli kopi, sudah lama gue tidak makan nasi di siang hari. Gue pasti akan mengantuk sekali.
“Ke taman bentar dong, Ris?”
“Lo kenapa sih hari ini?” Haris tertawa.
“Gue juga gak tau. Kayaknya otak gue korslet.”
“Iya sih kayaknya.”
Kami pun terdiam.
“Jadi mau ke taman?”
“Iya. Yuk.”
Kami pun berjalan ke taman, lalu duduk di bangku yang sama yang dulu pernah gue dudukin bersama Nayla.
“Lo kenapa, Zel? Kayaknya pikiran lo banyak banget. Masalah kerjaan?”
“Bukan.”
“Jadi? Sebagai bawahan yang baik, kalau lo mau cerita, gue bersedia denger loh.”
“Kampret. Hahaha.”
“Hahaha. Jadi apa dong, masalah cinta?”
Gue tersenyum miring. Haris tau begitu saja jawaban pertanyaannya.
“Gila ya. Gue uda tua begini, bisa-bisanya dibuat pusing sama cinta.”
Haris tertawa.
“Emang kapan cinta gak buat pusing? Mau umur lo berapapun.”
Gue tertawa. Harusnya Haris yang paling tahu tentang kepusingan jatuh cinta. Sudah pernah kuceritakan kan dia telah mengejar Lidia selama setahun lebih dan masih juga tidak diberikan jawaban.
“Lo gimana ngehandle nya?”
“Emang bertepuk sebelah tangan juga kayak gue?”
“Hahaha. Gue gak tau. Gue gak nanya.”
“Terus?”
“Gue jatuh cinta sama perawan ting-ting. Aneh aja rasanya kalau gue deketin dia.”
“Dude, c’mon. Many women will die to have your love. Duda kaya, mobil mewah, direktur perusahaan.”
(Kawan, ayolah. Banyak wanita rela mati demi dapeti cinta lo.)
“Masalahnya, dia gak tertarik sama yang begitu-begitu.”
“Wow.”
“Dan dia udah punya cowok.”
“Ups. Hahaha.”
“Bingung kan lo?”
“Gak juga sih- Lidia juga baru putus dua bulan yang lalu. Hahaha. Jadi technically, selama ini gue juga deketin orang yang udah punya pacar.”
Gue tertawa.
“Emang bener ya semua cowok brengsek.”
“Man was born with pen*s, otak mah kalo inget dikasih aja. Hahaha.”
“Hahaha. ******.”
“Terus apa dong yang bikin Lidia belum berpaling juga ke lo sampe sekarang?”
“Katanya dia masih gak enak sama orang-orang. Masa baru putus langsung jadian lagi.”
“Peduli banget kata orang.”
“Yaaa gitulahhh dia.”
“Jadi lo bakal nunggu dia?”
“Yes, gue uda bilang ke dia, gue bakal nunggu. Selama apapun itu.”
“Anjir. Kok bisa?”
“Because I know she is worthy, Zel."
(Karena gue tau dia layak, Zel.)
Dan kata-kata Haris membuat gue terdiam. Gue bisa melihat cerminan diri gue di dalam diri Haris. Sepertinya gue akan bernasib sama seperti dia.
Karena gue tahu siapa yang gue perjuangkan.
Nayla sangat layak. Dia layak diperjuangkan.
***