Tahap Revisi
Tak pernah terpikirkan untuk Anyelir, bahwa mencintai seorang Dika akan semenyakitkan ini. Di tambah perbedaan status sosial di antara dirinya dan Dika, awalnya dia bahagia. Namun, saat ke munculan Jenny dan ancamannya membuatnya pergi dari jangkauan Dika.
"Aku takut cinta membuat ku lemah, walau aku tau cinta itu bisa membuat ku kuat."
*Harap membaca Twin's lebih dulu agar tidak ada yang bingung
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31
Lula tidak pernah suka, jika ada orang lain yang menyakiti orang yang sangat dia cintai. Bahkan jika itu ayahnya sekali pun, dia akan bersikap tidak suka.
Setelah menolak mentah Riana, Lula menarik Auriga dan Ara agar cepat masuk ke dalam mobil.
"Ayah ingat yah, jika dekat-dekat dengan wanita tadi. Aku gak akan segan-segan jauhi Bunda dari Ayah," ancam Lula.
"Astaga Lula sayang, mana mungkin Ayah dekat dengannya. Ayah mencintai Bunda Dela," ucap Auriga fokus menyetir.
"Ya, kan aku cuma memberikan peringatan sama Ayah, kalau Ayah macam-macam. Saat ada acara di rumah uncle Dika aja, Ayah gak pulang kan semalaman?"
"Kamu sudah tahu alasannya Lula," kilah Auriga.
Lula pun tak menjawab ucapan sang ayah, dia duduk dengan tenang bersama sang adik yang memperhatikan tak mengerti dengan perdebatan ayah dan kakaknya.
Lula menjadi protektif terhadap Dela, sebab dia sangat menyayangi Dela. Setelah lama kehilangan kasih sayang, seorang ibu. Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di basement apartemen.
Tak lama mereka sudah sampai, dan melihat Dela yang ketiduran di sofa.
"Lihat Ayah, Bunda ketiduran. Dia pasti lelah, apalagi adik bayi di perut Bunda ada dua." Omel Lula.
"Sudah lebih baik, kamu dan adikmu pergi ke kamar. Ganti baju, lalu tidur." Perintah Auriga.
"Baiklah," jawab Lula pasrah.
Lula pun mengajak sang adik untuk ke kamar tamu, di mana nanti dia akan tidur bersama Dela. Sedangkan Zea dan Manda, akan tidur di kamar bersama Zea. Dan para lelaki akan tidur di sofa ruang tamu.
Setelah kepergian anak-anaknya, Auriga duduk di sisi Dela. Lalu melirik ke arah kakinya, yang bengkak. Kata dokter itu biasa pada ibu hamil, Auriga pun mengangkat kaki Dela. Lalu diletakkan di pahanya dan memijatnya pelan.
Dela mengerjapkan matanya saat merasakan kakinya diangkat, dan diberikan pijatan lembut. Dia sudah bisa menebak siapa yang melakukan itu, dia pun tetap memejamkan mata tanda sedang marah.
"Maafkan aku sayang," ucap Auriga, saat tahu Dela sudah bangun. Dan hanya memejamkan matanya.
"Sebenarnya aku bosan mendengar kata maafmu, Mas." Balas Dela, melirik Auriga.
"Tapi karena aku cinta dan sayang kamu, aku selalu memaafkan mu. Seburuk apapun sikap mu pada ku nanti, bahkan kamu berubah. Aku tetap akan memaafkan mu," ujar Dela.
"Jangan bicara seperti itu, aku juga mencintaimu Dela." Auriga mengusap pipi Dela, yang sudah basah oleh air mata.
"Kenapa kamu tidak menolak, saat wanita itu dekat dengan mu? Bahkan keluarga mu saja, tak ada yang menegurnya."
Auriga tak menjawab, dia menunduk memang anggota keluarganya tak ada yang menegur Riana. Karena canggung dengan keluarga Juna.
Dela pun menurunkan kakinya, dari pangkuan Auriga.
"Setelah anak ini lahir, lebih baik kita berpisah Auriga. Aku tidak bisa dengan lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya," tukas Dela, membuat Auriga menggeleng.
"Sayang jangan bicara melantur," tegur Auriga dengan dingin.
Dela tak sedikit pun menanggapi ucapan Auriga, malah beranjak dari duduknya. Dan di ikuti dari belakang oleh Auriga.
"Aku lelah, ingin istirahat. Kehamilan ku membuat ku lelah," katanya tanpa menoleh lagi.
"Sayang tunggu kita harus bicara," mohon Auriga. Namun, Dela sudah menutup pintu dan menguncinya.
Membuat Auriga membuang napas dengan kasar, dia pun duduk di sofa tadi. Memang tak ada, tindakan saat Riana duduk di kursi milik Dela saat itu.
Malah orang tua Juna, mengajak berbincang Riana. Walau Jimi, hanya menatapnya datar. Tentu saja Jimi ingat siapa dia, wanita yang telah ditolak masuk keluarganya karena terlalu berpakaian terbuka.
****
Sementara itu Dika, yang baru saja pulang dari kantor. Langsung menuju kamar, karena semua orang sudah masuk ke kamar masing-masih. Dan hanya tinggal Bibi Maura, yang tengah menyimpan makanan yang tak habis. Ke dalam lemari es.
"Tuan Dika, baru pulang?" tanya Bibi Maura basa basi.
"Iya Bi, Jenny sudah minum susunya?"
"Belum tuan, ini sedang dibuatkan sekalian. Tadi katanya kenyang."
Dika mengangguk. "Biar saya saja, yang memberikannya Bi."
Bibi Maura memberikan segelas susu kepada Dika.
"Apa anda sudah makan, Tuan?"
"Aku sudah makan di luar Bi," ujar Dika dan berpamitan pada Bibi Maura.
Saat tiba di kamar, Dika menatap Jenny yang memunggungi pintu. Nampak terlelap tidur, semenjak hamil Jenny selalu menggunakan baju tipis karena gerah.
Dika menyimpan susu di nakas, dan duduk di sisi ranjang. Menatap Jenny, yang ponselnya masih menyala.
"Sampai kapan? Sampai kapan, kamu sembunyikan penyakitmu? Seandainya kamu jujur saat itu. Mungkin aku meminta kamu sembuh dulu, tapi sudah terlanjur anak kita sudah diberi nyawa." Gumam Dika, mengelus puncak kepala Jenny.
Lalu mengambil ponsel, yang tengah menanyakan drama Korea.
"Wanita sama saja, suka Drakor." Kekeh Dika, yang teringat Dela dan Maira yang selalu begadang menonton drama Korea. Di kamarnya, dengan alasan agar bisa mendapat WiFi gratis.
"Sayang?" panggil Jenny dengan suara serak.
"Maaf aku ketiduran," lanjutnya lagi, Jenny pun bangun dan duduk menyandar di sandaran kasur. Menatap Dika yang tersenyum manis.
"Tidak apa, pasti kamu lelah."
"Tidak juga, seharian ini aku di rumah." Bohong Jenny, padahal dia sudah mengecek kondisi kesehatannya.
Dika mengelus lembut perut Jenny, dan menciumnya.
"Baik-baik yah anak daddy, jangan bikin mommy susah." Kata Dika, pada sang anak yang ada dalam perut Jenny.
Dan langsung mendapat gerakan kecil, yang membuat Dika antusias.
"Lihat dia merespon ternyata." Pekik Dika antusias.
"Iya sekarang dia suka gerak, gak kayak kemarin kaya mager gitu." Kekeh Jenny.
"Ayo sekarang minum susunya, habis itu tidur lagi." Perintah Dika, dan Jenny pun menurut meminum susu hamil.
Setelah menghabiskan susunya, Jenny langsung berbaring kembali. Sementara Dika membersihkan diri terlebih dulu, tak membutuhkan waktu lama Dika sudah selesai. Dan ikut berbaring, dia memeluk Jenny dari belakang sambil mengelus lembut perut Jenny yang mulai terlelap.
Pikirannya menerawang jauh saat dia curiga pada Jenny, yang selalu mengeluh sakit kepala. Tapi menolak diperiksa, dan saat kehamilan tiga bulan Jenny drop di bawa ke rumah sakit. Tapi dokter pun tak mengatakan apapun, Dika pun percaya.
"Aku akan mencari tahu nanti, jika kamu tidak memberitahuku." Gumam Dika.
Pada saat Jenny pergi dengan Dela, Dika menemui dokter kandungan yang selalu memeriksakan kondisi Jenny.
"Oh... Itu dokter Alzeta tuan, dokter Neurologi." Beritahu suster.
"Dokter Neurologi? Bukannya dia dokter kandungan?"
"Bukan tuan, beliau dokter spesialis Neurologi yang berhubungan dengan otak dan syaraf." Jelas suster.
Dika pun mengangguk dan berterima kasih pada suster, dia duduk di kursi tunggu. Memikirkan apakah penyakitnya serius? Seperti sakit kepala biasa. Dika pun mencari tahu tentang Neurologi.
Neurologi merupakan cabang ilmu dalam bidang kedokteran yang berfokus pada otak dan sistem saraf. Dokter spesialis yang menangani penyakit dan segala jenis pengobatan pada gangguan terkait otak dan sistem saraf, biasa dikenal sebagai neurologis.
Bersambung…
Maaf typo
tentang dokter spesialis penyakit yang berkaitan dengan otak, aku searching di google yah guys jadi maaf jika ada kesalahan tentang info penyakit itu, ternyata dokter yang menangani kanker juga beda 🙏
Jangan lupa vote yah guys makasih 🙏
apakah ada novel sebelumnya yg berhubungan novel ini??