Jika biasanya wanita dijodohkan dengan pria kaya, lain halnya dengan Elizabeth. Elizabeth justru dijodohkan dengan pria miskin yang tak memiliki apa-apa. Bahkan, untuk rumahku pria miskin itu tidak punya. Hal itu, membuat Elizabeth merasa sangat malang dengan hidupnya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Elizabeth akan tetap meneruskan hubungan suami istri tersebut? Ataukah Elizabeth memutuskan untuk bercerai dari Alexander?
Yuk simak karya ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Pagi Hari.
Alexander dan Elizabeth memasuki Gedung Thomson menghadiri acara pernikahan Rose dan Bastian.
Ketika memasuki gedung tersebut, seorang wanita memanggil Elizabeth dengan cukup lantang.
“Elizabeth!”
Elizabeth pun menoleh begitu juga Alexander, ternyata yang memanggil Elizabeth adalah Jennie. Jennie datang seorang diri tanpa ditemani oleh pasangannya, dikarenakan Jennie masih belum menemukan tambatan hati yang cocok untuknya.
“Jennie, kau datang sendirian? Aku pikir kau datang bersama kekasihmu,” tutur Elizabeth yang saat itu menggunkan dresscode berwarna merah.
“Kau mengejekku, Elizabeth? Sejak kapan aku memilih kekasih? Aku hanya bermain-main saja dengan mereka,” balas Jennie.
Elizabeth reflek memukul lengan Jennie untuk menyadarkan Jennie bahwa ada Alexander yang mendengar ucapan tersebut.
Jennie tersenyum canggung dan meminta Alexander untuk tidak menganggap serius ucapannya.
“Ayo masuk, Rose sedang menunggu kita,” ujar Elizabeth.
Mereka bertiga perlahan masuk ke dalam gedung tersebut, di sana ternyata Rose dan Bastian sedang melakukan sumpah janji pernikahan.
“Ada apa?” tanya Alexander ketika melihat mata Elizabeth berkaca-kaca.
“Aku terharu melihat mereka berdua, Alexander. Akhirnya mereka menikah juga,” jawab Elizabeth.
“Apa kau ingin kita melakukan hal yang seperti dilakukan oleh mereka berdua?” tanya Alexander.
“Apakah boleh?” tanya Elizabeth penasaran.
“Tentu saja boleh, besok pagi kita akan melakukannya di sini,” jawab Alexander.
Elizabeth mengiyakan dengan perasaan terharu, ia tidak menyangka bahwa ia dan Alexander akan mengucapkan janji pernikahan.
Rose dan Bastian berciuman di depan orang banyak. Melihat hal itu, semuanya bertepuk tangan dan ada juga yang sengaja menggoda kedua mempelai.
Beberapa saat kemudian.
Acara pun berakhir, waktunya sesi pemotretan.
“Rose, hari ini kau terlihat sangat cantik. Kau seperti bidadari,” ucap Elizabeth memuji kecantikan Rose yang menggunakan gaun berwarna putih.
“Benarkah? Bastian pun berulang kali mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan,” pungkas Elizabeth.
“Rose, selamat atas pernikahan kalian. Aku turut senang karena akhirnya kau menyusul Elizabeth,” tutur Jennie.
“Lalu, bagaimana dengan mu? Apakah kau sudah memutuskan untuk menikah seperti kami?” tanya Rose penasaran.
“Untuk sekarang aku belum menemukan pria yang cocok dan juga aku belum siap untuk menikah. Sepertinya, hidupku membutuhkan yang namanya kebebasan,” jawab Jennie.
Elizabeth maupun Rose tidak bisa memaksakan keinginan mereka untuk meminta Jennie menikah. Akan tetapi, mereka berharap Jennie segera menemukan pria yang tepat untuknya dan mengajaknya menikah.
“Ayo, waktunya untuk foto bersama!” ajak Rose.
Elizabeth menoleh ke arah sekitar untuk mencari keberadaan suaminya, ternyata Alexander saat itu tengah berduaan dengan Bastian.
Elizabeth mengernyitkan keningnya ketika melihat gelagat Bastian yang sepertinya takut dengan suaminya. Sementara Alexander, terlihat seperti orang yang sedang memarahi bawahannya.
“Apa ini? Apakah ini hanya perasaanku saja? Apakah mereka sebelumnya saling mengenal?” gumam Elizabeth.
Rose berjalan menghampiri Elizabeth yang sedang menatap Alexander dan juga Bastian.
“Elizabeth, ayo kita foto bersama,” ajak Rose sambil menyentuh perutnya yang buncit.
“Baiklah,” balas Elizabeth.
Merekapun berfoto bersama dan kemudian, Rose memanggil Alexander serta Bastian untuk foto bersama.
“Alexander! Bastian!” Rose memanggil kedua pria tersebut.
Keduanya pun bergegas untuk melakukan sesi pemotretan bersama.
Usai melakukan sesi pemotretan bersama kedua mempelai, Alexander dan Elizabeth memutuskan untuk pulang.
“Alexander, kau dan Bastian saling mengenal?” tanya Elizabeth ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Tidak, kenapa memangnya?” tanya Alexander.
“Tidak apa-apa, mungkin pikiranku saja yang berlebihan. Bagaimana kalau kita mampir minum kopi?” tanya Elizabeth.
“Baiklah, kita minum kopi di mana?” tanya Alexander.
“Entahlah, mungkin di depan ada cafe!” seru Elizabeth.
Elizabeth meminta pengemudi taksi untuk berhenti karena Cafe yang ia inginkan ada di sisi kanan.
“Thank you,” ucap Elizabeth pada pengemudi taksi.
Elizabeth tersenyum dan menarik tangan suaminya untuk segera masuk ke dalam cafe tersebut.
“Aku ingin desert tiramisu dan secangkir cappucino!” pinta Elizabeth pada pelayan Cafe.
“Samakan saja dengan istriku!” pinta Alexander.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang mengenai rencana di masa depan.
“Elizabeth, bagaimana jika suatu hari kita tinggal di sebuah Mansion dan ada seekor kucing yang kita rawat dengan penuh cinta?” tanya Alexander penasaran.
Elizabeth tertawa kecil mendengar pertanyaan suaminya.
“Tentu saja aku sangat ingin. Tapi, bukankah itu berlebihan? Gajiku dan gajimu saja tidak akan cukup membangun sebuah Mansion. Lebih baik kita pelihara kucing saja, tidak memakan biaya besar,” pungkas Elizabeth.
Alexander tertawa kecil, kucing kesayangan miliknya akan membuat Elizabeth menjadi miskin. Dikarenakan, Vincenzo adalah kucing kesayangannya yang hidupnya dipenuhi dengan fasilitas mewah serta makanan premium.
“Ada apa? Apakah jawabanku terdengar aneh?” tanya Elizabeth terheran-heran.
“Mungkin,” balas Alexander singkat.
“Alexander, apakah kau memiliki mimpi yang lain? Ya, setidaknya mimpi yang bisa kita gapai bersama.”
Semuanya telah kugapai, Elizabeth. Aku hanya ingin bersamamu dan memiliki anak darimu. (Batin Alexander)
“Alexander, kau melamun. Apa ada masalah serius?” tanya Elizabeth sambil menepuk tangan Alexander.
“Sorry,” ucap Alexander.
Pesanan mereka telah datang dan tanpa berlama-lama, Elizabeth menyantap desert tiramisu kesukaannya.
“Apakah sangat enak?” tanya Alexander ketika melihat Elizabeth melahap desert tiramisu dengan penuh semangat.
“Menurutku begitu,” jawab Elizabeth.
Alexander menatap sejenak desert tiramisu miliknya dan berharap bahwa rasa desert tersebut tidak mengecewakan dimulutnya.
“Apa sebelumnya kau belum pernah makan desert tiramisu? Ya ampun, hidupmu pasti sangat berat,” tutur Elizabeth sedih.
“Apa aku terlihat sangat menyedihkan?” tanya Alexander.
“Kamu yang sabar, aku akan berusaha membuatmu bahagia,” jawab Elizabeth sembari menepuk bahu Alexander.
Alexander tercengang dengan ucapan Elizabeth, sepertinya Elizabeth benar-benar menganggap bahwa dirinya adalah pria miskin.
“Kenapa masih diam? Cepat habiskan desert milikmu!”
Alexander dengan potongan kecil mencicipi desert tiramisu tersebut dan rupanya tidak terlalu buruk untuk dinikmati.
“Bagaimana rasanya, apakah kau menyukainya?” tanya Elizabeth.
“Aku lebih menyukaimu daripada hal yang ada di dunia ini,” pungkas Alexander.
“Elizabeth, sepertinya desert yang kau makan membuat bicaramu semakin manis saja. Bagaimana jika setiap hari kau memakannya? Apakah aku akan menggila?” tanya Elizabeth.
Alexander tertawa lepas dengan semua yang Elizabeth katakan. Hanya Elizabeth yang bisa membuatnya tertawa lepas.
“Kau semakin cantik, Elizabeth. Aku takut jika nanti ada yang membawamu dari sisiku,” ucap Elizabeth.
“Ayolah, tidak ada hal seperti itu. Kita saling berpaku satu sama lain dan yang pasti tidak akan seorangpun yang sanggup memisahkan kita berdua,” tegas Elizabeth.
“Sepertinya kau juga terkena efek samping dari desert tiramisu ini,” tutur Alexander.
“Benarkah? Seperti begitu,” sahut Elizabeth.
Elizabeth melahap desert tiramisu miliknya sampai habis, begitu juga dengan Alexander.
“Sekarang waktunya kita minum cappucino,” tutur Elizabeth dan bersulang dengan penuh semangat.
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤