NovelToon NovelToon
Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Chicklit / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: ArumSF

Alina sangat mencintai sosok Hero, laki-laki yang hatinya telah mati bersama dengan matinya sosok wanita yang ia cintai.

Meski pernah ditolak, tapi karena sangat mencintai Hero. Alina merasa tidak bisa menyerah begitu saja.

Suatu hari.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya Hero yang merasa memiliki hutang Budi pada Alina.

“Nikahi Alina,” jawab Alina yang terkesan memaksa.

“Tidak!” tegas Hero yang tetap pada keputusannya.

“Kalau begitu biarkan saja Kakak terus terbayang dengan hutang Budi ini,” acuh Alina yang terkesan memaksa.

Hero yang tidak memiliki pilihan lain, akhirnya ia terpaksa menikahi Alina.

Alina terkesan egois, tapi selain sangat mencintai lelaki itu, ada alasan tersendiri mengapa ia sangat kukuh agar Hero menikahinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArumSF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31 Awal menjadi dokter hebat

Alina kini sedang berkumpul bersama keluarganya. Ia hanya diam dan berusaha untuk terlihat fokus menatap tayangan di sebuah televisi.

Sudah menjadi rutinitas keluarga Alina, sesibuk apapun dan secapek apapun mereka.

Mereka harus berusaha untuk meluangkan waktu satu sama lain, contohnya dalam hal berkumpul seperti ini. Karena moment itu adalah hal yang langka dan sangat sulit mereka lakukan jika tidak dengan niat tersendiri dari masing-masing.

Memang tidak ada hal penting yang ingin dibahas, tetapi tetap saja acara berkumpul ini adalah satu hal yang paling mereka tunggu-tunggu. Mendengar cerita dan berbagi cerita satu sama lain.

Dan moment itu kini sedikit jarang dilakukan, padahal itu sudah menjadi hal yang wajib bagi mereka.

“Gimana pekerjaan kamu hari ini Eron? katanya kamu sering pulang ke rumah dan jarang di rumah sakit?” tanya Setoni pada anak keduanya. Meski Setoni sangat sibuk, ia jelas tahu tentang aktifitas anak-anaknya.

“Eron waktu iyu hanya lupa mengambil barang yang harusnya Eron bawa, jadi terpaksa Eron pulang ke rumah lebih dulu,” jawab Eron yang langsung mendapat tatapan mengejek dari Alina.

“Bohong Pah, kak Eron sering di rumah. Nggak tahu deh sesenggang apa dia di rumah sakit sampai sesering itu dia di rumah,” terdengar Alina sedang mengompori ayahnya agar menasehati Eron.

“Dasar tukang ngadu,” kesal Eron yang langsung mengacak-acak rambut Alina yang tergerai. Dengan gemas Eron mengacak-acak rambut Alina hingga terlihat berantakan.

Alina yang diperlukan seperti itu merasa kesal, ia lalu menatap Sang Kakak dengan tatapan kesalnya yang sangat kentara.

“Kak Eron,” kesal Alina langsung mendorong kakaknya karena kesal.

Alina paling benci saat rambutnya diacak-acak, apalagi itu oleh kakaknya, Eron. Ia bahkan seakan tidak peduli jika rambut Alina menjadi sangat kusut saat ini.

“Makanya jangan jadi tukang yang suka ngadu, kamu nggak mau 'kan kalau sampai Kakak aduin kamu ke Papah kalau kamu sering tidur larut malam saat menginap disini? ” tantang Eron yang hanya dijawab dengan gelengan cepat, seakan Alina sedang mengelak tuduhan Sang Kakak.

“Dasar Kakak yang sok tahu, Alina nggak suka ya dituduh kayak gitu,” menatap kakaknya sebal. Alina langsung menatap ke arah lain seakan ia kini sedang mendengus tak suka.

Sementara Belvita yang melihat keakraban keluarga Alina, ia terlihat hanya diam. Pandangan matanya kadang terlihat menunduk, seandainya keluarga dirinya juga harmonis seperti keluarga Alina. Ia pasti akan merasa sangat bahagia.

Tanpa disangka, tangan Belvita yang sedang mengepal digenggam erat oleh seseorang. Dan ternyata orang itu adalah Amina, ibu dari Alina.

Amina terlihat tersenyum dengan senyum yang teduh dan sangat tulus. Tatapan mata Amina yang seolah bisa mengerti akan kesedihan Belvita. Hal itu membuat Belvita merasa jika genggaman tangan Amina memiliki kehangatan tersendiri untuknya.

“Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita apapun langsung ke Tante. Apapun masalah kamu itu, pasti akan Tante dengarkan,” ucap Amina dengan nada lembut yang terdengar berbisik. Seakan tahu jika Belvita tidak ingin menjadi pusat perhatian.

“Kamu juga bisa panggil Tante dengan sebutan Mamah kalau kamu mau,” lanjut Amina.

Mendapatkan perhatian seperti itu, mata Belvita yang terlihat jernih itu mulai berkaca-kaca. “Terima kasih Tante,” jawab Belvita tulus. Ia berusaha untuk tidak menangis saking terharunya dengan kepedulian Amina.

“Oh iya,” ucap Alina tiba-tiba dengan nada tingginya hingga menjadi pusat perhatian dikeluarganya.

“Kenapa?” tanya Eron dengan tatapan herannya.

“Alina hampir lupa, mungkin untuk 2-4 Minggu ke depan, Alina akan pergi bertugas di sebuah desa yang cukup terpencil. Katanya kami ditugaskan ke sana untuk membantu para warga di sana yang saat ini sedang terkena wabah,” jelas Alina langsung membuat keluarganya khawatir.

“Harus kamu sayang? tidak bisa 'kah orang lain saja yang diutus?” tanya Amina langsung.

“Tidak bisa Mah, Alina harus ke sana karena Alina juga terpilih untuk menangani para warga yang terjangkit penyakit,” jelas Alina.

Alina jujur merasa senang di utus ke sana walau hanya ditugaskan untuk membantu atau lebih tepatnya hanya sebagai asisten saja. Tapi Alina merasa itu juga akan menambah pengalamannya.

Entah jadi asisten siapa saat di sana, Alina tidak tahu.

“Apa hanya ada kamu yang akan di sana?” tanya Setoni yang khawatir, tapi wajah berwibawa yang terlihat santai selalu ia tunjukkan.

“Tidak Pah, ada beberapa dokter di rumah sakit Cendana yang akan pergi ke desa terpencil itu, dan kebetulan Alina hanya ditugaskan sebagai asisten saja, jadi Mamah tidak perlu khawatir,” jelas Alina yang menatap ke arah Amina yang kini terlihat khawatir.

“Mana bisa Mamah nggak khawatir sama kamu Sayang, jelas-jelas Mamah takut kamu kenapa-napa di sana,” ungkap Amina.

Kadang Amina berfikir, ada bagusnya jika Alina menjadi seorang guru atau seorang pelukis seperti keinginannya. Tapi karena tuntutan dari Sang nenek yang juga seorang dokter, Alina diharuskan untuk menjadi seorang dokter.

“Mamah tenang saja, Alina akan baik-baik saja,” ungkap Alina berusaha menenangkan.

Eron yang dari tadi hanya diam, ia akhirnya buka suara, “Tidak bisakah kakak ikut sebagai keluarga?” tanya Eron tiba-tiba.

“Mau ngapain ikut? Kakak itu bukan dokter yang bekerja di rumah sakit Cendana, jadi untuk apa ikut? liburan?” tanya Alina disertai sedikit ledekan dalam ucapannya.

“Anggap aja begitu,” jawab Eron yang tidak ingin mengungkapkan bahwa dirinya merasa khawatir pada Sang adik.

...*****...

Keesokan harinya.

Setelah meyakinkan keluarganya dengan susah payah, akhirnya Alina diizinkan untuk pergi ke desa terpencil yang terkena wabah penyakit.

Dengan syarat, kakaknya Bian akan mengantar dirinya dan memastikan jika tempat yang akan Alina tempati itu adalah tempat yang aman.

Karena jarak tempat kerja Bian dengan sebuah desa terpencil itu tidak terlalu jauh, alhasil Alina setuju. Harusnya sebagai keluarga Angkasa, Bian bekerja di rumah sakit besar keluarganya.

Tapi di minggu kemarin Bian sudah memutuskan untuk menjadi seorang dokter di sebuah desa untuk beberapa hari ke depan, ia juga memutuskan untuk menjadi sukarelawan atau lebih tepatnya dokter tanpa imbalan atau gaji.

Entahlah, apa yang membuat Bian menjadi seperti itu, yang jelas Alina yakin jika kakaknya yang memang memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama, membuat laki-laki itu berbesar hati ingin untuk menjadi sukarelawan di desa itu.

“Pasti capek banget ya Kak setiap hari harus naik mobil bolak-balik dengan jarak yang sejauh ini,” ucap Alina langsung menatap kakaknya prihatin.

“Tidak ada kata lelah jika semua yang kita lakukan dengan tulus dan ikhlas,” jawab Bian yang langsung membuat Alina mengangguk. Karena apa yang kakaknya katakan itu ada benarnya.

“Untung saja kamu hanya ditempatkan di desa sebelah, karena desa yang merupakan tempat kakak kunjungi keadaannya sangat parah dan juga sangat memprihatinkan,” jelas Bian yang diangguki oleh Alina.

“Separah itu 'kah?” tanya Alina yang hanya dijawab anggukan.

“Iya, sangat parah, tapi untuk sekarang keadaan mereka sudah sangat stabil, tapi mungkin selama tiga hari ke depan kakak masih akan bertugas di sana,” jelas Bian yang dijawab anggukan oleh Alina.

1
Wella Elanda
puyeng kepala baca nya😌
Irma Katili
ceritanya mandeg deg deg deg
Irma Katili
mandek 😅😅😅😅
Irma Katili
👎👎👎👎👎👎👎
ela hasanah
kapan update lagi thorr🥺🥺
Cici Nurmala
Dilanjut gak thor? Aku menunggu
Irma Katili
ga jelas
ela hasanah
ku menunggu
ela hasanah
kapan up Thor?
Irma Katili
kapan tayang lg
Irma Katili
selesaukan dl satu cerita...baru bikin cerita lain
Irma Katili
ga nambah nambah nih cerita nya
Cici Nurmala
Alina sabar banget menghadapi sikap hero. Aku yg bacanya kesel thor
Cici Nurmala: Setuju buat hero menyesel thor
total 2 replies
Linda Rosiana
aku berharap setelah mengetahuinya km pergi Alina
Risma Panggabean
lanjut thor
Rina
Kirai Alina minggat😄😄😁
Ternyata cuma di cuekin
Arum SF.: Hehehe sabar ya kak, nanti Hero akan nyesel, lebih nyesel lagi kalau tahu kenyataan tentang Alicia cinta pertamanya
total 1 replies
Cici Nurmala
Next kak
Irma Katili
ga jelas nih cerita....klao.blm bisa jgn bikin cerita sk mba
Rina
Lama banget ya updatenya🤭
Irma Katili
kapan nih ko blm keluar lg sambungannya
Arum SF.: Author kira cerita author ini biasa aja, tapi kalau memang banyak yang nunggu, akan author usahain sering up banyak
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!