NovelToon NovelToon
His Purpose

His Purpose

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Mafia / Tamat
Popularitas:6.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Uffahazz_2

Pria misterius yang semula adalah calon kakak iparnya, dalam hitungan detik berubah menjadi suaminya.

Kisah tentang Maria yang harus menerima takdir pahit ditinggalkan sang kekasih di hari pernikahan. Demi menjaga harkat dan martabat keluarga, ia rela menikah dengan pria yang bahkan baru dilihatnya di Altar.

Beberapa saat setelah mengikat janji di hadapan Tuhan, Maria mendapati dirinya sudah terkurung di tempat asing.

Siapa sosok suami Maria sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Sweet and Closer

Maria termenung. Bayangan seseorang yang sempat ia lihat tadi kembali melintas di otaknya. Lelaki itu nampak familiar. Maria yakin seribu persen ia mengenali punggung itu.

Tapi, apa benar sosok itu adalah Gabriel? Atau, Maria hanya salah lihat? Mungkinkah ia terlalu merindukan Gabriel sampai-sampai berhalusinasi?

"Apa yang kau pikirkan?"

Maria terperanjat, matanya melirik Gibran dari cermin. Pria itu tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel. "Ah, tidak. Itu ... apa kita memang harus tidur di satu kamar yang sama?"

Gibran mendongak, "Kau merasa tidak nyaman?" tanyanya datar.

Maria langsung tergagap, "Bu-Bukan begitu. Bukan aku tidak nyaman. Justru aku khawatir Koko merasa terganggu dengan keberadaanku."

Alasan. Bilang saja kau memang tidak nyaman. Bisik Maria dalam hati.

Gibran tak menjawab. Pria itu menatapnya tak acuh dan kembali fokus pada ponsel.

Maria merengut, ia pun berbalik menghadap cermin dan melanjutkan kegiatannya memakai skincare. Namun sesekali matanya mengarah pada Gibran. Lebih tepatnya ia memeriksa keadaan tangan pria itu yang kini terbalut piyama tidur.

Jujur, ini pertama kali bagi Maria melihat Gibran dalam tampilan yang berbeda. Sepanjang mereka tinggal bersama, Maria hanya melihat pria itu mengenakan jas dan kemeja.

Lain dengan sekarang, pria itu nampak jauh lebih santai dengan piyama satin berwarna gelap. Meski begitu auranya tetap kuat mencekik suasana. Alih-alih luntur, pesona Gibran justru berkali lipat lebih seksi dari biasanya.

Astaga. Apa yang ia pikirkan. Maria segera menggeleng berusaha menepis perasaan anehnya.

Tak lama seseorang mengetuk pintu. Gibran beranjak dari duduknya dan melihat siapa yang datang. Rupanya seorang petugas room service yang mengantar makanan. Petugas itu kembali pergi setelah selesai melakukan tugasnya.

Maria menepuk-nepuk wajahnya menyelesaikan rangkaian terakhir perawatan. Ia beranjak dari kursi rias guna menghampiri Gibran. Matanya menatap berbagai menu di troli yang sebagian besar bertema western.

"Ini Koko yang pesan?" tanya Maria sembari mendudukkan diri di seberang Gibran.

"Hm."

Maria mengangguk. Atensinya beralih pada pria itu yang masih saja fokus melihat ponsel. Entah apa yang sedang Gibran lakukan dengan benda persegi itu. Yang pasti wajahnya terlihat sangat serius. Pasti masalah pekerjaan.

Tadinya ia pikir mereka akan makan di luar. Tapi, ya sudahlah, lagipula malam ini Maria malas pergi kemana pun. Entahlah, badannya terasa agak lemas dan lesu. Padahal seharian Maria hanya di kamar, menjalani serangkaian perawatan.

Maria menata piring-piring itu ke meja. Lalu mulai mencicipi salah satunya dan makan dengan lahap. Ia memang baru pulang dari pesta, tapi perutnya kelaparan karena tidak memakan apa pun di sana.

"Koko tidak makan?" Maria lihat Gibran masih larut dalam dunianya. "Makanlah. Simpan dulu pekerjaannya. Bukankah itu bisa dilanjut nanti?"

"Kau duluan," sahutnya tanpa menoleh.

Maria mengangkat bahu, ia kembali menikmati makan malamnya dan berusaha tak peduli. Biarkan saja Gibran bersikap semaunya. Toh, itu tidak membuat Maria rugi.

Setengah jam kemudian Maria berhasil melahap tiga menu di atas meja. Jangan salah, porsi mereka sangat kecil, wajar jika ia makan lebih dari satu piring.

Hebatnya Gibran masih tak bergeming di tempatnya. Pria itu sama sekali tidak menyentuh makanan. Maria heran, apa semua orang selalu lupa makan saat bekerja?

Sekali lagi Maria berusaha tak menghiraukan. Ia beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi, memakai kembali skincare di area sekitar mulut yang terbasuh, serta lipbalm di bibir.

Hampir sepuluh menit berlalu dan ia lihat Gibran masih dalam posisi yang sama. Astaga, apa dia tidak mengantuk atau lelah? Ini sudah jam 11 malam.

"Bodo, ah," gumam Maria seraya menaiki ranjang, berbenah untuk tidur.

Lama Maria menghitung domba dengan harapan matanya segera terpejam. Ia pun hampir melayang ke alam mimpi jika saja pemandangan Gibran yang tengah berhati-hati menyendok makanan tak tertangkap olehnya.

Hal yang membuat Maria terganggu tanpa alasan yang jelas. Seharusnya Maria abaikan saja dan lanjut tidur. Namun, melihat cara makan Gibran yang tak biasa membuatnya serta-merta bangun dan turun dari ranjang.

Gibran tak menyadari kedatangan Maria yang kini berada di sampingnya. Pria itu nampak serius mengarahkan sendok dari piring ke mulut. Mungkin di mata orang lain tidak ada yang salah mengingat raut Gibran yang datar tak mengekspresikan apa pun.

Akan tetapi, Maria yang tahu tangan Gibran tengah terluka, jelas menangkap kesulitan yang berusaha Gibran pendam.

Pria itu memang makan dengan baik dan elegan, namun gerakannya nampak lebih lambat dan terkesan hati-hati dalam menyeimbangkan sendok.

Maria menghela nafas panjang. Ia berpikir alasan Gibran menolak makan sejak tadi karena ini. Pria itu menyuruhnya makan duluan dengan dalih pekerjaan. Tapi sekarang Maria mengerti, Gibran hanya tidak mau cara makannya itu dilihat Maria.

Maria mendekat, tanpa suara ia menahan sendok yang hampir memasuki mulut Gibran. Seketika pria itu terdiam, rautnya bahkan tak menunjukkan keterkejutan. Sepertinya Gibran memang ahli memainkan ekspresi.

"Koko baru akan selesai dini hari jika cara makannya seperti itu."

"Sini. Biar aku suapin." Maria mengambil alih sendok itu dari tangan Gibran. Namun pria itu menghindar dengan menjauhkan wajahnya.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

"Ya. Dan Koko tidak akan tidur semalaman karena sibuk makan. Apa salahnya minta bantuan saat kesulitan? Apa itu termasuk hal yang memalukan?"

Gibran mendongak, dan ini pertama kali Maria memiliki keinginan mencolok pupil mata yang selalu menyorot datar itu.

Ia pun bergerak menyalip antara Gibran dan meja, membuat Gibran seketika mundur dan hampir bersandar di punggung sofa. Kening pria itu berkerut tipis, menatap Maria dengan pandangan heran.

"Buka mulutnya," titah Maria mengarahkan sendok di depan wajah Gibran. Wanita itu sudah duduk di sampingnya.

Mendapati Gibran yang tak merespon Maria pun berdecak. Susah memang berhadapan dengan orang yang gengsinya besar.

"Koko mau makan tidak?"

"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Gibran malah bertanya lain.

Namun Maria tak gentar. Entah ia mendapat keberanian dari mana malam ini. "Koko harus makan, atau nanti tidak bisa tidur karena kelaparan."

"Aku tidak lapar."

"Benarkah? Tapi sepertinya perutmu berkata lain." Rasanya Maria ingin tertawa saat samar-samar ia mendengar sebuah suara dari perut Gibran.

Sebelah alisnya terangkat jail, ia memberi isyarat pada Gibran untuk segera melahap makanan di sendok yang Maria pegang.

Beberapa detik pria itu masih bungkam tak menggubris. Hingga kemudian nafasnya terhela panjang sebelum akhirnya ia pun meraup makanan yang Maria sodorkan.

Gibran mengunyah dengan raut datar. Berbeda dengan Maria yang kini tersenyum lebar merasa menang.

Suap demi suap berhasil Gibran telan atas bantuan Maria. Ia bahkan menghabiskan lima menu sekaligus termasuk makanan penutup.

Malam itu, keduanya seolah lupa dengan jarak yang sebelumnya membentang.

1
Imas Masripah
aku udh lama cari ini karena hp sempet di install ulang jadi hilang.sy cuka ceritanya cinta ugal-ugalan seorang pria kereeeen
aku?istriyoongi
/Smile/
Silver Queen
si jule selingkuh thor🤭
mrs. rover: kenapa jule nyampe sini😭
total 1 replies
Yeti Kosasih
kesepian itu sangat tidak mengenakkan itu yg kerap kurasakan...
Fatimah Azzaa88
pantas saja kakeknya gibran bilang cucu menantunya bodoh,emang bodoh si,bodoh pke banget ,udh bnyak kjadian sbelumnya tp,gk prnah blajar dr pngalaman,lagi² prgi ktmpat asing
Fatimah Azzaa88
kesempatan koko gibran itu mah🤣🤣🤣
green attaki
the best novel
Rahma Lilis
Luar biasa
Nurlaila Mahlil
perfect novel
Icca Emoottss Gemesiens
yah bener 😂
Erlin Hidayati
Luar biasa
Mystera11
🤣🤣🤣astaga laura,,,cari mati kamuuu
Mystera11
🤣🤣🤣🤣🤣 bisa2nya disamain monyet🤣🤣🤣 laura...laura🤦‍♀️
Mystera11
Luar biasa
Shindy Auliya
sungguh luar biasa
Hujan Merah Jambu
Luar biasa
Erfiana ana
hmm, kira2 Maria bakalan maafin Gibran ga ya?
Erfiana ana
bakalan babak belur lagi ga yang satu ini??
Erfiana ana
dasar para pelayan tukang gosip, majikan sendiri pun dijadikan bahan ghibah...😁
Erfiana ana
jangan2, selama ini diam2 Gibran yg udh menghalau semua pria2 yg dekat dgn Maria??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!