Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
flash back Hantu Yang Di Ruang Musik
Di tengah kegelapan, sosok siswi itu duduk tegak di depan piano. Jari-jarinya bergerak cepat menekan tuts dengan kekuatan yang menyakitkan, lalu tiba-tiba ia berhenti seketika. Matanya menatap lurus ke arah Soo-jin dengan tatapan tajam yang menusuk dan seketika itu juga, Soo-jin merasa seolah ada yang menarik kesadarannya masuk ke dalam ingatan orang lain. Ia terhipnotis, tak bisa bergerak, dan melihat masa lalu yang tersembunyi itu dengan jelas.
Dulu, siswi ini adalah gadis yang sangat cantik dan berbakat. Ia sering menghabiskan waktu di ruang musik, hingga akhirnya kedekatannya dengan guru musiknya berubah menjadi hubungan terlarang. Ruang musik ini menjadi tempat rahasia mereka, tempat di mana batas antara guru dan murid dilanggar berulang kali. Tak lama kemudian, gadis itu menyadari dirinya mengandung anak dari pria itu. Tidak ada satu pun yang tahu hal ini, selain mereka berdua.
Soo-jin seolah berdiri di sana saat gadis itu memberanikan diri berbicara:
“Pak… aku hamil. Aku meminta Bapak untuk bertanggung jawab
Pria itu guru musiknya mendengus sinis, wajahnya berubah dingin seketika.
“Apa? Enak saja kamu memintaku bertanggung jawab! Kamu ini anak gadis, pasti sudah banyak laki-laki yang menyentuhmu sebelum aku!”
Gadis itu gemetar hebat, air matanya menetes deras.
“Tidak! Aku hanya melakukannya dengan Bapak! Bapak adalah pacar pertamaku, tidak ada orang lain selain Bapak!”
Guru itu melangkah mendekat perlahan, lalu mengusap pipi gadis itu dengan jari telunjuknya senyumnya terlihat sangat mengerikan dan penuh kebencian. Tiba-tiba, tangannya bergerak cepat dan menjambak rambut gadis itu dengan kasar hingga ia mendongak kesakitan.
“Dengar baik-baik: tinggalkan aku dan gugurkan kandungan ini sekarang! Jangan sampai ada orang lain yang tahu hal kotor ini! Jika mereka mengetahuinya… hidupmu akan kubuat jauh lebih sengsara daripada yang kau bayangkan!”
Gadis itu jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu di tengah ruangan yang sunyi, sendirian dengan ketakutan yang menghancurkan hatinya.
Siswi itu bernama Ha-eun.
Sejak hari yang menyakitkan itu, Ha-eun selalu berangkat ke sekolah dengan perasaan yang gelisah dan hati yang tak pernah tenang. Senyum ceria yang dulu sering menghiasi wajahnya kini hilang tak berbekas; ia tidak lagi seceria dan sebersemangat dulu. Teman-teman sekelasnya sering bertanya apa yang membuatnya berubah, tapi Ha-eun hanya bisa diam dan mengalihkan wajah ia tidak punya tempat untuk bercerita.
Setiap hari ia berusaha mendekati guru musik itu, berharap pria itu akan berubah pikiran, berharap masih ada sedikit rasa tanggung jawab atau belas kasihan yang tersisa di hatinya. Namun setiap kali Ha-eun mencoba menghampiri, guru itu justru berjalan menjauh, memalingkan wajah, atau sengaja berbaur dengan orang lain agar tidak perlu berhadapan dengannya.
Ia seolah tidak melihat keberadaan Ha-eun, mengabaikan gadis itu seolah mereka tidak pernah saling mengenal, seolah janji-janji manis yang pernah diucapkan di ruang musik itu tidak pernah ada sama sekali.
Di koridor sekolah saat jam istirahat, teman sebangkunya menyapa dengan nada cemas:
“Ha-eun, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali hari ini, matamu juga tampak lelah sekali.”
Ha-eun tersenyum tipis yang tak sampai ke mata, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang menggerogoti hatinya. “Aku tidak apa-apa… mungkin hanya kurang tidur saja.”
Belum sempat teman itu bertanya lebih lanjut, tiba-tiba rasa mual yang sangat hebat menyerang perut dan tenggorokannya. Wajahnya berubah menjadi lebih pucat lagi, keringat dingin menetes di pelipisnya. Tanpa sempat berpikir dua kali, ia langsung berlari sekuat tenaga menuju toilet terdekat, menutup mulutnya rapat agar tidak muntah di tengah jalan.
Di dalam bilik toilet yang terkunci, Ha-eun akhirnya menumpahkan segala isi perutnya sambil menangis tersedu-sedu. Rasa sakit di tubuhnya bukan apa-apa dibanding rasa takut yang semakin nyata—ia tahu janin di dalam perutnya semakin tumbuh, dan tidak ada satu pun orang yang bisa ia harapkan untuk membagi beban ini.
Baru saja Ha-eun melangkah keluar dari pintu toilet sambil menopang dinding karena masih lemas, tiba-tiba ada tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat dan menariknya ke sudut lorong yang sepi.
Ia menoleh dengan napas terengah-engah, dan terkejut bukan main saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya itu adalah Min-jun, kakak laki-laki Min-woo.
“Ikut aku sebentar. Aku ingin bicara denganmu,” ucap Min-jun dengan nada berat, matanya menatap tajam namun terlihat campur aduk antara sedih dan kecewa.
“Ada apa, Min-jun?” tanya Ha-eun dengan suara gemetar, berusaha menarik tangannya perlahan namun tak berdaya.
Min-jun menghela napas kasar, lalu berkata pelan namun tegas: “Aku tahu kamu hamil, kan?”
Mata Ha-eun membelalak kaget, wajahnya seketika pucat pasi. “Dari… dari mana kamu tahu soal itu?”
“Ha-eun, selama ini aku melihat semuanya,” jawab Min-jun dengan nada yang mulai meninggi. “Aku melihatmu berjalan berdua dengan guru brengsek itu, aku melihat bagaimana dia memelukmu di ruang musik. Kenapa kamu begitu mudah terbuai oleh rayuannya? Kenapa kamu tidak memilih bersamaku saja?”
Ia menatap gadis itu dalam-dalam, suaranya bergetar menahan rasa sakit hati. “Dulu kamu menolakku… kamu bilang hanya menganggapku teman. Tapi kamu malah menerima laki-laki tua yang seharusnya menjagamu itu?”
Min-jun menatapnya dengan tekad yang bulat, lalu berkata.
“Aku akan bertanggung jawab. Kita akan menikah.”
Ha-eun menggeleng cepat, air matanya kembali menetes. “Tidak… aku tidak mau.”
“Kenapa? Anak ini butuh ayah!” seru Min-jun tidak terima.
“Aku bisa menyelesaikannya sendiri,” jawab Ha-eun pelan namun tegas. “Kamu tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Ini semua adalah kesalahanku sendiri, aku tidak ingin kamu ikut terlibat dan menderita karenanya.”
Min-jun menggeleng, tangannya berusaha meraih bahu gadis itu. “Aku menyukaimu, Ha-eun. Aku akan bertanggung jawab dan merawat kalian berdua, walaupun anak ini bukan anak kandungku.”
Ha-eun menepis pelan tangannya, menatapnya dengan pandangan yang penuh kepedihan namun tegas. “Tidak, Min-jun. Sudah cukup… menjauhlah dariku. Aku tidak ingin sampai Ayahmu mengusirmu karena urusanku.”
Setelah berkata begitu, Ha-eun berbalik badan dan melangkah cepat pergi meninggalkan Min-jun yang terpaku sendirian di sudut lorong, hatinya terasa hancur karena tak bisa menolong orang yang paling ia sayangi.
Siang itu, Ha-eun mendengar percakapan guru lain di koridor—berita yang menghancurkan sisa harapannya seketika: guru musik itu dipindahkan tugasnya ke sekolah lain, mulai minggu depan ia tidak akan mengajar di sini lagi.
Kakinya terasa lemas seketika, ia harus bersandar pada dinding agar tidak jatuh. Dunia seolah runtuh di hadapannya. Pria itu yang menjadi awal dari segalanya, pria yang berjanji akan ada di sana, kini pergi begitu saja tanpa pamit, tanpa bertanya sedikit pun bagaimana nasib Ha-eun dan janin yang dikandungnya.
Lalu bagaimana dengan aku?
Lalu bagaimana dengan anak ini?
Apakah aku harus menghadapi semuanya sendirian?
Pikiran itu terus berputar tanpa henti di kepalanya, menghantamnya berkali-kali. Tidak ada tempat untuk berlindung, tidak ada orang yang mau mendengar, dan tidak ada jalan keluar yang terlihat. Hanya ada rasa takut, malu, dan kesepian yang semakin menyesakkan dadanya.