Nuna, gadis cantik berhidung mancung dengan kulitnya yang putih bersih, diam diam menyukai seorang laki laki yang biasa ditemuinya di cafe langganannya, dalam diam nuna hanya bisa memperhatikan pujaan hatinya tersebut,
Tanpa berusaha untuk mengenalnya lebih dalam, tak jarang Nuna mencuri curi foto dengan kamera ponselnya...
Dimas, laki laki yang dcintai nuna dalam diam, seorang pengusaha di bidang properti, tampan, kaya dan arogan dan dia tak mudah jatuh cinta.
Akankah mereka bisa slaing mengenal dan jatuh cinta satu sama lain????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bag.31
"Selamat tuan, bayi anda perempuan, sangat cantik seperti ibunya" kata seorang perawat kepada Dika.
Aku masih kelelahan setelah melewati proses persalinan yang banyak menguras tenaga,
Perawat yang sedang menggendong bayi, berjalan kearahku dan meletakkan bayi mungil itu di atas dadaku, Inisiasi Menyusu Dini istilahnya dimana bayi dengan nalurinya berusaha mencari ****** susu ibunya.
"Selamat ya nyonya.. putri anda sangat cantik" kata perawat dengan ramahnya.
"terimakasih suster" sahutku sambil berlinang airmata karena terharu.
Bayi mungil itu menggerak gerakkan kepalanya berusaha mencari ****** susu, setelah ketemu langsung di hisapnya dengan sangat kuat, membuatku semakin terenyuh.
Setelah selesai, aku dipindahkan keruang rawat inap, dengan kondisi lemah begini, aku diharuskan untuk menginap guna memulihkan kondisiku.
"apa kau baik baik saja Nun?" tanya Dika.
"iya aku baik... kenapa kamu masih disini?"
"aku akan tetap disini untuk menjagamu..."
"sebaiknya kau pulang dan istirahat, ada Cila yang akan menjagaku"
"Cila sudah pulang, aku menyuruhnya pulang karena sepertinya dia kelelahan"
"ouh...." sahutku.
"sebaiknya kau istirahat agar segera pulih" katanya sambil membenarkan selimutku.
Aku hanya bisa terpaku melihat perlakuannya yang menurutku sudah sangat berlebihan. lalu tak lama akhirnya aku terlelap karena kelelahan.
🦴🦴🦴🦴🦴🦴
Semalam menginap di Rumah sakit rasanya sudah sangat membosankan, aku mendesak Dika agar berbicara pada dokter supaya mengijinkanku untuk pulang kerumah hari ini.
Dan setelah memeriksa kondisiku, dokter akhirnya mengijinkanku untuk pulang.
Lagi lagi Dika mempersiapkan segalanya termasuk mengantarku pulang kerumah. kali ini aku pulang dengan seorang bayi di gendonganku.
miris hatiku, melahirkannya tanpa seorang suami di sisiku, dan ternyata lumayan membantu juga keberadaan Dika saat ini.
Sesampainya dirumah, aku di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri di depan pintu rumahku.
"dia bik inah, dan mulai hari ini bik inah akan membantumu untuk mengurus rumah ini" kata Dika.
"apa...?? kenapa kau memperkerjakan seseorang tanpa memberitahuku?" jawabku dengan kesal.
"kau pasti membutuhkan seseorang untuk membantumu, dan bik inah pilihan yang terbaik, dia sudah lama bekerja di keluargaku dan aku sangat mempercayainya" jelas Dika.
"apaa...?" lagi lagi aku terkejut, bisa bisanya Dika membawa bik inah yang masih bekerja dirumahnya untuk menjadi asisten rumah tangga dirumahku.
"bik.. tolong jaga dan rawat mereka seperti kau menjaga dan merawatku selama ini" kata Dika pada Bik inah.
"baik Tuan.. saya akan bekerja lebih baik lagi" sahut bik Inah dengan ramah.
"perkenalkan Nyonya, nama saya Inah" kata Bik inah beralih menatapku.
"oh iya..saya Nuna bik.. tapi tolong jangan panggil saya Nyonya, panggil saja Nuna" sahutku.
"saya ga enak nyonya..."
"Nona saja kalo begitu..."
"baiklah nyo.... eh Nona..." sahutku bik Inah dengan canggung.
Dika hanya tersenyum menatapku dan bik Inah.
"apa kau sudah memikirkan nama untuk bayimu?" tanya Dika.
"sudah......" sahutku singkat.
"siapa...?"
"Nabila Putri Adiwijaya"
"Adiwijaya??" kening Dika berkerut..
"bagaimanapun juga.. dia ayahnya..."
"tapi dia tak mengakuinya.."
🥮🥮🥮🥮🥮🥮
Perusahaan eks Adiwijaya yang aku kelola bersama Sendi, kini sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat, tak sia sia perjuanganku selama 4 tahun terakhir.
Nabila yang mulai masuk sekolah PAUD, makin menggemaskan, membuat hariku tak pernah sepi,
"mama... kenapa papa belom datang?" tanya Nabila dengan suara yang menggemaskan.
"mungkin macet sayang..." sahutku.
Papa yang Nabila maksud adalah Dika, Dika benar benar menjadi sosok ayah yang sempurna di mata Nabila dan hubungan mereka sangat dekat bahkan kadang membuatku sangat iri dengan kedekatan mereka.
Suara deru mesin mobil di halaman rumah, dalam sekejap membuat Nabila loncat dari pangkuanku,
"Papaaaa....." panggilnya dengan girang sambil berlarian ke halaman.
Aku hanya bisa mneghela nafas melihat kelakuan Nabila.
"haloooo anak kesayangan papa....." kata Dika menyambut gadis kecil yang berlari kearahnya.
"papaaa.. kenapa papa lama sekali?" cebik Nabila di pelukan Dika.
"tadi papa ada sedikit urusan cantik....apa Nabila sangat merindukan papa?" sahut Dika yang tak henti hentinya menciumi pipi gembul Nabila.
"tidakkk...." sahut Nabila dengan cekikikan.
"Bilaa... ayo habiskan sarapanmu dan segera berangkat sekolah" kataku.
"lhoh Bila belum selesai sarapan?" tanya Dika.
"belom paa.. Bilaa mau sarapan sama papa" jawabnya.
"baiklaah cantikkk.. papa akan menemanimu sarapan.." kata Dika sambil melirik kearahku.
"cepatlah.. nanti kalian bisa terlambat" sahutku lalu menuju meja makan.
"paa.. kenapa papa ga tinggal disini saja sama Bila?" celetuk Bila dengan polosnya aku sampe tersedak mendengarnya.
"uhukkk...uhukkk.."aku terbatuk mendengar pertanyaan Bila.
Sedang Dika sangat tenang menyantap sarapannya.
"tanya sama mama dulu, apa papa boleh tinggal sama mama dan Nabila" jawab Dika melirikku sekilas.
"ma... papa boleh yaaa tinggal disini sama Bila?" rengeknya.
Aku kembali terbatuk, aku meneguk habis airku dan berusaha menenangkan hatiku yang tiba tiba gugup tak menentu.
"hemmm... sebaiknya Bila habiskan sarapannya dan segera berangkat" sahutku mengalihkan pembicaraan.
🥯🥯🥯🥯🥯🥯
semangat Thor dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak Thor dah buat kami terhibur 🙏🙏🙏