🧭 96 km season 1 ⏰
16+
Mina, si langit timur yang mengawali munculnya cahaya, dipertemukan semesta dengan Nagi, si langit barat yang menenggelamkan cahaya.
Mereka memiliki kisah kehidupan yang serba mudah dan megah di pulau kecil. Ambisi jiwa terhadap logika, harta, dan tahta adalah tujuan mereka. Walaupun berbeda cara meraihnya.
Namun, mereka mendapat masalah mengenai ambisi terhadap rasa!
Sekat sejauh 96 kilometer hadir di antara mereka, membuat cahaya kedua langit mulai meredup.
Suatu hari, mereka berhasil menembus jarak dan menyatu!
Tapi hal tersebut justru membuat mereka semakin jauh. Hingga muncullah rasa penyesalan dan berharap bisa membalikkan waktu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang menyebabkan semesta justru memisahkan mereka, di saat telah menyatu?
Cahaya dari kedua langit itu, adalah cinta. Ayo ikuti kisah romansa bertajuk petualangan ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noejan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Lari Dan Rindu (LDR)
...“Tuhan Maha Adil kok....
...Jika ingin memperoleh kesuksesan,...
...Memang harus ada yang direlakan.”...
Agustus 2037.
Setelah liburan, Mina dan Nagi sama-sama menghadapi orientasi pengenalan kampus (ospek) supaya lebih mengenal kampusnya masing-masing.
Mina merantau dari rumah dan menge-kos di dekat lingkungan kampusnya. Walaupun kampusnya masih satu kota dengan rumah nenek, ia tetap disuruh ibu dan ayah untuk menge-kos di tengah kota Biru.
Itulah pengalaman pertamanya merantau dan belajar hidup mandiri. Ibu dan ayah selalu menanyakan kabarnya, dan juga bertanya masih ada berapa sisa uangnya.
Masa-masa merantau yang cukup sulit, menurut Mina.
Karena orang-orang yang Mina sayang terlihat disini. Ayah, Ibu, Dina, serta teman-temannya: Gita, Leila dan Nagi.
Mereka terlihat disini. Dan artinya, ia merindukan mereka semua.
Jarak ini menjauhkan dirinya dengan Nagi. Dia di universitasnya dan aku universitas ku.
Bahkan mulai timbul perasaan apakah Nagi masih mengingat Mina sebagai temannya atau telah melupakan semuanya?
Mina juga semakin mudah overthinking.
Jarak 96 km yang terbentang, sedikit memang, tapi mengapa terasa sangat jauh? Sangat jauh.
Hingga di kampusku, aku melihat beberapa orang yang mirip seperti dirinya. Apakah aku telah segila ini ya?
Nagi satu kos dengan kakaknya, Mogi. Ia telah membereskan keseluruhan barang-barangnya.
Saat ospek, ia cukup membuat kakaknya kesal karena tidak langsung merapikan barang-barangnya. Ia memelas, memohon ampunan kakaknya, dan berkali-kali Mogi memaafkannya karena mendapatkan sogokan makanan dari Nagi.
Disini, Nagi bertekad akan berjuang untuk memperoleh nilai bagus hingga lulus. Cerita ambisinya dijadikan nomor satu, yang lainnya minggir. Termasuk kisahnya dengan Mina.
Semoga intuisi kita cukup dekat, walaupun raga kita terhalang oleh sekat. Semesta tahu kok yang terbaik untukku, untuk kita.
Di sana pasti dia belajar untuk mendapat hasil yang begitu mengagumkan. Aku tak boleh kalah darinya. Semangat!
Dan kini, waktunya langit barat merelakan langit timur yang telah memilih menjauh darinya.
Langit barat percaya suatu hari nanti langit timur dapat melupakannya seiring menghilang dirinya.
Sebaliknya, langit timur justru terus membayangkan mungkin suatu hari dirinya bisa bertemu lagi dengan langit barat.
...***...
September 2037.
Di kampus Biru, Mina bersyukur karena memiliki teman-teman yang sangat baik walaupun berbeda kota asal, kelas dan jurusan.
Disini Mina mempelajari bagaimana menganalisa kandungan nutrisi dalam bahan pangan serta pengobatan maupun pencegahannya. Ia merasa memang inilah takdirnya, karena jurusan ini sesuai dengan passion yang dimilikinya.
“Hai, boleh kenalan ngga?” tanya Mina.
“Hai, namaku Geby.”
“Hai, namaku Vanya.”
“Hai, aku Fera.”
“Hai, aku biasa dipanggil Ova.”
“Hm... namaku Raja.”
Mina berkenalan dengan beberapa teman sekelasnya. Tentunya asal daerah dan logat mereka berbeda.
Di kampus Hijau, Nagi juga bersyukur bertemu dengan teman-teman barunya. Ia berusaha lebih dekat dengan siapa saja supaya mendapat teman yang bisa ia ajak untuk mengejar impiannya.
Karena saat ini, impiannya adalah untuk lomba yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa, yaitu Karya Tulis Ilmiah!
Terakhir ia membuat karya tulis adalah saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi sekarang dia akan kembali bersaing dan bekerja keras untuk ambisinya ini.
...***...
Oktober 2037.
Ujian tengah semester menghampiri. Mina lebih sering menghabiskan waktu dengan 3 orang temannya yakni Geby, Fera dan Vanya. Mereka sering mengerjakan tugas bersama di kosan Fera yang jaraknya paling dekat dari kampus Biru.
Mina jarang melihat Ova. Sekalinya lihat, Ova memilih duduk di belakang. Dia juga sering melihat Geby dan Raja duduk berdekatan seperti sedang berpacaran, namun ia tidak mendapat cerita apapun dari Geby mengenai kedekatannya dengan Raja.
Sepertinya memang pendekatan butuh waktu ya, hehe.
...***...
Di sore hari, Mina mengirim pesan kepada Nagi. Tak lama kemudian, pria pujaannya itu membalas pesannya. Detak jantung bak lari cepat milik Mina masih untuk dirinya.
“Lagi sibuk ngga, Nag?”
“Ngga, Mi. Ada apa?”
“Minta tolong dong, ini aku dapat tugas fisika dari dosenku, huhu. Kamu masih ingat ngga rumus dan caranya?” tanya Mina melalui aplikasi chatting.
Sejam kemudian, Nagi masih belum membalas pesan Mina. Membuat gadis itu bertanya-tanya.
Tadi katanya ngga sibuk? Tapi belum dibalas juga sampai saat ini. Apa Nagi sudah tidur ya? Sebenarnya Mina tidak berharap banyak Nagi dapat menolongnya.
Dia mengirim pesan ke grup yang berisikan 4 perempuan cantik, untuk menanyakan apakah ada yang telah menyelesaikan jawaban dari tugas fisika.
“Belum Min,” jawab Geby.
“Bentar ya, aku masih menghitung nih!” jawab Vanya.
“Semangat Van, haha!” ucap Fera.
“Oke, aku tunggu ya. Aku sudah menyerah menghitungnya huhu,” kata Mina.
Mina meninggalkan gawainya dan segera berlari ke kamar mandi.
...***...
Dua jam berlalu, pukul 9 malam.
Nagi juga belum membalas pesannya. Hal itu membuat Mina berpikir mungkin pria pujaannya itu telah berangkat ke alam mimpi.
Itu salah!
Nyatanya Nagi baru saja menyelesaikan ospek di kampusnya. Dia cukup lelah setelah mendengar jeritan dan bentakan dari para seniornya.
Ditambah lagi, dia mendapat beban berupa menggambar rancangan bangunan secara estetik dengan pensil, bukan menggunakan aplikasi. Padahal banyak aplikasi menggambar canggih yang dia telah ketahui dari kakaknya.
Alhasil Nagi baru sampai di kosan. Dia disambut Mogi dengan senyuman manis.
“Wah, adikku baru pulang ospek. Haha!” hibur Mogi, yang terdengar seperti ejekan.
“Apaan sih, ngga lucu!” ketusnya. Nagi segera meletakkan tas, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...***...
Setengah jam kemudian, ia duduk di samping kakaknya yang sedang duduk di atas kasur. Mogi fokus bermain games dari gawai.
“Tuh! Dimakan dulu, Nag.”
“Aku lagi malas makan, Mas.”
“Hm... itu loh masih ada sisanya. Cepetan dimakan! Atau aku laporin ke Ibu?” tanya Mogi dengan ancaman.
“Iya, iya. Ih maksa!” jawabnya dengan manyun.
Mogi kembali bermain games, dan Nagi membuka bungkusan makanan yang disediakan oleh Mogi.
Baru sesuap, Nagi teringat pesan dari Mina yang menanyakan kesibukannya. Ia mencari gawai di dalam tasnya. Saat dia membuka aplikasi chatting, masuklah beberapa pesan. Dia mencari-cari pesan dari Mina.
Setelah membacanya, dia membalas, “Maaf baru balas pesan mu, Mi. Aku baru aja pulang dari ospek. Iya aku masih ingat. Bentar ya.”
Nagi menarik tasnya dan keluarlah buku-buku yang menambah suasana kapal pecah di kamar kakak beradik itu.
Untunglah kali ini Mogi tidak menghiraukannya. Sehingga Nagi leluasa mencari buku dan bolpoin. Lalu dirinya menuliskan rumus beserta caranya.
Setelah Nagi mengirimkan foto coretan rumus kepada Mina, giliran Nagi yang berpikir mungkin Mina telah tidur. Dia melihat jam dinding di kamar itu. Jam itu memang menunjukkan pukul 10 malam.
Tak apalah, mungkin besok Mina baru membalas pesanku.
...***...
Esok hari,
Selesai mandi pagi, ia meraih gawai dan melihat notifikasi dari Nagi. Mina terkejut bukan kepalang saat membaca pesan Nagi.
Gils. Gitu bilangnya ngga sibuk! Aku jadi ngga enak meminta bantuannya lagi.
“Terima kasih, Nag (love).” Mina mengucapkan terima kasih pada Nagi disertai stiker hati. Namun ia cepat-cepat menghapus stiker hati dan menggantinya dengan emoticon senyum.
“Terima kasih, Nag (smile). Heh! Kok ospeknya sampai malam sih? Kenapa kamu ngga bilang aja kalau kamu sibuk? Aku jadi ngga enak ke kamu, huhu.”
Mina tidak ingin Nagi mengetahui bahwa dirinya sangat egois mengharapkan Nagi menjadi miliknya. Dan juga, ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya.
Nagi duduk di lantai sembari membaca beberapa slide power point. Karena hari ini dosennya akan mengadakan kuis.
Belum ada setengah jam, ia telah pusing melihat beberapa slide yang baru dibaca. Ia mengambil gawai. Benar saja, Mina baru membalas pesannya pagi ini.
“Iya, ngga apa Mi. Santai aja, semangat ya!” Nagi hanya membalas singkat pesan Mina.
Lalu dia kembali membaca slide-slide yang berisikan mesin, bangunan dan apalah itu. Dengan harapan, hasil kuis yang ia dapatkan sangat baik, atau bahkan perfect.
...***...
maaf merusuh😂
salam sayang selalu ❤️
💌To: kak noejan kembaran nama Arsy
kakak dari planet Saturnus yang ketemu di bumi imajinasi
💌
Kangen selalu kak💌
Instagram diriku peluh babalope kakak 😂
Btw, jangan lupa gantian spam novel remahan biskuit Roma kelapa adik❤️
pulau kecil kisah nano-nano ~~~~~
next ❤️
otw spam biar kak noejan nyamuk😅
lama banget hibernasi nya kak.. uhuk.. nunggu new yang tadi di chat❤️❤️❤️
lagi
lagi
saling dukung dan saling mengisi
ayo jangan malas komen
agar semua karya bisa jadi terdepan
seharusnya 841
jejak selalu ada
semoga rating makin meningkat
tapi menuju 21200 like
semoga menjadi 2100 bahkan lebih