Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, akan tercium juga. Begitulah kata pepatah.
Meira Andana, gadis cantik yang baru menginjak kelas 3 SMA. Harus menikahi CEO tampan yang sifatnya random sekali.
Karena unsur persahabatan Papanya dengan Papi CEO, ia pun setuju untuk menikah. Ekonomi keluarga menurun karena sang Papa meninggal dalam kecelakaan tabrak lari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siska febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Alea keasikan bermain air di bathup dengan bebek mainan yang ia beli itu. Sudah hampir 30 menit Alea dan Reyhan berendam di dalam air di bathup.
Sambil menunggu keduanya selesai. Meira menyiapkan pakaian mereka, hari ini hari libur. Reyhan kebetulan tidak ke kantor juga.
Ia ingin menghabiskan waktu bertiga dengan keluarga kecilnya ini. Karena kedua orangtua Reyhan akan datang untuk melihat cucu barunya.
Mereka terdengar sangat antusias. Memang tidak pernah membandingkan mau itu anak kandung atau angkat, mereka tidak peduli.
"Sayang! Udah ya berendam nya!" teriak Meira dari dalam kamar.
"Bentar lagi Ma!" teriak keduanya kompak.
Meira merasa bahwa ia merawat dua bayi nakal di dalam rumah. Tingkah keduanya sama persis.
Meira terbangun karena ada kecupan-kecupan lembut di pipinya, melihat kedua pelaku siapa lagi kalo bukan Reyhan dan Alea.
"Bebeknya berenang ke arah Papa!"
"Sini! Papa sambut bebeknya!"
"Kwek kwek kwek."
"Ayo bebek kesini."
Menunggu begitu lama. Meira terpaksa harus turun ke lantai bawah, bel rumah berbunyi. Meira membuka pintu rumah terlebih dahulu.
Melihat wanita paruh baya yang datang membawa tas. Ia lupa jika Reyhan memesan asisten rumah tangga. Kali ini Meira tak bisa menolak karena Reyhan sudah menuruti kemauannya.
"Pagi Nyonya. Saya Juminten, asisten rumah tangga disini. Bisa panggil saya Mbok."
"Masuk Mbok. Saya tunjukkan kamar Mbok."
"Iya Nyonya."
Meira pun menunjukkan kamar Mbok yang sudah lama siap. Tidak berdebu karena ia sudah menutupi dengan kain putih.
Membuka pintu kamar di lantai bawah dan tersenyum pada Mbok.
"Disini Mbok kamar tidur Mbok. Kamar saya ada di lantai atas, sudah dijelaskan sama agensi kan?"
"Sudah Nyonya. Sekarang pun saya sudah boleh bekerja?"
"Besok juga nggak papa Mbok. Kalo mau istirahat, istirahat saja dulu."
Meira tau wanita paruh baya ini pasti lelah. Ia tidak akan memberatkan Mbok berada disini.
"Duh jiwa saya emang jiwa pembantu. Sehari nggak ngelakuin apa-apa pasti ada yang kurang."
"Yaudah senyaman Mbok aja deh. Jangan kecapean ya, kalo ada apa-apa bilang sama saya. Jangan sungkan, saya mau ke atas dulu."
"Iya Nyonya."
Meira meninggalkan Mbok di dalam kamar. Ia mau mengecek apa kedua orang itu sudah selesai mandi.
"Beruntungnya dapat majikan baik," puji Mbok.
Menyudahi mandi Alea dan Reyhan. Jika tidak maka tak akan berhenti untuk mandi. Memberi handuk pada Alea dan menggendong masuk ke dalam kamar.
"Baju kamu di atas sofa, Mas," kata Meira.
"Ma, Lea suka mandi di tempat itu. Kayak kolam renang, tempat Lea dulu nggak ada."
"Iya, sekarang pakai baju dulu."
Seperti anak biasanya. Meira akan memberi minyak kayu putih, bedak, dan lainnya juga pad tubuh Alea. Bau nya seperti anak bayi.
Alea begitu aktif hingga Meira kesulitan untuk memakai kan anaknya baju.
"Pakai baju dulu, Lea."
"Nanti, Ma."
"Eh anak perempuan nggak pakai baju. Malu lho, mau ketemu sama Opa Oma nggak nih?"
"Siapa?"
"Orangtua Papa," celetuk Reyhan.
"Mereka baik?"
"Sangat baik. Ayo pakai baju nya dulu. Nanti kita jalan-jalan."
Mendengar ingin jalan-jalan. Alea pun mau memakai baju nya. Reyhan menciumi seluruh wajah anaknya yang baunya sangat ia sukai itu.
Sudah lama tidak mencium bau anak kecil. Alea kegelian dapatkan ciuman dari Reyhan.
"Udah bercanda nya," lerai Meira.
"Mama!" teriak Alea kabur ke pelukan Meira yang berdiri di samping kasur.
"Monster datang haha!" Reyhan menakut-nakuti Alea yang berlindung di pelukan Reyhan.
"Nggak mau Mama!"
"Mas, udah," kata Meira dengan nada malasnya. Ia mengusap rambut suaminya yang masih sedikit basah itu.
Secepat kilat sebelum Alea melihat. Reyhan mencium bibir Meira, sudah kebiasannya setiap pagi. Menampilkan cengiran saat Meira masih terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu.
"Mas ada Alea."
"Dia nggak lihat."