NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-Puing dan Harapan Baru

Matahari pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya, meskipun udara masih membawa sisa-sisa aroma hujan semalam. Di luar ruang tunggu rumah sakit, Naura duduk dengan bahu yang merosot. Pakaiannya masih kotor oleh debu gudang dan noda tanah, namun pikirannya tidak lagi tertuju pada penampilannya. Ia menatap dinding putih di depannya dengan tatapan kosong, hingga sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya.

"Dia sudah sadar," bisik Keisha pelan. "Dokter bilang kondisinya stabil, meski dia perlu istirahat total untuk memulihkan beberapa luka memar di bagian dalam."

Naura bangkit dengan cepat. Perasaan lega yang luar biasa membanjiri dadanya, menghapus sisa-sisa ketakutan yang mencekik selama berhari-hari. Ia melangkah masuk ke dalam kamar perawatan. Kaelith berbaring di sana, wajahnya penuh perban, namun matanya yang tajam tetap menyambut Naura dengan senyum paling tulus yang pernah ia lihat.

"Lo berhasil," ucap Kaelith dengan suara parau.

"Bukan gue," Naura duduk di sisi tempat tidur, meraih tangan Kaelith yang tidak terinfus. "Kita berhasil."

Kaelith menatap Naura, lalu beralih ke arah jendela. Di luar sana, di kejauhan, ia bisa melihat gedung-gedung kampus yang tampak megah di bawah sinar matahari. "Apa yang terjadi setelah ini? Hartono?"

"Dia dalam tahanan," jawab Naura. "Ibu Citra bilang, bukti yang kita dapatkan di gudang itu sangat krusial. Bukan cuma soal korupsi, tapi juga soal keterlibatan beberapa petinggi birokrasi yang selama ini melindungi dia. Kasus ini jadi skandal terbesar tahun ini."

Kaelith menghela napas panjang. Beban yang selama ini menekan pundaknya perlahan terangkat. Ia tidak lagi harus menjadi ketua BEM yang buron, tidak lagi harus menjadi anak yang dibenci ayahnya karena kebenaran, dan tidak lagi harus terus berlari di kegelapan.

Namun, di tengah rasa lega itu, muncul pertanyaan tentang masa depan. "Gue mungkin nggak akan bisa balik jadi ketua BEM, ya?"

"Lo tetap ketua BEM di mata semua orang yang lo selamatkan," ujar Naura lembut. "Mahasiswa sekarang tahu siapa yang sebenarnya berjuang buat mereka. Gue baca semua komentar di media sosial, Kael. Mereka mendukung lo sepenuhnya."

Sementara itu, di sebuah ruang kantor yang mewah namun kini kosong, Ibu Citra sedang membereskan barang-barangnya. Ia telah memutuskan untuk mengambil cuti panjang. Misi utamanya telah selesai, dan ia merasa sudah saatnya memberikan ruang bagi jurnalis-jurnalis muda seperti Naura untuk mengambil alih tongkat estafet.

Pintu ruangannya diketuk. Seorang pria muda dengan setelan jas rapi masuk ke dalam. Itu adalah asisten baru dari dewan pers yang ditugaskan untuk memantau transisi media.

"Ibu Citra, ada pesan dari tim investigasi pusat. Mereka ingin menanyakan apakah Anda bersedia menjadi saksi ahli untuk persidangan Hartono minggu depan?"

Citra tersenyum kecil. "Katakan pada mereka, saya punya saksi yang jauh lebih baik. Naura Adisty dan Kaelith Atharrazka. Mereka yang memegang kuncinya sekarang. Saya sudah selesai dengan bagian saya."

Ia menatap foto-foto di mejanya—potret-potret investigasi yang pernah ia lakukan sepanjang kariernya. Ia tahu bahwa dunia jurnalisme akan selalu membutuhkan orang-orang yang berani, dan melihat perjuangan Naura serta Kaelith membuatnya merasa bahwa masa depan tidaklah seburuk yang ia bayangkan selama ini.

Sore harinya, Kaelith diizinkan untuk duduk di kursi roda. Naura membawanya ke taman rumah sakit yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Mereka duduk di bawah pohon besar, menikmati angin sore yang sejuk.

"Nau," panggil Kaelith. "Gue minta maaf buat semua bahaya yang lo alamin. Gue nggak pernah bermaksud narik lo ke dalam kekacauan ini."

Naura menoleh, menatap Kaelith dengan serius. "Kael, kalau bukan karena lo, gue nggak akan pernah tahu arti sebenarnya dari profesi yang gue pilih. Dulu gue pikir jadi jurnalis cuma soal menulis berita yang menarik. Sekarang gue tahu, ini soal mengungkap kebenaran yang bisa mengubah hidup banyak orang."

Kaelith tersenyum, lalu menatap tangan mereka yang saling bertautan. "Gue dapet surat dari kampus tadi pagi lewat Keisha. Mereka bilang, status mahasiswa gue dan lo sedang dipertimbangkan untuk dipulihkan kembali. Mereka mengakui kalau apa yang kita lakukan adalah demi kampus."

"Lo bakal balik kuliah?"

"Gue nggak tahu," Kaelith menatap langit. "Mungkin gue butuh waktu buat berpikir. Tapi satu hal yang gue tahu, gue nggak mau balik ke kampus yang dulu. Gue pengen kampus yang lebih jujur, lebih transparan."

"Gue bakal dukung apa pun keputusan lo," ucap Naura.

"Gue juga," Kaelith terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. "Nau, setelah semua ini selesai... apa kita bisa coba hidup yang bener-bener normal? Tanpa kejaran orang, tanpa flashdisk rahasia, tanpa harus bersembunyi di gudang?"

Naura tersenyum lebar, senyum yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya. "Normal itu membosankan, Kael. Tapi, gue rasa kita berdua emang butuh sedikit ketenangan."

Tiba-tiba, ponsel Naura berdering. Dari redaksi. Pak Surya yang menelepon.

"Naura, kamu harus lihat ini!" suara Pak Surya terdengar penuh semangat. "Laporan investigasi kalian jadi berita utama di semua surat kabar nasional hari ini! Dan bukan cuma itu, pihak rektorat sudah mengeluarkan pernyataan resmi kalau mereka akan melakukan reformasi total di yayasan!"

Naura memandang Kaelith, lalu tertawa kecil. Mereka benar-benar berhasil. Puing-puing kehancuran yang ditinggalkan oleh Hartono dan Pramudita kini sedang dibersihkan, digantikan oleh fondasi baru yang jauh lebih kokoh.

Di kejauhan, matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna jingga yang indah. Mereka berdua terdiam, menikmati momen kedamaian tersebut. Perjalanan panjang dari bab 1 hingga bab 25 ini memang penuh dengan luka, namun mereka tidak akan menukarnya dengan apa pun di dunia ini.

Kaelith merangkul bahu Naura, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebuah lembaran baru yang siap untuk ditulis. Mereka tidak lagi dikejar oleh bayang-bayang; mereka sekarang adalah cahaya yang membawa perubahan.

Namun, di tengah kedamaian itu, Naura sempat melihat seorang pria misterius yang sedang mengamati mereka dari balik gerbang taman rumah sakit. Pria itu memakai topi hitam dan jas hujan tipis. Saat mata mereka bertemu, pria itu segera memalingkan wajah dan berjalan menjauh dengan langkah cepat.

Naura merasakan firasat aneh, namun ia memutuskan untuk mengabaikannya. Malam ini, ia hanya ingin menikmati kemenangan kecil mereka. Ia tahu, meskipun bab skandal korupsi sudah ditutup, hidup akan selalu membawa tantangan baru. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang di bab-bab selanjutnya dalam hidup mereka.

"Siap buat besok?" tanya Kaelith.

"Selalu siap," jawab Naura mantap.

Mereka pun beranjak dari taman, kembali ke kamar perawatan dengan hati yang lebih ringan. Di luar, kota tetap sibuk dengan dinamikanya, namun bagi mereka berdua, dunia terasa sedikit lebih terang, sedikit lebih adil, dan sedikit lebih layak untuk diperjuangkan.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!