NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengorbankan diri

Sumi bergerak cepat, tangannya merogoh laci meja rias, mencari benda apapun yang mungkin bisa di jadikan senjata untuk melindungi diri.

Didalam laci ternyata ada cutter baru, dia pun mengeluarkannya. Ia lalu menyodorkannya pada Lela dengan tangan yang gemetar hebat.

"Ambil ini," bisik Sumi, matanya menatap Lela tajam.

Lela menerima pisau itu dengan tangan dingin. Matanya berkaca-kaca, namun ia mengangguk patuh, menyisipkan pisau itu di balik lipatan kain bajunya.

BRAK!

Pintu kamar kembali dihantam dengan kekuatan brutal. Engselnya mulai menjerit, memekik nyaring sebelum akhirnya satu sekrup terlepas dan terpental ke lantai.

"Cepat, Lela! Turun sekarang!" perintah Sumi.

Lela tidak membuang waktu. Ia meraih tali kain yang sudah mereka ikat kuat pada tiang ranjang kayu jati yang kokoh. Dengan napas tertahan, ia memanjat ambang jendela.

Kegelapan malam di luar sana seolah menelan tubuhnya. Dengan tangan yang lecet dan berdarah karena mencengkeram kain yang kasar, Lela mulai meluncur turun ke halaman belakang. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung mendongak ke atas, memberikan kode bahwa ia sudah siap di bawah.

Sumi segera berbalik ke arah Bu Sri. Wajah Nyonya itu tampak sangat pucat, seolah darahnya telah terkuras habis oleh ketakutan.

"Nyonya, dengarkan saya," Sumi menggenggam bahu Bu Sri, memaksa wanita itu menatap matanya.

"Nyonya harus memegang tali ini erat-erat. Jangan melihat ke bawah kalau takut."

"Sumi, bagaimana dengan kamu?" suara Bu Sri parau, bibirnya bergetar hebat.

"Saya akan turun setelah Nyonya. Sekarang, tolong, sebelum pintu itu jebol!"

Bu Sri menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ia memanjat jendela dengan tertatih, tubuhnya yang hamil besar membuatnya kesulitan mencari keseimbangan. Ia nyaris tergelincir, membuat jantung Sumi seolah berhenti berdetak.

"Pelan-pelan, Nyonya... pelan-pelan..." bisik Sumi, suaranya tercekat.

Di luar, angin malam yang kencang membuat tubuh Bu Sri terayun-ayun di udara, menggantung pada seutas kain yang tampak begitu rapuh. Di bawah, Lela menahan napas, tangannya terulur ke atas, siap menangkap Bu Sri kapan saja.

Napas Bu Sri memburu. Perutnya terasa kram hebat karena guncangan hebat saat ia turun tadi, namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak.

Matanya menatap nanar ke jendela lantai dua yang kini diterangi cahaya temaram dari dalam kamar.

"Sumi! Ayo turun!" bisik Bu Sri dengan suara bergetar, nyaris berupa rintihan. Ketakutannya pada perampok kini kalah oleh kekhawatiran luar biasa pada pelayan yang telah ia anggap adik sendiri.

Di atas sana, suara keributan pecah bagaikan petir. Pintu kamar akhirnya jebol dengan hantaman keras. Suara kayu yang patah dan suara umpatan kasar menggema hingga ke halaman bawah. Sumi tahu, detik itu adalah detik terakhir. Ia tidak bisa lagi turun.

"Nyonya, pergilah! Cepat!" teriak Sumi dari atas, suaranya parau.

"Lela! Bawa Nyonya pergi! Sekarang!"

"Tapi bagaimana denganmu, Sumi?!" teriak Lela kembali, suaranya pecah dalam isak tangis. Ia menarik lengan Bu Sri, namun matanya tetap tertuju ke atas, enggan meninggalkan sahabatnya di ambang maut.

"Jangan pikirkan aku!" teriak Sumi lagi, kali ini suaranya.

"Lari! Selamatkan Nyonya dan bayinya! Cepat!"

Di dalam kamar, suasana berubah menjadi kekacauan yang mengerikan. Pria-pria bertopeng itu menyerbu masuk seperti kawanan serigala yang kehilangan mangsa. Saat salah satu dari mereka, melihat jendela yang terbuka lebar dengan untaian kain yang menjuntai keluar, ia meludah ke lantai dengan penuh amarah.

"Sial!" umpatnya kasar, matanya melotot menatap tali kain tersebut.

"Mereka kabur lewat jendela! Kejar mereka! Jangan biarkan ada yang lolos!"

"Pergilah, Nyonya!" teriak Sumi untuk terakhir kalinya, sebuah teriakan penuh pengorbanan yang membelah kegelapan malam.

Di bawah sana, Lela tidak punya pilihan lain. Dengan satu sentakan keras, ia menarik Bu Sri yang masih mematung menatap jendela.

"Kita harus pergi, Nyonya! Demi bayi di kandungan Nyonya!"

Bu Sri meneteskan air mata yang tak terbendung, hatinya hancur berkeping-keping. Dengan langkah yang tertatih dan perut yang nyeri, ia mengikuti Lela berlari menembus kegelapan halaman belakang, menjauhi vila yang kini telah berubah menjadi kuburan bagi orang-orang yang ia kasihi.

"Perempuan sialan!" umpat perampok itu, suaranya menggelegar di ruang kamar yang kini terasa sempit dan pengap.

Parangnya bergetar di tangannya, memantulkan cahaya lampu yang remang-remang.

Sumi berdiri tegak, meski kakinya gemetar hebat. Ia tidak lagi mencari jalan keluar. Ia memposisikan dirinya tepat di depan ambang jendela, menjadi barikade hidup yang tak tergoyahkan.

Dia menatap para pria bertopeng itu dengan tatapan yang membakar, tatapan yang justru membuat nyali para penjahat itu sempat tertegun sesaat.

"Langkahi dulu mayatku kalau kalian ingin pergi!" tantang Sumi. Suaranya lantang, penuh dengan keberanian yang nekat.

Dia sengaja, memancing seluruh amarah mereka agar tertuju padanya. Ia tahu, semakin mereka marah, semakin mereka terfokus padanya dan melupakan dua wanita yang baru saja melarikan diri ke dalam pekatnya malam.

Salah satu perampok, yang tampak sebagai pemimpin dengan aura paling dingin, segera menyadari taktik Sumi.

Dia menoleh ke arah teman-temannya yang masih terlihat ragu, lalu membentak dengan nada rendah yang memerintah.

"Jangan buang waktu dengan jalang ini!" serunya tajam.

"Cepat keluar! Kejar mereka! Jangan sampai ada satu pun yang lolos. Kalau mereka sampai lari, kita semua akan hancur membusuk di penjara!"

Teman-temannya tersentak, kesadaran akan nasib buruk di masa depan merayap naik ke permukaan. Mereka mulai bergegas menuju pintu, meninggalkan Sumi yang masih berdiri menantang di sudut kamar.

"Biarkan aku yang menghadapinya." Katanya lagi, menatap Sumi dengan seringainya.

"Kau ingin jadi pahlawan, kan? Kau ingin berkorban untuk mereka?"

Ia melangkah maju perlahan, setiap pijakan kakinya terasa seperti detak jam yang menghitung sisa napas Sumi.

Ia berhenti tepat di depan gadis itu, aroma keringat dan darah menguar dari tubuhnya yang besar.

"Aku akan meladenimu sendiri," katanya dengan seringai yang semakin melebar.

"Kita lihat seberapa tangguh kau."

Sumi menelan ludah. Rasa takut yang sejak tadi ia tekan kini menghantam jantungnya. Namun, ia tidak mundur. Ia menatap mata pria itu tanpa berkedip. Ia mendengar suara langkah kaki rekan-rekan pria itu yang mulai menjauh dari kamar, menuruni tangga dengan terburu-buru untuk mengejar Bu Sri dan Lela.

Tuhan, lindungi Nyonya. Biarkan mereka selamat.

Lela dan Bu Sri terus berlari, di belakang mereka, samar-samar terdengar suara teriakan Sumi yang disusul oleh suara benturan benda tumpul dan umpatan-umpatan keji dari.

Sumi telah mengunci nasibnya sendiri di dalam sana, menjadi perisai hidup agar langkah kaki Bu Sri dan Lela tidak terkejar.

Malam itu, di bawah bayang-bayang pohon besar, hanya ada deru napas mereka yang bersahutan dengan detak jantung yang berpacu kencang, sementara vila di belakang sana perlahan ditelan oleh kegelapan dan kengerian yang tak berujung.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!