[NIKAH KONTRAK]❗
[OBSESI] ❗
[DARK ROMANCE] ❗
start proses : Juni 2026-Ongoing
by Leni Utami
"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 22
Di dalam mimpinya, suara rem berdecit memekakkan telinga. Pecahan kaca berhamburan. Darah mengalir di sela jemarinya yang gemetar saat ia berusaha meraih suami dan calon bayi yang tak pernah sempat lahir. "Maaf... maaf..." isaknya berulang kali, sebelum akhirnya ia terbangun dengan napas memburu dan pipi yang basah oleh air mata.
Layla terdiam sejenak lalu menghapus airmata yang ada di pipi. Dengan tegar Layla melangkah bersiap untuk pergi kerja, seolah-olah kejadian kemarin lusa bukan menjadi penghalang dirinya untuk mencari nafkah.
"Selamat pagi Nyonya, anda sudah bangun?" sapa bibi Tari.
"Eh? Kenapa bibi ada disini?" Layla terkejut sekaligus penasaran.
"Saya di tugaskan Tuan Zhao Lee, untuk menemani dan mengurus anda, Nyonya Layla," jawab bibi Tari.
"Tapi bukankah seharusnya anda menjadi pelayan, Nyonya Sechpia?" Layla merasa bingung.
"Tidak , Nyonya. Nona Sechpia telah memilih pelayanannya sendiri. Jadi saya di tugaskan di sini untuk menjaga Nyonya. Eee... Tuan sudah pergi ke kantor. Hari ini Nyonya mau makan apa?" tanya bibi Tari.
"Oh tidak usah repot-repot, saya mau pergi kerja. Saya sudah terlambat," kata Layla dengan senyum tipis.
"Maaf ya Nyonya. Tolong maafkan Tuan, beliau sering membuat anda kesal. Sejak keluarga Tuan meninggal, sifat beliau memang banyak berubah. Saya hanya berharap suatu hari nanti beliau bisa menemukan ketenangan." ucap bibi Tari, aura sendu dan prihatin menyelimuti.
''Oh, begitu ya," ucap Layla datar.
"Tapi, apapun tindakan yang sering memaksa kehendak terhadapku itu tidak di benarkan. Aku tidak bisa memaafkan Zhao Lee begitu saja," ujar Layla tegas
Bibi Tari menunduk mencoba mengerti perasaan Layla, lalu melanjutkan percakapannya.
"Toko di tutup sementara semenjak kejadian kemarin lusa, Tuan Zhao Lee memberi kompensasi yang cukup untuk pemilik usaha, agar tidak perlu khawatir," kata bibi Tari.
"Sayang sekali," gumam Layla, wajahnya di tekuk agak kecewa.
"Tuan juga berpesan agar Nyonya Layla tetap berada di rumah untuk sementara," ucap bibi Tari.
"Kalau begitu, bisakah aku pinjam ponsel bibi? Ponsel ku hilang dan aku butuh menghubungi keluarga ku dan Riri, aku butuh Riri," pinta Layla sopan.
"Jika untuk menghubungi keluarga itu tidak masalah, tapi untuk meminta nona Riri datang ke rumah ini, saya harus mendapat izin dulu dari Tuan Zhao Lee," ucap bibi Tari was-was.
"Tidak apa-apa nanti saya yang bicara sendiri dengan Tuan Zhao Lee," Layla tersenyum tipis.
"Baiklah kalau begitu, silahkan," kata bibi Tari sambil meminjamkan ponselnya.
Sedangkan di Kantor Z group corporation, ruang CEO Zhao Lee sedang ngobrol santai dengan paman Chen sebelum rapat selanjutnya di mulai.
"Paman, bagaimana pendapatmu tentang Layla?" tanya Zhao Lee kepada paman Chen.
"Hmm, mengapa anda tiba-tiba menanyakan itu? Apa ada masalah?" tanya paman Chen.
"Tidak, aku hanya penasaran apa pendapat orang lain tentang Layla," kata Zhao Lee.
"Entahlah saya tidak yakin. Terkadang dia sangat sopan kepada anda, terkadang juga sebaliknya. Wanita itu juga nekat, saya terkejut saat mendengar kabar Nyonya ingin menjual jantungnya hanya karena hutang fiktif itu," kata paman Chen.
"Hahahah begitukah," ucap Zhao Lee.
"Tapi saya terkesan dengan konsisten nya untuk selalu menolak anda, namun pada akhirnya dia kalah karena anda memaksa Layla dengan tekad kuat anda," kata Paman Chen.
"Paman mengejek ku ya," Zhao Lee merasa tersinggung.
Tiba-tiba ponsel Zhao Lee berdering, panggilan masuk dari bibi Tari.
"Hallo, ada apa bi?" tanya Zhao Lee lembut.
Dengan percaya diri Layla meminta sesuatu kepada Zhao Lee yang mustahil di kabulkan, "Ini saya, Layla. Bisakah anda izinkan Riri untuk tinggal di sini sementara? Saya butuh Riri,"
Zhao Lee tersenyum tipis. Dalam hati ia bergumam, "Aku terlalu berharap dia mengatakan 'aku membutuhkanmu', bukan meminta Riri."
"Aku tidak bisa mengizinkan Riri tinggal di rumahku, atau apa pun yang membuatnya menetap di rumahku. Namun, aku mengizinkannya datang menjengukmu kapan pun kamu membutuhkannya," kata Zhao Lee.
Nada suara Zhao Lee tetap tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah. Bagi orang lain, ucapannya terdengar seperti bentuk perhatian. Namun, bagi Layla, itu terdengar seperti pengingat bahwa semua keputusan di rumah ini tetap berada di tangan Zhao Lee.
Zhao Lee sengaja bersikap tegas. Ia ingin memastikan Layla tetap berada dalam jangkauan pengawasannya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya terjadi sesuai dengan keinginannya.
Layla menghela nafas panjang, ada sedikit kelegaan di hatinya, "Terimakasih, Tuan", senyum tipis tergambar di wajah Layla yang terlihat sendu.
Zhao Lee menutup mata sejenak. Lagi-lagi nama yang keluar dari bibir Layla bukan dirinya, melainkan Riri. Dadanya terasa sesak, namun senyum di wajahnya tak berubah sedikit pun.
Zhao Lee mengutus sopir Yang untuk menjemput Riri, ia berhati-hati agar tidak ada orang asing yang mengetahui tempat rahasia di mana ia menyembunyikan Layla dari publik.
Beberapa saat kemudian pak Yang membawa tamu spesial untuk Layla, yang sudah di nanti-nanti sejak tadi.
Layla memaksa bersikap ceria untuk menyambut Riri agar sahabatnya tidak merasa canggung saat berhadapan dengan Layla, walaupun sebenarnya ia masih menyimpan kesedihan di hatinya. "Haii Riri, ya ampun..., aku senang kamu di sini,"
Tapi Riri yang peka melihat sorot mata Layla yang masih terlihat sendu, ia segera menyesuaikan diri agar suasana mencair serta menghargai usaha Layla untuk bangkit dari pengalaman buruk yang telah lalu, "Ya ampun..., rumahnya indah banget. Ini rumahmu?" tanya Riri dengan rasa kagum.
"Ahh bukan, aku ngungsi di sini. Kamu juga udah tau ini punya siapa. Sok-sokan enggak tau" kata Layla.
Riri terus mengajak ngobrol Layla agar perasan hangat datang kembali ke hati Layla yang sedang rapuh, "Hehe, kamu tau enggak Zhao Lee nelfon aku buat apa? Gila-gila dia kayak memelas gitu tapi pake suara seksinya itu loh..., aduhh...., bikin meleleh. Aawwww" kata Riri.
"Eeeww" Layla mengejek Riri.
"Ehh sorry kan suamimu ya. Kayaknya dia itu beneran 'fallin love' sama kamu deh. Emang kamu enggak mau apa buka hati buat dia?" tanya Riri antusias.
"Enggak, cowok baik mana yang ngejebak ceweknya buat maksa nikah sama dia terus pake cara yang curang pula," kata Layla.
"Ya udah gimana kalo buat aku aja" kata Riri sambil bercanda.
"Terus menurut mu dia mau sama kamu?" tanya Layla.
"Hehe, secara teknis sih enggak. Susah men..., kalo laki-laki udah jatuh cinta, yang asal mulanya pinter jadi bego bin nekat hahaahahha" kata Riri. Mereka tertawa bersama.
"Baginya aku ini cuma pelacur simpanan nya aja, kalo udah bosen buang. Kalo dia emang bener cinta sama aku, dia akan memperlakukan aku dengan baik, jadi ayah yang baik buat anak-anak ku, jadi suami yang baik buat aku, dia mendapatkan aku dengan cara jujur dan terhormat. Bukan seperti ini. Bahkan dia mengkhianati hubungannya dengan Sechpia," kata Layla.
"Kalau semua yang kamu bilang benar, aku juga enggak bisa membenarkannya," dengus Riri.
"Aku minta maaf ya, soal Ben, gara-gara aku di jadi kena masalah'' Layla menundukan kepala merasa bersalah dan menyesal.
"Kenapa kamu yang minta maaf, kamu enggak salah. Aku juga bingung, Lay. Ben yang aku kenal bukan orang seperti itu. Tapi polisi menemukan banyak bukti yang memberatkannya," kata Riri.
"Tapi kejadian itu terlalu mencurigakan untuku. Masih ada banyak pertanyaan di kepala ku soal kejadian itu," ucap Layla serius.
Kemudian Riri menggenggam tangan Layla dan berkata lembut,
"Layla, kita percayakan kepada hukum yang berlaku ya." Riri tersenyum.
"Baik..." Layla menjawab ragu.
"Jika kamu butuh bantuan ku, katakan saja. Tapi mungkin tidak banyak," ucap Riri sambil tersenyum.
"Terimakasih ya Riri, kamu bisa datang ke sini saja. Aku sudah merasa banyak terbantu," kata Layla tersenyum.
Hari ini Layla sedikit terhibur dengan kedatangan Riri. Setelah mereka mengobrol cukup panjang, akhirnya Riri pamit pulang.
Layla berdiri sendirian di teras rumah. Senja mulai tenggelam di balik pepohonan taman. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, rumah yang begitu tenang justru terasa seperti sangkar yang tak terlihat. Layla menatap langit yang mulai gelap, sementara jauh di tempat lain, roda rencana Zhao Lee terus berputar tanpa sepengetahuannya.
Di dalam mobil Riri menelfon orang misterius itu lagi.
"Untuk saat ini keadaannya stabil, ia masih terlihat sedih dan kecewa atas kejadian waktu itu. Kejadian itu membuat jiwanya terguncang. Namun ia mencurigai sesuatu yang janggal dari peristiwa itu,'' ucap Riri di telepon.
"Terus awasi dia. Jangan sampai dia tau apapun. Dia akan baik-baik saja di bawah pengawasan ku," ucap pria misterius itu di telepon.
Lalu Riri menjawab pelan.
''Baik,''
Telepon terputus.
Riri memejamkan mata beberapa detik, lalu berkata. ''Maafkan aku..., Hanya ini satu-satunya cara agar aku tak ingin kehilangan dia," batin Riri.
****************