NovelToon NovelToon
Cinta Dan Belenggu

Cinta Dan Belenggu

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Romansa Modern
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lenny Utami

"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"


[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDB 22

Di dalam kamar yang gelap..

Layla sedang tertidur..

Di dalam mimpinya, suara rem berdecit memekakkan telinga. Pecahan kaca berhamburan. Darah mengalir di sela jemarinya yang gemetar saat ia berusaha meraih suami dan calon bayi yang tak pernah sempat lahir. "Maaf... maaf..." isaknya berulang kali, sebelum akhirnya ia terbangun dengan napas memburu dan pipi yang basah oleh air mata.

Layla terdiam sejenak lalu menghapus air mata yang ada di pipi.

Dengan tegar Layla melangkah bersiap untuk pergi kerja, seolah-olah kejadian kemarin lusa bukan menjadi penghalang dirinya untuk mencari nafkah.

"Selamat pagi Nyonya, anda sudah bangun?" sapa bibi Tari.

Layla terkejut sekaligus penasaran.

"Eh? Kenapa bibi ada disini?"

Bibi Tari menjawab sopan.

"Saya di tugaskan Tuan Zhao Lee, untuk menemani dan mengurus anda, Nyonya Layla."

Layla merasa bingung.

"Tapi bukankah seharusnya anda menjadi pelayan, Nyonya Sechpia?" tanya Layla.

Bibi Tari menjawab..

"Tidak , Nyonya. Nona Sechpia telah memilih pelayanannya sendiri. Jadi saya di tugaskan di sini untuk menjaga Nyonya."

Bibi tadi diam beberapa detik.

Lalu berkata.

''Eee... Tuan sudah pergi ke kantor. Hari ini Nyonya mau makan apa?"

Layla menggeleng dan tersenyum tipis.

"Oh tidak usah repot-repot, saya mau pergi kerja. Saya sudah terlambat."

Bibi Tari menundukan kepala.

menghela nafas..

"Maaf ya Nyonya. Tolong maafkan Tuan, beliau sering membuat anda kesal. Sejak keluarga Tuan meninggal, sifat beliau memang banyak berubah. Saya hanya berharap suatu hari nanti beliau bisa menemukan ketenangan." ucap bibi Tari.

Aura sendu dan prihatin menyelimuti Bibi Tari.

''Oh, begitu ya," ucap Layla datar.

Layla menoleh sejenak kearah bibi Tari.

Bersikap tegas..

"Tapi, apapun tindakan yang sering memaksa kehendak terhadapku itu tidak di benarkan. Aku tidak bisa memaafkan Zhao Lee begitu saja," ucap Layla.

Bibi Tari menunduk mencoba mengerti perasaan Layla, lalu melanjutkan percakapannya.

"Toko di tutup sementara semenjak kejadian kemarin lusa, Tuan Zhao Lee memberi kompensasi yang cukup untuk pemilik usaha, agar tidak perlu khawatir," kata bibi Tari.

"Sayang sekali," gumam Layla,

Wajahnya di tekuk agak kecewa.

"Tuan juga berpesan agar Nyonya Layla tetap berada di rumah untuk sementara," ucap bibi Tari.

Layla berpikir sejenak...

Ia meminta dengan sopan.

"Kalau begitu, bisakah aku pinjam ponsel bibi? Ponsel ku hilang dan aku butuh menghubungi keluarga ku dan Riri, aku butuh Riri datang kesini."

Bibi Tari merasa was-was.

"Jika untuk menghubungi keluarga itu tidak masalah, tapi untuk meminta nona Riri datang ke rumah ini, saya harus mendapat izin dulu dari Tuan Zhao Lee," ucap bibi Tari.

Layla tersenyum tipis..

"Tidak apa-apa nanti saya yang bicara sendiri dengan Tuan Zhao Lee.''

Bibi Tari setuju meminjamkan ponselnya.

"Baiklah kalau begitu, silahkan," kata bibi Tari.

Sedangkan di Kantor Z group corporation, ruang CEO Zhao Lee sedang ngobrol santai dengan paman Chen sebelum rapat selanjutnya di mulai.

"Paman, bagaimana pendapatmu tentang Layla?" tanya Zhao Lee kepada paman Chen.

"Hmm, mengapa anda tiba-tiba menanyakan itu? Apa ada masalah?" tanya paman Chen.

"Tidak, aku hanya penasaran apa pendapat orang lain tentang Layla," kata Zhao Lee.

"Entahlah saya tidak yakin. Terkadang dia sangat sopan kepada anda, terkadang juga sebaliknya. Wanita itu juga nekat, saya terkejut saat mendengar kabar Nyonya ingin menjual jantungnya hanya karena hutang fiktif itu," kata paman Chen.

"Hahahah begitukah," ucap Zhao Lee.

"Tapi saya terkesan dengan konsisten nya untuk selalu menolak anda, namun pada akhirnya dia kalah karena anda memaksa Layla dengan tekad kuat anda," kata Paman Chen.

"Paman mengejek ku ya," Zhao Lee merasa tersinggung.

Tiba-tiba ponsel Zhao Lee berdering, panggilan masuk dari bibi Tari.

"Hallo, ada apa bi?" tanya Zhao Lee.

Dengan percaya diri Layla meminta sesuatu kepada Zhao Lee yang mustahil di kabulkan.

"Ini saya, Layla. Bisakah anda izinkan Riri untuk tinggal di sini sementara? Saya butuh Riri,"

Zhao Lee tersenyum getir.

Dalam hati ia bergumam.

"Aku terlalu berharap dia mengatakan 'aku membutuhkanmu', bukan meminta Riri."

Ia menghela nafas..

"Aku tidak bisa mengizinkan Riri tinggal di rumahku, atau apa pun yang membuatnya menetap di rumahku. Namun, aku mengizinkannya datang menjengukmu kapan pun kamu membutuhkannya," ucap Zhao Lee.

Nada suara Zhao Lee tetap tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah. Bagi orang lain, ucapannya terdengar seperti bentuk perhatian.

Namun, bagi Layla, itu terdengar seperti pengingat bahwa semua keputusan di rumah ini tetap berada di tangan Zhao Lee.

Zhao Lee sengaja bersikap tegas. Ia ingin memastikan Layla tetap berada dalam jangkauan pengawasannya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya terjadi sesuai dengan keinginannya.

Layla menghela nafas panjang, ada sedikit kelegaan di hatinya,

"Terimakasih, Tuan",

senyum tipis tergambar di wajah Layla yang terlihat sendu.

Zhao Lee menutup mata sejenak.

Lagi-lagi nama yang keluar dari bibir Layla bukan dirinya, melainkan Riri.

Dadanya terasa sesak, namun senyum di wajahnya tak berubah sedikit pun.

Zhao Lee mengutus sopir Yang untuk menjemput Riri, ia berhati-hati agar tidak ada orang asing yang mengetahui tempat rahasia di mana ia menyembunyikan Layla dari orang-orang yang mengancam.

Beberapa saat kemudian pak Yang membawa tamu spesial untuk Layla, yang sudah di nanti-nanti sejak tadi.

Layla memaksa bersikap ceria untuk menyambut Riri agar sahabatnya tidak merasa canggung saat berhadapan dengan Layla, walaupun sebenarnya ia masih menyimpan kesedihan di hatinya.

"Haii Riri, ya ampun..., aku senang kamu di sini," ucap Layla.

Tapi Riri yang peka melihat sorot mata Layla yang masih terlihat sendu, ia segera menyesuaikan diri agar suasana mencair serta menghargai usaha Layla untuk bangkit dari pengalaman buruk yang telah lalu.

"Ya ampun..., rumahnya indah banget. Ini rumahmu?" tanya Riri dengan rasa kagum.

"Ahh bukan, aku ngungsi di sini. Kamu juga udah tau ini punya siapa. Sok-sokan enggak tau" kata Layla.

Ia tersenyum.

Riri terus mengajak ngobrol Layla agar perasan hangat datang kembali ke hati Layla yang sedang rapuh,

"Hehe, kamu tau enggak Zhao Lee nelfon aku buat apa? Gila-gila dia kayak memelas gitu tapi pake suara seksinya itu loh..., aduhh...., bikin meleleh. Aawwww" kata Riri.

"Eeeww" ucap Layla.

Ia mengejek Riri dengan memicingkan bibirnya.

Riri tertawa kecil.

"Ehh sorry kan suamimu ya. Kayaknya dia itu beneran 'fallin love' sama kamu deh. Emang kamu enggak mau apa buka hati buat dia?" tanya Riri antusias.

Spontan Layla menjawab,

"Enggak, cowok baik mana yang ngejebak ceweknya buat maksa nikah sama dia terus pake cara yang curang pula," kata Layla.

Riri memejamkan matanya sejenak..

Lalu menghela nafas..

Ia tertawa kecil.

"Ya udah gimana kalo buat aku aja" kata Riri sambil bercanda.

Layla ikut tertawa..

"Terus menurut mu dia mau sama kamu?" tanya Layla.

Riri kembali tertawa kecil..

"Hehe, secara teknis sih enggak. Susah men..., kalo laki-laki udah jatuh cinta, yang asal mulanya pinter jadi bego bin nekat hahaahahha" kata Riri.

Mereka tertawa bersama.

Pandangan Layla menunduk..

Ia tersenyum tipis..

"Baginya aku ini cuma pelacur simpanan nya aja, kalo udah bosen buang. Kalo dia emang bener cinta sama aku, dia akan memperlakukan aku dengan baik, jadi ayah yang baik buat anak-anak ku, jadi suami yang baik buat aku, dia mendapatkan aku dengan cara jujur dan terhormat. Bukan seperti ini. Bahkan dia mengkhianati hubungannya dengan Sechpia," kata Layla.

Riri menatap Layla.

"Kalau semua yang kamu bilang benar, aku juga enggak bisa membenarkannya," dengus Riri.

Layla menundukan kepala merasa bersalah dan menyesal.

"Aku minta maaf ya, soal Ben, gara-gara aku dia jadi kena masalah''

Ucap Layla.

Riri tersenyum

"Kenapa kamu yang minta maaf, kamu enggak salah. Aku juga bingung, Lay. Ben yang aku kenal bukan orang seperti itu. Tapi polisi menemukan banyak bukti yang memberatkannya," kata Riri.

Layla mengeryitkan dahinya.

"Tapi kejadian itu terlalu mencurigakan untuku. Masih ada banyak pertanyaan di kepala ku soal kejadian itu," ucap Layla serius.

Kemudian Riri menggenggam tangan Layla dan berkata lembut,

"Layla, kita percayakan kepada hukum yang berlaku ya." Riri tersenyum.

"Baik..." Layla menjawab ragu.

Riri kembali tersenyum..

Ia berkata dengan lembut..

"Jika kamu butuh bantuan ku, katakan saja. Tapi mungkin tidak banyak."

Layla tersenyum.

Matanya berkaca-kaca.

"Terimakasih ya Riri, kamu bisa datang ke sini saja. Aku sudah merasa banyak terbantu," kata Layla.

Hari ini Layla sedikit terhibur dengan kedatangan Riri. Setelah mereka mengobrol cukup panjang, akhirnya Riri pamit pulang.

Layla berdiri sendirian di teras rumah. Senja mulai tenggelam di balik pepohonan taman.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, rumah yang begitu tenang justru terasa seperti sangkar yang tak terlihat.

Layla menatap langit yang mulai gelap, sementara jauh di tempat lain, roda rencana Zhao Lee terus berputar tanpa sepengetahuannya.

Di dalam mobil Riri menelfon orang misterius itu lagi.

"Untuk saat ini keadaannya stabil, ia masih terlihat sedih dan kecewa atas kejadian waktu itu. Kejadian itu membuat jiwanya terguncang. Namun ia mencurigai sesuatu yang janggal dari peristiwa itu,'' ucap Riri di telepon.

"Terus awasi dia. Jangan sampai dia tau apapun. Orang yang kau sayang akan baik-baik saja di bawah pengawasan ku," ucap pria misterius itu di telepon.

Lalu Riri menjawab pelan.

''Baik,''

Telepon terputus.

Riri memejamkan mata beberapa detik, lalu berkata.

''Maafkan aku..., Hanya ini satu-satunya cara agar aku tak ingin kehilangan dia," batin Riri.

****************

Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.

Terimakasih yang udah dukung aku

semoga hidup kalian lancar jaya..❤️

Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️

1
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
baru sembuh udah di suruh nikah. enggak beres ini si paman nya
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
dih
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
makin parahlah obsesi nya. enggak heran
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
kamu ini perempuan loh
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
siapa itu?
james
semua aku dirayakan ~Nadin
Mingyu gf😘
caramu salah zhao lee, kali ini aku mendukung layla membencimu
Mingyu gf😘
gak usah marah marah atuhh
Mingyu gf😘
aduhh baik banget rekan rekam baru kamu layla
Lenny Utami: lebih takut ke Zhao Lee seh ini /Sweat/
total 1 replies
james
akal-akalan cindo
james: awokawok
total 2 replies
james
untung saja dikasih
james
akit sih/Sweat/
RahmaYesi
Yok Monggo Layla, bawa aja Zhao Lee ke neraka sekalian
Lenny Utami: ya jangan dong ntar GK ada vilainnya 🤣
total 1 replies
RahmaYesi
waduhhhh 🫣
RahmaYesi
Benar banget, Zhao Lee curang
RahmaYesi
Loh loh loh....
Lenny Utami: ngapa mak
total 1 replies
Lenny Utami
Layla kamu yakin baik² saja?
Lenny Utami
Layla dah move on🤧
رزقي سانتوسو
berpikir positif: mungkin lagi sakit🙃
Lenny Utami: ayolahh traveling lahh 🤣🤣
total 1 replies
arsyila putri
waw, fantastis nilainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!