Haloo... ini novel pertamaku..
yg di judul sebelumnya aku tamatin karna ada kesalahan. So, aku pindah ke judul ini aja..
Enjoy reading...
- - - -
Bagaimana rasanya kalau calon suami tercinta tertangkap basah sedang berkhianat??
belum sembuh luka hati, tiba-tiba...
"menikahlah dengan mas Bara, dek!"
Kata-kata itu yang sekarang membuat Nadia dilema. Menikah dengan kakak ipar sendiri??? Are you serious!??
Pengkhianatan, Kekecewaan, lalu pernikahan dadakan...
Sanggupkah Nadia melalui semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
BAB 31
Pagi menjelang, setelah kemarin mereka menikmati waktu weekend untuk berjalan-jalan. Kini mereka harus kembali ke rutinitas masing-masing.
“emmmhh” Nadia menggeliatkan tubuhnya saat mendengar bunyi alarm hp nya. Lalu dia menoleh ke samping setelah terlebih dahulu mematikan bunyi alarm itu. Terlihat sosok laki-laki masih pulas dalam tidurnya.
Nadia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera turun ke bawah guna menyiapkan makanan untuk suami dan putrinya.
“ada yang bisa saya bantu, Nyonya? Nyonya mau masak apa?” tanya salah satu asisten rumah tangga yang sedang bertugas di dapur saat itu.
“mmm saya mau masak sup ayam aja bi, sama ayam goreng. Tolong bibi kupasin sayur-sayurnya sama cuciin ayamnya yaa. Saya mau nyiapin bahan buat buburnya Lea dulu.” Ucap Lea
“Baik nyonya.”
Akhirnya, setelah berkutat selama 45 menit. Semua makanan pun sudah siap.
“bibi tolong bawa ini ke meja makan ya. Saya mau bangunin kak Bara sama Lea”
“siap Nyonya.” Asisten rumah tangga itu segera melaksanakan perintah dari nyonya nya.
Ceklek..suara pintu kamar terbuka dan Nadia masuk ke dalam kamarnya. Sosok laki-laki yang tadi menemaninya tidur itu masih nampak lelap di alam mimpinya.
“kak… ayo bangun..” nadia menepuk pelan lengan Bara.
“eennghhh” lenguh Bara menggeliatkan badannya. Tapi kemudian kembali terlelap.
“kakak…. Ayo bangun dulu. Nanti kakak telat ke kantor loh” Nadia kembali menggoyang lengan Bara.
“emh, iya iya ini bangun.” Bara menegakkan badannya sambil mengucek matanya.
“kakak mandilah, airnya udah aku siapin.” sambil berjalan menuju lemari pakaian, menyiapkan pakaian ganti dan segala keperluan untuk suaminya. Semua kebutuhan Bara akan selalu disiapkan oleh Nadia, dari mulai pakaian, kemeja, celana, dasi, jas, ikat pinggang, kaos kaki, sepatu, semuanya. Kalau ada yang terlewat satu saja, maka akan dipastikan ada drama Bara teriak-teriak menanyakan barang-barangnya dimana.
Kemudian Bara segera beranjak ke kamar mandi dan tidak lama kemudian Nadia berjalan keluar kamar setelah selesai menyiapkan baju suaminya. Sekarang ganti dia akan melihat keadaan putrinya.
Ceklek—
“waah anak mami sudah cantik” ucap Nadia setelah melihat putrinya sudah mandi dan didandani oleh pengasuhnya.
“iya dong mami, Lea sudah cantik dan wangi dong” ucap Mbak Lika sambil menirukan suara anak kecil ala Lea. Mbak Lika masih setia bekerja menjadi pengasuh Lea dan untuk Nadia, Mbak Lika sudah seperti kerabat dan sekaligus teman curhat dikala dia penat dengan pekerjaannya.
“hahaha.. oke sekarang kita sarapan ya sayang. Mami udah nyiapin mamam yang enak buat Lea looh.” Ucap Nadia sambil mengambil alih Lea dari gendongan Mbak Lika
“mam…mam….” Semangat Lea menangkap ucapan maminya tentang makanan untuknya.
“iya sayang.. mam enak..”
Setelah selesai, sekarang semuanya sudah berkumpul di meja makan. Nadia segera menyiapkan sarapan untuk suaminya dan kemudian menyiapkan makanan untuk putri tercintanya. Sedangkan Mbak Lika selalu memilih makan di dapur bersama para ART yang lain. Setelah selesai menyuapi putrinya barulah Nadia akan makan sendiri.
Setelah selesai sarapan Bara dan Nadia berangkat ke tempat kerja masing-masing. Mereka berjalan beriringan menuju ke halaman rumah. Disana sudah ada 2 orang yang siap bertugas. Pak Anto yang siap untuk mengantar Bara ke kantor, juga Bimbim yang sudah datang menjemput dan mengantar Nadia ke butik. Dan seperti biasa, Baby Lea akan ikut dengan maminya ke butik tentu saja ditemani Mbak Lika.
“Nanti siang aku ke butik, kita makan siang bareng” ucap Bara saat sudah sampai di ambang pintu.
“Oke, baiklah. Nanti aku akan mengosongkan jadwal untuk makan siang” sahut Nadia.
“Yasudah, kakak berangkat ya. Kamu kalau sudah sampai kabarin.” Bara mengelus pucuk kepala Nadia, sebagai tanda dia berpamitan. Hanya sebatas mengelus, tidak lebih.
“Iya kakak, hati-hati” sahut Nadia sambil memberikan senyum manisnya.
“Papa kerja dulu ya sayang” ucap Bara sambil mengecup pipi gembul Lea.
“Pa…pa…” sahut Lea. Kemudian Bara beranjak menuju mobilnya.
“Bim, hati-hati ya bawa mobilnya.” Pesan Bara pada Bimbim
“Siap Kak” sahut Bimbim, kemudian Bara masuk mobil dan Pak Anto segera melajukan mobil menuju kantor Bara.
“Ayo Mbak, kita berangkat sekarang” ajak bimbim pada Nadia
“Iya, Bim. Mbak Lika keperluan Lea tadi udah dimasukin mobil kan yaa?” tanya Nadia
“Sudah nyonya. Tadi sudah saya masukkan bagasi mobil”
“Yasudah, ayo berangkat.”
Mobil yang ditumpangi Nadia segera melaju ke butik. Dan semua berjalan seperti biasanya, mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Hingga tiba saat makan siang.
-Jam 11.15
Tok..tok..tok.. – pintu ruangan Nadia diketuk seseorang dari luar.
“Masuk…”
Ceklek – “Hai.. apa aku mengganggu pekerjaanmu?” Nadia segera menoleh kearah sumber suara setelah mengenali pemilik suara bariton itu.
“Oh, Kakak… enggak, kakak nggak ganggu kok. Mau makan siang sekarang?” tanya Nadia. Ya, yang datang dan mengetuk pintu ruangannya tadi ternyata adalah Bara.
“boleh. Aku tadi sudah reservasi di resto Padang kesukaan kamu. Yang ada di dekat lampu merah perempatan sana” ucap Bara.
“waaahhhh…. Serius kak. Asiiikkk makan nasi padang” sahut Nadia berbinar karena Nadia sangat menyukai masakan Padang tersebut, terutama rendang daging + sayur dan sambal ijo. Waaahh, membayangkan saja sudah membuat Nadia ngiler duluan sebelum makan.
“Yuk kak, kita kesana. Aku nggak sabar pengen cepet-cepet makan” ajak Nadia, dan secepat kilat dia pergi ke sebuah ruangan yang pintunya terhubung dengan ruangan Nadia. Itu adalah ruang bermain dan istirahat yang sengaja dibuat untuk Lea. Setelah menikah dengan Bara, Nadia merenovasi ruangan kantornya dan membuat ruangan disebelah yang tadinya digunakan untuk ruang meeting menjadi ruang bermain + istirahat. Dan ruang meeting dipindah menjadi di ruang bawah.
“Yuk kak.” Seru Nadia pada lelaki yang kini tengah siap di depan pintu ruangannya.
“Yuk, sini biar kakak gendong Lea” Bara mengambil alih Lea dari gendongan Nadia karena melihat Nadia agak kerepotan dengan tas bawaannya, lebih tepatnya tas selempang miliknya ditambah tas perbekalan Lea untuk makan siang.
"Mbak Lika nggak ikut?" tanya Bara
"Enggak kak. Katanya nggak terlalu suka masakan Padang. Jadi aku suruh makan disini aja daripada nanti ikut kesana malah nggak ikut makan kan kasihan. Biar nanti ikut makan sama anak² butik" jawab Nadia. Bara hanya manggut-manggut mendengar jawaban Nadia.
“Hai sayang” sapa Bara pada putri kecilnya
“pa…pa..” sahut Lea
“papa kangen banget sama kamu. Lea kangen papa nggak?” tanya Bara yang asyik mengajak ngobrol anaknya
Lea hanya mengerjapkan matanya lucu sebelum kemudian kembali bersuara.
“Pa…pa…” ucap Lea sambil tertawa dan memeluk leher papanya.
Mereka pun pergi menuju ke restoran padang favorit Nadia. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit. Mereka sampai di restoran padang tersebut.
-----
Terimakasih