Mengandung konten dewasa *** harap bijak dalam membaca
NOVEL PERTAMA MantanTerindahSeries BY VIIYOVII
Mata mereka kembali bertemu dalam sebuah kerja sama bisnis. Setelah empat tahun mereka berpisah. Semua hanyalah takdir. Ketika Viena Gloria Jovanca, seorang CEO Perusahaan Advertising menerima kontrak kerja sama pembuatan iklan Hotel Prime. Viena sudah yakin kalau pemiliknya adalah mantannya, Dionisius Eltima Prime.
Viena hendak menolak namun sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Bagaimana perasaan mereka ketika bertemu? Mengapa Dion sampai hati meninggalkan Viena sedangkan Viena sudah memberikan semua yang diinginkan Dion? apakah Viena masih memiliki rasa? Atau Dion yang kembali menyukainya setelah sudah ada pengganti Viena di hatinya?
Hati hati, kisah cinta ini akan menguras hati dan perasaan anda.
Segala jalan cerita dan plot sampai tempat yang digunakan pure murni imajinasi penulis. Jika ada kesamaan, itu adalah kebetulan semata. Selamat Membaca :)
MantanTerindahSeries by viiyovii present :
1. Mantan Terindah
Dion Prime ❤ Viena Jovanca
Dior Prime ❤ Gracia Andez
Ezekhiel Dimitri ❤ Zefanya Prime
Patrick Kwan ❤ Zhavia Prime
2. Assistant Love Assistant
Leon Janson ❤ Lexa Luxurio
After Marriage
Xelino Janson ❤ Carolyn Delinsky
3. Satu Satunya yang Kuinginkan
Egnor Jovanca ❤ Claudia Gie
Wilson Jovanca ❤ soon
Willy Jovanca ❤ soon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viiyovii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 31
Leon sudah menidurkan Viena di bangku sofa. Dia langsung berdiri dan meraih ponselnya menghubungi bos nya. Lexa mengipas ngipas wajah majikannya yang masih memucat.
"Lexa, apa tidak sebaiknya kita bawa Ms. Viena ke rumah sakit?" Leon langsung menyarankan karna suruhan bos nya.
"Jangan jangan, Ms. Viena sangat benci infusan, dia bisa makin menggila jika sadar nanti, dia hanya shock saja, aku tahu!" Kali ini Lexa memberikan wangi wangian agar Viena lekas sadar.
Setelah sekitar 30 menit berlalu. Viena tersadar. Dia berusaha bangun perlahan dan memegang dahinya.
"Sudah baikkan?" Suara itu membuat mata Viena membelalak. Dion sudah ada di depannya. Tatapan Dion lirih dan memancarkan rasa iba yang mendalam.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku tidak butuh di kasihani!" Jawab Viena pelan namun sedikit ketus.
Dion sudah tahu semua beban yang akhir akhir ini Viena rasakan. Dion semakin merasa bersalah. Dion semakin ingin menjaga Viena seperti dulu lagi. Semua memang bermula dari dirinya. Dion lah yang harus bertanggung jawab atas semua ini.
"Aku tidak mengasihanimu, aku hanya mau menjadi temanmu, apa sekarang kau sudah percaya dengan apa yang ku khawatirkan, Viena?" Dion mencari cari wajah Viena yang tertunduk.
"Tentang Revo?" Viena mengoreksi. Dion berdehem tanda setuju.
"Aku dan dia korban, kalau iklan itu aku yang buat, maka produk yang aku iklankan adalah produknya. Mungkin, sebentar lagi perusahaannya yang akan menuntut agency iklanku." Sambung Viena masih membela Revo.
"Baik, terserahmu saja! Asak kau tau, Revo dan Marcel, mereka saudara sepupu. Bukankah kau sangat tahu bagaimana Marcel membenci kau, khususnya aku!" Kali ini Dion tidak akan memaksa Viena. Dion sudah lelah dengan sekelumit masalah yang kini juga menggandrunginya. Dia hanya tak ingin Viena harus bersedih hati lagi. Dia tidak mungkin berpangku tangan, apalagi dia tahu dalang dari semua nya ini.
"Besok aku akan menemui Revo untuk mendengarkan penjelasan. Kalau kau sudah baikan, istirahatlah, aku akan menyelidiki masalah ini sampai ke akarnya, dan?!" Dion menatap Viena sangat tajam sampai Viena memalingkan wajahnya ke samping.
"JANGAN HALANGI AKU!!"
Kata kata Dion membuat jantung Viena berdegup kencang. Viena dibuat bingung dengan perasaannya. Sejenak dia menyukai Revo, namun sejenak dia teringat lagi dengan kelembutan Dion.
~Mengapa kau begitu jahat Dion, mengapa kau tidak putuskan Pevi untuk bersamaku?~ pikir Viena mengingat dia bertemy dengan Pevi dan pria lain tadi siang.
Viena agak bingung, pihak Revo belum ada yang mengkonfirmasikan kesalahan pada iklannya. Dia juga agak aneh, karena sampai pagi ini Revo belum menghubunginya. Beberapa kali Viena memberi pesan, tapi belum ada balasan dari Revo.
Viena sengaja tidak hadir ke kantor hari ini, Lexa yang melarangnya. Lexa takut mempengaruhi psikis Viena dan pasti sudah banyak wartawan yang meminta penjelasan. Viena menyetujuinya, lagipula hari ini dia berniat mengunjungi kantor Revo dengan membawa mie ayam sekaligus membahas masalah ini.
Di lain pihak.
POV DION
Damn it!! (Memukul meja)
Sudah kuduga ini ulah Marcel. Marcel masih dendam padaku dan Viena. Dia merencanakan semua ini untuk membuat perusahaan Viena hancur. Selain itu dia juga mau Viena bertekuk lutut pada Revo lalu Revo akan meninggalkan Viena begitu saja. Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan membawa mereka pada yang berwenang. Seenaknya saja mempermainkan Viena.
Viena sudah hampir masuk dalam perangkap mereka. Aku sampai kecolongan, aku tidak tahu kondisi ibu Viena yang mengkhawatirkan dan harus menuju surga. Seharusnya aku yang berada di sampingnya meskipun harus bertengkar dengan kak Egnor. Tapi kenapa Revo?
Sudah satu kali aku membuat Viena menderita, kali ini aku akan membayarnya. Meskipun, aku tidak bisa menjadi kekasihnya lagi, aku bisa menjadi sahabatnya. Aku mau melindunginya sampai dia mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. Aku sudah berjanji pada mama juga.
"Permisi, sir, Ibu Rika hendak menghubungi anda, namun ponsel Mister tidak aktif," kata Leon yang sudah berdiri di daun pintu kantorku. Aku mengangguk agar disambungkan pada telepon kantor.
Percakapan telepon Rika - Dion
Rika : apa kabar mu nak?
Dion : baik mam
Rika : bagaimana keadaan Viena?
Dion : dia hanya sedikit shock, sebentar lagi aku akan mengusut masalah ini
Rika : baiklah, kau jaga baik baik Viena, dia sudah seperti anak kandungku
Dion : tenang saja mam
Rika : jangan lupa makan malam sabtu ini bersamaku
Dion : baik mam, bisakah aku mengajak Pevi?
Rika : baik, aku akan memberikan dia satu kesempatan lagi untuk menarik hatiku!
Tut tut
Ah, mama ini. Ada apa dengan Pevi? Mengapa mama sangat membeci kekasihku itu? Mama bilang, Pevi adalah wanita bermuka dua. Namun nyatanya, aku tidak merasa aura jahat keluar dari Pevi.
Aku menghela napas. Aku pasti bisa membuat mama dekat dengan Pevi seperti dia dengan Viena.
Aku mengambil jasku dan menuju ke kantor Revo. Aku benar benar tidak tenang dengan semua ini.
"Bos, aku harus ikut denganmu!" Tawar Leon khawatir.
"Terserahmu saja!" Aku langsung berlalu menuju lobby parkir.
Next part 32
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Dimana Revo?
Plis like dan komen 😘
plis jangan donk