Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08
...~Pesan Radio~...
"Hei!"
Naira menoleh saat sebuah tangan besar berkulit gelap menepis cengkeraman Santoso yang menyakitkan dari lengannya.
"Kamu apa-apaan sih?"
Napas Naira langsung terlepas lega.
Ayahnya datang.
Pria itu masih mengenakan pakaian ke sawahnya. Sebelah tangannya menggenggam arit, sementara topi jerami melingkar di kepalanya. Kaki dan sandalnya masih dipenuhi debu serta lumpur pematang sawah.
"Kami cuma ngobrol, Pak."
Suara Santoso mendadak melembut.
Pemuda itu bahkan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Namun Pak Doyok sama sekali tidak menyambutnya.
"Pulang, Naira."
Santoso terlihat sedikit gugup.
"Biar saya antar, Pak."
"Gak usah!"
Penolakan itu terdengar keras dan tegas.
Tatapan Pak Doyok yang tajam seolah meruntuhkan keberanian Santoso yang beberapa saat lalu begitu besar.
"Sudah saya peringatkan—"
"Pak, saya cuma..." Santoso buru-buru memotong dengan suara tergagap.
Pak Doyok menarik Naira ke belakang tubuhnya.
"Saya sudah memperingatkanmu."
Setiap katanya terdengar berat dan penuh penekanan.
"Sungai itu tahu semuanya."
Ia melangkah setengah langkah lebih dekat.
"Kalau kamu terus mengikuti putriku, kita akan bicara dengan cara yang berbeda."
Santoso terdiam.
"Saya diam selama ini karena menghormati orang tuamu."
Wajah pemuda itu menegang. Jakunnya bergerak naik turun. Sesaat matanya melirik ke arah Naira.
"Jangan lihat anakku!"
Bentakan Pak Doyok membuat Santoso refleks menoleh ke arah lain.
Tanpa memberi kesempatan berbicara lagi, Pak Doyok menggiring putrinya menjauh.
Naira tidak berani menoleh ke belakang.
Meski begitu, samar-samar ia masih mendengar umpatan kasar keluar dari mulut Santoso.
"Jalan duluan."
Suara ayahnya terdengar datar dari belakang.
"Bapak..." lirih Naira.
"Jalan duluan."
Naira tak membantah.
Ia mempercepat langkahnya.
Keheningan di antara mereka terasa dingin sepanjang perjalanan pulang.
Mereka melewati gang dusun yang mulai sepi. Langit sudah gelap sepenuhnya. Gerimis tipis turun membasahi tanah dan dedaunan di sepanjang jalan.
Ketika rumah akhirnya terlihat, Naira tanpa sadar mempercepat langkahnya.
"Loh, Pak? Nai?"
Suara ibunya terdengar heran dari dalam rumah.
"Tumben pulang bareng."
Pak Doyok tidak langsung menjawab. Ia memilih duduk di kursi rotan teras dengan wajah masam.
"Ambilin air putih, Bu."
Ibu Naira memandang suaminya sesaat, lalu beralih kepada putrinya.
"Ada apa?"
Pertanyaan itu disampaikan setengah berbisik.
"Ketemu Santoso."
Jawaban Naira bahkan lebih pelan.
"Oalah..."
Ibunya langsung mengerti.
"Iya, Pak. Mau air biasa atau hangat?"
"Biasa."
Wanita itu segera masuk ke dapur.
Sementara itu, Naira tetap berdiri di ambang pintu.
Ia memandangi ayahnya yang bersandar di kursi rotan. Topi jerami di tangannya kini digunakan sebagai kipas.
Gadis itu menghela napas lega—
Gangguan Santoso hari ini gagal total.
...----------------...
Sore berganti senja.
Mendung masih menggantung di langit meski hujan sudah lama reda. Dari arah sawah terdengar suara katak yang semakin ramai bersahutan.
Seusai salat Magrib, Naira duduk di ruang tengah sambil memutar tombol radio.
Hari ini penyiar favoritnya akan siaran.
"Baik, para pendengar..."
Senyum Naira langsung merekah.
"Saya akan membacakan beberapa pesan yang sudah masuk ke studio."
Satu per satu nama disebutkan. Pesan mereka dibacakan beberapa nama.
Hingga akhirnya—
"Dari Naira Sulastri."
Naira langsung duduk lebih tegak. Memasang telinganya agar mendengar lebih baik.
"Hai, Naira. Aku akan bacakan pesanmu."
Suara radio sempat berdesis karena sinyal yang kurang stabil.
"Kalau aku jatuh cinta, aku ingin mencintai pria yang juga mencintaiku."
Tawa penyiar perempuan itu terdengar renyah.
"Itu harapan semua perempuan, Nai."
Naira ikut terkekeh kecil.
"Karena pesan Naira kali ini cukup mengesankan, mari kita putarkan lagu yang ia minta."
Tak lama kemudian sebuah lagu mulai mengalun.
Naira menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menikmati musik yang memenuhi ruang tengah. Tubuhnya bersandar nyaman dengan jemari yang sesekali mengetuk sandaran tangan.
Ia hampir melupakan kejadian tadi siang.
Hingga...
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu memecah suasana.
"Nai."
Naira menoleh.
Arka berdiri di ambang pintu.
Pria itu mengenakan celana panjang hitam dan sweater gelap yang membuat tubuhnya tampak lebih tinggi dari biasanya. Rambut cepaknya tampak sedikit basah.
"Eh, Mas Arka. Ada apa?"
"Mau balikin rantang."
Arka melangkah masuk dan meletakkan rantang yang dibawanya di atas meja.Rantang itu sudah dicuci bersih hingga mengilap.
Suara lagu yang diputar radio masih terdengar samar memenuhi ruang tengah.
"Suka lagunya Sheila On Seven?"
"Suka, Mas."
"Saya juga."
Naira terkekeh pelan sebagai sopan santun. Ia langsung duduk lebih tegak.
"Duduk dulu, Mas. Mau aku buatin minum?"
Arka melirik ke arah dapur dan beberapa sudut rumah.
"Bapak Ibumu ke mana?"
"Lagi ke rumah saudara di desa sebelah."
"Oh."
Pria itu akhirnya duduk di seberang Naira.
"Buatin yang kamu bisa."
Naira mengangguk.
"Kopi atau teh?"
"Kopi aja."
Arka terdiam sesaat sebelum menambahkan,
"Tapi kita duduk di teras aja."
Naira mengernyit mendengar permintaan itu.
"Kenapa?"
"Biar gak dikira berbuat aneh-aneh."
"Oh..."
Pipi Naira terasa menghangat.
"Ya udah."
Ia segera bergegas ke dapur. Detak jantungnya mulai terdengar semakin jelas. Naira lebih takut kalau Arka bisa mendengarnya.
Satu cangkir dikeluarkannya dari rak.
Dua sendok kopi hitam.
Sedikit gula.
Lalu menuang air panas dari termos sedikit demi sedikit.
Aroma kopi yang mengepul sempat menenangkan dirinya. Sampai ia teringat satu hal bahwa ia membuatnya untuk Arka.
Naira menatap pantulan dirinya di kaca lemari dapur.
Kaos lengan pendek.
Celana batik rumahan.
Cardigan rajut panjang hingga lutut.
Ia merapikan ujung pakaiannya sebelum akhirnya keluar menuju teras membawa nampan kayu.
Sesampainya di teras, Arka sudah duduk di sana sambil memandangi jalanan yang sepi dan cukup gelap.
"Ini, Mas."
Naira menurunkan nampan ke atas meja bundar kecil.
Secangkir kopi panas mengepul di samping sepiring lepet jagung sisa kemarin yang sudah dihangatkan ibunya sebelum pergi.
"Cuma ada ini." Ucap Naira dengan senyuman.
"Terima kasih."
Naira duduk di kursi sebelahnya.
Malam terasa dingin setelah hujan. Suara jangkrik dan katak bersahutan dari kejauhan. Untuk beberapa saat, keduanya hanya menikmati keheningan.
Arka menyeruput kopinya perlahan. Suaranya dalam keheningan terdengar nyaring.
"Sebenarnya aku disuruh bapakmu ke sini."
Naira menoleh. Dahinya mengernyit pelan. "Kapan?"
"Tadi sore."
"Dasar ayah." Gumam Naira lirih.
"Dia takut kalau kamu kenapa-kenapa."
Senyum kecil muncul di wajah Naira.
"Terima kasih."
Naira memperhatikan wajah Arka yang masih tenang. Bibirnya yang memerah dengan sedikit sisa bubuk kopi.
"Ayahku memang kadang suka khawatir berlebihan."
Naira buru-buru menundukkan kepalanya. Perhatiannya justru jatuh pada lantai teras. Ia mengayunkan ujung kakinya pelan.
"Setiap orang tua pasti begitu."
Naira mengangguk.
Lalu Arka meletakkan cangkir kopinya ke meja bundar yang berada di hadapannya.
"Saya juga khawatir sama kamu."
Kalimat itu diucapkan begitu tenang. Namun mampu memberikan desir di dada Naira kian aneh.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.