Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Penghianat di Tengah Malam
Cincin emas itu tergeletak di atas meja marmer, berkilauan di bawah cahaya lampu ruangan. Namun bagi Arkan dan Kiara, benda itu bukan lagi simbol cinta atau ikatan suci. Itu adalah lencana bahaya. Itu adalah tanda bahwa musuh telah berada begitu dekat, bahkan menyusup ke dalam kehidupan pribadi mereka yang paling intim.
"Siapa yang merancang cincin ini?" suara Arkan terdengar parau, matanya tak lepas dari ukiran halus bunga teratai hitam di permukaan logam itu. "Siapa yang membuatnya? Bagaimana bisa benda ini ada di jari kita selama ini tanpa kita sadari?"
Kiara gemetar hebat. Ia mundur selangkah, kepalanya bergeming mencoba mengingat-ingat.
"Aku... aku ingat. Cincin ini dipilih dan disiapkan oleh pihak keluarga kita saat perjanjian pernikahan dibuat. Aku pikir itu hanya ornamen biasa, motif bunga yang elegan..." Kiara menelan ludah, dadanya terasa sesak. "Tapi ternyata... itu adalah logo organisasi mereka."
"Berarti..." Arkan mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat-urat di tangannya menonjol karena menahan amarah. "Ada orang di lingkaran dalam kita. Orang yang dipercaya, yang punya akses ke detail pernikahan kita, yang bahkan mungkin terlibat dalam pemilihan cincin itu... adalah mata-mata mereka."
Pikiran itu menakutkan. Jika musuh bisa memasukkan logo organisasi ke dalam cincin pernikahan mereka tanpa ketahuan, apa lagi yang sudah mereka lakukan? Apakah rumah ini disadap? Apakah setiap gerak-gerik mereka sudah diawasi sejak awal?
Tiba-tiba, Kiara teringat sesuatu. Ia buru-buru mengambil tasnya dan mengeluarkan liontin emas pemberian ayahnya yang tadi sudah terbuka isinya. Chip mikro kecil itu terlihat jelas di dalamnya.
"Arkan, lihat ini!" seru Kiara cepat. "Jika cincin ini adalah tanda pengenal mereka... lalu kenapa ayahku menyimpan chip ini di dalam liontin yang dia berikan padaku sejak kecil? Apakah ayahku..."
Kiara tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Jika ayahnya bagian dari organisasi itu, maka seluruh hidupnya adalah kebohongan.
"Jangan menyimpulkan dulu, Kiara," Arkan segera mendekat, menggenggam bahu istrinya menenangkan. "Ayahmu mungkin dipaksa, atau mungkin dia justru orang yang mencoba melawan dari dalam. Ingat kata Ivan tadi? Ayahku dan ayahmu sempat berselisih soal menjual teknologi itu."
Arkan mengambil cincin itu dengan selembar sapu tangan, tak ingin menyentuhnya langsung dengan kulit. Ia menelitinya dengan saksama.
"Cincin ini tidak biasa. Logamnya campuran titanium khusus yang sulit digores. Dan lihat sini..." Arkan menunjuk bagian dalam cincin. "Ada lekukan mikroskopis. Seperti tempat untuk menyembunyikan sesuatu..."
Dengan hati-hati, menggunakan ujung pisau kecil yang ia ambil dari laci meja, Arkan mencungkil bagian dasar cincin itu.
KLIK.
Sebuah bagian kecil terlepas. Dan di dalam rongga tersembunyi itu... terdapat sebuah butiran pasir hitam seukuran ujung jarum.
"Itu..." mata Kiara membelalak. "Itu bukan pasir. Itu nano tracker! Pelacak ukuran mikro yang bisa mengirimkan sinyal lokasi real-time ke satelit!"
Jantung mereka serentak berhenti berdetak sesaat.
Berarti... selama ini, setiap detik, setiap langkah, setiap tempat yang mereka kunjungi... diketahui oleh musuh! Mereka tidak pernah benar-benar sendirian!
"Mereka tahu kita di sini sekarang..." bisik Kiara pucat. "Mereka tahu kita sudah menemukan rahasia cincin ini!"
Belum sempat mereka bereaksi lebih jauh, tiba-tiba seluruh lampu di rumah besar itu padam serentak!
BYUR!
Gelap gulpa! Hanya tersisa cahaya redup dari bulan yang masuk melalui jendela besar.
Suara alarm keamanan tidak berbunyi. Itu artinya listrik tidak mati karena gangguan, tapi dimatikan dari dalam atau sistemnya sudah dibajak!
"Kiara, di belakangku! Cepat!" teriak Arkan. Ia segera menarik tubuh Kiara ke belakang punggungnya, siap siaga.
Dari kegelapan ruang tamu yang luas itu, terdengar suara tepuk tangan perlahan.
Tep... tep... tep...
"Pintar... sangat pintar..." suara itu terdengar akrab. Sangat akrab.
Seketika, sebuah senter kecil dinyalakan, mengarah ke langit-langit, memperlihatkan sosok yang berdiri di ambang pintu utama.
Wajah itu...
"Mbah?!?" seru Kiara tak percaya.
Orang yang berdiri di sana bukan orang asing. Bukan preman bersenjata. Tapi Kakeknya sendiri! Ayah dari ibunya Kiara, yang selama ini dianggap sudah tua renta, tinggal di desa, dan tidak tahu-menahu soal urusan bisnis!
Kakek itu tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum hangat seperti biasanya. Itu senyum dingin, penuh kesombongan, dan sangat menakutkan.
"Selamat, cucuku yang pintar. Akhirnya kau bisa sampai ke tahap ini," ucap Kakek dengan nada yang berubah total, jauh lebih tegas dan berwibawa daripada biasanya.
"K-Kau... kau Bos Besarnya?" suara Arkan terdengar berat, ia tidak menyangka lawan yang sesungguhnya adalah orang sepuh ini.
Kakek itu tertawa kecil. "Aku adalah akar dari pohon ini, Nak. Black Lotus didirikan olehku puluhan tahun lalu. Ivan hanyalah seorang bawahan yang terlalu ambisius. Mahardika hanyalah boneka uang."
Ia melangkah masuk, diikuti oleh beberapa pria bertopeng yang muncul dari bayang-bayang koridor.
"Tapi kenapa, Kek? Kenapa melakukan semua ini? Ayahku... apa ayahku tahu?" tanya Kiara, air matanya mulai menetes. Hatinya hancur mengetahui kenyataan pahit ini.
Kakek menatap Kiara dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara bangga dan kejam.
"Ayahmu tahu, Kiara. Dan dia menolak warisanku. Dia ingin menjalani hidup bersih, menjadi pebisnis yang 'jujur'. Dasar bodoh. Makanya aku harus membuat skandal itu, menjatuhkannya sedikit, agar dia sadar dan kembali padaku. Tapi sayang... kesehatannya justru yang runtuh."
"Jadi kau yang merusak nama baik ayahku sendiri?" desis Kiara tak percaya.
"Demi tujuan besar, pengorbanan kecil harus dilakukan," jawab Kakek sinis. "Dan sekarang... berikan liontin itu, Kiara. Chip di dalamnya adalah kunci untuk mengaktifkan sistem pusat yang sudah lama tidur. Dengan itu, kekuasaan kita akan menjadi mutlak."
"Jangan berharap aku memberikannya padamu!" teriak Kiara memberanikan diri.
Kakek menghela napas, lalu menatap Arkan.
"Arkan... ayahmu dulu juga pembangkang seperti kalian berdua. Dan kau tahu kan apa yang terjadi padanya?" Kakek menyeringai. "Aku tidak ingin harus membunuh cucu kandungku sendiri dan suaminya malam ini. Tapi jika kalian memaksa... aku tidak akan ragu."
Situasi gentir. Mereka terkepung di rumah sendiri, melawan kakek kandung yang ternyata adalah raja dunia bawah tanah.
"Kiara," bisik Arkan pelan, tangannya meraba sesuatu di saku celananya. "Saat aku kasih tanda, lari ke pintu belakang. Paham?"
Kiara mengangguk kecil, jantungnya berdegup kencang mau copot.