NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Dokumen Palsu

Tepat pukul sepuluh pagi, Valerian mendapati dirinya duduk di dalam ruangan kerja Damian yang luas dan mewah di lantai teratas gedung Wardhana Group. Ruangan itu didominasi oleh dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, namun bagi Valerian, ruangan ini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang dingin.

Damian duduk tegap di balik meja kerjanya yang besar, sibuk memeriksa berkas audit proyek Aksa dengan kening berkerut dalam. Sejak mereka tiba di kantor, Damian tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Valerian. Pria itu sengaja meminta pelayan kantor menempatkan sebuah sofa kecil di sudut ruangan, tepat di bawah pengawasannya, dan memerintahkan Valerian untuk tetap duduk di sana tanpa boleh melakukan aktivitas apa pun.

Damian... sampai kapan kau akan mengurungku di sini?" tanya Valerian lirih, memecah keheningan ruangan setelah dua jam mereka saling mengabaikan. "Aku memiliki jadwal untuk membantu Dania mengurus keperluan kuliahnya siang ini."

Damian tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor komputer. Ia terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang seketika menguliti harga diri Valerian sampai habis.

"Jangan menggunakan Dania sebagai alasan untuk keluar dari ruangan ini, Valerian," ucap Damian dengan suara baritonnya yang sedingin es. "Dania sudah cukup dewasa untuk mengurus urusannya sendiri. Posisimu hari ini adalah duduk diam di sofa itu, menjadi istri yang patuh, dan memastikan kau tidak berkeliaran di luar jangkauan pandanganku. Aku tahu persis apa yang kau pikirkan jika kau berada di rumah sendirian tanpa pengawasanku."

Ponsel di atas meja kerja Damian tiba-tiba berdering nyaring. Damian mendengus kesal, lalu mengangkat telepon interkom kantornya.

"Ada apa?" tanya Damian ketus pada sekretarisnya.

"Maaf mengganggu, Tuan Damian. Di bawah ada kiriman paket mendesak berlabel dokumen rahasia dari Tuan Aksa terkait audit proyek sub-holding pagi ini. Kurir yang mengantarkannya menolak menyerahkannya pada resepsionis dan bersikeras bahwa dokumen ini harus ditandatangani dan diambil langsung oleh Anda di lobi utama demi keamanan data," lapor sang sekretaris dari balik saluran telepon.

Damian berdecak sebal, meremas pulpennya dengan gusar. Ia melirik tajam ke arah Valerian yang masih terisak di sudut sofa, lalu kembali menatap layar interkomnya. "Baiklah, aku akan turun ke lobi sekarang. Pastikan tidak ada satu orang pun yang masuk ke ruanganku selama aku keluar."

Damian berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan jasnya dengan gerakan angkuh. Ia melangkah menuju pintu ruangan, namun sebelum membukanya, ia berbalik menatap Valerian dengan pandangan mengancam. "Jangan berani-berani bergeser satu jengkal pun dari sofa itu sampai aku kembali, Valerian. Jika aku menemukanmu melanggar perintahku, kau tahu sendiri apa akibatnya bagi harga dirimu di rumah nanti."

Brak!

Damian melangkah keluar dan menutup pintu kayu jati yang besar itu dengan sangat keras, meninggalkan Valerian seorang diri di dalam ruangan kerja yang sunyi dan mencekik itu.

Begitu suara langkah kaki Damian dipastikan menjauh menuju lift khusus eksekutif, suasana di dalam ruangan kerja itu mendadak berubah menjadi teramat senyap. Valerian menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, menumpahkan seluruh rasa kehinaan yang terus-menerus ditorehkan oleh suaminya.

Sebuah bayangan tubuh jangkung tiba-tiba muncul dari arah pintu penghubung ruang istirahat pribadi (restroom) yang terletak di bagian dalam ruangan kerja Damian. Pintu rahasia yang biasanya hanya digunakan oleh jajaran direksi eksekutif untuk beristirahat itu perlahan terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Valerian tersentak kaget, buru-buru menurunkan tangannya dari wajahnya. Matanya terbelalak horor saat melihat sosok pria yang baru saja melangkah masuk itu adalah Aksa.

"A-Aksa?! Bagaimana bisa kau berada di sini? Bukankah kau seharusnya pergi bersama Clarissa?!" bisik Valerian panik setengah mati, suaranya bergetar hebat saat melihat Aksa berjalan mendekatinya.

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah cepat, lalu dengan satu gerakan yang teramat halus namun kuat, ia mencengkeram pinggang kecil Valerian dan menarik tubuh wanita itu berdiri dari sofa, merapatkannya ke dada bidangnya yang teramat hangat.

"Aku sengaja menjebaknya, Valerian," bisik Aksa parau tepat di depan wajah Valerian yang pucat, napasnya yang hangat beraroma kayu manis membuat seluruh sendi di tubuh Valerian mendadak lemas. "Paket dokumen rahasia di bawah itu hanyalah siasatku untuk memancing Damian keluar dari ruangan ini. Dan Clarissa? Aku sudah meninggalkannya di butik perancang busana sejam lalu dengan alasan ada urusan darurat. Aku tidak bisa membiarkan suamimu mengurungmu di tempat dingin ini sendirian sementara aku merindukanmu setengah mati."

Sisi posesif Aksa yang nekat dan gila benar-benar membuat akal sehat Valerian melayang. Di dalam ruangan kerja suaminya sendiri, di bawah pengawasan puluhan kamera CCTV koridor luar yang bisa saja membongkar mereka kapan saja, Aksa justru bertindak melampaui batas waras.

"Aksa, lepaskan aku... Damian bisa kembali kapan saja," mohon Valerian, mencoba mendorong dada bidang Aksa dengan jemarinya yang gemetar.

"Aku tidak peduli, Valerian. Biarkan dia kembali dan melihat siapa yang sebenarnya memiliki tubuh dan jiwamu siang ini," geram Aksa rendah.

Aksa menundukkan kepalanya secara agresif, langsung membungkam bibir Valerian dengan kecupan yang teramat dalam, menuntut, dan penuh dengan luapan gairah yang membara. Sentuhan Aksa kali ini terasa begitu mendominasi, seolah sedang menegaskan tebusan penuh atas rasa cemburu yang sempat Valerian rasakan di meja makan pagi tadi.

Valerian terengah di dalam kungkungan lengan kokoh Aksa. Di bawah dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota, di dalam ruangan kerja suaminya yang sah, Valerian kembali menyerahkan seluruh pertahanan logikanya pada sang adik ipar. Ia membalas pagutan liar Aksa dengan kepasrahan yang kian dalam, membiarkan adrenalin ketakutan berpadu sempurna dengan candu gairah terlarang yang membuatnya merasa begitu hidup sebagai seorang wanita.

Aksa mengangkat tubuh ramping Valerian dengan mudah, mendudukkannya di atas meja konsol kayu di sudut ruangan yang tersembunyi dari sudut pandang pintu utama, lalu kembali mencium ceruk leher wanita itu dengan penuh pemujaan, menghapus setiap jejak rasa sakit hati yang ditinggalkan oleh kalimat-kalimat kejam Damian sebelumnya.

Namun, di tengah pergulatan gairah panas yang kian memabukkan dan menuntut kepasrahan total di dalam ruangan yang terkunci itu, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa berjalan kembali menyusuri koridor luar menuju pintu utama ruangan kerja.

Damian telah menyadari bahwa paket dokumen itu hanyalah sebuah tipuan kosong, dan ia kembali ke ruangannya dengan amarah yang meledak-ledak!

Klik!

Suara gagang pintu utama ruangan kerja Damian mulai bergerak berputar dari arah luar!

Klik.

Suara dingin dari besi gagang pintu yang berputar itu bagaikan hantaman guntur yang memutus paksa aliran gairah di kepala Valerian. Matanya membelalak sempurna penuh dengan ketakutan yang teramat nyata. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan seluruh otot tubuhnya membeku di atas meja konsol tempat Aksa mendudukkannya.

Aksa, dengan ketenangan seorang predator yang telah memperhitungkan setiap jengkal langkahnya, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Detik ketika gagang pintu itu bergerak turun setengah jalan, Aksa mencium kilat bibir Valerian untuk terakhir kalinya, lalu melompat turun dari meja konsol dengan gerakan sehalus kucing.

Dengan satu sentuhan cepat, ia merapikan kembali kerah kemeja flanelnya, lalu menyelinap masuk kembali ke dalam pintu tersembunyi walk-in restroom milik Damian, menutupnya rapat tepat setengah detik sebelum pintu utama ruangan kerja itu terbuka sepenuhnya.

Brak!

Damian melangkah masuk dengan napas memburu dan rahang yang mengeras rapat. Begitu tatapannya mendarat di sudut ruangan, ia menemukan Valerian sedang berdiri bersandar pada meja konsol dengan jemari yang mencengkeram erat pinggiran kayu. Wajah Valerian pucat pasi, dan napasnya naik turun dengan tidak teratur.

Damian melangkah lebar memotong jarak di antara mereka, menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapan istrinya. "Apa yang kau lakukan di sini, Valerian?! Kenapa kau tidak duduk di sofa tempatku memintamu diam?!" bentak Damian, suaranya bariton dan bergetar hebat oleh amarah.

Valerian mencoba menelan ludahnya yang terasa kesat. Ia memeluk tubuhnya sendiri, sebuah gestur pertahanan untuk menyembunyikan beberapa kancing piyamanya yang telah longgar akibat ulah Aksa tadi. "A-aku... aku hanya ingin melihat pemandangan dari jendela, Damian. Ruangan ini terlalu mencekik jika aku hanya duduk diam di sofa," dusta Valerian, suaranya bergetar menahan ketakutan yang luar biasa.

Damian menyipitkan matanya, menatap lekat ke arah bibir Valerian yang tampak merona kemerahan dan sedikit membengkak. Riak cemburu di dalam dadanya membuat Damian langsung mencengkeram kedua bahu Valerian dengan kasar, menekannya ke dinding kaca besar di belakang mereka.

"Kau berbohong, Valerian! Aku tahu paket dokumen di bawah tadi adalah tipuan kosong! Aksa sengaja menjebakku agar aku keluar dari ruangan ini, bukan?!" Damian mendekatkan wajahnya, menatap Valerian dengan pandangan menghina dan penuh tekanan yang merendahkan harga diri wanita itu. "Katakan padaku! Apakah adikku yang berengsek itu sempat datang ke mari saat aku pergi?!"

"Tidak, Damian! Tidak ada siapa-siapa di sini selain aku!" tangis Valerian akhirnya pecah, air matanya luruh membasahi pipinya yang pias. Rasa terhina karena selalu dituduh dan direndahkan oleh suaminya berpadu dengan ketakutan jika pintu kamar mandi di belakang Damian tiba-tiba terbuka.

Damian terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang tidak memiliki hati. Ia melepaskan cengkeramannya pada bahu Valerian, lalu mengusap air mata di pipi istrinya dengan ibu jarinya secara kasar. "Baguslah jika dia tidak ada. Karena jika aku sampai menangkap basah kau bermain gila dengan adikku di dalam kantorku sendiri, aku tidak akan segan-segan membuangmu kembali ke jalanan tempat keluargamu memohon bantuan bisnis padaku. Kau hanyalah pajangan di rumah ini, Valerian. Jangan pernah bermimpi untuk memiliki hak melanggar perintahku."

Kata-kata kejam Damian kembali merobek-robek hati Valerian hingga berkeping-keping. Di dalam sangkar emas ini, Damian selalu tahu bagaimana cara mengingatkannya bahwa ia tidak lebih dari sebuah komoditas bisnis yang tidak berharga.

Sementara itu, di balik celah pintu walk-in restroom yang sedikit terbuka, sepasang netra gelap Aksa menyala oleh amarah yang teramat pekat. Sisi posesif dan protektifnya bergejolak hebat mendengar bagaimana kakaknya terus-menerus menginjak-injak harga diri wanita yang teramat dipujanya. Aksa mengepalkan tinjunya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, bersumpah di dalam hati bahwa ia akan mempercepat seluruh rencananya untuk merebut Valerian seutuhnya dari neraka yang diciptakan oleh Damian.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!