Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
BAB 21: Topeng yang Retak dan Batas Kelas Para Pewaris
Kehidupan di lantai teratas gedung apartemen mewah berjalan begitu damai bagi Elva dan Zayn. Setiap sudut ruangan penthouse kini terasa lebih hangat semenjak kehadiran Milo, anak kucing ras Scottish Fold berbulu putih kapas yang hobi meringkuk di pangkuan Elva. Hubungan mereka pun semakin matang, terikat kuat oleh kalung perak berliontin inisial nama mereka yang tidak pernah lepas dari leher Elva.
Namun, di luar dinding tempat berlindung yang aman itu, badai kecemburuan dan keserakahan dari masa lalu Elva rupanya belum benar-benar reda.
Nadine Ileana tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya harus hidup melarat di rumah kontrakan sempit pinggiran kota. Sebagai anak sulung yang berusia dua tahun lebih tua dari Elva dan teman-teman sekolah adiknya, Nadine merasa harga dirinya hancur lebur.
Setiap hari, saat melihat tangannya yang kini kasar karena harus mencuci baju sendiri, rasa benci dan iri kepada Elva semakin membakar dadanya. Di otaknya yang picik, Nadine hanya memikirkan satu jalan pintas untuk mengembalikan status sosialnya: dia harus memanfaatkan usia mudanya untuk mendekati salah satu cowok dari lingkaran pertemanan elite Zayn Dominic di SMA Pelita.
Nadine tahu betul bahwa meskipun mereka masih duduk di bangku kelas tiga SMA, cowok-cowok di sekeliling Zayn adalah para pewaris kasta tertinggi di kota ini. Target pertamanya jatuh pada Leo, wakil ketua OSIS yang terkenal ramah namun memiliki latar belakang keluarga pemilik jaringan rumah sakit swasta terbesar di Jakarta.
...----------------...
Sabtu sore itu, udara Jakarta terasa agak gerah. Di sebuah kafe berkonsep glass house mewah di kawasan Senopati, Leo, Arkan, dan Kevin sedang duduk santai di area sofa VIP. Mereka baru saja menyelesaikan sesi latihan basket mandiri dan memutuskan untuk nongkrong sejenak. Gelak tawa Kevin yang renyah berkali-kali memecah keheningan sudut kafe tersebut. Zayn hari ini tidak ikut karena harus mengantar Elva melakukan pemeriksaan kesehatan rutin pasca-trauma bersama Dokter Dika.
Nadine yang sudah menguntit aktivitas Leo melalui unggahan cerita di media sosial sejak pagi hari, menarik napas dalam-dalam. Pagi ini, dia sengaja memakai gaun ketat berwarna merah marun—salah satu dari sedikit pakaian bermerek mahal yang berhasil dia selamatkan dari penyitaan rumah Menteng tempo hari.
Dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, Nadine berjalan mendekati meja VIP tempat ketiga cowok populer itu berada. Dia sengaja memasang senyuman termanisnya, mengandalkan pesona kedewasaannya yang dia pikir berada di atas anak-anak sekolahan seperti mereka.
"Eh, hai... kalian temannya Zayn di SMA Pelita, kan?" sapa Nadine dengan nada suara yang dibuat selembut dan semanja mungkin. Dia sengaja berdiri sangat dekat dengan posisi duduk Leo, membuat aroma parfum menyengatnya langsung menyeruak.
Leo, Arkan, dan Kevin yang sedang asyik mengobrol seketika menghentikan tawa mereka. Ketiganya mendongak secara bersamaan, menatap sosok wanita di depan mereka dengan dahi berkerut.
"Iya, benar. Ada perlu apa ya, Kak?" jawab Leo. Meskipun nadanya tetap sopan dan memanggil dengan sebutan 'Kak' karena menyadari wanita di depannya terlihat lebih tua, matanya memancarkan kilat kewaspadaan yang sangat kentara.
Nadine pura-pura tersenyum manis, menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga lalu tanpa permisi mendudukkan diri di ujung sofa kosong sebelah Leo.
"Kenalin, aku Nadine. Kakak kandungnya Elva," ucap Nadine, sengaja menjual nama adiknya agar mendapatkan akses masuk ke dalam lingkaran pertemanan tersebut.
"Aku kebetulan lagi nongkrong di sini, terus nggak sengaja liat kalian. Boleh bergabung, kan? Sekalian aku mau tanya-tanya soal kabar Elva di sekolah. Soalnya dia... dia udah lama nggak pulang ke rumah semenjak dibawa pergi sama Zayn."
Mendengar nama Elva disebut oleh wanita berpenampilan menor ini, atmosfer di meja VIP tersebut mendadak berubah drastis. Senyuman kasual di wajah Arkan langsung lenyap, berganti dengan tatapan sedingin es. Kevin yang biasanya paling berisik dan jenaka kini meletakkan gelas es kopinya dengan hentakan yang cukup keras ke atas meja marmer.
Mereka bertiga bukanlah cowok-cowok labil yang mudah terkelabui oleh penampilan luar. Sebagai bagian dari geng paling berkuasa di SMA Pelita, mereka tahu persis seluruh detail penderitaan Elva akibat perlakuan kejam keluarga Ileana. Zayn sudah menceritakan semuanya, termasuk bagaimana Nadine bertindak sebagai kakak yang egois, gila hormat, dan ikut mengabaikan Elva saat adiknya disiksa di gudang bawah tanah rumah Menteng.
"Oh... jadi lo kakaknya Elva?" Kevin membuka suara terlebih dahulu, sebuah senyuman sinis yang sangat langka terukir di bibirnya. Dia sengaja menghilangkan panggilan 'Kak' karena merasa wanita di depannya tidak layak dihormati.
"Gila ya, penampakan lo kontras banget sama Elva. Elva mah polos, anggun, auranya murni. Lah lo... kok malah mirip manekin diskonan yang salah masuk kafe mewah?"
Wajah Nadine seketika memerah sempurna karena malu dan tersinggung mendengar sindiran tajam dari Kevin. Namun, demi status sosialnya, dia menahan amarahnya dan mencoba mengabaikan Kevin, lalu beralih menyentuh pundak Leo dengan jemari tangannya yang lentik.
"Leo... kamu kan wakil ketua OSIS yang terkenal bijaksana. Jangan dengerin temen kamu yang nggak sopan itu. Aku cuma mau minta nomor WhatsApp kamu, kok. Biar kalau ada apa-apa soal Elva, kita sebagai sesama orang dewasa bisa saling kabar-kabari."
Leo menatap tangan Nadine yang bertumpu di pundaknya, lalu dengan gerakan perlahan namun tegas, dia menepis tangan wanita itu hingga terlepas.
"Maaf, Kak Nadine," ucap Leo, suaranya kini tidak lagi ramah, melainkan terdengar begitu datar, dingin, dan memancarkan wibawa seorang calon penerus tunggal dinasti rumah sakit.
"Gue emang dididik untuk selalu sopan kepada orang yang lebih tua. Tapi gue juga dididik untuk tahu batas kelas dengan siapa gue berbicara."
Nadine tertegun, senyum palsunya membeku. "M-maksud kamu apa, Leo?"
Arkan yang sejak tadi bersandar santai kini memajukan tubuhnya, menatap Nadine dengan pandangan menghina yang sangat menusuk.
"Maksud Leo, lo nggak usah sok berakting jadi kakak yang peduli di depan kita. Kita semua udah tahu busuknya kelakuan lo di rumah Menteng dulu. Lo itu cuma cewek egois yang kehilangan hartanya, terus sekarang mau coba-coba menggoda temen-temen Zayn demi panjat sosial, kan?"
"Kalian bener-bener nggak sopan ya! Aku ini lebih tua dari kalian! Harusnya kalian punya tata krama!" bentak Nadine, suaranya meninggi karena emosi dan harga dirinya yang mulai terkoyak di depan umum.
Leo berdiri dari kursinya, membuat tubuh tingginya menjulang tinggi di depan Nadine, meruntuhkan seluruh rasa percaya diri wanita itu dalam sekejap.
"Tata krama hanya berlaku untuk manusia yang punya hati nurani, Kak. Sifat lo yang tega membiarkan adik kandung lo sendiri disiksa di gudang bawah tanah yang gelap demi mengamankan fasilitas mewah lo... itu jauh lebih menjijikkan daripada ketidaksopanan kami hari ini."
Leo memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, menatap Nadine dengan tatapan penuh rasa muak.
"Zayn hari ini nggak ada di sini, dan itu adalah keberuntungan terbesar dalam hidup lo. Karena kalau Zayn yang berdiri di posisi gue sekarang, lo nggak akan cuma diusir pakai kata-kata, tapi seluruh sisa nama keluarga lo bakal dihancurin sampai lo nggak punya tempat tinggal lagi di kota ini."
Kevin ikut berdiri, melambaikan tangannya ke arah pelayan kafe di dekat kasir. "Mbak! Tolong panggil petugas keamanan ke sini. Ada pengunjung liar yang nggak tahu diri lagi ganggu kenyamanan meja VIP kita."
Mendengar teriakan Kevin dan melihat beberapa pasang mata pengunjung kafe lain mulai berbisik-bisik menatapnya dengan pandangan mencemooh, Nadine merasa harga dirinya hancur lebur berkeping-keping di lantai marmer kafe mewah itu. Topeng sosialita anggun yang dia banggakan kini retak total.
Dengan air mata malu yang mulai mengalir membasahi pipinya yang menor, Nadine menyambar tas tangannya dan berlari kencang keluar dari kafe, tidak kuat menahan hinaan telak dari para junior yang selama ini dia sepelekan. Geng Zayn telah membuktikan bahwa tanpa kehadiran sang pemimpin sekalipun, mereka adalah tameng kokoh yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengusik ketenangan hidup Elva kembali.