NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Murid Terakhir dan Bisikan Kegelapan

Gerhana merah kini hampir sempurna di langit Bukit Tengkorak. Suasana semakin mencekam saat angin sedingin es berembus, membawa aroma bangkai yang menyengat hidung Cepot dan Dawala. Tepat di gerbang batu menuju puncak bukit, siluet sesosok pria tinggi kurus menghadang jalan mereka. Dialah murid ketiga sekaligus yang terkuat dari Ki Burak, bernama Ki Guntur Bayu.

Berbeda dengan dua murid sebelumnya, Ki Guntur Bayu tidak langsung menyerang. Ia justru tersenyum licik, menatap Golek Pancasona di tangan Cepot dengan tatapan penuh nafsu. "Aing nyaho perkawis eta golek (Saya tahu tentang golek itu). Serahkan padaku, atau nyawa kalian habis di sini!" ancamnya dengan suara bergema seperti petir bergulung.

Wah, ulah loba omong, jalu! (Jangan banyak bicara, jantan!) Langkah dulu mayat kami!" tantang Cepot, meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Ki Guntur Bayu tertawa terbahak-bahak. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, merapalkan mantra terkutuk dalam bahasa kuno. Seketika, langit di atas mereka bergemuruh hebat. Kilatan petir berwarna hitam kemerahan menyambar-nyambar, siap menghancurkan apa saja yang ada di bawahnya. Dawala merinding melihat kekuatan dahsyat tersebut, sementara waktu menuju gerhana total terus berjalan mundur.

Dawala, lumpat! (Dawala, lari!)" teriak Cepot saat petir hitam pertama menyambar tempat mereka berdiri. Tanah bergetar hebat, menyisakan lubang menganga yang hangus terbakar. Ki Guntur Bayu tertawa puas sambil terus mengarahkan sambaran kilat ke arah dua bersaudara tersebut.

Dawala bergerak lincah, melompat ke sana kemari menghindari ledakan tanah. Namun, salah satu sambaran petir mengenai pundak Dawala. "Aduh, ampun gusti! Pundak aing tutung! (Pundak saya gosong!)" jerit Dawala kesakitan, terlempar ke tanah dengan pakaian yang berasap.

Melihat adiknya terluka, amarah Cepot memuncak. Ia mencoba menembakkan cahaya emas dari Golek Pancasona, namun kilat hitam milik musuh terlalu kuat dan terus mementahkan cahaya tersebut. Ki Guntur Bayu semakin mendekat, berniat merebut golek pusaka.

Dalam kondisi terdesak, Cepot teringat kain mori "Rajah Pamungkas Bumi" yang tadi mereka temukan. Ia melemparkan kain tersebut ke arah Dawala. "Dawala, paké kain éta keur tameng! (Dawala, pakai kain itu untuk perisai!)" Dawala yang menahan sakit segera menangkap kain mori tersebut dan membentangkannya ke depan. Saat petir hitam raksasa menyambar, kain mori itu menyerap seluruh energi petir dan memantulkannya kembali ke arah Ki Guntur Bayu.

Pantulan petir hitam menghantam dada Ki Guntur Bayu dengan telak. Musuh berteriak histeris saat tubuhnya sendiri hangus terbakar oleh kekuatannya sendiri, lalu musnah menjadi debu hitam yang ditiup angin malam. Tanpa membuang waktu, Cepot membantu Dawala berdiri. "Kuat, Wal? Hayu, sakedik deui! (Kuat, Wal? Ayo, sedikit lagi!)" Dawala mengangguk lemah namun penuh tekad.

Mereka berlari sekuat tenaga menuju puncak Bukit Tengkorak. Di sana, gerhana merah telah sempurna, mengubah warna langit menjadi merah darah sepenuhnya. Di tengah altar batu yang dikelilingi tengkorak manusia, duduk bersila seorang pria tua berambut putih panjang dengan aura hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya. Dialah Ki Burak, sang dukun hitam.

Akhirnya, dua cecunguk Aki Sasmita datang juga," desis Ki Burak tanpa membuka matanya. Di hadapannya, mengambang sebuah golek hitam tanpa wajah yang menyerap energi gerhana merah. Cepot langsung merasakan tekanan batin yang sangat berat, membuat lututnya gemetar. Pertempuran hidup dan mati yang sebenarnya baru saja dimulai.

Ki Burak membuka matanya yang menyala merah darah. Ia berdiri dari altar batu, lalu menggerakkan tangan kanan ke depan. Golek hitam yang mengambang di hadapannya mulai memancarkan kabut kegelapan yang pekat. "Kalian terlambat, bocah tengik! Energi gerhana merah sudah terkumpul sepenuhnya!" seru Ki Burak dengan suara parau yang menggetarkan seluruh puncak Bukit Tengkorak.

Wah, ulah sombong, aki-aki bau taneuh! (Jangan sombong, kakek-kakek bau tanah!)" teriak Cepot mencoba menutupi rasa takutnya. Ia langsung mengangkat Golek Pancasona dan menembakkan laser cahaya emas. Namun, sebelum cahaya itu menyentuh tubuh musuh, kabut hitam dari golek milik Ki Burak langsung menelan mentah-mentah energi tersebut. Cahaya emas itu padam seketika.

Dawala mencoba maju, mengayunkan kain mori Rajah Pamungkas Bumi untuk menghalau kabut beracun. Sial baginya, Ki Burak merapalkan mantra singkat yang membuat tanah di bawah kaki Dawala meledak. Dawala terlempar hantam batu besar hingga muntah darah. "Aduh, ampun, Cepot! Ieu aki-aki bedas pisan! (Aduh, ampun, Cepot! Ini kakek-kakek kuat sekali!)" rintih Dawala, tidak mampu berdiri lagi.

Ki Burak berjalan mendekat dengan senyum kemenangan. Ia mengangkat golek hitamnya tinggi-tinggi, bersiap mengirimkan serangan pemungkas untuk menghabisi Cepot dan Dawala sekaligus.

Tepat saat kabut hitam pekat berbentuk naga raksasa meluncur dari tangan Ki Burak, sebuah tongkat kayu jati menghantam tanah dengan keras dari arah belakang. DUARR! Gelombang kejut berwarna putih bersih memancar seketika, menghancurkan naga kabut hitam tersebut hingga menjadi asap tak berdaya.

Burak! Tobat, Burak! Sing éling! (Sadar, Burak!)" Sebuah suara berwibawa memecah kesunyian malam. Dari balik kegelapan semak belukar, muncul Aki Sasmita. Kakek buta itu berjalan dengan tenang, memegang tongkat setianya di tangan kanan, sementara tangan kirinya memeluk Golek Kuning tanpa wajah yang kini mulai bersinar terang.

Aki Sasmita! Gusti, nuhun Gusti!" teriak Cepot kegirangan sambil merangkak mendekati Dawala.

Ki Burak terkejut, namun sedetik kemudian wajahnya mengeras penuh dendam. "Sasmita! Hahaha! Akhirnya si tua bangka buta ini keluar dari persembunyiannya! Kau datang hanya untuk menyerahkan nyawamu dan Golek Kuning itu kepadaku!" seru Ki Burak penuh amarah. Pertarungan antar-dua dukun besar, hitam dan putih, yang telah tertunda selama puluhan tahun kini pecah di puncak bukit yang berselimut gerhana merah.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!