Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aruna sama sekali tak menyadari segala perubahan perasaan dan ekspresi yang berganti cepat di wajah orang-orang di sekelilingnya. Ia justru mulai menyusun rencana matang dalam hati dengan sungguh-sungguh.
[Ada tiga hal utama yang harus menjadi prioritasku mulai hari ini. Pertama, menyelamatkan nama baik dan harta keluarga Ashcroft dari jaringan penipuan jahat Duke Harold. Kedua, menjaga jarak agar tidak mengganggu kisah cinta dan perjalanan hidup para tokoh utama agar tak merusak alur cerita. Dan ketiga... secepat mungkin membatalkan ikatan pertunangan ini bersama Cedric Ravenwood.]
Prak!
Terdengar bunyi tajam benda yang pecah seketika. Cangkir teh di genggaman tangan Cedric hancur berkeping-keping di atas meja. Semua mata serentak beralih menatapnya dengan terkejut.
Namun Cedric tak peduli pada pecahan porselen itu. Matanya tertuju tajam dan tak berkedip tepat ke arah gadis di hadapannya.
Membatalkan pertunangan? Mengapa?
Mengapa wanita yang dulu rela melakukan apa saja demi perhatiannya, kini justru ingin melepaskan ikatan itu secepat kilat?
Di sisi lain, Duke Arthur dan Duchess Helena pun tak kalah terkejutnya. Bukankah Evelyne yang dulu tak pernah lelah memuji-muji Cedric sebagai pria paling sempurna dan dicintainya? Mengapa tiba-tiba keinginan itu musnah sepenuhnya?
Aruna yang terkejut melihat keramikan pecahan itu hanya bisa tersenyum canggung, menatap mereka dengan wajah polos. "Maaf... apakah aku baru saja mengganggu ketenangan kalian?" tanyanya lembut.
Cedric menggeleng pelan, meski sorot matanya menyimpan seribu pertanyaan yang tak terjawab. "Tidak..." jawabnya singkat.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, untuk pertama kalinya ia merasa sangat ingin tahu, ingin menyelami rahasia yang tersembunyi yaitu sapa sebenarnya jiwa yang kini bersemayam di tubuh Lady Evelyne Ashcroft yang ia kenal selama ini?
Dan tanpa disadari oleh Aruna yang masih santai menikmati sarapannya, sejak pagi yang penuh kejutan itu, seluruh keluarga besar Ashcroft memiliki satu tekad bulat yang sama, mereka harus lebih dekat, lebih teliti, dan lebih waspada mengawasi gadis itu.
Ketika hidangan terakhir disingkirkan dan para pelayan sibuk merapikan meja panjang itu, Aruna diam-diam mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari bahunya.
[Syukurlah... akhirnya masa sarapan yang menegangkan ini selesai juga. Kupikir Ayah pasti akan menanyai aku habis-habisan seperti sedang diadili, namun ternyata semua berjalan jauh lebih lancar daripada ketakutanku.]
Keempat orang yang masih tertinggal di ruangan itu saling bertukar pandang penuh arti. Bagi mereka, pagi ini sama sekali tak bisa disebut lancar, justru penuh hal aneh yang membuat pikiran kacau.
Duke Arthur masih terbayang-bayang peringatan tentang penipuan tambang emas yang membuat bulu kuduknya merinding. Adrian tak bisa melupakan ancaman kata "dihukum mati" yang terucap dari benak adiknya. Ibu Helena terus bertanya-tanya dari mana datangnya perubahan sikap yang luar biasa cepat ini.
Dan yang paling tak bisa lepas dari bayangan adalah Cedric. Matanya tak pernah sekalipun benar-benar beralih dari sosok gadis itu, seolah ada magnet kuat yang menarik perhatiannya terus-menerus.
"Kalau begitu, Ayah, Ibu... izinkan aku pamit kembali ke kamar," ucap Aruna lembut seraya membungkuk kecil dengan tata krama sempurna yang kini ia miliki.
Langkah tegap yang hendak melangkah keluar dari ruangan tiba-tiba terhenti mendadak. Sekali lagi kalimat itu terdengar jelas di telinga Cedric darinya yaitu membatalkan pertunangan. Mengapa? Mengapa wanita yang dulu rela melakukan apa saja demi senyumnya, kini begitu bersemangat ingin melepaskan ikatan ini?
Suara berat Duke Arthur memecah keheningan, "Evelyne..."
Aruna segera membalikkan badan, "Ya, Ayah?"
"Menemani Cedric berjalan-jalan sebentar di taman belakang," perintahnya lembut namun tak bisa dibantah. "Sudah cukup lama kalian tidak meluangkan waktu berdua, layaknya sepasang tunangan yang seharusnya."
Seketika senyum di wajah Aruna membeku kaku. Matanya membelalak tak percaya. [Apa?! Mengapa harus sekarang? Justru saat aku sedang berusaha mati-matian menjauhinya?!]