Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
Waktu bergulir dengan ritme yang konstan di Surabaya. Beberapa bulan setelah kepulangan tim DKV dari Jakarta, atmosfer di dalam studio utama kampus mewah itu berubah menjadi area pertempuran akademis yang sengit. Lembaran maket, tumpukan buku referensi, dan coretan sketsa tebal kini digantikan oleh draf-draf bab skripsi yang tebal dan revisi metodologi penelitian yang melelahkan.
Anya Kirana menenggelamkan seluruh energinya ke dalam pengerjaan tugas akhir. Dia memilih topik yang teramat berani: Analisis Transformasi Identitas Visual Korporat Konvensional Menuju Pasar Digital Modern, dengan studi kasus nyata dari proyek Baskoro Logistic yang sukses besar kemarin.
Pagi itu, udara Surabaya terasa kering dan membakar. Di dalam ruang sidang utama fakultas seni yang ber-AC dingin, Anya berdiri di belakang podium digital. Penampilannya hari ini memancarkan aura wanita karier yang cerdas, matang, sekaligus memikat. Dia mengenakan kemeja putih sutra berpotongan slim-fit yang pas badan, dipadukan dengan rok span hitam di atas lutut yang menonjolkan siluet tubuh proporsionalnya setinggi 165 cm dan berat 55 kg. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam diikat rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahang oriental dan leher jenjangnya yang putih cerah.
"Demikian pemaparan draf laporan tugas akhir saya. Terima kasih," Anya menutup penjelasannya dengan sebuah anggukan formal yang anggun.
Tiga orang dosen penguji paruh baya di hadapannya saling berpandangan, lalu tersenyum puas. Pak Hermawan yang bertindak sebagai ketua penguji mengetukkan palu sidangnya sekali ke atas meja kayu.
"Selamat, Anya Kirana Bramantyo. Berdasarkan kualitas analisis data lapangan dan implementasi desain yang sudah terbukti sukses di Jakarta, dewan penguji menyatakan kamu lulus dengan nilai sempurna dan menyandang predikat Summa Cum Laude. Kamu resmi menyelesaikan kuliah kilatmu dalam waktu tiga setengah tahun."
Duar.
Suara tepuk tangan riuh langsung menggema dari balik pintu kaca studio saat Ririn dan teman-teman seangkatannya merangsek masuk dengan wajah berseri-seri. Ririn langsung memeluk Anya erat-erat. "Wah! Kamu beneran gila, Nya! Lulus tercepat dan nilai sempurna! IPK-mu mutlak empat koma nol!"
Anya tertawa lepas—sebuah tawa riang yang sangat tulus dan manis, yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di koridor kampus ini. Dia membalas pelukan sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru. Perjuangan melelahkannya menembus terik matahari Surabaya, tinggal mandiri di apartemen studio sepi, dan merawat luka patah hati masa lalu, hari ini terbayar lunas dengan prestasi yang murni lahir dari kemampuannya sendiri.
Sementara itu, seribu kilometer dari Surabaya, atmosfer di kantor pusat Baskoro Group Jakarta tampak sangat kontras. Di dalam ruang kerja utama lantai teratas gedung pencakar langit Sudirman, Edgard Baskoro sedang menandatangani lembar terakhir dari berkas audit tahunan perusahaan.
Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu mengenakan setelan kemeja rajut abu-abu gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak mewahnya. Sinar matahari senja Jakarta yang berwarna jingga keemasan menerobos dinding kaca raksasa, membingkai bentuk tubuh tegap atletisnya dengan sempurna.
Tok, tok.
Siska, sekretaris pribadinya, melangkah masuk membawa sebuah undangan resmi bermeterai dari pihak Universitas Surabaya. "Pak Edgard, ini surat pemberitahuan resmi dari pihak rektorat Surabaya. Upacara wisuda akbar semester genap akan digelar dua minggu dari sekarang, hari Sabtu jam sembilan pagi."
Siska menggantung kalimatnya sejenak, tersenyum kecil. "Dan nama Nona Anya Kirana Bramantyo tercatat sebagai lulusan terbaik utama yang akan memberikan pidato perwakilan mahasiswa."
Mendengar informasi tersebut, gerakan tangan Edgard yang sedang menaruh pulpen peraknya terhenti seketika. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung berkilat terang, memancarkan binar kebahagiaan dan ketetapan hati yang selama berbulan-bulan ini dia simpan rapat di dalam dadanya. Retakan di dinding es hatinya kini telah runtuh seutuhnya, digantikan oleh debaran rasa cinta yang teramat besar.
"Siska," panggil Edgard, suaranya bariton, rendah, berat, namun terdengar sangat mantap.
"Iya, Pak?"
"Kosongkan seluruh jadwal rapat direksi, kunjungan eksternal, dan agenda bisnis saya mulai hari Jumat malam sampai hari Minggu dua minggu ke depan," titah Edgard dengan nada suara yang penuh penekanan yang mutlak. "Siapkan jet pribadi perusahaan untuk keberangkatan saya ke Surabaya hari Jumat malam. Dan hubungi toko bunga terbaik di pusat kota Surabaya... pesan satu buket raksasa berisi bunga lili putih kualitas premium tanpa ada satu pun kelopak yang cacat."
"Baik, Pak. Semuanya akan segera saya atur," Siska membungkuk hormat lalu segera mundur keluar ruangan dengan senyuman lebar, menyadari bahwa sang bos besar sudah siap menjemput takdir cintanya.
Setelah pintu tertutup rapat kembali, Edgard berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mendekati dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah langit senja ibu kota. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pribadinya dan menatap layar yang menampilkan tanggal kalender digital.
"Tiga setengah tahun yang lalu, saya melihatmu pergi dari kota ini dengan hati yang hancur karena keegoisan saya, Anya..." bisik Edgard pada keheningan ruangan yang kedap suara, sebuah senyuman lembut yang teramat tulus menghiasi wajah tampannya. "Dan dua minggu dari sekarang, saya akan memenuhi janji saya untuk berdiri di depan gerbangmu, membawa seluruh sisa hidup dan cinta saya untuk membayar setiap tetes air mata yang dulu pernah kamu luruhkan demi saya."
semangat nulisnya 💪