Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
Matahari pagi di Jakarta biasanya membawa kehangatan, namun bagi Anya, sinarnya terasa mencerangi sebuah medan perang yang telah usai. Semalaman dia tidak bisa memejamkan mata. Gaun merah muda yang dia kenakan kini terasa seperti kain kafan yang membungkus sisa-sisa masa remajanya. Kamarnya berantakan. Beberapa lembar foto Edgard yang diam-diam dia cetak dari media sosial kini berserakan di lantai marmer, beberapa di antaranya robek karena amarah yang tak terkendali di sepertiga malam.
Pukul sembilan pagi, Anya membasuh wajahnya dengan air dingin. Pantulan di cermin menunjukkan sosok asing: sepasang mata yang bengkak, kulit pucat, dan gurat kelelahan yang teramat sangat. Namun, di balik kerapuhan itu, sepercik api keras kepala masih menyala. Anya menolak untuk pasrah. Jika dunianya harus runtuh, dia harus mendengar alasan langsung dari mulut pria yang memicu kehancuran ini. Dia tidak bisa menerima begitu saja bahwa Edgard setuju menikahi Joana tanpa sepatah kata pun pembelaan untuknya.
Tanpa memedulikan sarapan atau teguran dari Mamanya yang berpapasan di koridor, Anya menyambar kunci mobilnya. Dia mengabaikan panggilan Joana yang terdengar cemas dari arah dapur. Tujuan Anya hanya satu: kantor pusat Baskoro Group. Tempat di mana dia pernah diusir, tempat di mana dia pernah jatuh terjerembap, dan tempat di mana dia akan mempertaruhkan seluruh harga dirinya untuk terakhir kali.
Perjalanan menuju Sudirman terasa begitu panjang dan menyiksa. Di bawah guyuran hujan gerimis yang mulai membasahi ibu kota, Anya mencengkeram kemudi dengan tangan yang gemetar. Pikirannya melayang pada ucapan kejam Papanya semalam. Gadis kekanak-kanakan yang hanya tahu cara bersenang-senang dan merengek. Kata-kata itu berputar seperti kaset rusak, memotong ulu hatinya berulang kali.
Sesampainya di gedung pencakar langit itu, Anya tidak lagi peduli pada tata krama. Dia berjalan melewati lobi dengan langkah besar, mengabaikan tatapan heran dari petugas keamanan yang mengenali wajahnya sebagai anak dari mitra bisnis sang bos besar. Lift membawanya ke lantai teratas dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging.
Ketika pintu lift terbuka, Siska—sekretaris Edgard—langsung berdiri dari kursinya dengan wajah panik. "Nona Anya? Maaf, Pak Edgard sedang tidak bisa diganggu—"
"Minggir, Mbak," potong Anya dengan suara dingin yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.
Anya mendorong pintu ganda ruang kerja Edgard tanpa mengetuk. Brak! Pintu terbuka lebar, membentur dinding pembatas.
Di dalam ruangan yang luas dan ber-AC dingin itu, Edgard sedang berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang berkabut. Dia sedang memegang cangkir kopi hitamnya. Mendengar dentuman pintu, Edgard membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tatapannya tetap datar, setenang permukaan danau di musim dingin.
"Anya. Sopan santunmu ke mana?" ucap Edgard, suaranya bariton, rendah, dan penuh penekanan yang mengintimidasi.
Anya menutup pintu di belakangnya dengan hentakan yang tak kalah keras. Dia berjalan mendekati meja kerja Edgard, memotong jarak hingga dia bisa mencium aroma maskulin bercampur kopi dari tubuh pria itu. Aroma yang biasanya membuat jantungnya berdebar riang, kini justru membuat dadanya terasa teremas.
"Sopan santun?" Anya tertawa sumbang, air matanya mulai menggenang lagi di pelupuk mata. "Untuk apa aku menjaga sopan santun di depan pria yang baru saja menghancurkan hidupku?"
Edgard meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas. Dia menghela napas panjang, lalu bersedekap, menatap Anya lurus-lurus. "Jika ini tentang pengumuman semalam, saya rasa tidak ada yang perlu didebatkan. Perjodohan itu adalah keputusan keluarga besar."
"Keputusan keluarga besar?" Anya maju satu langkah lagi, suaranya mulai bergetar hebat. "Lalu keputusanmu sendiri di mana, Kak Edgard? Kenapa Kakak diam saja? Kenapa Kakak menerima perjodohan itu seolah-olah Kakak sedang menandatangani kontrak bisnis biasa? Kakak tahu kan... Kakak tahu persis bagaimana perasaanku selama ini!"
Edgard menatap Anya tanpa berkedip. "Saya tahu."
"Kalau Kakak tahu, kenapa Kakak tega melakukan ini padaku?!" tangis Anya akhirnya pecah. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Dia memukul dada Edgard dengan tangan mengepal, sebuah tindakan nekat yang didorong oleh keputusasaan murni. "Aku yang selama ini mengejar Kakak! Aku yang mengirim pesan setiap hari! Aku yang menahan malu di depan semua orang demi menarik perhatian Kakak! Tapi kenapa... kenapa akhirnya Kakak malah memilih Kak Joana? Kenapa bukan aku?!"
Edgard tidak bergerak. Dia membiarkan tinju lemah Anya mendarat di dadanya beberapa kali sebelum akhirnya dia menangkap kedua pergelangan tangan gadis itu dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakiti. Dia memaksa Anya untuk berhenti dan menatap matanya.
"Cukup, Anya," kata Edgard, suaranya terdengar sangat dingin, sedingin dinding es yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh api sekeras apa pun. "Hentikan tindakan histerismu ini. Ini adalah kantor, bukan tempat untuk merengek."
"Aku tidak merengek! Aku meminta penjelasan!" teriak Anya di sela tangisnya, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Edgard, namun gagal.
Edgard menghela napas, lalu melepaskan tangan Anya dengan perlahan. Dia mundur satu langkah, menciptakan jarak aman di antara mereka. Jarak yang mempertegas batas ego masing-masing.
"Kamu ingin penjelasan? Baik, saya akan berikan," ucap Edgard dengan nada suara yang teramat datar, tanpa ada riak emosi sedikit pun di dalamnya. "Saya menerima perjodohan ini karena Joana adalah wanita yang tepat untuk saya. Dia dewasa, dia mengerti tanggung jawab, dan dia bisa menempatkan diri di dunia saya. Sedangkan kamu? Lihat dirimu sekarang, Anya."
Edgard melirik penampilan Anya yang berantakan dari atas ke bawah. "Kamu datang ke sini, berteriak, menangis, dan menuntut sesuatu yang tidak pernah saya janjikan. Selama ini, saya selalu bersikap biasa saja kepada kamu karena saya berharap kamu sadar diri. Saya tidak pernah memberi kamu harapan. Perasaanmu itu... itu hanya obsesi remaja yang egois."
Plak!
Suara tamparan keras menggema di ruangan sunyi tersebut. Anya menampar pipi kiri Edgard dengan sisa kekuatannya. Napas Anya memburu, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa sakit yang teramat sangat. Sudut bibir Edgard sedikit memerah, namun ekspresi wajah pria itu tidak berubah sedikit pun. Dia tidak marah, tidak juga membalas. Dia hanya mengusap pipinya pelan, lalu kembali menatap Anya dengan pandangan yang kosong. Tatapan yang membuktikan bahwa tamparan Anya bahkan tidak bisa menyentuh harga dirinya.
"Obsesi...?" bisik Anya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan udara. "Kak Edgard menganggap ketulusanku selama ini cuma obsesi?"
"Ya," jawab Edgard singkat, kejam, dan tanpa ragu. "Pergilah pulang, Anya. Tenangkan dirimu. Jangan mempermalukan papamu lebih jauh lagi. Pernikahan saya dan Joana akan tetap terjadi, dengan atau tanpa restumu."
Anya melangkah mundur, menggelengkan kepalanya perlahan. Dia menatap Edgard seolah pria di hadapannya ini adalah monster asing yang kejam. Semua binar pemujaan, semua rasa cinta yang dia pupuk selama bertahun-tahun, malam ini mati seutuhnya di dalam ruangan ini. Sikap Edgard yang selalu tampak biasa saja, bahkan saat Anya menangis darah di depannya, adalah bukti mutlak bahwa dia tidak akan pernah memiliki tempat di hati pria itu.
"Aku membencimu, Edgard Baskoro," bisik Anya dengan nada yang sarat akan dendam dan luka yang mendalam. "Aku bersumpah... aku bersumpah demi sisa hidupku, aku tidak akan pernah mau melihat wajahmu lagi. Aku akan menghapusmu dari hidupku, sampai tidak ada lagi yang tersisa."
Edgard tidak membalas ancaman itu. Dia hanya membalikkan badannya kembali membelakangi Anya, menatap keluar jendela kaca besar seolah keberadaan Anya sudah tidak lagi penting untuk direspons.
Anya berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu dengan tangis yang tertahan di tenggorokan. Dia berlari melewati Siska, melewati lobi, dan menembus hujan Jakarta yang semakin deras. Harapannya telah sirna sepenuhnya. Dunia yang dia kenal telah runtuh berkeping-keping, meninggalkan seorang gadis delapan belas tahun yang hancur lebur di tengah badai kenyataan. Anya tidak pernah menduga bahwa konfrontasi kejam ini adalah awal dari sebuah takdir baru yang akan membuangnya jauh dari kota ini, mengasingkannya ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
semangat nulisnya 💪