NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Pasukan Macan Perak

Bagaga Alam bersama pangeran Muncak Gede dan Pati Maung Sakti berdiri didepan semua anggota pasukan Macan Perak. Agak ke belakang berdiri Suta Nanta dan Danang Wesi serta Ni Kirana.

Pasukan Macan Perak berbaris rapi dengan sikap siap siaga. Aura kekuatan besar dari pendekar tingkat emas dan pendekar bumi memancar kuat. Bagaga melihat sekilas setiap anggota Pasukan Macan Perak. Bagaga Alam hanya mengangguk. Ini hampir seperti Pasukan Darah Besi nya kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Ucap Bagaga Alam dalam hati.

Pasukan Macan Perak belum terlalu lama dibentuk oleh Adipati Daeyuh Sundasebawa, pangeran Muncak Gede. Sang Adipati memang mencoba untuk membuat duplikat dari pasukan Darah Besi.

Meski baru dibentuk kurang lebih satu tahun. Pasukan Macan Perak telah menorehkan banyak sejarah di tataran Sunda. Terutama sekali di kadipaten Daeyuh Sundasebawa. Pasukan Macan Perak menjadi pasukan yang sangat disegani,  dihormati dan ditakuti kawan dan lawan.

Mereka akan menjadi satu kekuatan besar bila bertempur dalam bentuk formasi bayangan seribu macan.  Selama ini tidak satu kekuatan pun yang bisa lolos dari formasi tempur seribu bayangan macan.

"Pasukan Macan Perak...!" Adipati Muncak Gede memanggil pasukan Macan Perak.

"Siap Adipati. Pasukan Macan Perak siap menerima dan menjalankan tugas...!!" Gemuruh suara penuh semangat memenuhi angkasa.

"Hari ini menjadi hari yang sangat penting bagi kalian. Hari ini kita kedatangan tamu luar biasa..." Adipati pangeran Muncak Gede diam sejenak. Dia menoleh kearah Bagaga Alam. Kembali berkata setelah menarik nafas.

"Dia adalah pahlawan besar Sunda Galuh. Dialah Pandeka Pedang Suling Kumala, orang yang memimpin pasukan untuk menghancurkan sekte Iblis Darah yang telah begitu kuat mencengkram kerajaan kita Tarumanagara.

Hari ini saya minta Pandeka Pedang Suling Kumala untuk memimpin kita semua menghancurkan Gerombolan Rawa Belong.

Baiklah mari kita dengar bersama sepatah dua kata dari Pandeka Pedang Suling Kumala."

Adipati pangeran Muncak Gede memberi tempat kepada Bagaga Alam. Bagaga Alam maju satu tindak. Setelah berdehem untuk membersihkan tenggorokan nya. Bagaga Alam mulai bicara.

"Kita punya waktu satu pekan ke depan untuk menyerang markas Gerombolan Rawa Belong.

Waktu sedikit ini kita gunakan untuk meningkatkan kekuatan tempur kalian.

Hari ini aku ingin melihat kemampuan tempur khusus kalian. Keluarkan seluruh kemampuan kalian, termasuk formasi tempur, jika kalian punya."

Setelah berkata, Bagaga Alam maju ketengah lapangan. Dia meraih Suling perak dari kehampaan. Semua mata bulat besar melihat itu. Kecuali Adipati pangeran Muncak Gede dan Danang Wesi serta Ni Kirana yang sudah pernah melihat.

"Kalian semua serang dengan sungguh sungguh. Karena aku tidak akan sungkan."

Pati Muda Rajung Malapir segera mengatur formasi tempur seribu bayangan macan. Semua anggota pasukan Macan Perak bergerak dan menempati posisi masing-masing.

Bagaga Alam berdiri dengan tegak, dalam diam. Suling perak berkilau ditimpa sinar matahari. Hembusan angin memainkan anak rambut Bagaga Alam.

Semua anggota pasukan Macan Perak bersiap dengan senjata terhunus. Posisi kuda-kuda yang mereka tampilkan masing-masing orang, beberapa terlihat beda. Bagaga Alam mengangguk.

"Majulah, gunakan kemampuan terbaik kalian. Aku ingin merasakan kekuatan Pasukan Macan Perak yang terkenal ini."

Diawali dengan pekikan nyaring. Pasukan Macan Perak mulai bergerak dan menyerang. Gerakan mereka semakin lama semakin cepat. Sehingga hanya terlihat bayangan yang sangat banyak.

Pati Maung Sakti melihat dengan satu sudut bibirnya ketarik.

Tiba-tiba pasukan mulai melakukan serangan beruntun. Diawali dengan serangan tombak yang sangat rapat. Puluhan bayangan ujung tombak menusuk ke delapan simpul kematian. Serangan awal yang dilakukan Pasukan Macan Perak ternyata sangat ganas.

Bagaga langsung menggunakan jurus dua belas langkah ajaib. Tapi yang dihadapi bukanlah sekedar serangan dari pasukan biasa. Ini adalah serangkaian serangan dengan pola formasi. Dilakukan oleh Pasukan Macan Perak, satu pasukan tempur yang handal dan sangat terlatih. Digembleng dengan pengalaman tempur yang cukupt padat. Serangan tombak ternyata mampu menyesuaikan dengan gerakan lawan.

Bagaga Alam benar benar kaget dan kagum dengan pola serangan pertama. Cukup berat tekanan yang diterima Bagaga lewat serangan awal ini.

Triiiiiiing... Triiiiiiing...

Bagaga tidak hanya mengelak. Dia dipaksa untuk menangkis beberapa serangan.

Hebatnya, begitu serangan awal mau berakhir. Kilau ratusan mata pedang datang susul menyusul. Tidak tanggung tanggung, datang dari berbagai arah depan berbagai tujuan. Tentu saja dari skala satu sampai sepuluh. Sampai skala 7 adalah bagian tubuh paling senrsitif.

Desingan tajam terdengar bersiliweran. Kejar mengejar menuju Bagaga Alam. Danang Wesi dan Ni Kirana merinding ngeri. Kedua orang itu menahan nafas karena tegang.

Bagaga Alam kembali bergerak dengan jurus dua belas langkah ajaib. Bagaga juga menggerakkan suling perak dengan sangat cepat.

Trang tring tring trang...

Berulang kali benturan keras terjadi. Anggota Pasukan Macan Perak yang berbenturan senjata mereka dengan suling perak. Terdorong mundur dua sampai tiga langkah. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi kecepatan gerakan formasi bayangan seribu macan.

Namun demikian, lapisan ketiga tetap bergerak. Kali ini gerakan mereka berbeda. Sebagian menyerang dari bawah, sebagian lainnya dari atas.

Itu belum seberapa. Begitu lapisan ketiga ini bergerak. Tidak lebih dari dua detik. Lapisan pasukan tombak menyerang bagai hempasan gelombang menerjang bagian tengah tubuh Bagaga Alam.

"Bagus...!" Bagaga berseru memuji. Pendekar super sakti itu berkata melanjutkan.

"Awas, kali ini aku akan membalas kalian."

Slaaap....

Bagaga Alam tiba-tiba menghilang. Sesaat kemudian terdengar jerit dan lenguhan dari anggota Pasukan Macan Perak.

Tak... Tuk... Bukh...  Aaakh... Hugh...  

Jerit kesakitan terdengar bersahutan. Dua puluh tiga orang langsung terjengkang dan menabrak rekan mereka sendiri.

Pertarungan itu otomatis terhenti. Bagaga Alam tersenyum dan mengangguk. Wajahnya terlihat cukup puas.

"Baik baik. Untuk sementara cukup. Aku sudah melihat beberapa kelemahan dari formasi seribu bayangan macan.

Kita akan memperbaiki dalam satu pekan kedepan. Dalam satu pekan itu, aku juga akan memaksa kenaikan kekuatan energi mendalam setiap kalian."

"Siap Pandeka Pedang Suling Kumala, terimakasih atas bimbingan Pandeka." Pati Muda Rajung Malapir menjura dalam kepada Bagaga Alam.

Setelah beramah tamah sebentar. Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana kembali bersama Adipati pangeran Muncak Gede dan Pati Maung Sakti serta Suta Nanta.

Sampai di istana kadipaten, Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana telah disediakan kamar masing-masing.

Malam harinya sehabis makan malam. Pangeran Muncak Gede mengajak Bagaga Alam ngobrol di taman belakang. Danang Wesi dan Ni Kirana telah kembali ke kamar dan melakukan meditasi untuk menghimpun energi alam dan berusaha menambah jumlah energi mendalam yang mereka miliki.

"Saudara ku Bagaga. Bagaimana menurut Anda dengan Pasukan Macan Perak ?"

"Cukup bagus. Jika kita bisa meningkatkan daya tempur mereka. Pasukan Macan Perak akan menjadi pasukan tempur yang sangat kuat."

"Mampukah mereka untuk mengatasi kekuatan anggota Gerombolan Rawa Belong ?"

"Untuk saat ini aku tidak bisa menjawab mu pangeran Muncak Gede. Namun sambil menunggu laporan yang masuk dan juga waktu penyerangan. Aku akan berusaha untuk mempertajam serangan mereka. Disamping meningkatkan kemampuan perorangan dari mereka."

"Apakah banyak kekurangan yang harus kita perbaiki ?"

"Sebenarnya tidak. Hanya saja jumlah mereka jika bisa ditambah menjadi dua kali dari sekarang. Itu menjadi kekuatan yang luar biasa."

Mereka berdua ngobrol sampai larut malam. Pembicaraan mereka baru usai ketika waktu telah bergeser ke puncak malam.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!