Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah tanpa tujuan
Dokter menerima surat itu dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Surat apa ini,Husnan ."tanya dokter heran.
Husnan hanya menundukkan kepala . seolah mau mengatakan sesuatu tetapi tidak keluar dari mulutnya.
"Saya mohon jangan di buka dulu dok, sebelum ibu datang." Ucap Husnan lirih.
Dokternya pun semakin penasaran,entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang akan dilakukan Husnan.
"Baik dokter akan menyampaikannya ke ibu kamu nanti jika sudah datang."
Husnan pun menjadi lega mendengar perkataan dokter.
"Makasih ya dok.. kalau begitu saya kembali ke ruang rawat dulu."ucap Husnan sambil tersenyum lega.
Ia pun pergi dari ruangan itu, sambil berjalan ke ruang rawat"maafkan anakmu ini Bu .."ucapnya sambil menangis.
Sesampai di ruang rawat ia pun melepaskan pakaian pasien yang di kenakan,lalu ia mengganti dengan pakaian yang ibunya bawakan kemarin.
Usai berganti pakaian,Husnan berjalan pelan sambil melewati lorong rumah sakit,lalu ia pun bergegas menuju ke gerbang rumah sakit.
Tidak ada seorang pun yang menyadari kepergiannya.
Husnan berjalan tanpa tujuan.bayangan wajah ibu dan adiknya memenuhi di kepalanya.tanpa sadar, langkahnya semakin jauh hingga bangunan rumah sakit sudah tidak terlihat lagi.
Saat ia hendak menuju ke seberang jalan ia tidak melihat ada mobil yang sedang melaju kencang .
"Awass.. "teriak sopir sambil membunyikan klakson dan ngerem sekuat tenaga.
Husnan pun sadar dan ia segera melompat ke pinggir jalan tetapi sudah tidak sempat.
Beruntung mobilnya sudah tidak terlalu kencang.
Tetapi tubuh Husnan terpental ke pinggir jalan, kepalanya terbentur ke pembatas jalan hingga kepalanya mengeluarkan darah dan ia tidak sadarkan diri.
Sopir dan pemiliknya pun turun dari mobil sambil menghampiri Husnan.
Saat sampai, ia pun membawa Husnan kedalam mobil dan meletakkannya di kursi belakang.
"Cepat bawa ke rumah sakit Harapan Medika.saya sering berobat ke sana."ucap pemilik mobil.
Sopirnya pun bergegas mengemudi mobilnya dengan cepat.
Di tengah perjalanan pemilik mobilnya melirik ke wajah Husnan yang masih kecil dan berpakaian lusuh.
"Aduh apes saya harus menjaga anak ini."gumamnya di dalam hati.
"Pak,apa kita ikut menunggu anak ini di rumah sakit.?tanya sopir.
"Tentu kita kan yang menabrak, harus tanggung jawab dong.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di gerbang rumah sakit Harapan Medika .
Sopirnya memarkirkan mobilnya.
Setelah itu Sopirnya pun menggendong Husnan dan membawanya kedalam rumah sakit . melihat kondisi anak itu,para perawat pun bergegas membawa bangkar dan menuju ke arah mereka.
Kemudian Husnan pun di bawa menuju ke ruang UGD pemilik mobil dan sopirnya pun mengikuti di belakang para perawat itu.
Sesampainya di depan ruang UGD pintunya pun di tutup dan mereka menunggu di depan ruang.
Begitu Husnan di bawa masuk ke ruang UGD,beberapa perawat pun langsung memindahkannya ke atas ranjang .
"Tekanan darah berapa "tanya salah seorang dokter.
"Normal, Dok. Tetapi pasien belum sadarkan juga," jawab salah seorang perawat.
Dokter pun memeriksa denyut nadinya,lalu menyinari matanya menggunakan senter kecil.dokternya pun menyadari ada luka di bagian belakang kepala pasien.
"Tolong bersihkan dulu lukanya di bagian belakang kepala dan pasang infus. Setelah itu lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada cedera serius," perintah dokter.
"Baik, Dok."
Seorang perawat segera membersihkan darah yang mengalir di kepala Husnan, sementara perawat lainnya memasang infus di tangan kirinya. Dokternya pun mengecek detak jantungnya.
Dokternya pun menghela napas pelan.
"Alhamdulillah tida terjadi apa apa."
"Untuk sementara kondisinya stabil. Benturan di kepalanya tidak terlalu serius.tetapi pasien masih belum sadar. Kita harus tetap memantau pasien beberapa jam lagi.
"Kamu ini kalau menyetir yang hati hati ." Ucap pemiliknya dengan tegas .
"Maaf pak saya juga sudah berusaha agar ia tidak tertabrak."jawab sopir sambil menundukkan kepalanya.
Setelah mereka menunggu lama dokternya pun keluar.
Mereka berdua pun berdiri dan menghampiri dokternya.
"Bagaimana,dok kondisi anak itu ."tanya pemilik mobil itu dengan cemas.
"Lukanya tidak terlalu parah, tetapi benturan di kepalanya cukup keras. Untuk sementara kondisinya stabil, namun ia masih belum sadar. Kami masih harus mengawasinya."
"Syukurlah kalau baik baik saja."
Mereka pun berjalan ke dalam ruang itu dan melihat Husnan yang belum sadarkan diri,dan terpaksa mereka pun harus menunggunya di pinggir ranjang.
Waktu terus berlalu jarum jam dinding sudah menunjukkan hampir satu jam sejak Husnan di bawa ke ruang perawatan.pemilik mobil dan sopirnya masih setia menunggunya di samping ranjang.sesekali melihat wajah Husnan yang masih belum bangun.
Kelopak mata Husnan perlahan mulai gerak jari jemarinya pun ikut bergerak pelan , sebelah akhirnya ia membuka kedua matanya.
"Saya..saya di mana ?" Tanya Husnan sambil memegang kepalanya yang masih nyeri itu.
"Syukurlah kamu sudah sadar,Nak"
"Maaf ya nak ,kami yang menabrak mu syukurlah kau sudah sadar."
Husnan pun melihat pemilik mobil itu.
"wajahnya kaya familiar,kok saya kaya sudah pernah melihat bapak ya?"gumamnya sambil memegang kepalanya.
"Memangnya kamu pernah lihat om dimana?"ucap pemilik mobil.
"Oh.. Mungkin saya salah ingat maaf pak"
"Oh iya dek di mana rumah kamu ? Biar kami antarkan pulang."
Husnan pun tidak langsung menjawab."saya...saya tidak punya rumah."jawab Husnan singkat.
Husnan takut kalau jujur nanti bisa di pulangkan ke ibunya dan membebaninya.
Pemilik mobil dan sopir saling berpandangan,
"Orang tuamu.?"
Husnan hanya menundukkan kepala.
"Kalau begitu selama ini kamu tinggal sama siapa ?"
Husnan hanya menundukkan kepala.
"Apa sebaiknya saya ajak dia pulang saja ya ke rumah,lagian saya juga gak punya anak.gumam pemilik mobil di dalam hati.
"Dik...kalau kamu tidak keberatan, untuk sementara ikut om dulu saja nanti kita pikirkan jalan keluarnya."
"Bo.. boleh om?"tanya Husnan sambil memandangi wajah pemilik mobil.
"iya boleh"jawab pemilik mobil sambil ngangguk.
Mereka bertiga pun berjalan keluar dari ruangan dan menuju ke parkiran.
Setelah sampai di parkiran Husnan pun naik ke kursi mobil itu di sebelah pemilik mobil.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah sakit.Husnan hanya menatap keluar jendela,sama sekali tidak tahu bahwa hari Itu akan mengubah hidupnya selamanya.