Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi yang Tidak Utuh
Hari Selasa itu dimulai dengan hujan gerimis yang bikin genteng kos berbunyi rintik-rintik sepanjang subuh, dan Doni terbangun bukan karena dengingan sistem, melainkan karena Herman menendang selimutnya sambil ngomel soal laporan praktikum yang belum kelar padahal deadline-nya jam sepuluh pagi.
"Don, bantuin gue dong, ini datanya kok nggak nyambung sama teorinya."
"Ini kelas lo, Man, bukan kelas gue."
"Ya tapi lo kan pinter itung-itungan."
Doni cuma mendengus, tapi akhirnya bangun juga, duduk di lantai sambil ngoprek laptop Herman yang layarnya udah retak sudut kanan bawah bekas jatuh waktu mabuk-mabukan kecil-kecilan pas ulang tahun anak kos sebelah.
Pagi itu berjalan biasa saja, sesederhana rutinitas mahasiswa kos pada umumnya sarapan nasi kucing, ngebut ke kampus naik motor pinjeman, duduk di kelas sambil setengah merhatiin dosen dan setengah mikirin hal lain.
Tapi ada satu hal yang beda belakangan ini, yang nggak langsung disadari Doni sampai Sinta nyeletuk waktu mereka jalan bareng ke perpustakaan.
"Lo akhir-akhir ini kayak... lebih tenang gitu, Don. Nggak sesering dulu buka HP terus-terusan kayak orang lagi nunggu kabar penting."
Doni tersenyum tipis, nggak menjawab langsung.
Sebenarnya bukan tenang, lebih tepatnya dia lagi belajar buat nggak terlalu bergantung sama sistem itu sejak kekalahan lelang keris minggu lalu, ada semacam kesadaran baru yang tumbuh diam-diam bahwa hidupnya nggak boleh cuma diukur dari info mingguan yang datang tiba-tiba, melainkan dari hal-hal kecil yang dia bangun sendiri, kuliahnya, hubungannya sama orang-orang di sekitarnya, termasuk meski nggak dia akui secara terbuka perhatian kecil yang mulai tumbuh buat Sinta.
"Gue lagi coba fokus kuliah aja, Sin. Kayak yang lo bilang dulu."
Sinta melirik, sedikit heran karena setahunya dia nggak pernah bilang hal semacam itu, tapi milih nggak protes, malah tersenyum kecil sambil ngelanjutin jalan.
Malam harinya, dengingan itu datang, tapi kali ini bukan di jam tiga pagi seperti biasa melainkan jam sebelas malam, saat Doni masih terjaga ngerjain tugas kelompok yang deadline-nya besok. Perubahan waktu itu sendiri udah bikin dia curiga ada sesuatu yang berbeda.
[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]
Info Minggu Ini: Sebuah program beasiswa riset dari yayasan swasta akan dibuka pendaftarannya lusa, namun belum diumumkan secara luas baru akan disebarkan resmi seminggu setelah kuota internal terisi lewat rekomendasi dosen tertentu. Kuota terbatas, nilai beasiswa mencakup biaya kuliah penuh serta tunjangan riset bulanan.
Catatan: Informasi ini tidak disertai detail lokasi atau nama program secara eksplisit. Penerima disarankan menelusuri sendiri melalui jaringan akademik terdekat.
Doni membaca ulang teks itu berkali-kali, mengernyit. Beda banget sama info-info sebelumnya yang selalu detail sampai ke alamat dan harga pasti. Kali ini, sistem kayak sengaja ngasih teka-teki, bukan jawaban instan.
"Ini maksudnya gimana coba," gumamnya, sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
Herman, yang kebetulan masih melek nungguin laporannya kelar, cuma nyeletuk dari kasur sebelah tanpa nengok.
"Lo ngomong sendiri lagi, Don. Kesambet apa sih lo belakangan ini."
"Nggak, mikir doang, Man."
"Mikir apaan jam segini, mending lo bantuin gue selesein bagian pembahasan."
Doni menghela napas, sadar dia nggak bisa langsung tindak lanjuti info itu malam itu juga lagipula, dia sendiri nggak tau harus mulai dari mana.
Yang jelas, satu kata yang nyangkut di kepalanya adalah "rekomendasi dosen tertentu," dan itu bikin dia mikir keras siapa dosen yang kira-kira lagi ngurusin program semacam itu.
Dua hari berikutnya, Doni diam-diam mulai nyari informasi lewat cara yang jauh dari biasanya bukan langsung datang ke lokasi kayak toko thrift atau garage sale, melainkan ngobrol santai sama beberapa asisten dosen, ikut nimbrung di grup diskusi mahasiswa berprestasi yang selama ini nggak pernah dia lirik sama sekali, bahkan sengaja dateng ke jam konsultasi dosen pembimbing akademiknya, Bu Retno, dengan alasan pura-pura nanya soal rencana studi.
"Kamu tumben ke sini, Don," kata Bu Retno, sedikit heran karena Doni bukan tipe mahasiswa yang rajin konsultasi. "Ada yang mau ditanyain?"
"Iya, Bu, saya lagi mikir soal rencana studi ke depan. Kebetulan denger-denger ada program beasiswa riset gitu ya, Bu? Yang kuotanya lewat rekomendasi dosen?"
Bu Retno mengangkat alis, tersenyum tipis penuh arti. "Lho, kok kamu bisa tau soal itu? Belum diumumin resmi loh, baru mau dibahas rapat jurusan minggu depan."
Doni gelagapan sebentar, buru-buru nyari alasan. "Denger dari temen, Bu, katanya ada yang lagi ngobrolin di grup angkatan."
Bu Retno mengangguk-angguk, meski raut wajahnya masih menyisakan sedikit kecurigaan yang cepat dia sembunyikan di balik senyum ramah khas dosen yang udah kenyang pengalaman ngajar. "Kalau memang serius, kamu perlu perbaiki dulu nilai semester ini. Kebetulan nilai kamu semester lalu sempat turun kan, ada tugas kelompok yang dapat C?"
Kata-kata itu kena telak. Doni jadi sadar, kesempatan sebesar apapun dari sistem nggak akan berguna kalau dia sendiri nggak becus jaga performa akademiknya.
Malam itu dia pulang dengan perasaan campur aduk antara semangat karena ada peluang besar di depan mata, dan waswas karena jalan menuju ke sana ternyata jauh lebih berliku dibanding sekadar dateng ke toko dan bayar tunai.
Di kos, sambil mengunyah mi instan dingin yang keburu lupa dimakan gara-gara kepikiran terus, Doni cerita sedikit ke Herman, tanpa nyebut soal sistem tentu saja, cuma bilang dia lagi incar beasiswa riset yang katanya susah didapat.
"Serius lo mau ngejar beasiswa? Nilai lo aja kemarin sempet jeblok," ledek Herman, tapi kali ini nadanya lebih suportif dari biasanya.
"Makanya, gue harus benerin dulu. Lumayan kan kalau dapet, biaya kuliah gue lunas semua, keluarga di kampung juga nggak usah mikirin lagi."
Herman menepuk pundak Doni, gaya sok akrab. "Gue dukung lo, Don. Tapi jangan lupa, kalau lo beneran dapet beasiswa gede, traktir gue liburan, bukan cuma sate doang."
Doni tertawa kecil, meski di dalam hatinya ada rasa yang lebih dalam dari sekadar bercanda ini pertama kalinya info dari sistem bukan soal barang atau uang instan, melainkan soal masa depan yang harus dia perjuangkan sendiri lewat usaha nyata, bukan cuma modal dan keberanian nawar di lelang.
Malam itu, sebelum tidur, dia sempat mikir mungkin memang begini caranya sistem "mendewasakan" dia pelan-pelan nggak selamanya ngasih jawaban gampang, kadang cuma ngasih arah, sisanya terserah Doni mau sejauh mana dia berjuang buat sampai ke sana