Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 14
“Anak gundik saja gayanya sudah seperti keturunan londo, sok berkuasa, semugih, angkuh.” Tutik dengan percaya diri menyemburkan hinaan, tangan berhias kutek dari daun pacar mengelus perut membuncit. “Amit-amit jabang bayik, jangan sampai nurun anakku.” (Semugih\= sok kaya)
Anne terdiam di tempatnya, menatap lurus barisan pedagang dengan hati berdesir panas, tanpa menoleh ia membalas ucapan dari salah satu penduduk desa yang menerima bantuan garapan lahan pertanian dari keluarganya.
“Terlahir dari wanita baik saja tak serta merta menjadikan anak itu baik, apalagi terlahir dari seorang ibu yang tak bisa menjaga ucapannya. Menebar fitnah tanpa tau cerita yang sebenarnya.”
Tutik menatap sinis penampilan Anne dari ujung kaki hingga kepala, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kalau bukan anak gundik, lalu apa? Anak haram?”
“Gayanya saja sok anggun, kemana-kemana berpakaian kebaya layaknya priyayi, ningrat. Tapi kerjaannya menjajakan diri pada bandot-bandot tua. Aku curiga, jarik mu itu hanya kedok agar mudah disingkap saat diraba tangan-tangan kasar para juragan di kota, sama seperti ibumu saat menyingsingkan jarik di depan tuan Londo,” imbuhnya yang langsung menarik perhatian pengunjung juga pedagang pasar.
Wajah Anne seketika memerah, hatinya bak dihantam bongkahan batu besar, giginya bergemeletuk menahan amarah di dada. “Jaga bicaramu, ibu ku tak seperti yang kau tuduhkan.”
“Tak seperti … tapi memang begitu adanya,” sinis Tutik, penuh keyakinan ia maju kedepan, memutari tubuh Anne yang masih tak bergerak dari tempatnya. “Memang yaa, buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya, ibunya gundik anaknya wanita penggoda, sampai-sampai warga baru pun tengah malam dipersilahkan masuk ke kamarnya.”
“Apa maksud ucapanmu? Apa kau menuduh aku menggoda suamimu? Jika iya, lucu sekali, dia saja menghidupimu dari mengais rezeki di tanahku,” balas Anne, tatapannya masih lurus ke barisan para pedagang.
Tutik tertawa kecil, tangan menyilang di dada, mata beloknya penuh keberanian menatap wajah Anne. “Suamiku mana mungkin mau dengan perempuan rendah seperti kamu, bekasan banyak orang. Menatap pun tak sudi, yang ada dia akan meludah jijik melihat tubuhmu yang kotor itu.”
“Kau terlalu berani, Mbakyu. Sudah siapkah kembali hidup miskin?” Anne menyeringai, tangan sedari tadi tergenggam di sisi tubuh terangkat pelan, mengusap pundak wanita bersedekap tangan di depannya. “Selagi kau masih makan dari hasil tanahku, lebih baik diam, jangan banyak bicara.”
Gadis tetap tenang meski jadi pusat perhatian itu melanjutkan langkahnya, bibir merah alami menyunggingkan senyum licik. “Suamimu bukan tak mau menatapku, tapi takut … takut tak bisa menahan syahwatnya, sebab jika dia menatapku, bukan lagi ludah yang menetes dari mulutnya, tapi juga benda cair dari batang keramatnya.”
"Pulang dan berkaca lah, Mbakyu, agar kau bisa melihat jarak yang terbentang antar kau dan aku," tambah Anne seringai di bibirnya berganti tawa remeh.
Sedari di pinggir jalan Anne sudah tau tengah jadi perbincangan para ibu-ibu juga Argono dan wanita yang masih belum dia ketahui siapanya pemuda hitam manis itu. Netranya sempat menangkap orang-orang itu menatap sinis ke arahnya, juga gerakan bibir yang jelas tengah mencibir dirinya.
Ibu hamil termakan omongan para biang gosip, dalam hati memang memendam sifat iri pada Anne itu mendengus kesal, satu kaki menghentak tanah kering hingga mengepulkan debu tipis, bibir pucat tanpa goresan gincu berkedut sinis. “Tunggu saja kamu gadis angkuh, kalau anak mbokde tadi berhasil merebut posisimu, aku rayu dia. Bersama, kami akan menghancurkanmu hingga tak bersisa.”
Ia kemudian beranjak dari tempatnya, tatapannya masih terpaku pada punggung Anne yang sudah berjalan menjauh.
***
Senja merangkak di kaki barat, semilir angin membawa aroma jerami basah oleh tumpahan air hujan siang tadi. Selepas dari pasar, Anne mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah sebab hujan turun begitu derasnya, membuatnya bertahan di rumah mengerjakan laporan jual-beli di lapaknya sebelum disetor kepada sang Papa.
Gadis muda tak mau menyiakan waktu luang itu masih asyik memberi makan temon saat Dasim datang menghampirinya.
“Sawah-sawah yang berada di sisi barat sudah mulai menunjukan perkembangan, Nduk, beberapa daunnya mulai kembali segar, sepertinya caramu cukup manjur,” ujarnya, turut menambahkan jerami pada tempat pakan temon dan kliwon, juga beberapa kuda lainnya.
“Tetap waspada, Kang. Aku yakin, mereka akan kembali membuat ulah jika tau niat curang mereka kembali gagal,” sahut Anne seraya mengambil satu batang kretek dari kotak cigarette tergeletak di sisi tempat pakan.
“Baik, Nduk. Orang-orang pakde Broto dibantu para petani yang tak terpengaruh oleh kabar miring itu terus berjaga, mereka bergantian berkeliling sawah seperti yang sampeyan titahkan,” ucap Dasim.
Anne diam-diam memerintah pekerjanya, membantu para petani memulihkan kembali kesuburan sawah dengan menyediakan urea yang dipadukan dengan pupuk daun serta pupuk yang mengandung unsur mikro. Kandungan nitrogen pada urea merangsang pertumbuhan daun-daun baru yang lebih hijau, sementara unsur mikro membantu tanaman menyerap hara dengan lebih baik. Perlahan, padi yang menguning mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan kembali segar.
“Tetap tebarkan sesuai dengan ukuran yang aku berikan, jangan sampai lebih, sebab terlalu banyak urea justru bisa membuat padi-padi itu terlalu rimbun daunnya, kalau sudah begitu bulir yang dihasilkan bisa tidak maksimal,” tutur gadis sempat jadi lulusan terbaik saat mengenyam pendidikan di universitas terkemuka di negeri Belanda.
Dasim mengangguk mantap, tangan hitam legamnya mengusap kepala kliwon yang meringkik—mencari perhatian. “Tapi, Nduk. Apa ini nanti tak jadi masalah dengan noni Maria, juga petani lain yang padinya nyaris tak terselamatkan. Mereka pasti mengira—”
“Maria itu hanya tau teori lewat ilmu pengetahuan, tapi nol pengalaman. Sedang yang kita butuhkan saat ini kombinasi keduanya, ya ilmu pengetahuan … ya pengalaman,” sergah Anne, bibir baru menghisap dalam kretek terselip di jari tersungging, tatapan terlempar jauh pada kumpulan domba di padang luas, sengaja dilepas liar saat siang dan kembali di giring ke kandang saat petang.
“Untuk petani-petani itu, biarkan mereka belajar cara menghargai, bukan mau enaknya saja. Kita sudah berbaik hati menyediakan lahan dan segala penunjangnya, tak juga meminta pembagian hasil sesuai dengan yang seharusnya, mereka seenak hati menyalahkanku, paling miris menyeret nama ibu dalam masalah ini.” Anne mengepalkan tangan, hatinya kembali panas kala mengingat tuduhan penduduk desa kepada ibunya. “Aku tak kan pernah memberi ampun pada mereka. Terutama orang-orang yang pertama kali menyebarkan fitnah ini.”
Ia kemudian menoleh ke arah Dasim yang masih sibuk mengusap kepala kliwon, mata sendunya memicing, tarikan napas terdengar berat, berusaha menahan amarah siap membuncah.
“Tapi, Kang, siapa sebenarnya tiga orang itu?” tanyanya seraya melempar puntung kretek telah habis dihisap, lalu menginjaknya dengan sandal teklek.
“Kalau kang Dasim tak salah mengenali, lelaki tua itu bernama Kasman. Dulu sama-sama bekerja di rumah biyung Rasmi sebagai kusir dokar. Kasman merupakan orang kepercayaan bapakmu, juga juragan Sasmitro—mbah kakungmu,” jelas Dasim.
“Lantas dua orang itu … anak istrinya?” lanjut Anne.
“Sepertinya bukan. Jika dilihat dari wajahnya, pemuda itu terlihat lebih muda dari mu, sedang si wanita … kang Dasim tak yakin, seperti pernah melihat tapi di mana …?” Dasim menggantungkan ucapannya, alisnya mengerut dalam mencoba mengingat masa silam.
“Perempuan itu ….”
Bersambung
(Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penggambaran masalah pertanian, pupuk dan pestisida. Author hanya mengandalkan riset google dan beberapa bacaan. 🙏)
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria