Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Bel istirahat lantai tiga SMA Garuda baru saja mati, tapi koridor depan ruang OSIS sudah terlanjur panas.
Kirei berdiri mematung. Tangannya bersedekap rapat di dada, menahan letupan jengkel yang mulai naik ke leher. Pandangannya terkunci pada cowok jangkung yang sedang enak-enakan menyandar di tiang pembatas. Seragam putihnya keluar berantakan, dua kancing atas dibiarkan lepas memamerkan kaus hitam di dalam, dan dasinya cuma menggantung asal-asalan.
"Arka," panggil Kirei, suaranya ditahan rendah tapi cukup tajam untuk membuat dua siswi kelas sepuluh yang lewat langsung ngacir. "Punya tangan kan buat ngatur bola? Bisanya dilempar ke jendela ruang OSIS sampai nyaris memecahkan pot gue."
Yang dipanggil malah makin menjadi. Arka santai memutar bola basket di ujung jari telunjuknya, menepuknya sekali, lalu membalas tatapan Kirei dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Rahangnya bergerak pelan, menahan tawa mengejek.
"Sensitif amat, Bu Ketua," kekehnya. Suara berat agak serak itu rasanya makin bikin telinga Kirei panas. "Lagian masih meleset beberapa senti dari jidat lo. Belum kena, kan? Pot bunganya juga masih berdiri tuh."
"Gue nggak peduli potnya!" Kirei maju selangkah. Ujung pantofelnya makin dekat dengan kets putih Arka yang penuh coretan spidol. "Ini udah minggu ketiga lo sengaja nyari gara-gara di area OSIS. Kalau masih dendam gara-gara poin kedisiplinan lo gue potong minggu lalu, ngomong langsung. Nggak usah bertingkah kayak anak TK."
Bukannya mundur, Arka justru memajukan badannya. Jarak di antara mereka terkikis tipis—sampai wangi citrus bercampur mint dari baju cowok itu tercium makin jelas. Mata cokelat gelapnya menatap Kirei lurus-lurus.
"Gue? Dendam sama lo?" Arka menunduk sedikit, menyamai tinggi mata Kirei. "Keagungan banget lo. Lo tuh cuma cewek membosankan yang hidupnya cuma lempeng ngikutin aturan. Gue cuma kasihan aja liat hidup lo kaku banget kayak papan gilasan."
Genggaman tangan Kirei makin erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Sekali lagi bola lo masuk area ini," bisiknya penuh penekanan, "muka ganteng yang lo bangga-banggain itu yang bakal gue bikin bonyok di depan anak-anak basket."
Arka cuma mengedipkan sebelah matanya tanpa beban. "Coba aja kalau bisa, Sayang."
Sontak, siulan dan sorak-sorai langsung pecah dari anak-anak tim basket di belakang Arka. Dada Kirei rasanya mau meledak. Tanpa membuang waktu melayani godaan murahan itu, ia berbalik cepat, melangkah lebar-lebar menuju ruangannya, lalu membanting pintu keras-keras.
Bagi anak-anak SMA Garuda, Kirei dan Arka itu ibarat dua kutub magnet yang dipaksa bertabrakan. Kirei si ketua OSIS perfeksionis yang anti-melanggar aturan, dan Arka—anak penyokong dana terbesar sekolah sekaligus kapten basket—si biang kerok yang kerjaannya cuma bikin kacau. Setiap hari ada saja bahan untuk bikin mereka saling cakar.
Cuma, nggak ada satu orang pun di sekolah ini yang tahu rahasia gila yang tersimpan rapi di dalam tas Kirei.
Pukul 19.00 WIB.
Bunyi bip terdengar begitu Kirei menempelkan kartu akses pada pintu rumah minimalis dua lantai di kawasan perumahan elit itu. Begitu pintu jati terbuka, sambutan pertama yang ia terima hanyalah keheningan dingin, diselingi denting sengatan sendok dan gelas dari arah dapur.
Sepatu sekolahnya ia lepas dan dilempar begitu saja ke rak. Kirei menghela napas panjang, berusaha membuang sisa-sisa muak sepanjang hari. Langkah kakinya membawa tubuhnya yang lelah menuju area dapur terbuka.
Di sana, Arka masih mengenakan celana seragam abu-abu. Cowok itu santai bersandar di pintu kulkas yang terbuka lebar, nenggak susu kotak cokelat langsung dari kartonnya.
"Bisa pakai gelas enggak, sih? Celah bibir lo bikin jijik tahu enggak?" semprot Kirei sambil melemparkan ransel beratnya ke sofa ruang tengah.
Arka menurunkan kotak susunya, lalu mengusap bibir kasar memakai punggung tangan. Matanya menatap Kirei malas. "Ini rumah gue. Terserah gue mau minum gimana."
"Rumah kita," ralat Kirei, sengaja menekan kata terakhir. "Inget kata Kakek? Ini dibeli atas nama kita berdua. Jangan belagak kayak pemilik tunggal."
Arka tertawa hambar. Kotak susu kosong di tangannya ia lempar mulus ke dalam tempat sampah—persis tembakan tiga poin di lapangan. Ia melangkah maju, memangkas jarak sampai Kirei terpaksa berhenti persis di samping meja makan.
"Jangan pernah sebut kata 'kita', Kirei," bisik Arka, suaranya mendadak dalam dan dingin. Tangannya terangkat, menunjuk langsung ke dada Kirei. "Gue mau tanda tangan surat perjanjian gila itu cuma demi kesehatan Kakek dan nyelamatin saham keluarga lo yang nyaris bangkrut."
"Lo pikir gue sudi?!" Kirei mendongak, menantang balik mata cokelat yang tadi siang ingin sekali ia colok. "Kalau bukan karena permintaan terakhir Kakek sebelum masuk ICU malam itu, gue milih nikah sama tiang listrik depan kompleks daripada harus terikat sama cowok arogan kayak lo!"
"Bagus kalau lo sadar diri," potong Arka dingin.
Ia merogoh saku dalam jaket hitam di atas kursi dapur, menarik keluar selembar kertas berstempel resmi dan bermeterai yang sudah terlipat. Kertas yang sejak tiga hari lalu mengubah status mereka dari dua murid SMA biasa menjadi suami-istri sah secara hukum dan agama—pernikahan rahasia yang dipaksakan oleh keadaan.
Arka membentangkan kertas itu tepat di depan muka Kirei, menunjuk poin pertama yang dicetak tebal.
"Ingat aturan nomor satu di sekolah maupun di luar rumah, Istriku," sindir Arka pelan, menekan kata 'istriku' penuh ejekan. "Kalau sampai ada satu orang aja di SMA Garuda yang tahu kita udah nikah... kontrak ini hangus detik itu juga. Keluarga lo wajib balikin seluruh dana investasi Kakek, dan lo... tanggung sendiri akibatnya."
Rahang Kirei mengencang. Rasanya ingin sekali ia merobek kertas itu, tapi kenyataan bahwa nasib keluarganya ada di genggaman Arka membuatnya tak bisa berkutik. "Gue nggak bakal bocorin apa pun."
"Bagus," balas Arka singkat, lalu melangkah melewatiny begitu saja ke arah tangga. Baru menginjak anak tangga pertama, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Oh ya, Bu Ketua... malam ini jadwal lo yang masak. Dan gue nggak mau ada sayur di piring gue."
Kirei cuma bisa mematung menatap punggung Arka yang menghilang di lantai atas. Pernikahan ini baru berjalan tiga hari, tapi rasanya ia sudah siap masuk penjara karena kasus pembunuhan.