Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Mulai Terkuak
Matahari perlahan bergeser ke tengah langit.
Jam operasional warung kecil itu akhirnya selesai menjelang sore hari.
Para pelanggan terakhir sudah beranjak pergi sejak satu jam yang lalu.
Menyisakan kesunyian yang menenangkan di sudut gang sempit tersebut.
Kirana duduk termenung di salah satu bangku plastik.
Ia masih memegang secangkir teh hangat yang sedari tadi tidak di minum nya
Pikiran wanita itu melayang pada kejadian pagi tadi.
Ketakutan saat Doni mencengkeram kerahnya masih menyisakan trauma di dalam dada.
Namun, bayangan sosok Andra yang berdiri tegak melindunginya terasa jauh lebih dominan.
Di balik penampilan lusuh dan status tanpa identitas yang disandang pria itu.
Ada keberanian luar biasa yang tidak pernah ia temukan pada diri suaminya sendiri.
"Jangan melamun terus, Kir," suara bariton yang lembut membuyarkan lamunan wanita itu.
Andra muncul dari balik meja racik sambil membawa seember air bersih.
Ia hendak membersihkan lantai warung yang kotor karena sisa makanan.
Kirana mengedip pelan, lalu tersenyum tipis untuk menutupi rasa canggungnya.
"Ah, tidak apa-apa, Mas," jawab Kirana sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Aku cuma masih merasa tidak enak."
"Gara-gara kejadian tadi pagi, warung jadi sempat ricuh."
"Dan... mas jadi ikut terseret masalah rumah tanggaku."
Andra meletakkan embernya sejenak.
Ia berdiri tegak dan menatap lurus ke arah Kirana dengan sorot mata yang teduh.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, Kir," ucap Andra tenang.
"Apa yang kulakukan tadi adalah hal yang harus dilakukan oleh seorang pria."
"Lagi pula, aku menumpang hidup di sini."
"Sudah kewajibanku juga untuk ikut menjaga keamanan tempat ini."
Mendengar perkataan itu, hati Kirana terasa menghangat untuk kesekian kalinya.
Selama bertahun-tahun hidup bersama Doni, ia tidak pernah mendengar kalimat perlindungan tulus seperti itu.
Yang ia tahu hanyalah tuntutan, makian, dan tekanan soal uang setiap harinya.
"Tapi Doni itu orangnya pendendam, Mas," kata Kirana dengan nada cemas yang kembali tersirat di wajahnya.
"Aku takut dia akan kembali lagi membawa teman-temannya untuk mencelakai kamu."
Andra tersenyum kecil.
Senyuman penuh keyakinan yang sama sekali tidak mencerminkan seorang pria miskin yang sedang putus asa.
"Biarkan dia datang kalau memang berani," jawab Andra singkat namun penuh penekanan.
"Orang seperti suamimu itu hanya kuat dalam gertakan."
"Begitu diberi pelajaran sedikit saja, nyalinya langsung ciut."
Kirana terdiam, mengagumi ketenangan sekaligus ketegasan yang terpancar dari diri Andra.
Ada aura wibawa yang begitu besar yang sulit disembunyikan oleh pria itu.
Meskipun pakaiannya sudah kotor dan penampilannya tampak berantakan.
Insting kecil dalam diri Kirana mulai bertanya-tanya.
Siapa sebenarnya pria bernama Andra ini?
Mengapa orang dengan pembawaan setegas dan sekeren ini bisa terdampar di warung kecil pinggir jalan?
Sebelum Kirana sempat menyuarakan rasa penasarannya lewat sebuah pertanyaan.
Suara derap langkah kaki yang ramai tiba-tiba terdengar dari ujung gang.
Derap langkah kaki itu terdengar semakin mendekat.
Suaranya bergemuruh di atas aspal sempit gang padat penduduk tersebut.
Bukan hanya satu atau dua orang.
Melainkan ada beberapa orang yang berjalan beriringan dengan gelagat mencurigakan.
Kirana langsung menegang seketika.
Wajahnya yang tadi sedikit rileks kembali pucat pasi.
Jantungnya berdegup kencang karena dilanda rasa panik yang luar biasa.
"Mmmm-mas..." panggil Kirana dengan suara bergetar.
Ia menarik pelan ujung jaket usang yang dikenakan Andra.
"Jangan-jangan... itu Doni."
"Dia pasti kembali dan membawa preman-preman pasar untuk membalas perbuatanmu tadi pagi!"
Andra tidak langsung menjawab.
Ia menepis pelan kekhawatiran itu dengan tatapan mata yang tetap tenang.
Pria itu melangkah maju beberapa langkah.
Menempatkan tubuhnya sedikit di depan Kirana untuk memberikan perlindungan penuh.
Matanya tajam mengawasi mulut gang yang mulai menampakkan bayangan beberapa orang pria.
Benar saja.
Tidak lama kemudian, muncullah Doni dari tikungan jalan.
Pria berjaket kulit kusam itu berjalan dengan gaya angkuh sambil memegang pergelangan tangannya yang masih memerah.
Namun kali ini, ia tidak datang sendirian.
Di belakangnya berdiri tiga orang pria berbadan besar dan penuh dengan tato di lengan.
Wajah mereka tampak sangar, khas para penagih utang liar atau preman terminal yang biasa memeras pedagang kecil.
"Nah, ini orangnya, Bang!"
seru Doni sambil menunjuk ke arah Andra dengan penuh dendam.
"Dia sok pahlawan tadi pagi!"
"Dia berani main kasar sama saya dan ngancam-ngancam di wilayah kita!"
Salah seorang preman berbadan paling besar dengan bekas luka di pipi maju ke depan.
Ia meludah sembarangan ke lantai sambil tersenyum meremehkan.
Matanya menatap Andra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mencemooh.
Melihat penampilan Andra yang hanya mengenakan jaket usang dan celana murah.
Preman itu tentu mengira Andra hanyalah gelandangan atau buruh harian biasa yang tidak punya kuasa apa-apa.
"Heh, anak muda!" ucap pimpinan preman itu dengan suara berat dan menggelegar.
"Lagi banyak gaya ya kamu di sini?"
"Berani-beraninya bikin anak buah si Doni babak belur dan ngancam dia?"
"Cepat sujud di kaki Doni sekarang, atau badanmu bakal hancur remuk hari ini juga!"
Ancaman itu menggelegar di area warung yang kecil.
Kirana yang bersembunyi di balik punggung Andra semakin ketakutan.
Ia tahu persis bagaimana kejamnya kelompok preman pasar itu jika sudah mengamuk.
Sudah banyak pedagang kecil yang menjadi korban pemerasan dan penganiayaan mereka.
"Mas... sebaiknya kita lari lewat pintu belakang," bisik Kirana panik.
"Mereka berbahaya, mereka punya senjata tajam di balik jaketnya..."
Namun, Andra sama sekali tidak bergeming.
Ia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut di wajahnya.
Sebaliknya, sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya.
Senyuman yang justru membuat siapa pun yang melihatnya akan merinding ketakutan.
Preman bertubuh besar dengan bekas luka di pipi itu melangkah mendekat.
Ia sama sekali tidak menyadari siapa orang yang sedang ia hadapi saat ini.
Bagi sang preman, Andra hanyalah seorang pria asing miskin yang menumpang hidup di warung kumuh.
"Kenapa diam saja, hah?
Nyalimu sudah ciut, ya?"
ejek preman itu sambil tertawa meremehkan.
Ia mengangkat kepalan tangannya yang besar ke udara.
Bersiap melayangkan pukulan keras tepat ke arah wajah Andra.
Doni yang berdiri di samping para preman itu tersenyum penuh kemenangan.
Matanya menyiratkan kepuasan luar biasa karena mengira Andra akan segera babak belur.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar nalar siapa pun yang ada di sana.
Sebelum kepalan tangan preman itu sempat menyentuh udara di dekat Andra.
Andra bergerak dengan kecepatan kilat yang luar biasa.
Sebuah gerakan tangan yang begitu terlatih dan presisi tinggi.
Tangannya mencengkeram pergelangan tangan sang preman dengan kuat, lalu memutarbalikkan posisinya dalam satu gerakan patah yang cepat.
Kreeek!
Suara sendi yang bergeser terdengar nyaring di tengah kesunyian gang.
Preman bertubuh besar itu langsung menjerit histeris.
Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya bertekuk lutut ke tanah seketika.
Belum sempat dua preman pengikut lainnya bereaksi.
Andra melompat dengan lincah dan melepaskan tendangan telak ke dada salah satu preman.
Tubuh pria berbadan gempal itu terpental ke belakang sejauh dua meter.
Ia menubruk tumpukan kursi plastik hingga hancur berkeping-keping sebelum akhirnya pingsan seketika.
Suasana di depan warung mendadak berubah menjadi sunyi total.
Ketakutan yang tadinya dirasakan oleh Kirana kini berpindah sepenuhnya kepada Doni dan sisa preman yang tersisa.
Kaki Doni bergetar hebat.
Wajahnya sepucat mayat hidup, tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Pria miskin yang dikira lemah itu ternyata adalah seorang petarung berdarah dingin.
Andra perlahan menurunkan kakinya.
Ia merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut dengan gerakan tenang.
Tanpa ada napas yang tersengal sedikit pun di dadanya.
Ia melangkah maju mendekati pimpinan preman yang masih meringis kesakitan di lantai.
Lalu menundukkan sedikit tubuhnya untuk menatap mata pria berbekas luka itu dari dekat.
"Kalian salah memilih tempat untuk mencari masalah hari ini,"bisik Andra dengan suara rendah yang menusuk jiwa.