Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Pagi harinya, La Bonna terbangun dengan aura penuh waspada. Tubuhnya yang pegal-pegal di atas tempat tidur besi yang keras langsung bersiaga, merasakan kelembapan dingin dinding tahanan bawah tanah yang mengimpitnya.
Namun, belum sempat ia membuka matanya dengan baik, tiba-tiba pintu besi tebal itu terbuka secara kasar. Dalam sekejap mata, Nolan masuk dengan cepat. Tanpa basa-basi atau kepedulian sedikit pun, tangan kekar pria itu langsung menjambak rambut Bonna dengan amat kuat.
"Ah...!"
Bonna meringis kesakitan, terpaksa terseret mendongak dan mengikuti langkah lebar pria monster itu. Nolan menyeret Bonna keluar dari tahanan, diiringi oleh beberapa pengawal bertubuh tegap yang berjalan mengekor di belakang mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
La Bonna kemudian diseret masuk ke dalam sebuah ruangan yang remang-remang. Bau amis darah yang amat pekat, bercampur aroma antiseptik dan cairan zat kimia menyengat, langsung menusuk indra penciuman Bonna begitu pintunya terbuka.
Di dalam ruangan tersebut, pemandangan mengerikan tersaji di depan mata: terdapat sebuah meja operasi stainless steel tempat bermukimnya jasad sesosok mayat yang perutnya sudah terbelah lebar. Dan di sebelah meja itu, seorang laki-laki berjas laboratorium putih berdiri sedang melakukan hal yang benar-benar membuat perut Bonna bergejolak hebat hingga hampir muntah—pria itu tengah merogoh dan meraba bagian dalam rongga tubuh jasad kaku tersebut tanpa rasa jijik.
Tiba-tiba, laki-laki yang menyadari kedatangan Nolan itu langsung menghentikan kegiatannya. Pria berjas laboratorium itu menoleh, membetulkan sarung tangan karetnya yang berlumuran darah kental, lalu berdecak kesal.
"Ck! Kenapa kau menembak kepala mereka?" tanyanya protes seraya melambaikan instrumen bedahnya. "Seharusnya kau langsung saja menyeret mereka kemari setelah dibius. Kepalanya jadi hancur, dan mata mereka ikut hancur! Padahal Duke membutuhkan donor mata untuk istrinya."
Ucap laki-laki itu seraya berdecak berkali-kali, merutuki kerusakan pada mayat di hadapannya.
Nolan menjawab dengan santainya, suaranya tetap datar tanpa riak emosi sedikit pun, "Percuma, mata mereka tidak berkualitas."
Tiba-tiba, mata laki-laki berjas laboratorium itu mengalih ke arah Bonna yang masih berada dalam cengkeraman jambakan tangan Nolan. Ia menatap Bonna dari atas ke bawah, lalu bersuara pada Nolan, "Siapa dia? Apa dia wanita yang harus ku operasi hari ini?"
Pria itu melangkah mendekat. Mengabaikan darah kering yang menempel di sarung tangannya, ia mendongakkan dan mengangkat dagu Bonna secara kasar. Tatapan matanya yang dingin memindai wajah Bonna dengan cermat, lalu tiba-tiba berseru, "Wah, wanita ini punya mata yang indah... dan sepertinya Duke pasti senang dengan mata seperti ini."
Mata Bonna tiba-tiba melebar mendengarkan hal mengerikan itu. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu. Ia hanya bisa mengumpat sejadi-jadinya dalam hati: Wah, sialan brengsek ini! Mereka benar-benar menganggap manusia seperti barang dagangan!
Pria berjas laboratorium itu mengibaskan tangannya, mengalihkan perhatiannya kembali ke meja bedah. "Aku harus kembali mengoperasi dua mayat itu, Nolan. Telepon agen kita, transplantasi sudah siap."
Bonna rasanya benar-benar ingin muntah. Perutnya mual luar biasa hingga ke kerongkongan, namun entah kenapa muntahan ini sama sekali tidak bisa keluar. Mengingat kematiannya sudah sangat dekat—apalagi mungkin setelah dua mayat itu selesai dipreteli, bagian tubuhnyalah yang akan dibedah di atas meja dingin itu—rasa takut membekukan seluruh sistem tubuhnya.
"Di mana Dorsila?" tanya Nolan pendek pada laki-laki itu, mengabaikan ocehan soal donor mata.
Dengan cepat pria berjas laboratorium itu menjawab tanpa menoleh dari mayatnya, "Dia di ruang sebelah."
Tanpa membuang waktu, rambut Bonna kembali dijambak dengan kasar oleh Nolan, menyeret gadis itu melangkah keluar menuju ruangan di sebelah.
Begitu pintu ruangan sebelah terbuka, pemandangan tak kalah mengerikan menyambut mereka. Di dalam ruangan bernuansa medis namun berantakan itu, berdiri seorang wanita yang pakaiannya penuh noda darah. Satu tangannya yang terbalut sarung tangan medis tampak memegang sebuah ponsel.
Wanita itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengembang penuh nada hormat yang dibuat-buat. "Oh, Tuan Nolan... sudah lama kau tidak kemari. Tidak biasanya kau membawa pasienmu dengan tanganmu sendiri kemari."
Wanita itu tiba-tiba berdiri dari kursinya dan melangkah maju, hendak memeluk Nolan secara akrab. Namun, Nolan dengan cepat menggeser tubuhnya, menolaknya mentah-mentah dengan tatapan dingin.
"Ah, iya, aku lupa... aku penuh darah," kata wanita itu santai tanpa merasa tersinggung sedikit pun, mengibaskan tangannya yang bernoda merah.
Namun, tiba-tiba kening wanita itu berkerut erat saat matanya jatuh pada wajah Bonna yang memucat. Ia memajukan wajahnya, meneliti setiap lekuk muka gadis di hadapannya, lalu berseru terkejut, "Wait... kenapa dia mirip sekali dengan Electra?"
Wanita bernama Dorsila itu langsung menangkap dan mencengkeram wajah Bonna dengan kedua tangannya yang terasa dingin. Ia memutar wajah Bonna ke kiri dan ke kanan untuk mengamatinya dari dekat. Namun, tak lama kemudian Dorsila bergumam pelan, "Tapi ada yang berbeda... matanya. Mata wanita ini lebih indah dan tajam daripada mata teduhnya Electra."
Nolan mengibaskan tangan Dorsila dari wajah Bonna, lalu bersuara datar, "Aku ingin kau melakukan sesuatu."
Dorsila menyilangkan tangan di dada, memiringkan kepalanya. "Melakukan apa? Membedah perutnya dan menjual organnya seperti yang aku lakukan pada Electra?"
Deg.
La Bonna sontak ingin menangis saat itu juga. Dadanya sesak mendengarkan percakapan tersebut. Ia membatin penuh keputusasaan: Kurasa orang-orang di sini benar-benar tidak waras! Bagaimana mungkin mereka sesantai ini membicarakan hal yang hanya dilakukan psikopat gila di luar sana?! Membedah? Menjual organ?
Nolan menggeram rendah, raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat. "Tadinya aku ingin kau melakukan hal itu. Tapi Alena mengancamku... dia akan bunuh diri kalau aku membunuhnya."
Alena? batin Bonna di tengah rasa syoknya. Ah, Bonna teringat—Alena adalah wanita muda yang semalam menangis dan memeluknya di ruang eksekusi.
Dorsila tertawa renyah, sebuah tawa sumbang yang sangat merindingkan. "Adikmu masih saja tidak bisa menerima kematian Electra. Sama saja dengan si brengsek Dorris itu—eh, tunggu... apa wanita ini kiriman Dorris lagi?" tanya Dorsila cepat setelah menyadari keterkaitan bagaimana wanita di depannya bisa begitu mirip dengan mendiang Electra.
Melihat bagaimana Nolan hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya, Dorsila tahu tebakannya tepat. Ia kemudian bertanya lagi dengan nada penasaran, "Lalu kau ingin aku apakan wanita ini? Dan..." Dorsila menatap Nolan dengan selidik, "...apa kau ingin membunuhnya seperti kau membunuh Electra?"
Nolan menatap Dorsila dengan pandangan tajam bernada peringatan. "Sudah kubilang, Alena tidak ingin aku membunuhnya. Aku ingin kau menanam chip pada tubuhnya. Dorris lolos lagi, dan tidak hanya Dorris yang menjadi musuhku. Aku ingin melihat apa Dorris akan menyelamatkannya, dan apa wanita ini akan mengatakan semua yang dilihatnya di tempat ini. Dengan begitu, aku punya kesempatan untuk mengetahui lokasi Dorris, dan aku punya kesempatan untuk mengirim Dorris ke neraka bertemu adiknya."
Dorsila mengangguk-angguk paham, senyum miring terkembang di bibirnya. "Ya, setidaknya dia berguna saat ancaman Alena memintanya agar tetap hidup. Akan segera kulakukan."
Dorsila memutar badannya dan berjalan ke arah meja berisi peralatan medis yang asing dan mengerikan. La Bonna menatap ngeri pada instrumen-instrumen tajam, tabung jarum berukuran besar, dan perangkat elektronik kecil berlampu merah yang baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya.
Tubuhnya dipaksa terduduk di atas kursi khusus berklem besi. Dalam hitungan detik, kedua tangan dan kakinya terkunci rapat hingga ia bahkan tidak bisa bergerak atau menggeser tubuhnya sedikit pun.
Nolan memperhatikan sejenak proses penguncian Bonna ke kursi tersebut. Merasa tugasnya di sana sudah selesai, ia berbalik membelakangi mereka. "Jika sudah selesai, kau bisa minta orang untuk mengantarnya."
Namun, langkah Nolan terhenti saat tiba-tiba Dorsila bertanya dengan nada menggoda yang tajam, "Kau ingin jadikan dia pelacur di sini?"
Nolan yang berhenti di ambang pintu menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya terdengar amat dingin dan merendahkan. "Selama dia hidup, dia harus berguna. Apa dia harus diperlakukan terhormat di sini? Tentu tidak. Keputusan bodohnya datang kemari harus dibayar. Dia pasti tahu sedari awal konsekuensinya, dan nyawa yang kubiarkan hidup ini tidaklah gratis."
Brak!
Nolan melangkah keluar dan langsung menutup pintu ruangan dengan dentuman keras, meninggalkan Bonna dalam cengkeraman Dorsila.
"Ckckck..." gumam Dorsila seraya bergeleng kepala setelah pintu itu tertutup rapat. Ia mengambil sebuah jarum suntik berukuran besar yang sudah terisi cairan bening dan kapsul chip pelacak berukuran mikron.
Dorsila berjalan mendekati Bonna yang bersandar pasrah dengan mata berair di atas kursi operasi.
"Miris sekali hidupmu," ucap Dorsila pelan, menusukkan pandangan matanya ke dalam manik mata Bonna. "Kalau aku jadi kau, aku lebih baik mati ditebas pelatuk pistolnya daripada harus menjadi tawanan Nolan. Kuberitahu... hidupmu di sini tak lebih daripada melangkah ke neraka. Seharusnya kau menolak saat Dorris mengirimmu kemari, apa pun yang Dorris janjikan padamu. Bayaranmu tidak akan pernah sebanding dengan neraka yang kau dapatkan di tempat ini. Nolan adalah pria yang tidak punya hati."
Kata-kata itu menjadi kalimat penutup yang masuk ke indra pendengaran Bonna.
Pandangan mata Bonna mulai mengabur dan memberat saat Dorsila menyuntikkan cairan bius lokal dan bersiap menanamkan alat pelacak itu di bawah kulit leher Bonna. Dalam kegelapan yang perlahan merayap, Bonna hanya bisa meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya masuk ke dalam pusaran neraka paling dalam.
semoga la bonna gk jadi kabur🤔