NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 - TERTANGKAP BASAH

Wulan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan — jatuh tepat ke dalam pelukan seseorang. Selimut lembut membungkus keduanya, dan kehangatan yang tiba-tiba menyeruak itu membuat gadis itu tersenyum puas di dalam hati, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. Kali ini, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah karena merebut tempat di sisi seseorang.

"Melemparkan dirimu ke dalam pelukanku?" Nalendra meletakkan tangannya di pinggangnya, suaranya sedikit meninggi, dan ada tanda menyempit di mata gelapnya — campuran antara geli dan penasaran.

Wulan tidak menjawab. Ia hanya berbaring di dadanya, memiringkan kepala, dan menatapnya dengan tatapan yang penuh arti, seolah berkata, "lalu mengapa tidak?" Meskipun hatinya berdebar, ia berusaha terlihat setenang mungkin.

Nalendra benar — ia tidak hanya ingin memeluknya malam ini. Ia bahkan ingin menciumnya lagi. Sayangnya, pria tampan yang kini menatapnya dengan penuh curiga itu tampak takut dengan inisiatifnya, sehingga tidak menghargainya. Melihat sikap itu, Wulan memutuskan bahwa kali ini ia yang akan mengambil alih. Bagaimanapun, ia sudah melewati terlalu banyak hal untuk bersikap malu-malu sekarang. Toh, sejak kemarin ia sudah bertekad: tidak akan ada lagi keraguan di antara mereka berdua.

Tetapi siapakah Wulan Ardani? Pengganggu kecil yang berjalan seenaknya di ibu kota, terbiasa merebut apa yang ia inginkan tanpa pernah ragu. Tak peduli ditolak atau tidak, gadis itu langsung meraih kerah baju Nalendra dan — sekali lagi — "menggigitnya" dengan berani, tanpa merasa sedikit pun bersalah. Lagipula, pria ini sudah menjadi tunangannya — bukankah itu haknya?

Jadi, ketika Waskita masuk membawa semangkuk obat pahit yang sengaja ia bawakan untuk adiknya yang baru pulih, yang ia lihat adalah adik perempuannya sedang menekan Nalendra dengan cara yang agak kasar, bahkan memaksakan ciuman pada pria itu. Wajahnya langsung kaku, dan semangkuk obat yang dibawanya nyaris terjatuh. Pemandangan yang sama sekali tidak ia duga akan ia temukan malam ini.

Kraaak—

Mangkuk obat itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, percikan cairan cokelat pekat menyembur ke segala arah.

Waskita tercengang.

Ini, ini, ini... gadis pemberani macam apa yang menjadi adiknya ini? Sejak kapan adiknya berubah menjadi pemangsa kecil yang buas? Tidak, tidak, tidak — ia pasti sedang salah melihat, atau mungkin ia belum benar-benar bangun dari tidurnya. Waskita mengusap matanya, seolah berharap pemandangan itu hilang begitu ia berkedip.

Suara di belakangnya secara alami menarik perhatian Wulan. Ia menegakkan badan sedikit dan menoleh ke arah asal suara — dan langsung bertemu dengan wajah kakaknya yang kaku seperti patung, bahkan sepasang mata cokelat muda itu dipenuhi keterkejutan yang nyaris mengerikan.

Wulan meledak. "Kakak Waskita?!"

Bukankah tadi ia sudah kusuruh istirahat? Kenapa ia justru kembali masuk di saat seperti ini, membawa semangkuk obat yang bahkan tidak ia minta?

Wulan segera berguling dari tubuh Nalendra, wajahnya memerah hingga ke pangkal telinga. Ah — sungguh salah besar. Baru saja ia berani menggoda Nalendra, dan langsung ketahuan oleh kakaknya. Padahal seumur-umur ia tidak pernah merasa semalu ini. Untungnya, Nalendra tidak terlihat sedang tersinggung — hanya pria itu yang tahu isi hatinya.

Ketika menoleh ke arah Nalendra, pria itu sama sekali tidak bereaksi. Ia berdiri dengan tenang, bahkan perlahan merapikan lipatan lengan bajunya, seolah tidak terjadi apa-apa sama sekali. Ketegaran pria itu di hadapan situasi semacam ini membuat Wulan sekaligus kagum dan kesal. Ia ingin mencubit lengannya.

Hanya...

Mata Waskita perlahan berpindah dari Wulan ke Nalendra, lalu berhenti di bibir tipis Nalendra. Ada bekas gigitan yang jelas terlihat di bibir itu — cukup untuk menunjukkan betapa "liar"nya adik kecilnya barusan. Bekas gigi itu tampak dalam, seolah Wulan tidak setengah-setengah dalam beraksi. Ia menatap lama, seolah berusaha mencerna pemandangan yang baru saja ia lihat.

Waskita sedikit tersentak. Sejak kapan adiknya menjadi begitu berani? Padahal ia yang menjaga adiknya sejak kecil — ia tidak ingat pernah mengajarkan hal seperti ini kepada Wulan. Hmm, mungkin ini waktunya ia mulai mengawasi adiknya lebih ketat.

"Kakak Waskita." Setelah berdiri dengan sopan, Wulan menatap kaki kakaknya dengan ragu, lalu menatapnya lagi. Akhirnya ia tidak tahan dan bertanya, "Apa kau tidak merasa kepanasan?" Ia berusaha mengalihkan pembicaraan dari situasi yang membuatnya malu itu. Namun pertanyaan itu tetap keluar, karena ia tidak bisa membiarkan kakaknya terluka dalam diam.

Waskita, yang masih kesulitan mengalihkan pandangannya dari Nalendra, menatapnya dengan tanda tanya. "Hah?"

"Maksudku, kakimu." Wulan menunjuk kaki kakaknya yang berdiri di genangan cairan obat.

Semangkuk obat panas tadi tumpah ke kaki itu — Wulan saja merasakan sakitnya hanya dengan melihat. Ia heran kakaknya bisa bertahan selama ini tanpa mengeluh.

"Ah?" Waskita menunduk, lalu terlambat melompat dan berteriak berulang kali. "Hiss — panas, panas!"

Karena tidak seimbang, Waskita terhuyung dan menekan rak kayu jati di belakangnya. Tabrakan lagi-lagi terjadi; vas dan porselen di rak itu berjatuhan ke lantai satu per satu, dengan pecahan yang beterbangan ke segala arah. Suara keramik pecah saling bersahutan di kamar yang tadinya hening.

Nalendra dengan cepat menarik Wulan ke dalam pelukannya, melindunginya dari pecahan porselen yang beterbangan. Lengan kuat itu mengikat pinggangnya, dan Wulan hanya sempat berkedip sebelum seluruh tubuhnya ditarik menjauh dari area bahaya. Walaupun begitu, ia tetap bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Ketika gempuran pecahan itu mereda, ia baru berani membuka mata.

Intan, yang setia menunggu di depan pintu, mendengar suara gemuruh dari dalam kamar. Ia segera mengetuk pintu dan bertanya dengan cemas, "Nona, ada apa?" Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika yang mendengar bukan kakaknya sendiri.

"Masuk!" Wulan menghindari pecahan porselen di lantai, berlari dalam tiga langkah, dan lebih dulu membantu Waskita yang masih berteriak kepanasan, lalu menoleh ke arah Intan dan memerintah, "Intan, bawa Kakak Waskita untuk mengoleskan obat dulu." Setelah memastikan Waskita bisa berdiri, ia menghela napas lega.

"Baik, Nona." Intan segera melangkah masuk dan dengan hati-hati membantu Waskita keluar dari kamar. Wulan mengikuti mereka sampai ke ambang pintu, lalu menutup pintu pelan-pelan.

Setelah semua keributan itu reda, suasana ambigu di dalam kamar tiba-tiba hilang tanpa jejak. Yang tersisa hanyalah Wulan dan Nalendra yang saling menatap — dan untuk sesaat, Wulan tidak tahu harus berkata apa. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Nalendra sudah lebih dulu berbicara pelan, "Kakakmu baik." Wulan hanya bisa mengangguk, merasa hatinya sedikit hangat. Malam ini memang tidak berjalan seperti yang ia bayangkan — tetapi entah mengapa, ia tidak keberatan.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!