NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai terbuka

Sesampainya di sekolah Ell, mobil yang dikendarai Owen berhenti tepat di depan gerbang.

Ell segera melepas sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dengan tas yang sudah bertengger di punggungnya.

"Belajar yang rajin ya, Dek," pesan Owen sambil melambaikan tangan.

"Dadah, adek bayi!" goda Lily dari balik jendela mobil.

"Heh... Kak Lily!" Ell mengembuskan napas kesal, tetapi tetap membalas lambaian tangan mereka dengan senyum lebar.

"Bye, Kak Owen! Bye, Kak Lily!"

Melihat adik bungsunya berlari masuk ke halaman sekolah dengan ceria, Owen pun kembali menjalankan mobil menuju SMA Gemilang.

Beberapa menit kemudian...

Mobil berhenti tepat di depan gerbang SMA Gemilang. Lily membuka pintu mobil sambil membawa tas sekolah dan kotak bekal yang dititipkan Jaya.

"Makasih ya, Kak, udah mau nganter Lily."

Owen tersenyum kecil. "Iya, belajar yang rajin."

Lalu pandangannya berpindah ke kotak bekal di tangan Lily. "Jangan lupa kasih bekal itu ke Wafa."

"Siap, Kak"

"Oke. Dadah"

"Dadah!"

Lily melambaikan tangan hingga mobil Owen menghilang di tikungan jalan. Barulah ia berjalan memasuki lingkungan sekolah yang mulai ramai dipenuhi siswa.

Belum sempat melangkah jauh, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

"Malik!" panggil Lily sedikit berteriak sambil melambaikan tangan.

Malik yang sedang berbincang dengan beberapa temannya langsung menoleh.

Wajahnya seketika berubah cerah.

"My honey bun..."

Kalimat itu langsung terhenti di tengah jalan. Malik teringat janjinya kepada Lily. Ia langsung menggaruk tengkuknya canggung.

"Ehehe... maksudku... Kak Lily!"

Lily tak bisa menahan senyumnya melihat perubahan itu.

"Kakak udah sembuh?" tanya Malik sambil berjalan menghampiri Lily.

Lily mengangguk pelan. "Udah, cuma masih agak capek sedikit."

"Syukurlah"

Tatapan Malik kemudian berkeliling mencari seseorang. "Lah... Wafa mana? Dia nggak sekolah kak?"

"Dia berangkat lebih dulu," Lily mengembuskan napas pelan. "Kayaknya dia masih marah sama kakak. Tadi pagi aja dia sampe bohong ke Papi, katanya ada acara di sekolah."

Malik mengangguk pelan.

"Terus Kak Lily mau ke mana?"

Lily mengangkat kotak bekal yang ada di tangannya. "Mau nganterin sarapan buat dia."

"Ya udah, aku ikut," Mereka pun berjalan berdampingan menuju kelas Wafa.

Sesampainya di depan kelas XI IPA 2, suasana kelas masih cukup sepi. Beberapa murid baru saja datang.

Di pojok belakang kelas, Wafa terlihat sedang tertidur di atas meja dengan kepala yang bertumpu pada kedua lengannya.

Malik meletakkan tasnya di samping bangku Wafa, lalu memilih duduk sambil memperhatikan.

Sementara itu, Lily mendekat perlahan. Tangannya menggoyangkan bahu Wafa dengan lembut.

"Dek... bangun"

Tak ada respons.

"Wafa..." Suara Lily terdengar semakin pelan. "Ini kakak bawain sarapan."

Wafa membuka sebelah matanya sekilas. "Taruh aja di meja," Lalu kembali memejamkan mata.

Lily tidak menyerah. Ia menarik kursi yang berada di depan Wafa, lalu duduk tepat di hadapannya.

"Kamu belum sarapan, kan?"

Wafa tetap diam.

"Ayo makan dulu"

"Gue bilang nggak mau, Ly," Suara Wafa terdengar sangat pelan. Lemah. Berbeda dari biasanya.

Lily mengernyit. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan wajah adiknya. "Kok...", tangannya perlahan menyentuh pipi Wafa. "Mata kamu sembab."

Lily semakin mendekat, "Kamu habis nangis?"

Benar saja.

Kelopak mata Wafa tampak bengkak, bahkan sedikit memerah.

"Kamu lagi ada masalah apa?, cerita sama kakak."

Wafa langsung menepis pelan tangan Lily. "Tinggalin gue sendiri."

Namun Lily hanya tersenyum tipis. Ia membuka kotak bekal yang dibawanya. Aroma nasi goreng buatan Jaya langsung memenuhi ruangan.

"Papi masak ini khusus buat kamu, makan dulu, kalau capek, nanti kakak suapin."

Kalimat sederhana itu membuat Wafa membeku. Tatapannya perlahan beralih kepada kakak perempuannya.

Sejak semalam...

Ia terus memikirkan semua perkataan Lily.

Ia baru sadar...

Betapa besar luka yang ia buat hanya karena menganggap semuanya sebagai candaan.

Bahkan semalam Rafa kembali memarahinya habis-habisan karena dianggap terlalu keterlaluan kepada Lily.

Dadanya terasa semakin sesak.

Tanpa sadar...

Air matanya kembali menggenang.

Tiba-tiba—

Bruk!

Wafa langsung memeluk Lily erat. Sangat erat. Seolah takut kakaknya akan pergi.

Lily terkejut. Namun beberapa detik kemudian ia membalas pelukan itu dengan lembut. "Lo kenapa sih, Waf?" Suara Lily terdengar penuh kekhawatiran.

Tubuh Wafa sedikit bergetar, "Wa... Wafa minta maaf...", suara itu nyaris tak terdengar.

"...Kak"

Lily langsung membeku. Perlahan matanya melebar.

"Lo..."

"Lo manggil gue apa tadi?"

Wafa menundukkan kepalanya.

"...Kak," Untuk pertama kalinya setelah kepergian mami mereka...

Wafa kembali memanggil Lily dengan sebutan "Kak". Air mata Lily langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Senyumnya mengembang begitu lebar.

"Iya..."

"Kakak maafin, mulai sekarang kita baikan, ya?"

Wafa mengangguk pelan.

"Iya"

"Nah, sekarang makan dulu, kakak suapin"

Dengan patuh, Wafa membuka mulutnya. Dari bangkunya, Malik yang menyaksikan semua itu ikut tersenyum haru.

'Akhirnya.., mereka baikan juga,' batinnya.

Sementara itu...

Di kampus. Owen baru saja selesai mengikuti kelas siang ketika ponselnya bergetar.

Ting!

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Owen mengernyit.

"Siapa, ya?" Ia membuka pesan tersebut.

Yang muncul pertama adalah dua buah foto.

Foto pertama memperlihatkan...

Jaya. Ayahnya. Sedang berdiri sangat dekat dengan seorang wanita yang tidak pernah Owen lihat sebelumnya.

Sementara foto kedua...

Jaya sedang menggendong seorang bayi dengan senyum yang begitu hangat.

Wajah Owen langsung berubah pucat. Jantungnya berdetak semakin cepat. Tangannya mulai bergetar.

"Siapa wanita ini...?"

"Dan... bayi siapa?"

Di sudut kampus yang mulai sepi, Owen masih menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika pesan dari nomor tak dikenal itu kembali masuk.

📱 Nomor Tak Dikenal 📱

Owen

- Siapa ya?

???

- Kamu anak pertamanya Jaya kan?

Owen

- Iya

???

- Aku Hana

Owen

- Hana?

- Siapa bayi yang digendong papi saya itu?

Beberapa detik kemudian, balasan kembali muncul.

Hana

- Bayi itu anak saya... dengan papimu

Deg....

Mata Owen membelalak. Tangannya yang memegang ponsel perlahan bergetar.

"Apa...?" gumamnya pelan. "Nggak mungkin...." Ia buru-buru mengetik balasan.

Owen

- Dengar ya

- Papi saya bukan orang seperti itu

Hana

- Kalau nggak percaya, coba tanya langsung ke papimu

Owen menggigit bibir bawahnya.

Owen

- Pasti kamu cuma orang iseng yang mau merusak keluarga kami

Hana

- Tunggu saja

- Sebentar lagi aku akan jadi nyonya di rumah kalian

Owen langsung mematikan layar ponselnya. Dadanya terasa sesak.

"Apa aku tanya langsung ke Papi, ya?" gumamnya pelan. Ia menggeleng pelan.

"Tapi... adik-adik jangan sampai tahu dulu. Kalau mereka baca pesan ini, mereka pasti langsung percaya."

Owen memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Tenang dulu... cari tahu semuanya pelan-pelan."

Pukul tiga sore, seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah.

Ell asyik bermain Lego, Lily membaca buku di sofa, sementara Rafa dan Wafa sibuk berdebat soal pertandingan basket di televisi.

"Pih," panggil Owen tiba-tiba.

Jaya yang sedang meminum teh menoleh.

"Iya, Kak?"

"Bisa kita ngobrol berdua sebentar?"

Jaya terlihat sedikit heran, "Ada apa?"

"Pengen ngobrol berdua aja, Pih"

"Oke," tanpa banyak bertanya lagi, Jaya berdiri lalu berjalan menuju halaman belakang rumah. Owen mengikutinya dari belakang.

Begitu suasana sudah cukup sepi, Owen langsung membuka pembicaraan.

"Papi..."

"Hm?"

"Papi punya pacar?"

Jaya spontan menoleh dengan ekspresi bingung. "Loh, kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

Owen menggaruk tengkuknya pelan.

"Enggak, Pih, Papi kan udah lima tahun lebih jadi duda."

Jaya tersenyum kecil. "Kakak khawatir Papi punya pacar?"

Owen hanya diam. Jaya menepuk pelan bahu putra sulungnya. "Tenang aja, Papi bakal tetap setia sama mami kalian."

Mendengar jawaban itu, Owen mengembuskan napas lega.

'Aku bilang juga apa... pasti perempuan itu cuma mau merusak keluarga kita', Senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya.

Melihat Owen tersenyum, kini giliran Jaya yang balik menggoda.

"Jangan-jangan..."

"Kakak yang punya pacar?"

Owen langsung menggeleng cepat.

"Enggak, Pih, kaka cuma kepo aja", "Mamanya temen kakak kemarin nikah lagi."

"Oh jadi itu yang bikin kakak kepikiran?" 

Jaya terkekeh pelan.

"Kakak takut Papi nikah lagi?"

"Nggak kok," elak Owen. "Kalau seumpama Papi memang mau nikah lagi... kakak nggak masalah."

"Yakin?" Jaya mengangkat sebelah alisnya.

Owen mengangguk mantap.

"Yakin"

Jaya tersenyum, "Tenang aja, Papi orangnya setia. Udah, jangan mikirin yang aneh-aneh."

"Fokus kuliah dulu"

"Iya, Pih," Owen mengangguk sambil tersenyum malu. Namun jauh di dalam hatinya...

Rasa penasaran itu justru semakin besar.

'Apa benar aku harus percaya gitu aja...?'

Beberapa detik kemudian, Owen kembali memanggil ayahnya.

"Pih"

"Hm?"

"Tadi ada nomor nggak dikenal yang nge-chat kakak"

Jaya menoleh, "Terus?"

"Dia ngirim dua foto."

Owen mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkannya kepada Jaya. Begitu melihat kedua foto itu...

Raut wajah Jaya berubah seketika. Meski hanya sesaat, perubahan ekspresi itu tidak luput dari perhatian Owen.

'Hana..., dasar jal*ng, berani-beraninya dia menghubungi Owen', batin Jaya.

Namun secepat mungkin Jaya kembali memasang wajah tenang. "Paling orang iseng, sekarang teknologi makin canggih, foto kayak gini gampang diedit."

"Udah, jangan digubris kak," Jaya mengembalikan ponsel itu kepada Owen sambil tersenyum santai.

"Iya juga sih, Kakak juga sempat mikir begitu," Owen akhirnya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Tak lama kemudian, Jaya berpamitan masuk ke dalam rumah.

Namun diam-diam...

Ia membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.

📱 Hana 📱

Jaya

- Hana

- Kenapa lo malah menghubungi anak gue?

Hana

- Itu cuma peringatan buat kamu, Mas

- Siapa suruh kamu nggak pernah datang lagi ke sini?

Jaya mengembuskan napas panjang.

- Gue sibuk

- Gue juga punya anak-anak yang harus gue urus

Hana

- Tapi Baby J juga anak kamu, Mas

- Aku nggak mau tahu

- Pokoknya malam ini kamu harus nginep di sini

- Kalau nggak...

Jaya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Beberapa saat ia terdiam sebelum akhirnya mengetik balasan.

- Iya

- Gue nanti ke sana

- Tapi ingat

- Jangan pernah hubungi anak-anak gue lagi

Hana membalas singkat.

- Iya, Mas.

Jaya mematikan layar ponselnya. Tatapannya kosong mengarah ke halaman belakang rumah. Rahasia yang selama lima tahun ia simpan rapat...

Kini perlahan mulai menemukan celah untuk terbongkar. Dan ia tahu, cepat atau lambat, anak-anaknya akan mengetahui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Tak lama kemudian, Owen dan Jaya kembali memasuki ruang tengah. Semua anak masih berkumpul di sana. Jaya berdeham pelan untuk menarik perhatian.

"Anak-anak," Semua langsung menoleh ke arahnya. "Nanti malam Papi ada pekerjaan ke luar kota, kemungkinan baru bisa pulang besok siang."

Raut wajah Ell langsung berubah kecewa.

"Yah... kenapa mendadak banget sih, Pih?" rengeknya.

Jaya tersenyum tipis lalu mengusap kepala putra bungsunya. "Maaf ya, Sayang. Ini memang pekerjaan yang nggak bisa ditunda."

"Yang lama juga nggak apa-apa, Pih," sahut Wafa santai sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

Jaya langsung melirik tajam.

"Wafa!"

"Hehe... bercanda, Pih."

Semua yang berada di ruang tengah tertawa kecil melihat ekspresi Wafa yang langsung berubah.

Jaya kemudian menoleh kepada putra sulungnya.

"Kak Owen"

"Iya, Pih"

"Papi titip adik-adiknya, ya, nanti uang belanja sama kebutuhan rumah Papi transfer ke rekening kakak."

Owen mengangguk mantap.

"Iya, Pih"

Belum sempat pembicaraan berlanjut, Rafa tiba-tiba menyela. "Sekalian transfer satu miliar aja, Pih."

Wafa langsung menoleh sambil memasang wajah jijik. "Nggak ngotak lu, Bang."

Rafa hanya tertawa. Jaya menggeleng pelan sambil menahan senyum.

"Satu miliar?"

"Boleh, tapi sini, Papi jual kalian dulu ke Kamboja."

Mata Rafa dan Wafa langsung membulat. Mereka serempak mengangkat kedua tangan.

"Nggak dulu, Pih!" Jawaban kompak itu membuat seluruh penghuni rumah tertawa terbahak-bahak.

Suasana yang sempat tegang beberapa hari terakhir akhirnya kembali hangat. Setelah tawanya mereda, Rafa kembali membuka suara.

"Pih"

"Hm?"

"Nanti malam temen Abang mau nginep di sini. Boleh, kan?"

"Boleh"

Lily yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut bertanya. "Kak Javin, Bang?"

Rafa mengangguk santai. "Ya mau siapa lagi? Temen Abang kan cuma satu si Japin."

Lily langsung mengembuskan napas panjang. "Males banget..." Gumamannya memang pelan.

Namun tetap saja terdengar jelas oleh Jaya. Senyum tipis di wajahnya langsung menghilang.

"Papi kasih peringatan buat kalian," semua langsung menoleh. "Kalau ada yang berani gangguin Lily lagi..."

Jaya sengaja menggantungkan kalimatnya beberapa detik.

"...Papi hukum lari keliling kompleks."

Wafa menghela napas lega.

"Syukurlah..."

Belum sempat ia selesai bicara, Jaya melanjutkan kalimatnya.

"...telanj*ng"

"HAH?!"

Rafa dan Wafa spontan berdiri dari duduk mereka.

"Wah, jangan, Pih!"

"Nggak berani lagi!"

Rafa langsung menggeleng sekuat tenaga.

"Iya, Pih. Kapok"

Melihat kakak keduanya panik, Wafa justru kembali usil. "Kalau gitu... kita gangguin adek aja, yok, Bang." Ia menunjuk Ell sambil tertawa jahil.

Ell langsung memeluk lengan Lily. "Pih..."

Jaya menyipitkan mata. "Berani ganggu anak bontot Papi..."

"...kalian berdua Papi buang ke laut."

Wafa langsung memasang wajah kesal.

"Ih... pilih kasih banget."

Jaya terkekeh pelan, "Namanya juga anak bontot."

Ell langsung tersenyum bangga, "Tuh, kan, adek memang kesayangan Papi."

"Padahal yang paling disayang tetap Kak Lily," celetuk Wafa.

Lily hanya memutar bola matanya malas.

"Kalian ini, ada-ada aja"

Suasana rumah kembali dipenuhi tawa. Jaya memandang satu per satu wajah anak-anaknya. Tatapannya sedikit lebih lama berhenti pada Lily. Lalu beralih kepada Owen. 

Di dalam hatinya muncul rasa bersalah yang semakin besar. Rahasia yang ia simpan selama lima tahun...

Kini mulai mengancam kebahagiaan keluarganya.

Jaya menarik napas panjang.

"Ya udah, Papi siap-siap dulu," Ia berbalik dan mulai menaiki tangga menuju kamarnya. Owen memandangi punggung sang ayah hingga menghilang di lantai atas. Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar.

'Semoga... semua yang Papi bilang tadi memang benar, karena kalau ternyata wanita itu tidak berbohong, aku nggak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya'

Tanpa disadari, Owen mengepalkan tangannya erat, sementara rasa gelisah di dadanya kembali muncul. Rahasia yang baru saja hampir ia lupakan, kini terus menghantui pikirannya.

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!