NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Dan sesuatu yang sudah ia buang sendiri, ternyata tidak bisa dibeli kembali dengan uang, air mata, atau penyesalan.

Di dunia lain, penyesalan tidak punya harga.

Yang punya harga adalah beras, peluru, obat, dan Kristal.

Planet Biru menyambut Arka dengan udara dingin yang menusuk pipi. Ketika kesadarannya terbuka di ruang pribadinya di Markas Masa Depan, suara pertama yang ia dengar adalah langkah teratur dari halaman bawah.

Latihan pagi.

Elang berdiri di atas bekas balkon ruko, mengawasi sepuluh kelompok kecil bergerak melewati barikade ban dan papan besi. Merah berada di sisi kiri, mengomel sambil memperbaiki posisi dua anggota yang memegang tombak terlalu tinggi. Shadow hilang dari pandangan, lalu muncul kembali di belakang seorang anggota muda hanya untuk mengetuk bahunya.

"Kalau musuh bisa lihat punggungmu, berarti kau sudah mati," kata Shadow pendek.

Anggota itu langsung menegakkan badan.

Di dekat meja peta, Kirana menunggu Arka dengan wajah serius. Di depannya terbentang gambar kasar kawasan pusat kota. Sebuah nama dilingkari merah.

Jalan Komersial Megah.

"Jumlahnya terlalu banyak," kata Kirana begitu Arka mendekat. "Koneksi Mental-ku menangkap kerumunan besar di jalan utama dan tiga mal kecil."

Merah yang baru naik dari halaman mendecak. "Kalau cuma dengar dari ceritamu, kedengarannya seperti sarang semut raksasa."

"Lebih buruk," jawab Kirana. "Ada beberapa titik padat. Seolah ada sesuatu yang menarik mereka."

Elang meletakkan tabung peluru di meja. Di sampingnya, sebuah Barrett .50 Cal terbungkus kain hitam. Senjata itu mereka temukan dua hari lalu di ruang keamanan gedung konsulat lama, masih bisa digunakan setelah Elang membongkar dan membersihkannya semalaman.

"Dari jarak jauh, saya bisa pecah titik padat pertama," kata Elang. "Tapi peluru terbatas. Tidak boleh dipakai untuk pamer."

"Tidak ada yang pamer di sini," kata Arka.

Merah mengangkat tangan. "Aku kadang pamer sedikit. Demi moral pasukan."

Shadow meliriknya. "Moral atau ego?"

"Dua-duanya penting."

Beberapa anggota di sekitar meja tertawa kecil. Tawa itu cepat hilang ketika Arka menyentuh peta.

"Kita masuk seperti pedagang," katanya. "Ambil barang yang paling berharga dulu, lalu keluar sebelum biaya jadi terlalu mahal."

Semua mata tertuju kepadanya.

Arka membagi tugas dengan cepat. Elang mengambil titik tinggi, Shadow menarik perhatian dari sisi samping, Merah menahan jalur tengah, dan Kirana memberi peringatan dari belakang.

Arka sendiri mengambil garis depan terakhir.

"Target kita Kristal dan semua orang pulang hidup," lanjutnya. "Kalau ada anggota yang panik, mundur. Kalau ada jalur tertutup, lapor. Tidak ada yang jadi pahlawan bodoh."

"Siap, Bang Arka," jawab Elang.

Shadow hanya mengangguk.

Merah menyeringai. "Akhirnya, kita berburu besar."

Dua jam kemudian, lima puluh orang bergerak meninggalkan Markas Masa Depan.

Angka itu sendiri sudah menjadi kemenangan. Beberapa hari lalu, Arka hanya punya tiga puluh tujuh orang yang masih belajar berdiri tanpa takut. Kini, setelah kabar tentang makanan stabil dan aturan pembagian Kristal menyebar, belasan penyintas baru bergabung. Mereka belum kuat, tetapi mereka punya mata yang mulai percaya.

Jalan Komersial Megah terlihat kosong dari jauh, tetapi gerakan zombi memenuhi jalan utama begitu mereka mendekat.

Jumlahnya saja sudah cukup membuat anggota baru menelan ludah.

"Kirana," kata Arka lewat radio kecil.

Suara Kirana masuk beberapa detik kemudian. "Ada celah di belakang bus merah. Shadow bisa masuk dari sana."

"Shadow."

"Masuk," jawab Shadow.

Di jalan bawah, Shadow muncul sebentar, menarik perhatian, lalu hilang sebelum kawanan sempat mengurungnya.

Elang menempelkan pipi ke popor Barrett.

Satu tarikan napas.

Satu tembakan.

DOR!

Suara itu bergema sampai kaca-kaca pecah halus di gedung seberang. Titik padat paling depan goyah, lalu arah gerakan kawanan pecah. Celah kecil terbuka di tengah jalan.

"Jalur tengah terbuka," kata Elang.

"Merah."

"Sudah gatal dari tadi."

Merah maju bersama dua anggota api. Mereka membuat pagar panas rendah agar arus zombi tidak pecah ke samping.

Arka memperhatikan dari atas kap mobil tua.

Mereka mulai bergerak seperti pasukan.

Kirana menekan pelipisnya di pos belakang. Zahra berada di sampingnya, menyiapkan air hangat dan obat sederhana. Setiap kali Kirana memberi laporan posisi, Elang mengubah target, Shadow mengubah jalur, Merah menutup celah.

Dalam satu jam pertama, kemenangan mereka datang pelan dan rapi.

Tidak ada anggota hilang. Dua orang hanya jatuh karena terpeleset dan langsung ditarik keluar. Kristal tingkat satu mulai terkumpul dalam kotak besi. Anggota yang dulu berebut makanan sekarang menunggu giliran mencatat kontribusi.

Lalu titik padat kedua pecah dari dalam mal kecil di selatan.

Kirana mengangkat kepala tiba-tiba. "Bang Arka, ada arus besar keluar. Mereka tidak ikut jalur. Terlalu banyak."

Radio dipenuhi suara napas tertahan.

Merah mengumpat pendek. "Kalau mereka keluar semua, pagar api gak cukup."

Elang menghitung sisa peluru. "Saya bisa tahan tiga titik. Setelah itu tidak efektif."

Shadow muncul di atap bus, wajahnya tertutup debu tipis. "Aku bisa tarik sebagian, tapi bukan sebanyak itu."

Arka turun dari kap mobil.

"Semua tim mundur dua puluh meter. Jangan panik."

"Bang Arka?" suara Kirana terdengar tegang.

"Aku buka jalan."

Ia berjalan ke depan sendirian.

Para anggota yang melihatnya otomatis memberi ruang. Beberapa wajah baru tampak ragu, seolah ingin bertanya apakah pemimpin mereka sedang terlalu percaya diri. Tetapi Shadow tidak bergerak menghentikan. Merah justru menurunkan tangannya. Elang mengalihkan laras Barrett untuk menjaga sisi kiri.

Mereka sudah pernah melihat satu garis tak terlihat dari Arka.

Hari ini, mereka akan melihat lebih dari itu.

Arka mengangkat tangan.

Dingin Planet Biru mengalir di kulitnya. Kristal yang ia konsumsi selama beberapa hari terakhir membuat tubuhnya terasa lebih ringan, tetapi pusat kekuatannya sudah melewati otot. Di balik pikirannya, ruang tak terlihat yang dulu hanya bisa menampung barang kini terasa lebih luas dan patuh.

Jangkauan Bilah Dimensi melebar sampai lima puluh meter.

Garis pertama muncul di udara. Lalu yang kedua. Ketiga. Keempat.

Tanpa ledakan atau teriakan panjang, jalan di depan Arka mendadak terbelah oleh garis-garis bersih. Tiang rambu patah miring. Bagian atas gerbang mal terpotong rapi dan jatuh menutup separuh arus. Kawanan yang keluar tersendat, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang bisa ditangani tim.

"Sekarang," kata Arka.

Elang menembak titik komando jalur kiri.

Shadow melesat seperti kilat gelap, menarik kelompok kecil ke gang samping.

Merah tertawa keras saat tekanan akhirnya pecah. "Nah! Begini baru enak!"

Api menyala sebagai garis pemisah. Tim tombak menahan, tim pengumpul masuk setelah area aman. Ritme mereka makin stabil.

Di mata anggota baru, Arka berubah dari orang yang membawa makanan menjadi pemimpin yang bisa menentukan arah perang.

Ia adalah orang yang bisa mengubah arah medan.

Menjelang sore, Jalan Komersial Megah tidak sepenuhnya bersih. Arka tidak mengejar sempurna. Ia menghentikan operasi ketika keuntungan mulai turun dan kelelahan tim mulai naik.

"Cukup," katanya lewat radio. "Kita pulang hidup. Jangan pulang membawa kesombongan."

Hasilnya tetap membuat halaman Markas Masa Depan hening selama beberapa detik.

Dua kotak besi berisi Kristal tingkat satu; satu penuh, satu lagi terisi setengah.

Ada puluhan Kristal tingkat dua, dan dua Kristal tingkat tiga yang membuat banyak orang menelan ludah. Semuanya diletakkan di atas meja panjang, terbuka untuk dilihat semua orang.

Arka berdiri di depan semua orang.

"Aturan tetap sama. Kontribusi dicatat. Tim yang mengambil risiko mendapat bagian. Core team mendapat prioritas upgrade karena mereka melindungi seluruh markas. Yang sakit mendapat obat lebih dulu. Yang berjaga malam mendapat makanan tambahan. Tidak ada yang mengambil diam-diam."

Ia mengambil satu Kristal tingkat dua, lalu menyerahkannya kepada anggota muda yang tadi hampir jatuh tetapi tetap menarik temannya keluar.

"Keberanian yang menyelamatkan orang lain dihitung."

Mata anggota itu membesar. "Untuk saya, Bang?"

"Gunakan dengan benar."

Bisik-bisik kagum menyebar.

Shadow mendapat bagian untuk menstabilkan tingkat tiga. Merah dan Elang masing-masing menerima Kristal yang mereka butuhkan untuk mendorong tubuh mereka mendekati batas baru. Kirana mendapatkan Kristal khusus yang efeknya lebih halus, cocok untuk memperkuat Koneksi Mental tanpa membuatnya pingsan karena beban terlalu besar.

Kirana memegang Kristal itu dengan hati-hati. "Kamu yakin? Kemampuanku tidak terlihat sekuat mereka."

Arka menatap peta di meja. "Tanpa kamu, hari ini kita masuk buta. Orang yang membuat pasukan tidak buta sama pentingnya dengan orang yang berdiri di depan."

Kirana menunduk sedikit, menerima kepercayaan itu dengan wajah serius.

Malam turun ketika Markas Masa Depan menyalakan lampu darurat di halaman. Orang-orang makan bersama, lebih tenang daripada malam-malam sebelumnya. Di atas gedung seberang, jauh dari cahaya markas, seorang pria memperhatikan mereka sejak operasi di Jalan Megah dimulai.

Namanya Galang Prasetyo.

Ia datang dari arah Markas Bahari untuk menilai kabar tentang kelompok kecil yang tiba-tiba tumbuh cepat. Awalnya ia mengira semua itu hanya cerita lapar yang dibesar-besarkan.

Lalu ia melihat Arka membuka lima puluh meter ruang dengan satu gerakan tangan.

Galang berdiri di tepi atap. Udara di sekeliling tubuhnya bergetar tipis. Satu langkah, dan jaraknya berpindah dua meter tanpa jejak kaki.

Kekuatan Dimensi (Teleportasi).

Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Jadi aku tidak sendirian," gumam Galang.

Di bawah sana, Arka tiba-tiba mengangkat kepala.

Dalam gelap, ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka.

Dan kemampuan orang itu... ternyata juga ruang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!