Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Di Balik Kesederhanaan
Hujan deras mengguyur kota Jakarta sore itu. Angin kencang membawa butiran air yang menembus celah jaket tipis yang dipakai Larasati. Ia berdiri sendirian di halte bus yang mulai sepi, memeluk tas kerja erat-erat agar berkas-berkas penting di dalamnya tidak basah. Gajinya yang pas-pasan harus cukup untuk menyewa kamar kos kecil, membayar tagihan listrik, dan membiayai pengobatan ibunya yang sedang sakit di kampung. Setiap rupiah yang ia miliki sudah terhitung dengan cermat, tidak ada sisa untuk kemewahan sedikitpun.
Saat ia mulai merapatkan tubuhnya karena kedinginan, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. Pengendaranya mengenakan jaket kerja yang sudah agak pudar, sarung tangan yang bagian ujungnya sudah menipis, dan helm yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Namun saat ia melepas kaca helmnya, senyum yang ia berikan begitu tulus dan menenangkan, seolah mampu menghangatkan suasana yang dingin itu.
"Mbak mau ke mana? Kalau searah, saya antar saja. Hujannya makin lebat, takutnya Mbak sakit nanti," ucap pria itu dengan suara yang rendah namun ramah.
Larasati ragu sejenak. Ia sering mendengar berita buruk tentang orang asing yang menawarkan bantuan, namun sorot mata pria itu terasa begitu jujur, tidak ada niat jahat yang tersembunyi di sana. "Saya ke arah Tebet, Mas. Tapi saya tidak punya uang bayarannya..."
Pria itu tertawa pelan, tawa yang terdengar begitu bersih. "Tidak perlu bayaran. Nama saya Agung. Ayo naik, nanti berkas-berkasnya rusak kalau kehujanan."
Dengan ragu yang masih tersisa, Larasati akhirnya naik ke belakang motor Agung. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara, namun Larasati merasa sangat aman. Agung mengendarai motornya dengan hati-hati, tidak pernah melaju kencang, dan sesekali bertanya apakah ia sudah kedinginan atau belum. Saat mengantarnya sampai depan kamar kos, Agung bahkan menawarkan payungnya dan berjanji untuk mengambilnya besok saat lewat.
Sejak hari itu, pertemuan mereka menjadi lebih sering. Agung selalu tampak sederhana: pakaian yang selalu bersih namun bukan barang bermerek, sepeda motor tua yang sering mogok di tengah jalan, dan tempat tinggalnya yang berupa kamar kos kecil persis di sebelah tempat tinggal Larasati. Ia sering membantu Larasati mengangkat barang berat, menemaninya berobat ke rumah sakit saat ibunya datang berkunjung ke Jakarta, bahkan sering membagi bekal makan siangnya yang sederhana saat Larasati belum sempat membeli makanan karena terlalu sibuk bekerja.
Teman-teman dan kerabat Larasati sering memperingatkannya. "Lar, kamu yakin menjalin hubungan sama Agung? Dia kan tidak punya apa-apa, kerjanya juga tidak pasti. Kamu sudah cukup susah bekerja keras sendiri, jangan tambah bebanmu nanti." Atau perkataan yang lebih menyakitkan dari kerabat jauh: "Kamu cantik, sopan, dan pekerja keras. Harusnya kamu cari pria yang mapan, yang bisa mensejahterakanmu. Jangan buang waktumu pada orang yang tidak jelas masa depannya."
Setiap mendengar perkataan itu, hati Larasati terasa perih sekali. Namun setiap kali ia menatap Agung yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah membalas dengan kemarahan, yang selalu berusaha menenangkannya dengan pelukan hangat dan kata-kata penyemangat, ia tahu bahwa ia tidak salah memilih. "Saya tidak butuh orang kaya," katanya dalam hati sambil memandangi wajah Agung yang sedang tertidur pulas di sampingnya. "Saya hanya butuh orang yang tulus mencintai saya, yang menghargai saya apa adanya, dan tidak akan pernah meninggalkan saya saat susah maupun senang."
Setahun setelah berkenalan, mereka memutuskan untuk menikah. Acaranya sangat sederhana, hanya dihadiri kerabat dekat dan beberapa sahabat terpercaya. Agung hanya mampu memberikan cincin perak sederhana yang ia beli dari hasil menabung berbulan-bulan, namun janji yang ia ucapkan saat akad nikah membuat air mata Larasati jatuh membasahi pipi. "Saya mungkin belum bisa memberimu kemewahan duniawi, Lar. Saya mungkin belum bisa membelikanmu pakaian mahal atau rumah yang megah. Tapi saya berjanji di hadapan Tuhan dan semua orang yang hadir, saya akan berusaha sekuat tenaga agar kamu tidak pernah merasakan kesepian, tidak pernah merasa terabaikan, dan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Seumur hidup saya hanya untukmu."
Bulan-bulan pertama pernikahan mereka penuh perjuangan. Gaji Agung yang tidak menentu seringkali hanya cukup untuk makan seadanya. Larasati terpaksa harus bekerja lembur setiap hari, bahkan mengambil pekerjaan tambahan sebagai penulis artikel lepas di malam hari agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Namun di sela-sela kesulitan itu, ada kehangatan yang tak tergantikan. Agung selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sederhana, memijat bahu Larasati yang terasa pegal setelah bekerja seharian, dan selalu memeluknya erat sebelum mereka tidur.
Seringkali Agung meminta maaf dengan wajah tertunduk, "Maafkan aku yang belum bisa memberimu kehidupan yang layak, Lar. Maafkan aku yang masih membuatmu susah."
Larasati akan segera mengangkat wajah suaminya, menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Jangan bicara begitu, Agung. Kita bangun bersama, pelan-pelan. Yang paling penting kita saling memiliki dan saling menyayangi. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Namun lama-kelamaan, bayang-bayang keraguan mulai muncul di hati Larasati. Kadang ia melihat Agung menerima telepon yang berusaha ia sembunyikan, berbicara dengan nada rendah seolah sedang berdebat dengan seseorang. Kadang pula ia pulang dengan wajah pucat dan terlihat sangat lelah setelah bertemu dengan orang-orang yang berpakaian sangat rapi dan mewah. Setiap kali ditanya, Agung hanya menjawab itu hanya urusan pekerjaan biasa, namun Larasati merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Ia berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh, takut jika ia mengetahui sesuatu yang akan merusak kebahagiaan kecil yang sudah mereka bangun dengan susah payah.
Sampai suatu hari, saat ia pulang lebih awal dari kantor karena tugasnya sudah selesai lebih cepat, ia melihat sebuah mobil sedan hitam besar yang sangat mewah berhenti tepat di depan rumah kos mereka. Seorang pria tua yang berpakaian sangat rapi dan berwibawa berdiri di depan pintu, sedang berbicara dengan Agung dengan nada yang sangat tegas dan penuh wibawa.
"Kamu sudah cukup lama bermain peran menjadi orang biasa, Nak. Waktunya kamu kembali ke tempat yang seharusnya. Perusahaan keluarga tidak bisa menunggu kamu terus-menerus. Seluruh nasib ribuan karyawan bergantung pada keputusanmu," suara pria itu terdengar sangat jelas hingga sampai ke telinga Larasati yang masih berdiri terpaku di kejauhan.
Agung menunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Namun saat ia perlahan menoleh ke arah pintu, matanya langsung bertemu dengan mata Larasati yang terbelalak kaget dan penuh tanya. Dunia seakan berhenti berputar saat itu. Semua hal yang selama ini terasa janggal, semua rahasia yang disembunyikan suaminya, seakan mulai terkuak perlahan.