NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Sepuluh Tahun

"Yang kuinginkan hanya kamu. Selalu."

Darren mengatakan kalimat itu dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan selama empat tahun, tetapi Naomi tidak menjawab.

Ia hanya menatap Darren lama, seolah ingin mencari kebohongan di wajahnya. Lalu Tiffany menarik pelan lengan Naomi dari belakang, pintu kaca Maison de Belle tertutup, dan bayangan Naomi menghilang di balik tirai putih.

Darren tetap berdiri di bawah gerimis sampai Billy membuka payung di atas kepalanya.

"Bos," ujar Billy hati-hati, "kalau berdiri lebih lama, besok Bos bisa masuk berita dengan judul CEO Wijaya Group ditolak di depan toko gaun."

Darren meliriknya.

Billy langsung menunduk. "Saya diam."

Darren masuk ke mobil tanpa menjawab. Jasnya basah di bagian bahu, tetapi ia tidak peduli. Di layar ponselnya, pesan dari Jason Oei sudah menumpuk.

Jas: Lo beneran bikin drama di boutique?

Jas: Video pendeknya sudah masuk grup.

Jas: Bro, kalau mau mengejar mantan, bisa nggak jangan seperti adegan sinetron jam delapan?

Darren mengetik satu balasan.

Darren: Dia bukan mantan.

Jason menelepon tiga detik kemudian.

Darren mengangkat dengan malas. "Apa?"

"Bukan mantan, terus apa? Koleksi museum?" Suara Jason terdengar keras dari speaker. "Dar, lo sadar nggak satu Kota Megah sekarang bakal tahu lo mengusir Vanessa di depan toko Naomi?"

"Bagus."

"Bagus kepala lo. Vanessa Shen itu bukan orang biasa."

"Aku juga bukan orang biasa."

Jason terdiam dua detik. "Benar juga. Tapi tetap, lo gila."

Darren menyandarkan kepala ke jok. Di luar kaca, lampu boutique masih menyala. Siluet Naomi bergerak di dalam, samar di balik tirai. Ia tidak memperbesar gambar, tidak meminta orang masuk, tidak memaksa pintu terbuka. Ia hanya memastikan lampu masih menyala dan pengawal di seberang jalan tetap berjaga.

"Aku sudah gila sejak SMA," kata Darren pelan.

Jason mendengus. "Nah, akhirnya ngaku."

Darren menutup mata.

Sepuluh tahun lalu, Naomi Liem duduk di bangku perpustakaan SMA dengan seragam putih abu-abu yang terlalu rapi dan rambut hitam diikat pita sederhana. Ia bukan siswi paling ramai. Bukan juga tipe yang mencari perhatian. Justru karena itulah Darren pertama kali memperhatikannya.

Hari itu hujan, dan beberapa siswa kaya dari kelas sebelah menertawakan sepatu Naomi yang basah. Salah satu dari mereka menendang tas kainnya sampai buku-buku jatuh ke lantai.

Naomi tidak menangis. Ia hanya berjongkok, memungut buku satu per satu, lalu berkata dengan suara tenang, "Kalau kalian sudah selesai mempermalukan diri sendiri, boleh minggir? Aku mau belajar."

Darren, yang semula tidur di sofa pojok perpustakaan, membuka satu mata.

Sejak saat itu, ia tahu gadis itu berbeda.

Ia tidak langsung mendekat. Darren muda punya terlalu banyak kesombongan dan terlalu sedikit keberanian. Ia hanya melakukan hal-hal bodoh dari jauh. Membayar diam-diam buku pelajaran Naomi yang hilang. Menaruh payung baru di rak kelasnya saat hujan. Membuat anak-anak yang mengganggunya dipanggil kepala sekolah karena rekaman CCTV tiba-tiba sampai ke meja guru BK.

Jason, yang sudah mengenalnya sejak remaja, menjadi saksi semua kegilaan itu.

"Lo ingat nggak dulu lo hampir berantem sama anak basket cuma karena dia sengaja nyenggol Naomi?" tanya Jason di telepon, seolah membaca ingatannya.

"Dia memang pantas dipukul."

"Dia cuma nyenggol."

"Sengaja."

"Dan setelah itu lo pura-pura lewat kantin supaya Naomi lihat luka di bibir lo."

Darren membuka mata. "Aku tidak pura-pura."

"Lo muter tiga kali di depan meja dia."

Darren diam.

Jason tertawa puas. "Cinta pertama lo memang memalukan."

Darren tidak marah. Matanya tertuju pada layar ponsel yang kini menampilkan album tersembunyi. Ribuan foto ada di sana, tertata menurut tahun. Beberapa buram, beberapa diambil dari acara sekolah, beberapa dari berita kecil saat Maison de Belle mulai menang lomba desain lokal, beberapa dari unggahan publik klien yang memakai gaun rancangan Naomi.

Tidak ada foto yang ia ambil dari ruang pribadi. Tidak ada yang melanggar pintu hidup Naomi. Namun tetap saja, melihat jumlahnya membuat Jason dulu pernah menatapnya seperti melihat pasien rumah sakit jiwa.

"Lo masih simpan album itu?" tanya Jason.

Darren mengusap layar dengan ibu jari. Foto yang terbuka adalah Naomi di hari pembukaan Maison de Belle. Ia berdiri di depan toko kecil dengan balon putih, mata lelah, senyum tipis, dan kalung kecil di lehernya.

"Masih."

"Dar."

"Aku tidak pernah punya cara lain untuk tahu dia masih hidup baik-baik saja."

Kali ini Jason tidak langsung bercanda.

Empat tahun lalu, saat Naomi hilang dari hidupnya, Darren mencari seperti orang kehilangan napas. Nomornya tidak aktif. Apartemennya kosong. Teman-teman lamanya tidak tahu. Semua jejak terputus dengan rapi, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Ia terlambat menyadari ada tangan lain yang bermain.

Ketika akhirnya ia menemukan kabar tentang seorang perempuan tanpa identitas jelas yang diselamatkan dari sungai pada malam hujan, tubuh Darren hampir berhenti berfungsi. Ia tidak bisa memastikan itu Naomi. Tidak ada nama. Tidak ada foto. Namun sejak hari itu, rasa takut tinggal di tulangnya.

Tiga tahun lalu, ketakutan itu hampir membunuhnya.

Darren menatap bekas luka panjang di lengan kirinya yang tersembunyi di balik kemeja. Luka itu bukan sesuatu yang ia banggakan. Itu bukti bahwa ia pernah jatuh ke tempat paling gelap dan hampir tidak kembali.

"Kali ini jangan ulangi kesalahan yang sama," ujar Jason, suaranya lebih rendah.

Darren tersenyum hambar. "Menurutmu aku sedang apa?"

"Menurut gue? Lo sedang mengejar perempuan yang punya alasan sangat kuat untuk menendang lo keluar dari hidupnya."

"Aku tahu."

"Jadi pelan-pelan."

Darren melihat pintu boutique terbuka. Tiffany keluar sebentar untuk mengunci pagar tambahan, lalu menunjuk mobil Darren dengan dua jari ke arah matanya sendiri, isyarat aku mengawasimu. Darren hampir tertawa.

"Aku sedang mencoba," katanya.

"Mencoba? Dengan bunga, bubur, payung, dan drama calon istri?"

"Itu versi pelan-pelan."

Jason menghela napas panjang. "Gue takut lihat versi cepat lo."

Darren mematikan telepon setelah Jason mengomel beberapa kalimat lagi. Mobil tetap diam di seberang jalan sampai lampu boutique padam. Beberapa menit kemudian, Naomi keluar bersama Tiffany. Tiffany menggandengnya rapat, seolah Darren bisa menculik Naomi hanya dengan tatapan.

Darren tidak turun.

Ia menunggu sampai mobil Naomi bergerak lebih dulu, lalu memberi isyarat pada pengawal untuk mengikuti dari jarak aman.

Billy menoleh dari kursi depan. "Bos tidak pulang?"

"Ke kantor."

"Sudah hampir tengah malam."

"Aku tahu."

Darren membuka tablet. Di layar, tampilan kamera keamanan dari gedung seberang boutique menunjukkan jalan yang mulai kosong. Ia menyuruh tim legal menyewa akses keamanan gedung itu sejak Maison de Belle menerima ancaman kecil dari penggemar Vanessa beberapa jam lalu. Resmi, bersih, dan hanya untuk area publik.

Tetap saja, ia menatap layar itu dengan dada yang tidak tenang.

Naomi sudah pulang. Jalan di depan boutique kosong. Pintu terkunci.

Aman.

Kata itu seharusnya cukup.

Namun bagi Darren, tidak ada yang pernah cukup sejak malam ia kehilangan Naomi.

Ia menyentuh layar ponselnya, membuka foto lama Naomi yang tersenyum di perpustakaan SMA, lalu berbisik pada kabin mobil yang sunyi.

"Sepuluh tahun, Nao... aku tidak pernah berhenti."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!