Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Pelukan Pertama
"Siapa," kata Rayhan pelan, satu per satu, "yang berani menyentuhmu?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Brandon Lie masih menempel pada dinding lorong dengan pergelangan tangan terkunci di genggaman Rayhan. Wajahnya memerah, entah karena alkohol, malu, atau marah karena untuk pertama kalinya malam itu ada orang yang tidak mundur saat ia menatap.
"Lepas," geram Brandon. "Kamu tahu siapa aku?"
Rayhan menekan pergelangan Brandon sedikit lebih rendah. Brandon meringis.
"Aku tahu." Suara Rayhan datar. "Brandon Lie. Dua puluh enam tahun. Tiga kali dilaporkan karena kekerasan di klub malam, semua laporan ditarik sebelum BAP."
Lorong yang tadi ramai mendadak semakin diam.
Cici menutup mulut. Dimas menelan ludah. Galih, yang tadi hendak maju, berhenti ketika melihat kartu identitas dinas di dada Rayhan.
"AKP Rayhan Tan," ucap Rayhan tanpa mengalihkan pandangan dari Brandon. "Sekarang jawab. Tanganmu tadi di mana?"
Brandon tertawa pendek, tapi suaranya goyah. "Dia yang menggoda duluan."
"Bohong!" Cici langsung meledak. "Dia dari tadi menghindar!"
Kiara ingin bicara, tetapi tenggorokannya terasa kering. Pergelangan tangannya masih panas bekas cengkeraman Brandon. Di dalam tas, ponselnya masih merekam. Suara kecil dari aplikasi itu seperti denyut yang mengingatkannya untuk tidak jatuh dulu.
Rayhan menoleh padanya. Amarah di wajahnya tidak hilang, tapi suaranya turun ketika memanggil, "Kiara."
Satu kata itu membuat lutut Kiara hampir lemas.
"Ada rekaman," kata Kiara akhirnya. Ia membuka tas dengan jari kaku, mengambil ponsel, lalu menghentikan rekaman. "Dia... dia bicara soal perempuan yang hilang. Dia bilang menutup mulutnya."
Mata Rayhan berubah.
Bukan lagi hanya marah.
Kini ia bekerja.
"Kirim ke nomorku sekarang. Jangan edit apa pun." Lalu kepada Galih, ia berkata, "Pak, tolong pastikan CCTV lorong ini diamankan. Jangan sampai ada yang hapus."
Galih langsung mengangguk. "Siap, Pak."
Brandon menyentak. "Kamu nggak bisa sembarangan menahan aku!"
"Aku belum menahanmu." Rayhan mendekat setengah langkah. "Aku baru mencegahmu menyentuh korban kedua malam ini."
Kata korban kedua membuat beberapa orang berbisik. Brandon pucat.
Rayhan mengambil ponselnya dan menelepon. "Aldi. Bawa dua anggota ke karaoke pusat kota. Sekarang. Hubungi piket Reskrim, minta mereka koordinasi dengan pengelola untuk CCTV. Ada dugaan pengakuan pembunuhan dan pelecehan."
Kiara mendengar semua itu seperti dari balik air.
Cici memeluk bahunya. "Ki, lo nggak apa-apa? Tangan lo merah banget."
Baru saat itu Kiara melihat bekas jari di pergelangan tangannya. Garis merah itu tampak jelas di kulitnya. Aneh, pikirnya. Selama tadi ia tidak merasa sesakit ini.
Rayhan juga melihatnya.
Rahangnya mengeras lagi.
Beberapa menit berikutnya bergerak cepat. Dua anggota Reskrim datang bersama Aldi. Security menyerahkan akses CCTV. Brandon masih banyak bicara, mengancam akan menelepon pengacara, menyebut nama ayahnya, menyebut koneksi keluarga. Tidak ada satu pun yang membuat Rayhan berkedip.
"Masukkan ke mobil," kata Rayhan.
Aldi melirik Kiara sekilas, lalu segera menunduk sopan. "Mbak, nanti kami butuh keterangan. Tapi untuk malam ini, Bapak bisa antar pulang dulu. Besok pagi di kantor saja."
Rayhan menatap Aldi.
Aldi cepat-cepat meralat, "Maksud saya, Pak Rayhan."
Cici, yang masih setengah panik, menoleh ke Kiara. "Pak Rayhan? Lo kenal dia dari mana?"
Kiara membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang aman.
Rayhan mengambil alih dengan tenang. "Saya tetangganya. Keluarganya menitipkan dia pada saya."
Tetangga.
Kata itu seharusnya membantu. Tapi entah kenapa terdengar seperti jarak yang sengaja ditarik di depan semua orang.
Cici tampak tidak percaya, tapi ia terlalu khawatir untuk menginterogasi lebih jauh. "Ki, kabarin gue begitu sampai rumah."
Kiara mengangguk. "Iya."
Rayhan tidak menyentuhnya di depan orang-orang. Ia hanya berjalan satu langkah di belakang Kiara, cukup dekat untuk menghalangi pandangan Brandon, cukup jauh agar tidak membuat rekan kerjanya bertanya lebih banyak.
Di dalam mobil, hening jatuh seperti pintu besi.
Kiara duduk dengan kedua tangan di pangkuan. Pergelangan yang merah ia sembunyikan di bawah lengan jaket yang diberikan Rayhan sebelum mereka masuk mobil. Jaket itu berbau sama seperti rumahnya, sabun maskulin, hujan, dan kopi pahit.
Rayhan menyetir tanpa menyalakan radio. Lampu kota lewat di kaca jendela seperti garis panjang yang patah-patah.
"Kak Rayhan..." Kiara memulai.
"Nanti."
Kiara menutup mulut.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun sekarang," lanjut Rayhan, masih menatap jalan. "Tarik napas dulu."
Baru setelah ia berkata begitu, Kiara sadar napasnya pendek-pendek.
Ia mencoba menarik napas dalam. Gagal. Dadanya terasa penuh oleh suara Brandon, bau alkohol, tangan di pergelangan, dan kalimat tentang perempuan yang dibuat diam selamanya.
Mobil berhenti di garasi rumah. Rayhan turun lebih dulu, membuka pintu untuk Kiara. Ia tetap tidak menyentuhnya.
Mereka masuk rumah dalam diam.
Begitu pintu tertutup, semua tenaga Kiara habis.
Ia berdiri di foyer, menatap lantai marmer yang bersih, lalu tubuhnya mulai gemetar. Mula-mula hanya jari. Lalu bahu. Lalu seluruh tubuhnya seperti baru menyadari bahwa bahaya sudah lewat.
"Kiara."
Rayhan berada di depannya dalam satu langkah, tetapi ia berhenti sebelum terlalu dekat. Mata tajamnya melembut dengan cara yang membuat dada Kiara sakit.
"Boleh aku lihat tanganmu?"
Kiara mengangkat pergelangan tanpa bicara.
Rayhan menyentuhnya dengan hati-hati, hampir tidak memberi tekanan. Bekas merah itu tampak lebih jelas di bawah lampu foyer. Ia mengambil napas pelan, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih kasar daripada kata-kata.
"Aku ambil obat."
Kiara mengangguk.
Tapi ketika Rayhan berbalik, tangan Kiara bergerak sendiri, menarik ujung lengan bajunya.
Rayhan berhenti.
Kiara tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Jangan pergi? Aku takut? Kenapa baru sekarang aku gemetar? Semua kalimat itu berkumpul di tenggorokan, terlalu besar untuk keluar.
Rayhan berbalik perlahan.
"Aku di sini," katanya rendah.
Air mata Kiara jatuh begitu saja.
Ia cepat-cepat menunduk, malu pada dirinya sendiri, malu karena tadi ia bisa merekam pengakuan pembunuhan, bisa melawan Brandon, bisa berjalan keluar dengan kepala tegak, tetapi sekarang hanya karena Rayhan berkata ia ada di sini, pertahanannya runtuh.
Rayhan mengangkat tangan, lalu berhenti di udara.
"Kiara," bisiknya, "boleh?"
Kiara tidak menjawab dengan suara.
Ia hanya melangkah maju.
Detik berikutnya, tubuhnya masuk ke dalam pelukan Rayhan.
Hangat.
Kokoh.
Tidak terburu-buru.
Rayhan memeluknya seperti menutup pintu dari dunia luar. Satu tangannya berada di punggung Kiara, satu lagi menahan belakang kepalanya, tidak menekan, hanya menjaga agar ia tahu ke mana harus bersandar.
"Kamu aman," kata Rayhan di atas rambutnya. "Aku di sini."
Tangis Kiara pecah tanpa suara. Ia mencengkeram kaos Rayhan, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur hujan dan kopi. Tiba-tiba lorong karaoke, suara Brandon, dan lampu remang terasa jauh.
Yang tersisa hanya dada Rayhan di dekat pipinya.
Dan detak jantungnya sendiri yang berlari terlalu cepat.
Kenapa jantungku...