Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Suara dering telepon memecah kesunyian pagi.
Anindiya yang tertidur di samping tempat tidur Rina mengernyit pelan. Kepalanya masih terasa berat, sisa kantuk semalam belum hilang sepenuhnya. Ia meraba-raba meja kecil di sisi kasur, sampai akhirnya menemukan ponselnya yang terus bergetar. Dengan mata setengah terpejam, ia mengangkat telepon itu.
"Halo..." suaranya masih serak.
Di seberang, suara orang itu terdengar terburu-buru, hampir tidak bisa mengatur napas. "Mbak Anindiya... cepat datang ke sanggar."
Anindiya langsung membuka mata lebar-lebar. "Ada apa?"
"Rina... Rina ditemukan meninggal di sanggar."
Untuk beberapa detik, Anindiya tidak bisa berpikir apa-apa. Kalimat itu terasa seperti bahasa asing yang tidak masuk akal. "Apa...?" ia bertanya lagi, berharap dirinya salah dengar.
Suara di seberang terdengar lagi, kali ini lebih pelan, seperti orang yang tidak tega mengulang kabar buruk. "Polisi sudah di lokasi. Tolong Mbak segera ke sini."
Telepon terputus begitu saja.
Anindiya duduk diam, tidak bergerak. Pikirannya kosong, tapi jantungnya justru berdebar sangat kencang, seolah tubuhnya sudah lebih dulu tahu sesuatu yang buruk terjadi sebelum otaknya sempat mencerna. Ia menoleh ke tempat tidur di sampingnya.
Kosong.
Selimut yang tadi menutupi Rina kini terlipat berantakan, seperti ditinggalkan buru-buru. Anindiya berdiri, tubuhnya gemetar.
"Rina...?" panggilnya pelan, masih berharap semua ini cuma mimpi buruk yang akan hilang begitu ia benar-benar bangun. Tidak ada jawaban.
Ia berlari ke ruang tengah. Pintu depan rumah sudah terbuka, membiarkan udara pagi yang dingin masuk. Anindiya berdiri di ambang pintu itu, kepalanya penuh pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Kapan Rina keluar? Kenapa ia sama sekali tidak dengar apa pun semalam, padahal jaraknya cuma semeter dari kasur Rina?
Rasa bersalah langsung menghantamnya. Ia yang seharusnya jaga-jaga semalaman, malah tidur seperti orang mati.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil tas dan kunci mobil. Kuncinya sampai jatuh dua kali sebelum akhirnya berhasil ia genggam. Begitu masuk mobil, ia langsung menyalakan mesin dan tancap gas.
Sepanjang jalan menuju sanggar, kepalanya dipenuhi pertanyaan yang sama, berputar-putar tanpa jawaban. Bagaimana Rina bisa sampai ke sana, padahal semalam ia masih demam tinggi dan sulit berjalan sendiri? Bukankah dokter sudah bilang dia harus banyak istirahat? Semakin dipikirkan, semuanya terasa tidak masuk akal—dan justru karena tidak masuk akal itulah, Anindiya jadi semakin takut. Beberapa kali air mata mengaburkan pandangannya. Ia mengusapnya cepat-cepat, memaksa diri tetap fokus menyetir.
Sesampainya di depan sanggar, beberapa mobil polisi sudah terparkir. Garis pembatas kuning-hitam sudah dipasang mengelilingi pintu masuk. Beberapa warga berdiri di luar dengan wajah tegang, saling berbisik satu sama lain. Begitu melihat mobil Anindiya berhenti, semua orang menoleh ke arahnya.
Anindiya turun dengan langkah lemas, hampir tidak kuat berdiri. Ia berjalan mendekati pintu sanggar. Seorang petugas menghampirinya.
"Ibu Anindiya?"
Anindiya hanya bisa mengangguk, tenggorokannya terlalu tercekat untuk menjawab dengan kata-kata. Petugas itu berbicara dengan nada tenang, meminta Anindiya bersiap secara mental karena kondisi di dalam masih dalam proses pemeriksaan.
Dengan napas yang tidak teratur, Anindiya menatap ke arah ruang koleksi dari kejauhan. Di dalam, petugas forensik dan polisi sedang bekerja—memotret ruangan, memeriksa setiap sudut, lalu perlahan dan hati-hati mengevakuasi jenazah Rina.
Anindiya berdiri mematung, air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Kakinya seperti menolak melangkah lebih dekat, seakan tubuhnya sendiri tahu ia belum siap melihat kenyataan itu dari jarak dekat.
Pikirannya melayang ke semua kebersamaan mereka. Rina yang selalu datang paling pagi, bahkan lebih pagi dari Anindiya sendiri. Rina yang telaten menata satu per satu gaun sampai rapi, padahal sering disuruh istirahat. Rina yang tertawa lepas setiap kali mereka makan siang bareng, sampai kadang keselek gara-gara ketawa duluan sebelum selesai ngunyah. Dan Rina yang, entah sudah berapa kali, memperingatkannya soal gaun pengantin itu—peringatan yang dulu ia anggap cuma bentuk lelah dan trauma biasa.
Semua kenangan itu datang bersamaan, membuat dadanya sesak seperti ditekan sesuatu yang berat.
Andai saja waktu bisa diputar kembali. Andai saja ia lebih percaya pada ketakutan Rina, bukannya menganggapnya berlebihan. Andai saja ia dengar suara apa pun semalam, mungkin masih ada kesempatan untuk mencegah semua ini. Tapi semuanya sudah terlambat, dan penyesalan datang selalu di saat yang salah.
Tak lama, proses evakuasi selesai. Suasana di sekitar sanggar berubah hening total. Beberapa warga yang mengenal Rina menundukkan kepala, sebagian lagi mengusap air mata diam-diam. Anindiya masih berdiri di tempat yang sama, matanya terpaku ke ruang koleksi—tempat Rina tadi ditemukan tergantung, masih mengenakan gaun pengantin itu.
Gaun putih itu tampak bersih dan anggun, seolah baru saja dikeluarkan dari lemari. Tidak kusut, tidak bernoda sedikit pun—padahal baru saja jadi saksi dari sesuatu yang mengerikan. Seakan-akan kain itu tidak pernah benar-benar tersentuh oleh tragedi yang terjadi di dalamnya.
Untuk pertama kalinya, keyakinan Anindiya yang selama ini berusaha ia pertahankan mulai runtuh sepenuhnya. Ia tidak bisa lagi menganggap semua ini sekadar kebetulan yang berurutan. Dua pengantin sudah meninggal sebelumnya. Sekarang Rina menyusul. Dan setiap kali tragedi itu terjadi, selalu ada satu benang merah yang sama: gaun pengantin itu.
Dengan napas yang masih bergetar, Anindiya menatap gaun itu dari kejauhan. Satu pertanyaan yang selama ini selalu ia coba tolak, kini muncul lagi—kali ini terlalu kuat untuk diabaikan.
*Siapa sebenarnya pemilik gaun itu... dan apa yang sebenarnya sedang mengincar mereka satu per satu?*