NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Aturan Main

Pagi pertama sebagai suami istri dimulai tanpa ucapan selamat pagi.

Ketika Senja membuka mata, sisi kanan tempat tidur sudah kosong. Bantal panjang masih membujur di tengah, rapi seperti garis batas yang dibuat dengan penggaris. Seprai di sisi Rayhan hampir tidak kusut, seolah pria itu bahkan tidur dengan disiplin yang tidak manusiawi.

Senja duduk perlahan.

Kamar utama Wijaya Mansion terlalu luas untuk satu orang yang baru saja bangun. Langit-langit tinggi, tirai tebal, aroma kayu cendana yang samar, dan cahaya pagi yang masuk dari celah jendela membuat semuanya terlihat mahal sekaligus asing.

Di meja samping, ada segelas air putih dan selembar kartu kecil.

Sarapan pukul 07.30. Ruang makan lantai satu.

Tidak ada nama pengirim.

Namun Senja tahu itu bukan tulisan Rayhan. Tulisan tangan itu terlalu rapi dan terlalu hangat. Mungkin Pak Hadi.

Dia mandi, memakai blus krem dan rok sederhana yang semalam sudah dipindahkan ke lemari. Saat membuka pintu kamar, seorang pembantu muda yang sedang lewat langsung berhenti dan menunduk.

"Selamat pagi, Nyonya."

Panggilan itu masih terasa aneh.

"Selamat pagi," jawab Senja pelan.

Di ruang makan, Rayhan sudah duduk di ujung meja panjang. Dia mengenakan kemeja putih, lengan digulung sampai siku, satu tangan memegang tablet. Kopi hitam ada di samping piringnya. Tidak ada bekas orang yang baru menikah. Tidak ada canggung. Tidak ada senyum.

Hanya Rayhan Wijaya, seperti di artikel bisnis.

Pak Hadi berdiri tidak jauh dari meja. "Selamat pagi, Nyonya. Silakan duduk."

Senja duduk di kursi yang sudah ditarik untuknya. Di hadapannya ada bubur ayam, buah potong, dan teh hangat.

Rayhan tidak melihatnya. "Kamu makan bubur?"

Senja menunduk ke mangkuk. "Iya."

"Alergi makanan?"

Pertanyaan itu membuatnya terkejut. "Kacang."

Baru kali itu Rayhan mengangkat wajah. "Seberapa parah?"

"Kalau sedikit, biasanya gatal dan sesak. Kalau banyak..." Senja berhenti sebentar. "Bisa ke rumah sakit."

Rayhan menatap Pak Hadi. "Catat. Mulai hari ini tidak ada kacang di dapur utama, pantry, dan mobil."

Pak Hadi mengangguk. "Baik, Tuan muda."

Senja memegang sendok, bingung. Dia tidak menduga informasi kecil itu akan langsung berubah menjadi perintah untuk seluruh rumah.

"Tidak perlu sampai begitu," katanya refleks.

Rayhan kembali melihat tabletnya. "Aku tidak suka urusan darurat yang bisa dicegah."

Bukan perhatian, Senja mengingatkan dirinya.

Hanya efisiensi.

Sarapan berjalan dalam diam. Rayhan membaca laporan, Senja mencoba makan meski tenggorokannya masih terasa sempit. Setiap beberapa menit, dia menyadari ada pelayan yang berdiri terlalu siap, piring yang diganti terlalu cepat, dan rumah yang bekerja dengan ritme orang kaya lama.

Setelah Rayhan selesai, dia meletakkan tablet di meja.

"Ikut aku."

Senja hampir menjatuhkan sendok. "Sekarang?"

"Sekarang."

Pak Hadi memberi Senja tatapan singkat yang seolah berkata, turuti saja dulu.

Rayhan membawanya ke ruang kerja di lantai satu. Ruangan itu berdinding rak buku, meja kayu gelap, dan satu brankas tertanam di balik lukisan abstrak. Di atas meja, sebuah map hitam sudah menunggu.

"Duduk."

Senja duduk di kursi seberang meja. Punggungnya otomatis tegak.

Rayhan membuka map itu dan mendorong beberapa lembar dokumen ke hadapannya.

"Perjanjian pernikahan."

Kata-kata itu membuat udara di ruang kerja terasa lebih tipis.

Senja menatap halaman pertama. Namanya dan nama Rayhan tercetak jelas. Di bawahnya ada pasal-pasal panjang, bahasa hukum yang kering dan tidak menyisakan ruang untuk perasaan.

"Kamu belum membacanya?" tanya Rayhan.

"Aku baru tahu ada ini."

Mata Rayhan menjadi lebih dingin. "Pihak Liem bilang kamu sudah diberi tahu."

Senja tersenyum kecil tanpa sadar. Bukan senyum senang. Lebih seperti luka yang tidak tahu harus menjadi apa. "Papa Liem hanya bilang aku akan menikah."

Rayhan diam beberapa detik.

Lalu dia mengambil pena, mengetuk pelan salah satu bagian dokumen.

"Dua tahun. Setelah itu, jika kita sepakat berpisah dan kamu tidak melanggar klausul kerahasiaan, kamu menerima kompensasi Rp 50 miliar."

Angka itu membuat Senja mengangkat kepala.

Rp 50 miliar.

Jumlah yang begitu besar sampai tidak terasa nyata. Seperti angka di berita tentang proyek properti, bukan uang yang suatu hari mungkin masuk ke rekeningnya.

"Aku tidak menikah untuk uang," katanya pelan.

"Aku tidak bilang kamu begitu."

"Tapi dokumen ini mengatakan itu."

Rayhan menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, percakapan mereka tidak lagi sekadar perintah dan jawaban.

"Dokumen ini melindungimu," katanya. "Dan melindungiku."

"Dari apa?"

"Dari tuntutan yang tidak perlu."

Senja mengerti maksudnya sebelum membaca pasal berikutnya.

Tiga bulan pertama, tidak ada hubungan fisik sebagai suami istri tanpa persetujuan tertulis kedua pihak.

Panas naik ke pipinya. Dia segera menunduk, tapi kalimat itu sudah terlanjur masuk ke kepala.

Rayhan melihat perubahan kecil itu. "Aku tidak tertarik memaksamu melakukan apa pun."

Cara dia mengatakannya dingin. Tetapi justru karena dingin, Senja bisa bernapas sedikit lebih lega.

"Tiga bulan?" tanyanya.

"Minimal."

"Setelah itu?"

"Setelah itu tetap harus ada persetujuan."

Senja menggenggam ujung kertas. "Kenapa ditulis seperti kontrak kerja?"

"Karena pernikahan ini memang kesepakatan."

Kalimat yang sama seperti babak akhir malam sebelumnya, hanya kali ini Senja mendengarnya langsung.

Dia tidak tahu apakah harus merasa terluka. Mereka memang orang asing. Rayhan tidak berutang cinta padanya. Namun tetap saja, mendengar hidupnya disebut kesepakatan membuat dadanya seperti ditekan.

"Baik," katanya akhirnya.

Rayhan menyipitkan mata. "Kalau ada bagian yang tidak kamu mengerti, tanyakan."

Senja membaca beberapa pasal lain. Kewajiban menghadiri acara keluarga. Tidak boleh membocorkan isi perjanjian. Tidak boleh menggunakan nama Wijaya untuk transaksi pribadi. Tidak boleh membawa konflik keluarga Liem ke media. Tidak boleh meninggalkan rumah tanpa pemberitahuan jika acara keluarga besar sedang berlangsung.

Setiap kalimat seperti pagar.

"Aku masih boleh bekerja di sanggar?" tanyanya.

"Di mana?"

"Sanggar Tari Jefri."

"Kamu penari?"

Senja mengangkat wajah. "Iya."

Rayhan seperti mengingat sesuatu. Foto di ruang latihan. Bahu kecil, pakaian putih gading, mata yang tidak tersenyum.

"Jadwalmu?"

"Biasanya latihan dari siang sampai sore. Kalau ada pertunjukan, bisa sampai malam."

"Kirim jadwal ke Pak Hadi. Mobil akan disiapkan."

"Aku bisa naik Grab."

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Senja menahan diri agar tidak langsung mengecil. "Kenapa?"

"Kamu sekarang Nyonya Wijaya. Kalau sesuatu terjadi di jalan, yang diseret bukan hanya namamu."

Jadi tetap nama Wijaya, pikir Senja.

Bukan dirinya.

Namun dia mengangguk. "Baik."

Rayhan menutup map setelah dia menandatangani halaman penerimaan. Akta nikah mereka, yang tadi juga ditunjukkan sekilas, dimasukkan ke dalam amplop khusus.

Senja melihat Rayhan membuka brankas, menyimpan akta itu bersama beberapa dokumen lain, lalu menutupnya kembali.

Suara kunci digital berbunyi lembut.

Pernikahan mereka resmi masuk ke dalam ruang besi.

Siang itu, Pak Hadi mengantar Senja berkeliling Wijaya Mansion. Rumah itu lebih besar daripada yang dia kira. Ada ruang tamu formal, ruang keluarga yang hampir tidak terlihat dipakai, dapur utama, pantry, taman dalam, ruang gym, ruang hiburan, dan beberapa kamar tamu.

"Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, tekan bel ini atau hubungi saya langsung," kata Pak Hadi sambil menunjukkan panel kecil di dekat tangga.

"Terima kasih, Pak Hadi."

Pak Hadi tersenyum tipis. "Tidak perlu sungkan. Mulai hari ini, ini rumah Nyonya."

Rumah.

Kata itu terdengar terlalu murah hati untuk tempat yang bahkan membuat langkahnya berhati-hati.

Ketika mereka tiba di ruang keluarga kecil dekat taman, seorang asisten Rayhan datang membawa tablet.

"Nyonya, ini dari Pak Wijaya."

Senja menerima tablet itu. "Dari Rayhan?"

Asisten itu sedikit kaku mendengar nama depan bosnya disebut begitu saja, tapi cepat mengangguk. "Iya, Nyonya. Daftar aturan dasar untuk aktivitas Nyonya selama tinggal di sini."

Pak Hadi tampak tidak terkejut, hanya wajahnya menjadi sedikit lebih hati-hati.

Senja menyentuh layar.

Daftar itu terbuka.

Nyonya tidak boleh menerima tamu tanpa pemberitahuan.

Nyonya tidak boleh memberi pernyataan kepada media.

Nyonya tidak boleh menghadiri acara sosial tanpa pendamping dari pihak Wijaya.

Nyonya tidak boleh menggunakan kendaraan umum.

Nyonya tidak boleh mengunggah foto bagian dalam Wijaya Mansion.

Nyonya tidak boleh...

Senja menggulir layar ke bawah.

Daftarnya panjang. Terlalu panjang.

Huruf-huruf hitam itu memenuhi layar seperti jaring yang dilempar pelan, rapi, dan pasti.

Pak Hadi berdeham pelan. "Nyonya bisa membaca dulu. Jika ada yang kurang jelas, saya akan bantu sampaikan kepada Tuan muda."

Senja menatap daftar itu. Dia teringat ruang latihan yang berbau damar lantai, ponsel Lara yang bisa ditelepon kapan saja, dan tubuhnya yang biasanya bebas bergerak mengikuti musik.

Sekarang bahkan langkahnya punya pasal.

Dia menggenggam tablet dengan kedua tangan.

Di baris paling bawah, ada judul kecil yang belum sempat dibuka.

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan Nyonya.

Senja menatap kalimat itu lama.

Untuk pertama kalinya sejak masuk Wijaya Mansion, dia merasa bantal panjang di tengah tempat tidur bukan satu-satunya batas yang harus dia hadapi.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!