NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Rahasia di Balik Ayunan Pedang

Runtuhnya istana emas milik mendiang Raja Juro Shinto mengubah total peta kekuasaan di planet Akuma. Setelah malam pembantaian berdarah yang menewaskan Putri Hana, kelompok pengkhianat dari Sektor Delapan langsung menghapus semua catatan hak waris milik Ryuken kecil. Bocah yang baru menginjak usia sembilan tahun itu diseret paksa dari tempat persembunyiannya oleh dua tentara berbaju besi tebal, lalu dibuang ke kasta pelayan paling bawah sebagai budak pembersih di Perguruan Batu Hitam.

Kompleks perguruan ini berdiri kokoh bagai benteng raksasa, dikelilingi oleh menara pengawas setinggi ratusan meter yang terus-menerus menyemburkan asap oli mesin dan bau belerang yang menyengat. Aturan kejam di tempat ini menetapkan bahwa setiap budak adalah barang milik para tetua seumur hidup mereka. Para budak tidak punya hak untuk bersuara, dipaksa diperas tenaganya setiap hari di bawah siksaan gaya gravitasi Akuma yang seratus kali lipat lebih berat dari planet normal.

Tugas pertama yang diberikan mandor kepada Ryuken adalah mengumpulkan ranting kayu pohon Akuma yang patah ditiup badai merkuri di sepanjang jalanan pasar kuil. Selain itu, setiap subuh sebelum kabut kelabu tebal menghilang dari lapangan latihan utama, Ryuken sudah harus memikul dua ember besi besar berisi sisa-sisa pelumas mesin seberat puluhan kilo. Ia dipaksa melangkah tertatih-tatih melintasi koridor luar bangunan, menahan tekanan udara yang sangat pekat hanya dengan mengandalkan tubuh kurusnya tanpa bantuan baju zirah mekanis sedikit pun untuk meringankan beban.

Suara berderit kencang disertai rasa sakit yang luar biasa terus-menerus muncul dari persendian lutut Ryuken di sepanjang jalan. Kain perban kumal yang membungkus sepasang kakinya yang pucat semakin hari semakin basah oleh darah segar, meninggalkan jejak merah di atas lantai batu hitam perguruan. Namun, di bawah pengawasan ketat para penjaga, Ryuken menolak untuk menangis atau membiarkan tubuh kurusnya tumbang mencium tanah kotor.

Kekejaman dan ejekan dari sesama murid perguruan membuat hari-hari Ryuken terasa seperti neraka. Para murid muda dari faksi pengkhianat yang telah dicuci otaknya sering kali dengan sengaja menendang ember pelumas yang dibawa Ryuken hingga isinya tumpah membasahi baju hitamnya yang compang-camping. Mereka berkumpul melingkar hanya untuk menyaksikan anak mantan pemimpin besar itu berlutut memeras kain kotor di atas tanah batu yang kasar, di bawah siraman sisa kabut merkuri yang mendidih.

"Lihat si anak haram dari wanita Solari itu!" teriak seorang murid senior bertubuh raksasa berlapis baju besi tipis sambil meludah tepat di depan ujung jari kaki Ryuken yang pucat. Ia melayangkan satu hantaman kasar menggunakan gagang pedang kayu latihannya tepat ke arah punggung kurus Ryuken hingga terdengar bunyi retak yang menyiksa saraf tubuhnya. "Dia membawa-bawa nama besar Juro Shinto di tempat ini bagai rongsokan berkarat yang menolak mati! Enyahlah ke dalam lubang pembuangan, Benalu Cacat! Tubuhmu yang ringkih tidak layak untuk memegang gagang pedang di perguruan kami yang agung!"

Ryuken tidak membalas makian dan cemoohan kasar dari para murid senior tersebut dengan teriakan marah atau pandangan mata penuh dendam yang murahan. Ia tetap diam membeku di posisinya, membiarkan baju hitamnya dikotori oleh lumpur hitam, setenang kematian yang menolak tunduk pada keangkuhan musuh. Fokus pikirannya perlahan-lahan ditarik masuk ke dalam batinnya yang paling sunyi. Ia membiarkan detak jantungnya yang aneh bergetar bebas tanpa aturan, anehnya hal itu membuat waktu di sekitar tubuh kecilnya terasa melambat dalam radius beberapa sentimeter.

Dari balik bayangan tiang-tiang kuil yang retak, sepasang mata hitam legam Ryuken terus mencatat setiap detail gerakan para pendekar terkuat perguruan yang sedang bertarung di tengah lapangan terbuka. Di sinilah, lingkungan kerja paksa yang kejam secara tidak sengaja berubah menjadi ladang keuntungan bagi kejeniusan tubuh Ryuken. Ia bisa mencuri seluruh rahasia ilmu bela diri tertinggi klan Shinto secara diam-diam, tanpa ada satu pun guru atau pengawal yang menaruh rasa curiga terhadap gerakan sunyi nya.

Pandangan mata Ryuken terkunci sepenuhnya pada arah ayunan pedang besi kasar milik Instruktur Jurota. Beliau adalah kepala instruktur veteran bertubuh raksasa setinggi dua setengah meter yang dikenal di seluruh wilayah dengan julukan yang mengerikan: "Titisan Iblis Pedang". Jurota adalah ksatria tradisional terakhir yang menolak memasang perangkat mesin di dalam tubuhnya. Ia bertarung murni mengandalkan kekuatan otot dan ingatan tubuh yang terus ditempa keras di bawah tekanan berat gaya tarik bumi sepanjang hidupnya.

Every kali Instruktur Jurota mengayunkan pedang besi kasarnya membelah arena tanding, udara di sekeliling bilah senjatanya akan meliuk tajam, memotong debu batu tanpa menyisakan getaran sedikit pun, menciptakan sebuah ledakan suara yang luar biasa keras membelah ruangan. Bagi seluruh murid perguruan, gerakan secepat kilat milik Jurota adalah kekuatan mutlak yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh teknologi mesin mana pun.

Namun, di bawah pengaruh denyut jantungnya yang acak—dan sering kali berhenti berdetak total selama beberapa saat di tengah suara ledakan tersebut—pandangan mata Ryuken mampu memperlambat seluruh tebasan kilat Jurota menjadi gerakan lambat yang sangat halus dan mudah untuk dipelajari arahnya. Ryuken melihat dengan sangat jelas bagaimana Jurota mengunci posisi kuda-kuda rendahnya di atas lantai batu, bagaimana ia menyalurkan tekanan darahnya ke ujung jari tangan untuk melipatgandakan kekuatan tebasan, dan bagaimana pundak raksasanya bergeser sedikit sebelum memotong udara bebas seutuhnya.

Malam hari di dalam kesunyian gudang kayu lapuknya yang gelap ditiup angin badai merkuri, Ryuken muda mulai mempraktikkan seluruh hasil pengamatan rahasianya tersebut menggunakan sebilah ranting kayu pohon Akuma sepanjang satu meter. Ranting kayu tua tanpa hiasan itu ternyata telah mengeras bagai besi baja akibat terus-menerus menyerap cairan merkuri selama puluhan tahun. Di bawah siraman cahaya lilin redup yang bergoyang kaku, Ryuken menggerakkan ranting kayunya membelah kegelapan dengan sangat lambat, mengalir bagai hantu yang sunyi tanpa mengeluarkan suara bising seperti mesin-mesin palsu milik musuh-musuhnya.

Ia meluncurkan tiga ribu tebasan murni di setiap sepertiga malam yang membeku, meniru dengan sangat tepat bagaimana otot-otot Jurota bergerak di siang hari. Tanpa disadari oleh siapa pun di planet Akuma, di dalam gudang yang lapuk dan kotor itu, sang anak buangan sedang menempa dirinya sendiri menjadi senjata pembunuh yang paling mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!