semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 4
"ingat ini baik-baik! kau itu dinikahi putraku untuk melayani kami di sini, bukan untuk bermalas-malasan. paham nggak!" bentak Lea di depan wajah Aluna
Aluna hanya mampu menganggukkan kepalanya terburu-buru. rasa takut dan cemas mulai menggerogoti hatinya. takut kalau dia salah gerak saja, bisa-bisa mendapatkan perilaku yang lebih buruk lagi daripada ini.
Lea yang mendapatkan respon seperti itu tersenyum penuh kemenangan. dia menghempaskan tarikannya dari rambut Aluna dengan keras hingga keningnya terbentur ke lantai yang dingin itu sehingga menimbulkan bengkak pada keningnya.
Aluna hanya mampu menahan semua rasa sakit ini sendirian. mau membantah tidak bisa, mau mengadu ke siapa? Aluna hanya sendiri. sendirian menahan rasa sakit ini dalam diam.
"kalo begitu ayo bangun! dan siapkan kami sarapan kalo kau sampai telat, saya gak akan segan-segan buat ngelakuin hal yang lebih parah lagi daripada ini"
"aku bilang bangun!!!" teriak Lea
lagi-lagi Aluna hanya mampu menganggukkan kepalanya saja dan berdiri dari duduknya mengikuti langkah ibu mertuanya ke bawah.
sesampainya di bawah ruang tamu, Lea langsung menarik lengan Aluna kuat-kuat dan menyeretnya ke arah dapur yang sudah dihuni oleh banyak maid di sana.
setibanya di area dapur yang besar dan luas, para maid sedang sibuk memasak di kompor hingga acara masak pun terhenti ketika mereka mendengar suara teriakan dari nyonya besar.
mereka semua pun mengalihkan pandangannya dari kegiatan masing-masing ke arah nyonya besarnya.
"dengar kalian semua, mulai sekarang ini dia wanita ini akan menggantikan semua pekerjaan kalian dari mulai memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan seluruh mansion ini" ujar Lea menatap seluruh pekerjanya yang saling pandang dengan pandangan tidak percaya.
lalu salah satu maid dengan ragu-ragu mengangkat salah satu tangannya seolah dia sedang ingin bertanya.
"silakan" ucap Lea menatap maid itu tajam
dan maid itu pun mencoba mengumpulkan keberaniannya dan mulai mengajukan sebuah pertanyaan dengan terbata-bata dan gugup.
"M-maaf nyonya, kalo seandainya nyonya Aluna yang menggantikan semua pekerjaan kami, lalu kami harus bekerja apa kalo begitu nyonya?" tanya maid itu gugup sambil menatap wajah Lea dengan tangan yang gemetar hebat.
Lea yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tersenyum licik menatap ke arah Aluna yang menundukkan kepalanya, lalu beralih ke arah maid yang bertanya tadi.
"kalian tidak perlu bekerja apapun mulai sekarang, biarkan wanita ini yang mengerjakan seluruh pekerjaan kalian selama ini.
dan untuk masalah gaji kalian tidak perlu khawatir akan hal itu gaji kalian akan tetap ada asalkan kalian jangan ada yang berani mencoba membantunya kalo kalian ada yang berani melakukannya kalian akan tahu akibatnya paham!!!"
seluruh maid yang ada di sana langsung tersenyum bahagia dan bersorak gembira. akhirnya mereka tidak harus bekerja lagi, tapi gaji mereka akan tetap ada. wah, sungguh keajaiban. ini adalah pekerjaan yang sangat diimpikan oleh banyak orang dan siapa sangka mereka bisa merasakan hal seperti itu sekarang.
"paham nyonya!!" ucap mereka semua serentak
tanpa mereka ketahui, ada beberapa maid di sana merasa ini sangatlah tidak adil.
seharusnya merekalah yang bekerja di sini, bukan malah salah satu nyonya di keluarga Wijaya ini yang harusnya hanya melayani suaminya saja. tapi ini malah melakukan seluruh pekerjaan mereka juga.
sedangkan Aluna hanya mampu terdiam, tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima apa yang telah ditetapkan di rumah ini. dia ingin menangis, dia ingin memberontak akan keputusan itu. tapi melihat apa statusnya sekarang dia hanya bisa mengalah dan melakukan tugasnya yang seharusnya bukanlah tugasnya.
"udah sana cepat! ngapain malah diam" ujar Lea mendorong tubuh Aluna kuat, lalu Lea berlalu dari sana.
lalu Aluna pun segera memasak makanan dengan berbagai bumbu yang tersedia lengkap di kulkas.
para maid di sana masih berada di dapur memandang remeh ke arah Aluna yang sedang memotong-motong sayur yang sempat dipotong oleh salah satu maid bagian sayur-sayuran.
bisik-bisikan menghina mulai terdengar dari berbagai mulut orang yang masih ada di sana, ada yang menghina bentuk postur badan Aluna yang dibilang gendut, meremehkan tampilan Aluna yang terlihat kuno dan tidak mencerminkan menantu dari keluarga Wijaya, dan mencaci maki fisik Aluna yang lemah.
tapi berbeda untuk ketiga maid ini. mereka tidak menghina atau merendahkan fisik Aluna seperti yang lain. Malahan mereka menatap sendu ke arah Aluna yang diperlakukan tidak adil di rumah ini.
mereka yang mendengar ucapan tak pantas itu tidak tinggal diam begitu saja.
Nisa, yang memang mempunyai stamina kuat dan tidak takut kepada siapapun kecuali keluarga Wijaya, mulai menghampiri beberapa maid yang masih saja melontarkan kata-kata kotor ke arah Aluna. dia pun berdiri di hadapan para maid itu dengan berkacak pinggang dan menatap mereka sengit satu persatu.
"Heh! para setan yang berwujud manusia, itu mulut bisa dikontrol nggak, hah?!" sembarangan banget kalian ngomong kayak gitu di depan nyonya kalian!"
tidak ingin tinggal diam juga, teman-temannya yang lain ikut menghampiri Nisa dan berdiri di sampingnya, menatap para maid itu dengan wajah datar.
"kalian tahu ucapan kalian tadi sangat tidak pantas untuk dikeluarkan. kalian itu hanyalah manusia-manusia rendahan yang sedang bekerja di sini. jadi jangan hanya karena nyonya besar menyuruh nyonya Aluna memasak dan menggantikan pekerjaan kalian, kalian jadi seenaknya dengannya.
ingat, kalian itu hanyalah seorang maid yang bekerja di sini, sedangkan nyonya Aluna dia adalah bagian dari keluarga ini jika kalian lupa. jadi, jika tidak ingin dipecat dari sini harap berhenti mengatakan perkataan yang seharusnya tidak kalian ucapkan" ujar Aini menatap para maid itu dengan wajah datar, yang juga menatapnya tidak suka.
"satu lagi. jika kalian merasa diri kalian itu sangatlah sempurna, aku rasa kalian harus berkaca dulu deh sebelum mulut sampah kalian itu mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain tapi tidak menyadari kekurangan diri sendiri" ujar Aya menatap para maid itu julid
melihat kemarahan ketiga trio maid itu, beberapa maid yang masih di sana langsung ketakutan mendengar fakta yang memang benar adanya. mereka yang tidak ingin berlama-lama di sana pun satu persatu mulai meninggalkan area dapur.
Aluna yang mendengar semua itu tidak kuasa menahan air matanya. bohong jika dia tidak mendengar hinaan dan cacian dari para maid itu. sedari tadi Aluna memang mendengar semuanya, hanya saja dia tidak melawan atau mencegah perkataan mereka dia hanya diam dengan hati yang terus-terusan terluka saat mereka menghina dirinya yang lemah.
tapi meskipun begitu, Aluna tidak menyangka bahwa masih ada orang-orang di antara mereka yang justru membela dirinya.
Aini yang mendengar suara isakan mendekat ke arah Aluna, diikuti oleh temannya yang lain.
"nyonya jangan sedih hanya karena omongan mereka. mereka itu tidak tahu saja kalo nyonya sangat istimewa dan tidak boleh ada yang melukai nyonya sama sekali" ujar Aini tersenyum manis ke arah Aluna
"iya, benar itu nyonya. mereka itu memang suka cari-cari hal begituan. nyonya, bahkan saya juga pernah loh dibilang saya ini gemuk kayak sapi. tapi nyonya tahu apa yang saya lakukan?
saya balas balik mereka nyonya, saya bilang kalo mereka itu kurus kering kayak kerempeng kalo ditiup angin pasti melayang"
mereka yang mendengar cerita Nisa langsung tertawa kecil.
"makasih ya buat kalian, saya benar-benar nggak nyangka kalo masih ada orang yang mau membela saya seperti ini. saya benar-benar nggak nyangka" ucap Aluna sembari menghapus air mata yang masih mengalir di pipi halusnya
"nyonya, kami melakukan ini bukan hanya sekedar karena nyonya adalah nyonya kami. tapi kami melakukan ini karena kami juga tidak ingin anda diperlakukan seperti itu" ujar Aya menatap Aluna sambil tersenyum
"iya, nyonya. dan kami melakukan ini tulus dari hati kami sendiri, nyonya. bukan karena nyonya adalah nyonya kami"
Aluna lagi-lagi hanya bisa menangis dan memeluk mereka bertiga dengan erat.